Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku

Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku
BAB 46. Hukuman Yang Tak Terlupakan


__ADS_3

Ibu guru terus tersipu malu dan menatap Didi kasmaran.


Doni sengaja terbatuk.


"Hukk.. hukk...hukk!!!"


Ibu guru tersentak, Dan menoleh ke arah Doni, yang masih terbatuk.


"What happen Doni...? Your sick..?


Doni tersenyum tipis dan masih sengaja batuk.


"What.. Happen. Ibu guru tuh.. what happen...pakai nanya lagi."


Ucap Doni kesal dalam hati.


All right . Good Morning my Childreens..."


.


"Good Morning Moomm.."


Teriak bersamaan Para Siswa dan Siswi di dalam kelas Alisa.


Ibu Aliya guru Bahasa Inggris. Suka dipanggil Mom.


Aktivitas pelajaran pun dimulai. Samar - samar ada suara dari arah gedung kantor.


"Perhatian - perhatian. Semua Siswa dan Siswi kelas A1. Bunga Mawar. Di panggil berkumpul di lapangan Sekolah.


Di sekolah ini setiap kelasnya memiliki nama - nama unik.


"Perhatian - perhatian. Semua Siswa dan Siswi Tampa terkecuali Kelas A1. Bunga Mawar. Segera ke lapangan Sekarang juga...tidak pakai lama..sekarang...juga.."


Suara itu kembali terdengar dan sudah sangat jelas. Doni. Boby. Sudah gaduh. Dengan suara teman sekelas lainnya.


"Kelas kita Bro...yang dipanggil...!!


Serunya. Kata Doni.


"Aduuuuuh...Perasaanku jadi tidak enak....."


Kata Boby.

__ADS_1


Alisa melirik Ke Mila. Dan Mila langsung mengomel.


"Gara - gara idemu tuh.... Kita semua dapat masalah."


Kata Mila kesal.


"Jadiii....bagaimana....Mila...."


Alisa merengek.


"Tauuu Aahh gelap...Sana.cari pacarmu...di belakang..."


Alisa menoleh ke belakang. Mencari wajah tampan Didi. Dan Didi sudah menatapnya dengan senyum sangat manis. Alisa menoleh kembali ke Mila.


"Mila...dia cuma senyum...."


Kata Alisa resah.


"Bodo Amat...Pak Amat saja tidak pusing apalagi Gue."


"Duuuh Mila... pakai logat Kota lagi."


Alisa mengucek rambutnya kesal.


"Saya menghitung sampai tiga...Jika kalian tidak segera ke lapangan. Mau...Mampus kalian..Hahhh...!!"


Kini Terdengar jelas suara Pak Aswat, Suara Pak Guru Killer. Berteriak lantang.


Kelas Alisa. Pada gaduh...bahkan Semua Siswa dan Siswi kelas lain pun berlari keluar tidak memperdulikan guru mereka Karna rasa penasaran. Murid sangat penasaran terlebih gurunya yang belum tahu kesalahan besar yang di perbuat Kelas A1. Bunga Mawar. Semua berkumpul di depan kelas masing - masing.


Didi Berteriak lantang.


"Jangan ada..Yang Menyalahkan seseorang...kita harus kompak..!!"


Dengan sorot mata mengancam.


Kata Didi lantang, yang maksudnya menyindir jangan sampai ada yang menyebut nama Alisa dan Dirinya.


Segera Boby dan Doni berlari keluar disusul, teman yang lain. Merekapun berbondong keluar kelas dan berjalan dengan langkah lebar ke lapangan Sekolah. Disana sudah ada Pak Aswat yang berkacak pinggang.


Mereka mulai berbaris teratur.


"Rapikan barisan kaliaaaan....!!!!!. Saat ini Bapak akan berikan kalian.

__ADS_1


Hukuman yang tak terlupakan.


Bapak tidak mau tahu siapa yang mengajak yang jelasnya, kenapa kalian mau di ajak. Terimalah Hukuman kalian Hahh!!!!!!."


Berteriak Marah.


Teriaknya dengan nada marah.


Siswi pada mau menangis ketakutan. Siapa yang tidak kenal Pak Aswat. Dia tidak segan memukuli Siswanya. Dia sering memukuli siswa bermasalah. Dan membuat siswinya menangis dengan teriakannya, dan bentakannya.


"Kalian....Maju satu - satu.!!!!"


Menunjuk Siswa untuk berbaris melaluinya


Setiap siswa yang lewat di depannya. Mendapat tend*ngan bebas darinya. Bayangkan saja, pak Aswat memakai sepatu yang tebal alas ujungnya. dan seluruh pinggirannya.


Di Masa ini Tahun 1998. Para guru sangat tegas pada Siswa dan Siswinya.


Mereka pun, yang manja ada merintih, bahkan ada yang menangis. Bahkan mereka di suruh kembali ulang berjejer melewati Pak Aswat. Dan tendang*n bebas pun. Mereka rasakan untuk kedua kalinya.


"Hiyaaa...Plakk..."


Begitulah suara Pak Aswat mengeluarkan jurusan tend*ngan mautnya.


"Aduuuu...Pak....Aduuuh...ampun pak...Aduuuh Tobat pak...."


Begitulah kira - kira jawaban Siswa yang mendapat jurus tendan*an mautnya.


Mereka sudah terpincang berjalan sempoyongan dan ada jg yang membungkuk menahan sakit.


Hanya satu pria yang tetap tenang dan tetap cool. Expresi wajahnya biasa .Seolah tak merasa sakit sedikitpun.


Mata siswi yang pada menonton sangat terpukau. Dan ada pula yang langsung membenci Pak Aswat telah melukai kaki Didi yang saat ini, menjadi siswa terpopuler di sekolah saat ini, di hati para Siswi.


Andre sangat galau dan gelisah. Melihat kekasihnya sudah ketakutan dan berpelukan dengan Mila. Rasanya dia mau berlari kesana, menolong kekasihnya. Tapi Alisa pasti marah karna sudah melarangnya untuk menampakkan hubungan mereka. Dia hanya bisa menatap kekasihnya dengan rasa khawatir yang sangat besar.


"Kesalahan besar apa sayang...kalian perbuat sayang. Sampai kalian satu kelas bisa di hukum.."


Andre menarik nafas dalam - dalam. Tapi diapun mengernyitkan keningnya


"Bukankah itu Didi. Dia sudah tampak rapi. Biasanya sangat cuek, dan berantakan dan jarang sekali ke sekolah. Apa dia juga tertarik dengan Alisaku....Alisaku sangat cantik. Bisa saja dia tertarik dengannya. Lagipula mereka sama - sama dari golongan atas, sepertinya aku tidak boleh berharap banyak dengan Alisa dan mencoba melupakannya"


Hati Andre menjadi sangat sedih. Karna dia sudah sangat mencintai Alisa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2