Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku

Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku
Bab 148. Sanggupkah Aku Hidup Tanpamu Alisa.


__ADS_3

Andre sangat terharu, tapi hatinya terlalu bersih dan baik, dia selalu condong mengorbankan diri, daripada membuat Alisa durhaka pada Orang Tuanya.


Alisa mengelus bibir Andre lembut.


"Andre...aku sangat merindukan bibir ini, juga tubuh ini Andre."


Alisa mengelus bibir Andre dan tangannya mulai mengelus tubuh Andre.


Andre tak mampu menahan diri lagi, diapun menarik wajah Alisa dan mengecup bibirnya lembut.


Alisa meringis kesakitan, Karna bibirnya luka karna tinju Ayahnya. dan Andre pun tersadar, jika apa yang dia lakukan adalah dosa besar.


"Alisa masuklah di kamar kakak ku tidur, kita tak bisa melakukan hal ini, kita sudah bercerai.


Alisa pun menatap dengan wajah sendu.


"Aku akan mengurus perceraian ku Andre, aku mohon berjuanglah demi aku, dan Afkar. Tetaplah ada di samping kami."


Andre hanya bisa tersenyum, berdebat dengan Alisa tak akan ada habisnya.


"Alisa tidur yah, "


Berdiri dan memegang lengan Istrinya untuk berdiri.


Alisa hanya bisa menuruti kemauan Andre.


Alisa memeluk erat kembali mantan Suaminya dengan erat.

__ADS_1


Andre hanya bisa memeluk juga istrinya dan mengecup keningnya.


Andre mencoba melepaskan pelukan Alisa, dia pria normal sejak meninggalkan Alisa dia tak pernah melakukan hubungan badan dengan seorang wanita pun selain Alisa, dia tak mau melakukan hal yang haram baginya.


Alisa pun terpaksa masuk kedalam kamar kakak Andre, dan tidur di sampingnya.


Andre pun, berjalan masuk ke kamarnya juga. Malam itu dia sangat gelisah dan merindukan hubungan Suami Istri, yang sering dia lakukan dengan Alisa sewaktu masih sah menjadi istrinya.


Tak jauh beda dengan Alisa, malam itu kedua pasangan yang sudah berstatus mantan ini, hanya bisa gelisah meliuk kesana kemari, untuk menghilangkan pikiran itu, dan akhirnya mereka pun tertidur lelap.


*****


Sementara di rumah Alisa tampak Ayah Alisa berbincang dengan Didi Prayana.


"Didi...kamu jangan menyerah, Alisa adalah Istrimu, kamu harus memperjuangkannya."


Didi Prayana kembali banjir air mata.


"Tapi kamu sangat mencintainya nak.."


Menatap menantunya dengan tatapan sendu.


"Benar kata Ayah, tapi cinta terkadang tak bisa saling memiliki ayah, dan tak bisa di paksakan."


"Mengapa kamu begitu lemah nak, Alisa dan Afkar milikmu, dan selamanya akan menjadi milikmu."


"Trima kasih atas supportnya Ayah, maaf aku lelah aku mau tidur "

__ADS_1


Didi pun berdiri dan beranjak dari tempat duduknya, berjalan ke arah kamar Alisa.


Ayah Andre hanya bisa menatap punggung menantunya, yang berjalan menjauh.


"Menantuku jika kamu tak mau berjuang, akulah yang akan memperjuangkan nya, bagaimanapun caranya, Alisa harus kembali kepelukan mu."


Ayah Alisa pun berjalan ke kamarnya juga.


Dikamar Alisa, Didi Prayana menutup pintu dan duduk bersandar di pintu, dia pun menangis pilu dan meremas dan menjambak rambutnya.


"Alisa ku sayang..Sanggupkah aku hidup tanpamu Alisa di sampingku.?


Apakah cintaku tak ada artinya lagi bagi kamu..?


Apa kurangnya aku di banding Andre..?


Apakah kamu tak kasian padaku Alisa...?


Didi terus menangis pilu, air mata sudah sangat deras keluar dari kedua pipinya. Didi terus menangis dan meratap sedih, saking sedihnya dia pun sampai tertidur di lantai depan pintu kamar Alisa Sampai pagi.


Sangar subuh Didi terbangun dan minta pamit pulang ke rumah nya.


Untunglah Kakeknya dan orang tuanya tak melihatnya.


Didi Prayana pun masuk ke kamar nya melanjutkan ratapan kesedihannya. Dia sungguh pria yang sangat mencintai Alisa.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2