Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku

Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku
BAB 47. Lho Kok Dodol Lagi


__ADS_3

Andre menatap sendu. Saat ini hatinya begitu perih dan sakit.


Para Siswi sudah berpelukan sangat ketakutan.


Pak Aswat menatap tajam pada para siswi.


Matanya seperti memiliki bunyi kilat pedang menyambar yang menimbulkan bunyi di hati para siswi.


"Sreeng...sreeng.....Sreeeng"


Siswi sudah banyak menangis.


"Huwaaa....huwaaa.. huwaaa....."


Suara bentakan Pak Aswat, membuat tangisan mereka berhenti.


"Diaaaam..!!!!!"


Langsung hening seketika. Sebagian Siswi menutup mulut. Termasuk Alisa dan Mila.


Didi berbalik dan mengedipkan mata pada Alisa dengan senyum manisnya. Dengan maksud menenangkan. Tapi satu garis arah Alisa yang mendapatkan kedipan matanya pada baper. Merasa untuk merekalah kedipan itu. Mereka pun Salting seketika dan tersipu malu.


Kembali ke Siswa. Mereka di suruh Push Up di tempat. Sedangkan Pak Aswat sudah mendekati para Siswi yang ketakutan.


Inilah hukuman kalian Karna berani bolos di jam pelajaran yang masih berlangsung.


Kalian lihat ini.


Menunjukkan satu batang korek api kayu. yang hampir sama panjangnya jari telunjuk.


Dia memanggil dua siswi maju ke hadapannya.


"Kalian berdua maju...Kalian lihat ini."


Menunjukkan korek kayu dan memotongnya jadi 2 bagian menjadi 1 cm sekarang panjangnya. dan memberikan kepada kedua siswi yang di panggilnya.


Mereka mengambilnya dengan tangan bergetar dan mereka saling menatap kebingungan begitupun para penonton pada kebingungan tingkat tinggi. Mereka saling berpandangan, namun tak mendapatkan jawaban.


Penonton semakin ramai menonton. Yakni hampir semua Siswa dan Siswi tidak ada yang belajar. Semua saat ini di perbolehkan menonton atas perintah Kepala Sekolah. sebagai efek jera, agar jangan ada kelas lain yang mencontoh sifat yang tidak terpuji ini. Merekapun, menonton dengan jantung Dag- Dig - Dug.


Pak Aswat memanggil juga Siswa menghadapnya dan menghentikan push Up nya. Mulai memberikan satu batang korek kayu yang juga memotongnya menjadi dua bagian. Untuk Dua Siswa dan begitu seterusnya, sampai semua telah mendapat bagian. Setelah selesai diapun mulai berbicara.


"Kalian pasti bingung untuk apa batang korek kayu itu Hah..!!!

__ADS_1


Sekarang dengarkan baik - baik. Ini adalah hukuman karna kalian membolos satu kelas dan jika kalian mengulanginya. BPK jamin hukuman kalian sepuluh kali lipat lagi dari hukuman ini. Apa kalian dengar Hahh!!


Jawaaab Iya... Dodol.!!!!!"


Kata Pak Aswat sangat kesal.


"Iyaaaa....Paaak.....Dodol !!!!!."


Jawab mereka serempak dan langsung ketakutan salah ucap.


"Uuups...."


Salah ucap Dodol,


Lho kok dodol lagi.


Aiiiisshhhh......Hampir semua mengucek dan menampar mulut sendiri Karna kecoplosan. Apalagi melihat kedua bola mata Pas Aswat melotot sangat kesal, di bilang dodol juga sama muridnya. Mereka pun kompak berteriak kembali dan mengulang.


"Iyaaaa..!!! Pak...!!!


Mereka kompak antusias menjawab. Karna ketakutan. Mana Pak Aswat pakai pengeras suara lagi. Dan terdengarlah kesalahan mereka seantero Sekolah. Dan para Siswa dan Siswi pun. ramai berguncing. Dan terpingkal mendengar kata dodol."


"Ooohh...jadi itu kesalahan mereka."


"Sekarang....kalian!!!


Para Siswa, Kalian lihat lapangan ini hahh. Sekarang bapak mau tahu ukuran panjang dan lebarnya...Kalian ukur pakai potongan korek kayu itu!!


