Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku

Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku
BAB 58. Wooow....Senangnya Acara Makan Lagi.


__ADS_3

Keesokan paginya di sekolah. Di dalam kelas Alisa. Suasana kelas sangat harmonis seperti biasanya.


Hampir semua warganya tersenyum ceria dengan sibuk dengan gosip dan canda, mereka berbaur seperti biasanya. maklum kumpul ngerumpi.


Itulah Aktivitas yang biasanya Siswa dan Siswi lakukan jika sedang menunggu Guru yang akan masuk mengajar.


Alisa dan Mila pun, sedang berbincang.


Masuklah Si tampan Didi Prayana. Yang saat ini sudah menjadi idola satu sekolah.


Menggeser posisi Andre yang sudah lama di sandangnya. Tapi tentunya tidak menggeser tempatnya di hati Alisa.


"Hai...My Darliiiiing...."


Seperti itulah selalu, panggilan sayangnya untuk Alisa.


Alisa tersenyum manis dan Kedua pipinya di cubit mesra seperti biasanya.


"Pulang sekolah.. Buat acara lagi yah di rumahku...Kakekku...sangat merindukan rumahnya ramai terus."


Radar telinga Doni yang memang doyan makan, langsung menangkapnya. Diapun berteriak.


"Wooow...Senangnya...acara...makan lagi..."


Doni pun berteriak.


"Haaiiii....!!!!


Teman - teman Didi.....mengajak kita kerumahnya lagi makan - makan.


Kata Doni berteriak membahana dan membuat suasana kelas riuh dengan sorakan.


Horeee..... horeeeee.....Teriak heboh Siswi yang lain dan langsung mengerubungi Didi, yang sudah menatap jengah.


"Didi...aku mau makan kue tart ulang tahun"


Didi... aku mau makan rujak"


Teman lain terpingkal.


Rendah betul selera.. mu Dina.


Apa kamu mau buat perut kami mulas...?


Aaah...tidak...baguus..."


Dina cemberut dan menatap jengah pada Boby yang meneriakinya.


Siswi yang lain pun tak mau kalah...mereka pun merengek pula ke Didi Prayana.


Didi.......Kak...Didi yang ganteng dan rupawan.


"Aku mau Bolu...gulung....."


Yang lain pun tak mau kalah.


"Aku...mau..Snack yang banyak"


"Aku mau..kue..tujuh rupa..."


Didi melotot dengan bibir terbuka dan mulai sewot dan marah pada Ningsih yang minta kue tujuh rupa.


"Memangnya sesajen...


Apa kamu sedang memanggil hantu, untuk datang berpesta di rumahku Hahhh ?


Sekalian minta Dupa... dan Lilin !!!!"


Teriak Didi kesal..


Tapi Ningsih tidak peduli. Melihat Didi marah, hanya membuatnya terpesona.

__ADS_1


"Waah....Didi sangat ganteng jika sedang marah"


Didi baru mau sewot membalas. Teriakan siswi lain bergema kembali.


Aku mau nasi kuning...dengan lauk rendang sapi....


"Aiiiiiiiishh...."


Didi bertambah kesal.


"Sudah...sudah...kenapa kalian rakus sekali..Kakekku bisa bangkrut Karna kalian...." Hahh!!!!"


Alisa hanya bisa geleng - geleng kepala. Nafsu makan teman - temannya, Sungguh sangat besar sekali.


Suasana kelas tambah kacau...Sorak - Sorai menghias kelas yang semakin gaduh.


Merekapun terdiam dan tercekat dan kembali ke tempat duduk masing - masing..dengan setengah berlari.


Bagaimana tidak kaget dan shock Seraut wajah Killer sudah ada di hadapan mereka. Wajah pak Aswat yang menakutkan sudah masuk di ruangannya.


Hampir semua tegang, Semua tersentak, terdiam dan terpaku, Mereka tampak shock Karna Pak Aswat biasanya cuma mengajar di kelas Dua dan Tiga.


Tetapi mengapa Pak Aswat ada di ruangan mereka?


"Kesalahan besar apa lagi yang kami perbuat."


Itulah kira - kira yang ada di pikiran mereka. Hihihi...Author ikut nimbrung lagi.


Inii adalah pertama kalinya, Pak Aswat masuk mengajar di kelas mereka, Suasana tegang tercipta. Melihat tatapan Pak Aswat yang sudah seperti kilatan petir, di hati semua teman sekelas Alisa.


Kecuali DIdi Prayana yang sudah kebal dengan tamparan dan tendangan Pak Aswat. Karna sering bolos dan berambut gondrong dan berpakaian awut - awutan.


Mungkin karna sudah terbiasa bergaul dengan teman yang suka tawuran. Jadi sering mendapatkan Bogem mentah.


Syukurlah dia sudah meninggalkan perbuatan tidak terpuji itu, Dia sudah tidak mau membuat keluarganya bersedih kembali, Karna ulahnya.


Pak Aswat sangat kesal karna masih di luar kelas, suara mereka sangat bising, berisik dan sangat menganggu.


Menatap dengan mata melotot.


Hampir semua menunduk, begitupun Didi Prayana. tapi Didi Prayana menunduk Karna membaca buku. Hihihi..Author bukannya meledek pak Aswat lho.


Pak Aswat mulai membacakan materi dan mulai menjelaskan mata pelajaran. Suasana tegang masih tercipta. Pak Aswat dengan suara berat dan keras selalu hadir di setiap penjelasannya.


Jam istirahat telah tiba. Lonceng berdentang. Hampir semua siswa dan Siswi bernafas lega. Olahraga jantung telah berakhir.


Pak Aswat pun keluar ruangan. Didi pun keluar ruangan.


Biasa....Didi Prayana.. mau ke ruang kepala sekolah lagi.., memimjam telepon kantor untuk menelpon ke rumahnya, untuk menyuruh pelayan rumahnya, menyiapkan makanan dan kue yang ingin di makan teman - temannya.


Seperti biasanya pelayan pun, di rumah Didi pun sibuk di dapur.


Pelayan lain, di tugaskan keluar belanja Snack dan makanan lainnya. Diantar supir kakek.


Alisa dan Mila seperti biasanya ke Kantin. Di Jalan Alisa selalu mencari seraut wajah yang telah nakal menciumnya. Dia pun tersenyum dan terkekeh sendiri. Membuat Mila jengah.


"Kesambet.. apa Nona...?


Kata Mila ketus.


"Kesambet Bibir Mila"


Alisa keceplosan dia pun tersadar dan secepatnya menutup mulutnya. Tapi terlambat Mila sudah mencekal tangannya dan menariknya duduk di sebuah bangku kayu di depan sebuah kelas.


"Siapa yang sudah menyambet Bibir kamu Alisa...dengan tatapan Jengah. Sepertinya bibir kamu sudah akan menjadi milik ke tiga Pria itu. Sungguh wanita yang sangat beruntung tapi menyebalkan."


Alisa terkekeh.


"Mila apa kamu belum pernah di cium Dewa."


"Bukan pernah tapi sering...Puas kamu!!"

__ADS_1


menatap wajah sahabatnya jengah.


Alisa terpingkal


"Apa waktu di cium dadamu..berdebar kencang...Mila."


Mila bertambah kesal.


"Jangan bilang...Andre yang...sudah...mencium kamu..."


Menatap dengan wajah yang sangat kepo dan penasaran, dengan tetap wajah juteknya, tetap terselip di wajahnya yang cantik.


"Hehehe...hehe..."


Alisa terkekeh geli...Melihat Mila yang seolah tidak akan mempercayai, jika Andre telah menciumnya.


"Jawab dulu dong pertanyaan ku...Apakah Jika di cium pacarmu...hatimu berdebar indah..."


"Jelas Oon....!!! Mana ada cewek yang di cium hatinya tidak berdebar. Pertanyaan kamu sangat bodoh sayang...."


"Ada....aku....!!!


Aku...sering di cium Ariel, tapi hatiku tidak berdebar."


Mila menepuk jidat.


"Sungguh kamu wanita Playgirl...kawan..


Sungguh...kamu..wanita serakah yang menyebalkan.


Sudahlaah...Apa Andre sudah menciummu....?


Itu sungguh tidak masuk akalku...Andre pria yang sangat dingin dan tak pernah berpacaran.....


Berani menciummu..... Aku yakin kamu yang nyosor duluan...pasti kamu yang kecentilan dan memaksa Andre mencium mu...iya...Khan....!!


Wadoooow..."


Mila berteriak kesakitan. Dia sungguh sangat cerewet. Kata - katanya begitu panjang seperti kereta api, yang di penuhi cabe yang begitu pedis di hati Alisa, dan akhirnya Alisa kesal dan telah mencubit pinggangnya.


"Sakiiiit...sakit...tau....."


Menatap Alisa dengan kesal dan mengusap kencang pinggangnya yang perih.


"Bodo Amat....kamu...siih...kata - katamu...itu..sangat pedis di telingaku dan hatiku Mila."


"Syukurlah jika sampai di hatimu sakitnya."


Kata Mila lebih sewot lagi.


Alisa berdiri.


"Ayo...kita pergi makan...aku jadi malas membahasnya.


Alisa berubah kesal.


Mila secepatnya merajuk.


"Iya..deeh...aku...salah...habisnya kamu sih..terlalu banyak pria tampan di hidupmu..


Apa Andre benar menciummu?"


Alisa mengangguk dan berdiri dan berlari.


Tinggallah Mila yang terbengong dan menatap jengah kepergian sahabatnya.


"Apa benar...hubungan..mereka ...sudah sejauh itu..."


Mila hanya bisa menggaruk kepalanya dan berdiri dan mulai melangkah dengan pertanyaan di pikirannya. Yang sebenarnya sudah mendapatkan jawabannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2