
Didi mengusap bibirnya yang terasa bengkak di gigit Alisa, Didi menatap Alisa yang memandangnya dengan tatapan mengiba.
"Kamu tahu Didi...Pria itu duluan berpacaran dengan ku, dan aku yang duluan mencintainya...aku membiarkanmu mencintaiku...aku berharap bisa melupakan kekasihku itu, yang hanya bisa pasrah dan merasa dirinya, terlalu hina dan rendah bersanding denganku, aku mencoba melupakan nya tapi aku benar - benar sudah sangat jatuh cinta dengannya, nasibku sama dengan mu Didi......"
Tatapan Didi melunak, merengkuh wajah Alisa, menatapnya penuh cinta dan sangat mengiba.
"Alisa...lupakan dia...belajarlah mencintaiku....aku tak akan pernah mengecewakanmu sayaang..."
"Aku tidak bisa Didi....mengertilah..
aku sangat menyukainya...."
Didi pun emosi dan mengamuk, semua di depannya di banting nya dan kembali memeluk Alisa, memeluknya dengan lembut.
"Ku mohon Alisa....berilah aku kesempatan, aku sangat mencintaimu...sayangku...."
Alisa hanya bisa membalas pelukan Didi, dan menangis.
Untuk sesaat mereka saling berpelukan.
Didi melepaskan pelukannya, membelai wajah Alisa, merapatkan dahi nya ke dahi Alisa.
"Sayaaaaang....ku mohon sayang....aku sudah kehilangan ibuku...aku tidak mau kehilanganmu sayang ..aku tidak bisa hidup tampa kamu sayang...."
Didi menangis tersedu - sedu, Alisa pun sangat sedih mendengar kata - kata Didi...Alisa sangat kasian pada Didi, air mata Didi semakin deras mengalir di kedua pipinya. Alisa mengusap air mata Didi, semakin dia usap semakin banyak mengalir di kedua kelopak matanya.
Alisa sangat sedih, kemarin dia sudah sangat menyakiti hati Ariel, sekarang dia juga melukai hati Didi Prayana.
"Didi aku tidak bisa janji mencintai mu...tapi aku akan berusaha menerimamu...jika aku sudah berusaha dan tak bisa juga mencintaimu Didi...Tolong ikhlaskan aku dengan dia...aku tidak akan membuatku berhati munafik khan, "
"Siapa pria beruntung itu Alisa ?
Apakah dia Ariel ?"
__ADS_1
Alisa menggeleng.
"Bukan Ariel..."
"Jadi siapa dia..."
Dia sudah lulus SMA. Dua tahun lalu sewaktu kita naik kelas dua SMA Didi...dan kami jadian sebelum kita menjadi dekat, dan dia tahu...keakraban kita, dia tahu jika kamu mencintaiku...bahkan dia merasa dirinya hanyalah penjaga jodoh orang lain saja, aku begitu mencintainya...dia pun sangat mencintaiku...tapi dia tidak sekaya dirimu Didi...dia hanya bisa pasrah dan menyerahkan kepada Sang Pencipta, siapapun yang terbaik jodohku.."
"Siapapun dia ...aku sangat iri kepadanya...akupun rela tidak memiliki apa - apa yang penting bisa memilikimu Alisa...kamulah hartaku yang sangat berharga, mulai sekarang kamu milikku..lupakan dia Alisa..."
"Didi aku ingin bertanya ?
Kamu sangat mencintaiku khan, apa sangat mudah menghilangkan rasa cintamu kepadaku...?
Kita sama Didi, akupun sangat mencintainya.
Apa aku bisa melupakannya,? jika dipaksakan pun, cuma menambah kebohongan,
Apa kamu ingin semua selalu seperti itu, Cinta kita penuh kepalsuan."
Alisa duduk di depannya, menatapnya penuh kesedihan.
"Maafkan aku Didi..."
"Kamu benar Alisa...cinta tidak bisa di paksakan...aku tidak rela kamu menjadi milik orang lain, kamu harus belajar mencintaiku dari sekarang...hanya akulah pria yang sangat pantas untukmu..."
Didi berkata sangat egois, tampak dari luar, padahal hatinya sudah menganggap dia benar - benar akan kehilangan Alisa, dia tidak bisa lagi membayangkan dirinya, bagaimana bisa melanjutkan hidupnya lagi.
Alisa hanya bisa terdiam, menatap Didi dengan tatapan sendu. Dia tidak berani menyentuh Didi, Alisa hanya bisa menatapnya saja.
Didi menatap Alisa.
"Alisa...pulanglah....tidak usah memikirkan ku...cepatlah pulang..."
__ADS_1
Didi berdiri, dan membuka kunci pintu dan berjalan di ikuti Alisa, Didi mendekati telepon rumahnya dan menelpon Taxi, menjemput Alisa.
Para pelayan, yang ada di situ membubarkan diri, berjalan ke arah dapur.
Alisa duduk di sofa, Didi berjalan keluar rumahnya, Alisa berdiri dan ikut berjalan keluar. Rumah sepi tak ada kakek dan Orang Tua Didi, Alisa takut menanyakannya.
Tak berselang lama Taksi datang, Alisa pun menatap Didi, tapi pria tampan itu, hanya tersenyum tipis.
Alisa takut menegur, diapun berjalan menuju Taxi, terus berjalan tampa menoleh, padahal Didi sudah sangat berharap Alisa berbalik, menganggap jika Alisa berbalik melihatnya
Berarti Alisa masih ada rasa cinta untuknya walau sedikit, tapi tangisannya telah tumpah ruah, Alisa tidak berbalik walau sebentar untuk melihatnya, tubuhnya telah menghilang dan masuk ke dalam mobil Taxi.
Mobil Taxi terus melaju, meninggalkan tatapan Didi yang sudah di penuhi linangan air mata.
"Aku sangat sakit kehilangan ibuku...sekarang aku pun kehilangan orang yang sangat ku cintai...Mengapa nasibku begitu buruk...?
Mengapa aku di takdirkan harus selalu tersakiti seperti ini..?
Apakah Engkau begitu Membenciku...Wahai Sang Pencipta...?
Apakah Aku sanggup menerima cobaan ini..?
Ampunilah Hamba mu ini Yaa Tuhanku...Izinkan aku memiliki Alisa ku...."
Badannya terguncang, Didi sangat terpukul, diapun berbalik dan berjalan ke kamarnya, mengunci pintunya. Dia terus menangis memanggil ibunya.
"Ibu....andai kamu ada di sini menghiburku...aku tidak akan sesakit ini..
Mengapa kamu meninggalkan aku Ibu..?
Bawalah aku bersamamu Ibu....."
Didi menangis meratap, hatinya sangat sedih, jiwanya terguncang.
__ADS_1
Bersambung