Jleb!!


Jlebb!!


Rasanya saat ini mereka di lempar ke dalam rawa yang banyak buayanya. Nafas mereka mulai memburu. Tenggorokan terasa kering dan tubuh mereka pada asam urat. dan pegal linu. Semua Siswa dan Siswi kelas A1. Bunga Mawar menarik nafas dalam - dalam dan terasa sangat menyakitkan setiap tarikannya.


"Mimpi apa semalam Mak..!! lapangan ini panjang sekali, mana panasnya bumi ini. Mana korek kayu ini. Oooh... makkk....kenapa... kecil...sekali lidi ini.


Boby mulai mengeluh tingkat Dewa. Di susul teman - temannya yang langsung duduk merapat di tanah dan menggaruk kepala mereka. Dengan wajah frustasi berat.


"Siapa suruh Duduk Hahh!!!"


Teriak pak Aswat. Tampa komando mereka langsung berdiri dan berjongkok dan mulai mengukur panjangnya lapangan dan mulai menghitung, dengan meletakkan potongan korek kayu itu dan menghitung dalam hati.


Penonton terpingkal dan tertawa. sangat gaduh dan ramai menertawakan mereka.

__ADS_1


Doni dan gengnya yang sudah satu baris berjejer. mulai mengomel.


"Lengkap sudah penderitaan kita Bro...Mana capeknya... panasnya ...di tambah malunya lagi....Amit - amit dah...cabang bayi "


Merekapun bersamaan, menggaruk kepala mereka yang tidak gatal.


Karna kebanyakan ngomel mereka lupa hitungannya. Merekapun kembali ulang di posisi awal. Dan suara tawa penonton semakin keras.


Pak Aswat berteriak. Menunjuk Siswa dan Siswi yang tertawa.


"Jangan tertawa......jika Bapak dengar tawa kalian lagi.!!! Kalian juga akan saya suruh ukur lapangan kota ini."


"Jlebb!!!"


Giliran penonton tercekat dan langsung terdiam dan banyak menutup mulut.


"Bukankah luas lapangan kota, sepuluh kali lipat lagi luasnya. dari lapangan sekolah"


Ucap mereka bergidik ngeri.


Yang lain mengangguk membenarkan. Mereka pun serius menonton dan jika mereka ingin tertawa, terpaksa menutup mulut mereka.


Sedangkan Siswi kelas A1. Bunga Mawar di hukum Pak Aswat mengukur panjang dan lebar lapangan basket.


Mereka sudah seperti kecoa, merayap memenuhi lapangan sekolah yang terletak di tengah sekolah. Sangat lucu dan menggelikan. tapi semua takut tertawa. Hanya kepala Sekolah dan Wakil kepala sekolah yang terpingkal - pingkal tertawa, saling memukul bahu. Kaca depan di dalam ruangan mereka gelap. Jadi tidak terlihat dari luar. Walau mereka guling - guling pun tertawa tidak akan ada yang melihat.


Siang itu berakhir juga, dengan hasil yang di inginkan Pak Aswat. Setelah Pak Aswat menerima jumlah ribuan angka panjang dan lebar. Walau beda - beda jumlahnya dengan hitungan teman mereka yang lain. Mereka pun sangat senang dan langsung terkapar tiduran di lapangan. saking lelahnya jongkok dan menghitung. Serta melemaskan otot mereka yang tegang.


Sebenarnya Pak Aswat juga sangat ingin tertawa tapi di tahannya. Dia juga kasian melihat muridnya sudah keringatan dan kelelahan.


Sedangkan pak sufi sudah ada di belakang kepala sekolah ikut tertawa dan ikut sedih juga melihat muridnya kelelahan. Begitu juga pak Kepala Sekolah dan Wakilnya.


ada rasa kasian juga melihat muridnya kelelahan.


"Semoga mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama"


Ucap pak sufi dalam hati.


Sedangkan Para murid yang di hukum sampai anak cucu pun. Mereka akan selalu mengenang kenangan ini. Sungguh kenangan yang penuh rasa seperti rasa gula asam dan manis.


Setelah penat sedikit terobati. Merekapun berlarian ke kantin untuk mengisi tenggorakan yang haus dan perut yang lapar.


Bersambung

__ADS_1


"


__ADS_2