
Untuk sesaat mereka masih canggung.
Andre mengingat Afkar, diapun ke kamar Orang Tuanya dan mengetuk pintu. Tampak orang tuanya membuka pintu.
Tampak mamanya menggendong Afkar yang sudah besar.
Dia sangat imut dan menggemaskan, dan memiliki wajah yang mirip dengannya.
Andre sangat merindukan anaknya, diapun langsung mengambil anaknya yang kebingungan menatapnya.
Andre memeluk dan mencium nya dengan penuh kerinduan.
Biasanya Afkar sangat cerewet tapi bocah tampan itu hanya terdiam. Anak kecil memiliki naluri tajam. Garis darah membuatnya tenang, adem dan ayem dalam kungkungan dan ciuman bertubi - tubi di pipinya.
"Anakku sayang...kamu sudah besar sayang...dan sangat tampan..."
Alisa hanya bisa menatap dengan air mata yang berderai.
Andai waktu bisa di putar, dia takkan menikah dengan Didi Prayana, dan tetap menunggu kedatangan Suaminya. Walau Suaminya telah menceraikannya tapi Alisa tahu, tatapan Suaminya menyembunyikan rahasia besar.
"Tatapannya penuh cinta padaku, air matanya murni untukku. Apakah dia mendapat tekanan dari keluargaku,?
Apakah dalang semua ini adalah keluargaku.?
Mengapa secepat itu Andre berubah, sedangkan dia sangat mencintai aku.?
Mengapa baru sekarang aku menyadarinya. ?Andre masih mencintai aku. Caranya menciumku dia masih sangat merindukan ku. dan sangat mencintai aku.
Lihatlah dia sekarang...betapa menyedihkannya dirinya, matanya, tingkahnya dia masih mencintai kami berdua.
Alisa pun berkata dengan lantang. Kata hatinya yang bergejolak dia tumpahkan, dan berkata lantang pada mantan Suaminya.
"Andre jawab lah jujur kepadaku.....?
Apakah keluargaku...yang menekan mu, sehingga kamu meninggalkan aku...?
Andre sangat shock, dia berhenti mencium anaknya.
__ADS_1
Ayah dan ibunya saling memandang dengan resah.
Andre menurunkan anaknya.
Kakak Andre yang juga ada di dalam kamarnya, yang sudah mengetahui keberadaan Alisa. Segera keluar dan membawa Afkar keluar rumah.
Afkar sudah sangat cerdas dan memahami semua kata - kata, dia tak ingin keponakannya tahu banyak, dan menceritakan nya pada keluarga Alisa.
"Tante....om itu ciapa.....?"
Kakak Andre segera menggendong Afkar keluar rumah.
"Ayuk kita pergi beli jajan yang banyak yuuk...!!"
Afkar tampak masih sangat penasaran, dia terus berbalik memandang Ibunya dan pria yang tadi menciumnya.
"Tante....kenapa..Ibu....marah sama om itu....Tante...?"
"Om bandel sih....makanya mama marah tuh..."
Tampak suara samar kakak Andre menjelaskan pada Afkar, yang sudah berada di teras rumah, terus melangkah maju keluar dari rumahnya.
Melihat anaknya sudah tak terlihat, Alisa kembali bertanya.
"Andre....mengapa kamu diam Andre...?
Kamu tidak bisu khan...?"
Andre menatap Alisa dengan tajam.
"Tidak ada yang menekan ku...akulah yang punya keinginan sendiri Alisa..."
Alisa menatap penuh amarah dan membentak.
"Jangan membohongi aku Andre, aku bisa melihat cinta di mata kamu masih milikku...jangan membohongiku Andre...!!!"
Andre bingung, dia tahu telah membuat kesalahan besar dengan mencium Alisa.
__ADS_1
Mama Andre mendekati Alisa.
"Anakku Alisa....ingat nak...kamu sudah milik Didi Prayana. Jangan melukai hatinya. Dia sangat baik kepada kamu nak dan Afkar."
"Mama....aku tahu...aku sudah menjadi milik dia, tapi aku bisa meninggalkan dia bahkan keluargaku...jika Andre mau memilihku...mama....Hik..hik..hikk....Aku masih sangat mencintai anak mu mama....
Aku sudah berusaha melupakannya, tapi aku tak bisa mama...hik..hik..hik..."
Memeluk mertuanya sambil menangis.
Andre tak kuasa menahan air matanya, dia pun masih sangat mencintai Alisa...tapi jurang begitu lebar diantara mereka. Andre tak sanggup untuk melompatinya.
Dia segera mengusap air matanya.
"Aku akui...aku masih mencintai kamu Alisa...tapi tolong lupakan aku..."
Alisa melepaskan pelukannya pada mantan mertuanya. Menatap Andre dengan tatapan kebencian.
"Dasar...bajing*n kamu Andre...mudah nya kamu mengucapakan kata - kata itu, Apa kamu pikir aku tak berusaha Hahh...!!! Aku sangat berusaha melupakan pria berengs*k
seperti kamu Andre...!! tapi sungguh aku begitu mencintai pria bodoh ini mama...Tolong aku mama....aku sungguh masih mencintai anak mu mama....hik..hik..hik...."
Memegang kedua bahu mama Andre, dengan tatapan kepedihan dan luka yang mendalam. Air mata begitu derasnya mengalir dari kedua pipi Alisa.
Mama Andre hanya bisa menangis.
"Aku mohon Alisa jangan memilih anakku...dia sangat tak pantas untuk kamu nak...kamu sangat berharga sayang...mengertilah..nak. Ingat Suamimu sekarang nak, hik..hik..hikk...Mama mohon nak...lupakan anak ku nak...lupakan dia...hik..hik..hik..."
"Mama....aku sangat mencintai anakmu mama...Apa yang harus aku lakukan sekarang...? hik..hik..hik..."
Mereka pun berpelukan dalam tangisan yang menyayat hati.
Andre sangat terguncang, air matanya telah sangat deras mengalir di kedua pelupuk matanya. Ayahnya datang memeluk bahunya. Menepuk bahunya dan menguatkan anaknya membisik nya pelan sekali.
"Andre...jangan memperlihatkan air mata itu nak, Alisa sudah milik orang lain nak."
Andre tersadar dan segera mengusap air matanya sebelum Alisa melihatnya. Menarik nafas panjang, melawan segala kesedihan yang membuncah dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung
mem