Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku

Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku
Part 75. Penjelasan Mila.


__ADS_3

Waktu terus bergulir, siang pun menjadi malam, kesedihan Didi sudah agak mereda, dia sudah mandi. Dia mau ketemu Mila di rumahnya, dia harus tahu siapa kekasih Alisa ?


Kelopak matanya masih terlihat sembab. Diapun mencuci mukanya berulang kali, agar wajahnya bersinar dan matanya yang terlihat sembab, cerah kembali.


Didi memasang helm tengkoraknya dan memakai kacamata hitam nya dan berjalan keluar kamarnya, dia tidak ingin di curigai kakek dan Orang tuanya, yang sedang berkumpul di luar.


Untunglah mereka sibuk berbincang, jadi mereka tidak banyak bertanya, waktu Didi meminta pamit keluar dulu sebentar.


Didi naik di atas motor besarnya, melajukan nya membelah jalan kota yang ramai. Diapun mengikuti alur jalan yang terkadang lurus dan terkadang berbelok ke arah rumah Mila. Dia sudah menelpon Mila untuk menunggunya.


Didi sudah sampai di rumah Mila, memarkir motornya dan membuka helmnya tapi masih mengenakan kacamata hitamnya.


Mila sudah menunggunya di teras dan mempersilahkan Didi masuk ke rumahnya. Didi pun mengikuti langkah Mila masuk ke dalam rumahnya.


Mereka pun duduk bersampingan. Mila sudah tahu maksud kedatangan Didi, Alisa sudah menelponnya dan menangis bombay menjelaskan masalah yang di hadapi Alisa dan Didi. Saat ini dia harus membuat Didi menyerah dan melupakan Alisa.


Penjelasan Mila, dia sangat butuhkan saat ini.


"Mila...aku mau bertanya, jawab aku dengan jujur.


Siapa pacar Alisa...? Kamu pasti tahu."

__ADS_1


"Didi dengarkan aku, Alisa sahabatku itu terlalu polos dan suka mengorbankan dirinya dan sangat menjaga perasaan orang lain."


"Sudahlah Mila jangan membelanya, beritahu aku saja, siapa pria itu.?"


"Baiklah Didi...kamu tahu kakak kelas kita yang bernama Andre."


Didi menarik nafas panjang, ternyata kakak kelasnya, pria tampan idola sekolahnya yang menjadi saingannya.


"Jadi dia orangnya"


Didi mengepalkan tangannya sangat kesal.


Mata Didi mulai berbinar menahan kesedihannya.


"Didi maafkan Alisaku...dia memang sangat salah, tapi melihat kakek dan keluargamu bahagia dengan perubahan sifatmu, sahabatku mengorbankan dirinya, walau selalu ku larang, tapi inilah yang selalu Alisa khawatirkan, kamu pasti sangat terluka, dan akhirnya terus berbohong."


"Mila jawab aku jujur, apa kekuranganku di banding Andre, ? Aku tampan, aku tajir dan aku bisa membahagiakan Alisa, seharusnya dia memilihku, bukan memilih si bodoh Andre itu."


"Kamu benar Didi, kamulah yang terbaik, tapi Alisaku itu, memiliki jiwa sederhana, polos dan rendah hati, dia jatuh cinta pada Andre, Karna jiwa Alisa sudah sehati dengan Andre, pria itu memiliki hati malaikat, dia tahu kamu menyukai Alisa, bahkan menyuruh Alisa memilihmu, tapi cinta itu buta, dan cinta Alisa saat ini sedang di uji, dia mencintai Andre, tapi denganmu Didi dia hanya bersimpati, tolong lupakan dia, seribu wanita yang lebih baik dari Alisa bisa kamu dapatkan, hanya dengan menjentikkan jarimu, dunia ini sangat luas, sangat banyak wanita yang sangat cantik di luar sana Didi Prayana, sadarlah..jangan menyiksa dirimu."


"Mila...jangan berbicara lagi, saat ini aku membenci kalian berdua."

__ADS_1


Didi berdiri dan berjalan gontai keluar rumah


Mila, Sangat sakit dan sedih melihat keadaan Didi yang begitu terpukul, Mila menitikkan air mata, dia sungguh sangat kasian dengan Didi Priyana, tapi apa dayanya, cinta tak bisa di paksakan.


Didi naik ke motornya, dia melajukan motornya ke arah toko bos Andre, dia tahu Andre tidak kuliah, selepas tamat SMA, dan bekerja sebagai penjaga Toko, Karna mungkin keterbatasan biaya, dia pemuda yang sangat tampan, tapi terlahir di keluarga menengah bawah, Ayahnya hanyalah seorang mandor pabrik, sedangkan Alisa anak orang golongan atas, seperti dirinya dan keturunan nigrat. tapi orang tuanya sangat pemilih, dan sangat menjaga status, mungkin itulah yang membuat Andre minder, tapi Alisa sudah memberiku harapan palsu, aku akan menghalangi hubungan mereka.


Pikiran Didi terus menerawang, walau diatas motor besarnya yang terus melaju, sampailah dia di depan toko tempat Andre bekerja.


Satu jam berlalu, Andre telah berjalan keluar dari Toko bosnya, dengan berjalan kaki. berbelok di gang sempit. Didi mengikutinya.


Diapun merem motornya tepat di depan Andre, dan langsung turun melayangkan tinjunya ke Andre,


Andre seorang pelatih silat, dan sering ikut kejuaraan pencak silat, Didi Prayana seorang petarung jalanan. Didi begitu ambisi melayangkan tinju dan tendangannya dengan membabi buta, tapi Andre selalu bisa menangkisnya. Tapi tak ada niat membalas. Andre tahu, penyerangnya adalah Didi Prayana, walau masih memakai helm, Andre sangat tahu, motor besar yang di pakai Didi Prayana.


Didi sudah kewalahan memukul dan kecapaian, diapun berteriak kesal dan melemparkan helmnya ke Andre, tapi Andre bisa menghindar dengan mudah.


Wajah tampan Didi, begitu bersinar terpiaskan penerangan lampu jalan yang tidak begitu terang, wajah tampan Andre pun, bersinar pula, mereka masing - masing memiliki kulit yang putih bersih, ketampanan mereka pun, tak bisa orang menilainya apalagi memperbandingkannya, mana yang paling tampan, mereka berdua sangatlah tampan dan rupawan.


Alisa memang gadis cantik yang sangat beruntung, di pandangan luar seseorang, tapi pada kenyataannya, dia sangat membenci nasibnya, yang sudah terjebak di ketiga pria tampan yang sudah memperebutkannya. terus menyalahkan dirinya, yang telah membiarkan dirinya larut dalam badai cinta sandiwara beralaskan simpatik saja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2