
Didi Prayana sangat shock melihat Istrinya begitu terluka, dan di penuhi kesedihan yang begitu besar.
"Ada apa sayang.... ?"
Didi membantu mengeringkan tubuh Istrinya dan mencari baju daster dan langsung memakaikan di tubuh Istrinya.
Didi membelai lembut kedua wajah Istrinya.
"Sayangku...jangan membuatku khawatir sayang... coba cerita sama aku yah sayang dan kita cari solusi sama - sama sayang.."
Alisa masih terus menangis.
Didi membawa Istrinya ke dalam pelukannya. Dia hanya terdiam dan terus membelai rambut Istrinya dan selalu mengecup keningnya.
"Baiklah sayang...jika kamu tidak mau cerita, jangan dulu sayangku....istirahatlah."
Didi membaringkan Istrinya dan diapun tidur di samping Istrinya. Diapun memeluk Istrinya dan selalu mencium keningnya dan menepuk - nepuk bahunya.
Pikiran Didi pun kalut dan resah
"Apa yang terjadi sayangku..? Apakah kamu mengingat Andre lagi...? Mengapa pria brengsek itu masih memiliki hati mu Alisa...?Apakah aku sungguh belum bisa membuat mu jatuh cinta ?.dan melupakan Andre.
Aku sudah memiliki ragamu tapi hatimu masih milik Andre brengsek itu,
Takkan kubiarkan Andre merebut mu dariku"
Tak terasa gulir Ari mata menetes dari Pipi Didi Prayana, diapun segera menghapusnya.
Akhirnya mereka berdua tertidur, Didi tetap memeluk Istrinya.
__ADS_1
*****
Terlihat Papa dan Mama Alisa berbincang.
"Semoga saja pak yah, Andre tidak datang - datang lagi, agar kehidupan rumah tangga Didi dan Alisa, selalu bahagia."
"Iya ma...Semoga saja. Ooh ya, mana Afkar yah, mama..?
Tadi Alisa bawa kerumah mertuanya Pa tapi Alisa sudah ada di kamarnya dengan Suaminya."
Kata Mama Alisa.
"Mungkin Kakek dan Neneknya disana. masih rindu."
Kata Papa Alisa menjelaskan.
*****
Andre yang masih menangis, segera mengusap air matanya. Diapun langsung berdiri dan berjalan ke arah kakaknya dan langsung menggendong Afkar, dan menciumnya berulang kali.
Afkar nampak pasrah dalam pelukan, dan ciuman Andre yang anak kecil itu, belum tahu kalau yang memeluknya saat ini dan menciumnya adalah Papa kandungnya.
Akhirnya Afkar pun mulai kesal dan mulai bawel bertanya.
"Paman ciapa sih...? cium Afkal telus..."
Andre tersenyum manis dan tersenyum geli, kata - kata anaknya sangat menggemaskan.
"Paman ini...Papa kamu nak..."
__ADS_1
Wajah imut itupun memegang dagunya, dan keningnya berkerut.
"Papa Idi...Papa Afkal...kalau Paman Papa Afkal belalti Afkal punya dua Papa doong....Hoye....Hoye....Afkal anyak Papa...."
Tertawa dan bertepuk tangan.
Hati Andre sangat sedih...anaknya Afkar menganggap Didi Papanya. Tapi anaknya adalah anak kecil dan selama ini Didilah yang ada di sampingnya. Jadi dia harus waras memikirkannya walau hatinya sangat cemburu pada Didi Prayana.
Andre hanya bisa mengangguk dan menurunkan anaknya, dan mulai membongkar mainan yang ada dalam dos yang dia belikan banyak untuk anaknya.
Afkar sangat senang dengan banyak mainan baru yang masih terbungkus dalam dos.
Afkar selalu tertawa sambil membuka satu persatu dos mainan, dan mulai memainkannya dengan Andre.
Papa dan anak itu sangat kompak bermain bersama. Tawa dan canda menyertai mereka dalam bermain. Sesekali Andre memeluk dan mencium anaknya, dia menumpahkan semua kerinduannya pada anak yang sangat di cintainya.
Mereka terus bermain sampai Afkar mengantuk.
Andre pun menggendong anaknya membawanya ke kamar dan menidurkannya.
Andre mengusap bahu anaknya dan menepuknya halus.
Afkar pun mulai memejamkan mata, Andre selalu menatap anaknya, dan menciumnya. Tak terasa air matanya bergulir kembali dengan derasnya.
"Maafkan Papa sayang...akhirnya meninggalkan kalian berdua, kesayangan Papa. Kamu tahu nak, hidup tampa kalian rasanya seperti ingin mati saja, andai Papa tak punya iman, sudah lama Papa mengakhiri hidup Papa, yang sangat gelap gulita ini. Hik...hik...hik...Sumpah demi apapun sayangku...Aku sangat mencintai kalian melebihi hidup Papa, tapi papa mau apa nak, di kehidupan ini Papa sangat tidak beruntung."
Tubuhnya terguncang menahan kesedihan yang begitu besar, air mata tak ada putus nya mengalir. Saat ini Andre telah banjir air mata, di samping anaknya yang sudah lelap dalam tidurnya.
Andre selalu berperang dalam hatinya, berperang dengan kesedihan yang teramat besar, dan tak sanggup lagi di pikulnya.
__ADS_1
Bersambung