
Didi Prayana terbangun, dia pun tersenyum bahagia melihat gadis yang begitu di cintainya, telah tertidur pulas dalam pelukannya, dan tidak menjauh darinya.
Lengannya terasa ngilu, tapi ditahannya..Dia ingin menikmati wajah istrinya yang begitu cantik dan mempesona. Didi pun gemas dan mencium kening, hidung, kedua pipi Alisa dan beberapa kali mengecup bibir yang begitu manis dan lembut dan sangat menggairahkannya.
Alisa yang memang sudah tidak tidur, hanya bisa pasrah dan berharap Didi hanya menciumnya, tidak bertindak lebih jauh. Didi terus menciumnya, bahkan sudah memanas dia mulai menghisap lembut bibir atas dan bibir bawah Alisa bergantian, pergerakan Abang Beo pun semakin liar di bawah sana. menekan paha Alisa, bahkan paha Didi pun terus mengelus Area sensitifnya, yang tak ada penutup itu, sudah melengket di paha Didi, yang membuat Didi pasti merasakannya.
Didi semakin terbakar gairah, karna Aset pribadi Alisa telah dia rasakan menyentuh pahanya tampa penghalang lagi, paha Didi terus menggeseknya.
Alisa tersadar dan membuka matanya, dan mendorong tubuh Didi Prayana.
Didi Prayana tersadar dengan apa yang dia lakukan, dan melihat wajah Alisa yang begitu resah dan tidak menginginkannya.
Didi pun menghentikan ciumannya yang semakin memanas, dia pun meminta maaf kepada Alisa.
"Maafkan aku Alisa."
Alisa mengangguk.
Didi pun bangun dari tempat tidurnya, dan meraih baju mandinya, dan segera masuk ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi diapun membuka baju mandinya dan pembungkus Abang Beonya yang sudah sangat menegang, Didi hanya bisa mengelusnya.
__ADS_1
"Sampai kapan aku bisa menahan godaan tubuhnya...aku sungguh tidak sanggup jika begini terus, tapi jika aku paksakan aku takut Alisa membenciku dan akhirnya meninggalkanku, dan ini tidak boleh terjadi. Aku akan mencari kepuasanku saja di dalam sini"
Didi pun mulai mengambil sabun dan membalurkan di seluruh tubuhnya, dia mulai mengelus kembali Abang Beonya yang masih menegang sempurna, Didi hanya bisa mencari penuntasan dengan caranya sendiri sampai lahar bening itupun keluar dari tubuhnya, di sertai erangan halusnya, dia hanya bisa membayangkan sedang berhubungan intim dengan Alisa istrinya. Setelah puas dan mendapatkan penuntasannya, diapun segera mandi.
Alisa pun bangun dan meraih baju mandinya dan memasang pakaian mandinya, menutupi tubuhnya yang hanya memakai pakaian tipis transparan dan menunggu Didi selesai mandi, dia sangat kasian pada Didi, tapi sungguh Alisa belum bisa ikhlas menerima Didi seutuhnya.
Setelah Didi keluar dari kamar mandi, Alisa pun masuk ke kamar mandi, keduanya menjadi canggung dan menutupi dengan senyuman tipis dari keduanya yang saling membalas.
Alisa masuk ke kamar mandi dan terduduk di pinggir kamar mandi, dia meremas rambutnya dan mulai menangis.
"Andre....Mengapa kamu meninggalkanku..
Andai kamu tidak meninggalkanku, hik..hik..hik... aku tidak akan menderita begini, kita akan selalu bahagia."
Alisa terus menangis cukup lama, tapi dia pun tidak ingin matanya sembab dan bengkak. Alisa pun segera mandi.
Selesai mandi diapun keluar kamarnya. Didi sudah Memakai baju kaos putih dan celana pendek di atas lutut berwarna coklat muda.
"Kasian Didi, dia sangat mencintai aku, padahal dia sangat tampan dan tajir, diluar sana sungguh dia menjadi idola semua wanita, tapi sayang hatiku sudah ada yang memilikinya. Kita bernasib sama, memiliki cinta yang bertepuk sebelah kanan."
Alisa terus berkata dalam hati sambil melangkah mendekati Didi Prayana, pikirannya terus menerawang.
__ADS_1
"Sayang...baju kamu, ada dalam tas itu sayang....Barusan Bibi Surti yang antar, juga dengan pakaianku di koper yang satu."
Alisa tersenyum.
"Sayang...kemari lah dan duduk di sini sayang..."
Menepuk pahanya, menyuruh istrinya duduk di pahanya.
Alisa pun berjalan mendekati Didi Prayana, dan duduk di atas pahanya. Didi pun mulai mengeringkan rambut Alisa dengan handuk yang sudah dia persiapkan.
"Istri siapa sih ini, ? Sangat cantik dan wangi...? "
Didi mulai merayu dan sangat gemas pada istrinya.
Didi mulai mengeringkan rambut Alisa, memakai handuk kecil. sesekali mencium rambut dan bahu istrinya.
"Sangat harum dan lembut sayang..."
Alisa hanya diam dan tersenyum tipis.
Bersambung.
__ADS_1