
Alisa di panggil Ayahnya yang sementara duduk di ruang tamu. Sejak kehilangan Suaminya. Ayahnya tidak banyak berbicara dengannya begitupun Alisa.
Raut wajah yang tegas tergambar lagi di wajahnya, sudah lama Alisa tidak melihatnya. Sepertinya Ayahnya ingin berbicara serius dengannya.
"Alisa duduk Ayah ingin membicarakan sesuatu."
"Alisa menjadi gelisah, dia sangat takut jika Ayahnya ingin menikahkannya lagi, sedangkan dia mau menunggu Suaminya sampai kapanpun, dia yakin Andre akan kembali padanya. Apalagi surat cerai mereka baru Andre yang menandatangani, Alisa belum membubuhi tanda tangannya."
Ayahnya mulai berbicara.
"Dulu kamu sangat mempermalukan kami, dengan menikah dengan pilihan kamu, yang membuat keluarga kita, di hina dan di cemooh bahkan di benci dari keluarga kita yang kami tolak lamarannya, dan memilih lelaki yang sangat jauh di bawah kehidupannya dari keluarga kita. Kamu sungguh mempermalukan Ayah."
Suara Papa Alisa tertahan, kesedihan menguasainya kembali, tapi dia melanjutkan kata katanya kembali.
__ADS_1
"Aku mohon jangan permalukan Papa lagi Alisa...."
Air mata Papa Alisa mengalir di kedua pipinya, Papa Alisa sudah tidak bisa menahan kesedihannya lagi, Alisa pun sangat shock dan sangat sedih, Papa yang selama ini sangat tegas, menangis di hadapannya.
"Ya Allah...Benarkah aku begitu melukai hati Ayahku, sesakit itu,?
Ya Allah...Apakah ini karma mu, Karna aku durhaka pada Orang Tuaku ?
Alisa menundukkan wajahnya, air matanya begitu mudahnya sudah tumpah membasahi kedua pipinya..Ayahnya pun berbicara kembali.
"Alisa jika memang Ayah dan Ibu, kamu minta bersujud di kaki mu, meminta kamu mengembalikan kehormatan keluarga Ayah, akan kami lakukan...."
Alisa sangat terharu dan sangat sedih menatap wajah Ayahnya yang sudah penuh air mata, begitupun Alisa yang kemudian menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah banjir di wajahnya yang cantik. Dia tidak menyangka dia telah sangat melukai kedua orang tuanya, yang begitu dia sayangi. Alisa hanya menangis dan terus menggelengkan kepalanya. Alisa tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, hatinya sangat sedih, tapi rasa cinta nya pada suaminya masih sangat kuat di hatinya.
__ADS_1
"Ayah membiarkan kamu menikah, walau mempermalukan keluarga besar kita, membiarkan kamu merasakan hidup berumah tangga dengan orang yang kamu cintai, yang membuat luka hati kami semakin melebar, bahkan membiarkan kamu, kami memiliki cucu Afkar, yang begitu Papa dan Mama sayangi dan cintai. membiarkan kamu selama satu tahun ini, dengan sabar menunggumu melawan rasa sakit kamu, di tinggalkan Andre...Alisaaaaa....., kurang apa kami nak menjadi orang tuamu nak..kurang sabar bagaimana kami nak..."
Ayah Alisa pun menangis, tubuh yang kekar dan sangat tegas dan kelihatan sangat tegar, telah sangat rapuh di matanya. Alisa tidak tahan lagi melihat Ayahnya sangat bersedih Karna dirinya, yang telah durhaka kepada orang tuanya. Alisa langsung berdiri dan melangkah dan bersimpuh di bawah kaki Ayahnya, memegang kedua tangan Ayahnya dan menciumnya. Ayahnya yang sudah penuh air mata mengusap rambut anaknya penuh kasih sayang, dan mengusap air matanya yang semakin deras mengalir di kedua bola mata yang indah itu.
"Papa...huhuhu...huhu...Maafkan Alisa Papa...huhuhu...Alisa sangat durhaka melukai hati Papa dan Mama..Maafkan Alisa Papa..."
Papa Alisa mengangkat wajah anaknya, membelai kedua pipinya.
"Alisa...Papa sudah menerima lamaran untuk kamu nak, tolong jangan mempermalukan Papa lagi, lupakan Andre, dan buatlah keluarga kamu ini bahagia, kami sudah pernah memberikan kamu kesempatan untuk bahagia, kini waktunya kamu membahagiakan kami nak..ku mohon...kasihanilah keluarga kita nak.."
Air mata Papa Alisa tidak bisa dia bendung lagi, dia sangat berharap anaknya menerima permintaannya saat ini.
Bersambung
__ADS_1