
Alisa tertunduk sedih. Ariel berbalik dan merengkuh wajah cantik itu, dengan kedua telapak tangannya.
"Sayaang....aku sangat mencintaimu...tapi aku tak mau kamu mencintaiku karena kasihan dan memaksakan diri. Biarlah kita berjauhan agar kamu bisa membedakan apakah ini cinta untukku ataukah rasa kasihan saja. Aku mencintaimu dengan tulus, dan cinta sejati terkadang membutuhkan pengorbanan. Aku yakin Yang Maha Kuasa akan memberikan jodoh yang terbaik untuk kita berdua.
Alisa hanya bisa menatap Ariel dengan tatapan sendu, air matanya kembali jatuh menetes di kedua pipinya yang halus. Ariel menarik tubuh Alisa dalam pelukannya, cukup lama mereka berpelukan.
Ariel melepaskan pelukannya dan berdiri dan menarik Alisa untuk berdiri dan memeluknya lebih erat, mereka saling berpelukan seolah ini adalah pelukan terakhir mereka.
Ariel melepaskan pelukannya, menarik dagu Alisa ke atas dan membenamkan bibir nya ke bibir Alisa mengecup bibir itu berulang kali. Dan melepasnya.
Ariel berjalan ke pintu membuka pintu, memeriksa ruangan di luar yang masih sepi dan memberi kode Alisa untuk keluar. Mereka pun keluar dari kamar dan duduk di sofa tapi agak berjauhan.
Papa, dan mamanya dan adiknya sepertinya ada di dalam kamar masing - masing.
Alisa berdiri ke meja telepon rumah dan menelpon Taxi, Mereka saling menatap dan Ariel menunduk kembali. Alisa sangat membenci dirinya yang tak bisa mencintai Ariel, yang begitu sayang dan mencintainya.
Alisa berjalan dan duduk di pangkuan Ariel, mengusap wajah tampan itu, mengecup bibirnya penuh sayang.
"Maafkan Aku Ariel.."
Ariel mengangguk dan mencium punggung tangan Alisa dan mengangguk.
Alisa memeluk Ariel, tapi Ariel melepaskannya. Dia tidak ingin keluarganya melihatnya, biarlah mereka tidak mengetahuinya.
"Alisa.. bangunlah, aku tak mau keluargaku tahu hubungan kita."
Alisa sadar dan berdiri, Dia pun berjalan duduk di sofa yang lain. Mereka saling menatap dengan tersenyum.
Ariel.
__ADS_1
"Beruntung sekali Andre, memiliki hatimu, aku belum pernah melihatnya, tapi aku yakin dia lebih dari segala - galanya dari aku. Semoga jika dia jodoh mu Alisa, dia bisa menjagamu dengan sangat baik, Karna jika tidak aku akan mengambil mu paksa dari dirinya. Itu janjiku Alisa." Ujar Ariel sendu dalam hati.
Alisa.
Ariel kamu sangat baik dan sangat mencintaiku. Aku sangat mencintai Andre, tapi jika aku tak ada jalan untuk bersama Andre, aku akan menyusul mu ke luar negeri. Kita akan membangun keluarga kecil kita disana. Ujar Alisa lirih dalam hati.
Taxi sudah terdengar membunyikan klakson, Alisa berdiri dan di susul Ariel.
Alisa memeluk Ariel dan mengecup bibir merah Ariel dan meninggalkannya dan tak ingin berbalik lagi.
Dia tidak tahu, Ariel sangat berharap Alisa berbalik sebelum naik Taxi itu.
"Balik lah tubuhmu Alisa melihatku...berarti kamu mencintaiku..."
Hati Ariel sangat resah menunggu Alisa berbalik. Tapi Alisa tidak berbalik sampai tubuhnya menghilang di dalam mobil Taxi itu.
Ariel begitu sedih dan tak sadar air matanya mengalir deras di kedua pelupuk matanya. Alisa memang tidak mencintainya dan bukan jodohnya. Ariel membalik tubuhnya dan masuk kedalam kamarnya dia menangis tersedu - sedu.
Hatinya terus meratap sedih, sedangkan Alisa pun sangat sedih. berapa kali dia mengusap air matanya, yang meleleh di kedua pipinya.
Siang berganti malam, dan malam pun berganti pagi.
Di sekolah Alisa duduk dengan Mila seperti biasanya. Tak berapa lama wajah tampan Didi masuk dengan tatapan kesal dan marah, langsung menarik tangan Alisa mengikutinya ke meja belakang.
"Alisa..Ariel itu ternyata sangat manis dan tampan, aku tidak mau kamu terlalu dekat dengannya."
"Jangankan manusia Didi, semut pun sangat mengidolakan Ariel, apalagi aku..."
Didi sangat panik, dan menarik Alisa duduk dan memegang kedua jemarinya, dan mengecupnya.
__ADS_1
"Jangan bercanda sayang.. aku jauh lebih tampan darinya, cuma di kalah manis saja sayang..."
Mulai sewot, Alisa makin mengerjainya.
"Manis itu sayang...kita tidak cepat bosan...beda jika tampan hanya sesaat saja..."
Alisa terperanjat, Didi sangat marah dan kesal dan membentaknya.
"Sayang!!!!!!!
Aku takkan membiarkannya, mulai sekarang aku akan mengikuti mu sampai rumah, aku sudah tidak bisa mempercayai mu sayang..."
Untunglah Bapak Guru segera masuk ruangan, jadi Alisa aman dari amukan cemburu buta Didi Prayana. Alisa segera berdiri dan berlari kecil ke kursinya.
Alisa duduk dan mulai galau kembali.
"Akankah aku menyakiti hati pria ini lagi, setelah menyakiti hati Ariel, tapi benar kata Ariel...Aku tak boleh menyakiti hati Didi terlalu lama, jangan sampai merusak hidupnya lebih parah lagi, dari sebelumnya."
Alisa menarik nafas dalam, kedua matanya berkaca - kaca menahan kesedihannya.
Mila berbalik, dia sangat heran dan penasaran dengan tingkah laku Alisa.
"Mengapa Alisa begitu sedih seperti itu,?
Apa yang dipikirkannya...?
Apa dia bertengkar dengan Didi Prayana.?" Ucap Mila dalam hati, penasaran.
Mila menoleh, mencari wajah tampan Didi, dan benar saja, pemuda tampan itu sangat kusut dan wajahnya sangat kesal dan frustasi. Mila berbalik kembali dan mencoba menghilangkan rasa penasarannya dan kembali fokus di pelajarannya.
__ADS_1
Bersambung.