
Alisa terpaksa memakai gaun itu, sedangkan Didi Prayana memundurkan langkahnya, agar Alisa tidak tahu kalau dia sudah melihat Alisa melepas pakaiannya, dan memakai baju tidur yang sangat tipis itu. Istilah zaman sekarang baju har*m.
Alisa segera masuk ke dalam selimut, dan Didi Prayana setelah berjalan mundur, kemudian berjalan lagi ke depan seolah baru keluar dari kamar mandi. Didi Prayana pun menghampirinya.
"Segar juga... sudah mandi sayang..."
Didi Prayana menghampiri Alisa dan duduk di sampingnya.
Didi Prayana mendekatkan wajahnya dan mencium kening Alisa.
Istirahatlah sayang... jika kamu merasa lelah.
Didi Prayana berdiri dan membuka lemari, tapi tak ada satupun pakaian di sana. walau hanya pakaian dalam, sama sekali tidak ada.
Diapun tertawa.
"Sayang...lihatlah pekerjaan orang dalam rumahku, mereka sungguh menjebak kita. Saat ini kita seperti manusia yang hidup di hutan, yang tidak terjangkau manusia luar. yang tak memiliki pakaian."
Alisa terkekeh geli.
"hihihi...hihi....Aku juga di siapkan baju tapi tembus pandang juga."
Didi Prayana sangat bahagia, istrinya sudah mulai tertawa.
Diapun berbalik dan membuka baju mandinya.
Alisa sangat kaget.
__ADS_1
Dia sedikit bernafas lega, Karna Didi Prayana masih memakai ****** *****. Tapi tubuhnya yang putih bersih dan berbentuk roti itu, mengingatkannya pada tubuh Suaminya Andre.
Alisa mengalihkan pandangannya.
Didi Prayana duduk disamping Alisa, dan menggeser tubuh Alisa, berbaring di sampingnya.
Alisa sangat resah, dia belum bisa melakukan malam pertama dengan Didi Prayana.
Didi Prayana mengangkat kepala Alisa dan masukkan lengannya ke bawah leher Alisa agar menjadi bantal Alisa.
"Sayang...jangan khawatir, aku tidak akan memaksa kamu menunaikan kewajiban kamu kepadaku. jika kamu belum menginginkannya. Aku akan sabar menunggu kamu sampai kamu siap, tapi biarkan aku memeluk mu."
Alisa membalik badannya ke Didi Prayana, yang sudah sah menjadi Suaminya.
"Maafkan aku Didi, tapi aku akan berusaha membuka hati ku, untuk kamu."
Didi mengecup kening Alisa, dan selalu mengulangnya.
Alisa membiarkannya, hatinya terasa sejuk dan damai.
Didi Prayana membelai wajah cantik Alisa dengan lembut
"Aku sangat mencintai kamu Alisa, Apa kamu
tahu ? Aku selalu menangis jika mengingat kamu sayang."
Alisa hanya bisa tersenyum.
__ADS_1
Didi terus membelai wajah yang sangat di cintainya, mengecup kening Alisa kembali.
"Yang Maha Kuasa sangat baik kepadaku, memberiku kesempatan sebaik ini, memiliki kamu sayang...aku sungguh sangat mencintai kamu. Aku sangat bahagia sudah ada kamu menemaniku, menghabiskan malam dan kehidupan kita, semoga sampai kita menua.
Bolehkah aku memelukmu sayang ?"
Alisa pun merapatkan tubuhnya ke Didi.
Didi memeluk Alisa dengan erat, Alisa hanya bisa pasrah dalam pelukan Suaminya.
Mereka pun akhirnya tertidur.
Malam terus merangkak naik. Sang Bulan pun terlah terganti dengan Sang Surya yang masih
malu - malu menampakkan sinarnya yang terang.
Alisa terbangun dan masih dalam posisi dalam pelukan Didi Prayana.
Dia tersenyum Karna dia baru menyadari suatu hal, Pahanya masuk ke sela kedua paha Didi Prayana. Dan Didi Prayana begitu erat menjepit pahanya juga. Alisa merasakan Abang Beo milik Didi Prayana sudah menegang sempurna, dia sungguh merasakan bentuk dan ukurannya tercetak di pahanya.
"Pria sama saja, walau tertidur jika melakukan hal ini tetap saja aset pribadinya tak terkontrol. Maafkan aku Abang Beo, belum bisa menerima kamu, tubuh ini rasanya tak ikhlas, karna sudah ada yang benar - benar pernah memilikinya."
Alisa memandang wajah Didi Prayana.
"Dia ternyata sangatlah tampan jika tertidur, wajahnya begitu menggemaskan, bibirnya begitu merah dan seksi, hidungnya mancung dan begitu pas di wajahnya. Belum selesai pujiannya dalam hati, Kedua mata Didi bergerak.
Alisa segera menutup matanya, Karna akan malu jika Didi mengetahui dari tadi Alisa mengomentari dirinya di dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung.