Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku

Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku
Bab 60. Makan Sepuasnya.


__ADS_3

Benar saja, kakek menyiapkan makanan yang sangat banyak, bahkan kue bermacam - macam. Bahkan nasi kuning rendang sapi dan lauk segala macam serta rujak pun bahkan kue tar pun ada. Bahkan segala rupa kue juga Snack - Snack yang bungkusannya besar, coklat dan banyak lagi kakek beli di Swalayan.


Didi Prayana sungguh baik. Dia telah menelpon rumahnya dan memesan semua makanan yang di pesan teman - temannya.


Yang kebanyakan sih kakeknya beli di warung makan dan toko kue serta swalayan Hihihi...Mana bisa pelayan mengerjakan semuanya. Author jadi ngiler juga deeh.


Teman - teman Didi pun, Sangat senang dan sangat ceria dan berkata dengan serempak.


"Makan sepuasnya"


Mereka pun serempak terpingkal bersama.


"Hahaha ..haha...."


Sambil tertawa, mereka mulai mengambil makanan yang mereka sukai, dan mulai memakannya.


Mereka tidak berebut lagi, Karna makanan sungguh sangat banyak, bahkan banyak sisa yang bisa mereka bungkus pulang. Itupun kalau empu rumah mengizinkan.Hihihi.....


Teman - teman sekelas Didi selalu memuji kakek. Yang membuat hati kakek berbunga dan melayang - layang ke udara.


Kakek selalu tersenyum.


"Kalau di puji...begini..terus...kakek bisa panjang umur nih...teruslah memuji kakek..walau kakek tahu kalian hanya membohongi kakek...Hahaha...haha...."


Semua terpingkal mendengar kata - kata kakek. Memang sih sebagian memuji Karna ingin membungkus kue nya pulang. Hihihi..."


Pak Sufi dan Ibu Nuraida tidak malu lagi melihat Muridnya yang sangat rakus memakan apa yang ada di depan mereka.


Malah Pak sufi pun sangat menikmati makanan yang di hidangkan, begitu juga Ibu Nuraida.


Melihat keluarga Didi yang begitu baik dan Kaya raya dan tajir melintir itupun. Mereka tidak segan lagi menikmati makanannya.


Para siswi kelihatan sangat menyukai kakek, mereka selalu mengerubungi kakek seperti lalat memujinya dan banyak bertanya.


"Kakek..Anda sangat tampan Kakek, walau sudah setua ini...Masih sangat tampan, apalagi waktu muda...kakek pasti sangatlah tampan."


Kata Dina, yang lainpun mengangguk membenarkan.


Kakek makin besar kepala dan mulai berbicara sombong, padahal aslinya tidak seperti itu. Kakek hanya suka anak perempuan. Karna tidak memiliki cucu perempuan. Dia hanya punya 2 anak. dan semua anaknya hanya memiliki Putra.


Kakek memiliki 3 Cucu laki - laki. Dan Didi Cucu tertua. dari anak pertamanya. dan Anak keduanya ada dua cucu tapi masih kecil. Umur 10 tahun dan 7 tahun.


Kakek sangat lama baru memiliki anak. Karna lama membujang. sekitar umur 40- An baru menikah. Dengan Nenek yang selisih 10 tahun umurnya dengan kakek. Seorang gadis yang sangat cantik di zamannya, yang membuat kakek yang memiliki wajah tampan serta Jiwa PlayBoy, Sebagai Sang petualang Cinta pun, Jatuh Cinta dan menikahinya.


Tapi sayang, baru 5 tahun lalu Nenek Didi Prayana meninggal, Karna penyakit jantung. Yang sudah lama di deritanya. Yang membuat kakek sangat terpukul dan saat ini sudah bisa mengikhlaskan kepergian istrinya dan berharap di alam abadi mereka akan berkumpul kembali.


Kakek mengingat istrinya.


Pasti Istrinya sangat senang jika melihat banyak anak - anak teman Didi ini, yang sangat menggemaskan.

__ADS_1


Kakek pun tersadar dan mengingat pertanyaan Para Siswi, yang sudah dianggap cucunya semua, dan mulai berbicara sombong.


"Dulu Kakek sangaaaaat tampan....Ketampanan kakek yang di ambil Didi itu hanya 10 persen saja, Kakek sangat taaaaampan sekaliii...."


Para Siswi pun menganga dan berdecak kagum.


"Waaaaaaaaahhhhh......aku...tidak bisa membayangkan."


Kata Semua Siswi teman Didi, hampir semua kagum pada kakek yang sedang mengerjai mereka.


"Kakek...Didi Prayana saja sangat tampan tapi cuma mendapat warisan ketampanan 10 persen. Sungguh tidak bisa di urai dengan kata - kata, Nilai ketampanan kakek di masa lampau..."


Kata Dona menganga dan berdecak kagum tidak jauh beda dengan Siswi lainnya, yang begitu polos mempercayai cerita Kakek. Mereka pun menganga, dan menggelengkan kepala saking kagumnya.


"Untung kakek tidak hidup muda di zaman kami. Jika kakek muda, dan saat ini, hidup di Zaman kami, pasti kakek harus mengurung diri. Karna wanita satu propensi ini, pasti akan mengejar kakek. keluar pun harus memakai topeng."


Kata Mayang, dengan wajah prihatin.


"Waaaah....sungguh...tragis nasib si Tampan.


Celutuk Ningsih, membuat Kakek terpingkal dan tertawa keras. Dia merasa geli. Gadis - gadis ini mempercayai ucapannya.


Memang dia dulu sangat tampan tapi cucunya pun sangatlah tampan.


"Hahaha...haha..haha....Iya....kamu...benar..jika aku hidup muda di jaman ini, pasti aku sangatlah menderita. Karna wanita sekarang sangat berani. Hahaha...hahaha...."


Mereka pun terpingkal bersama. Didi Prayana sangat senang melihat kakeknya tertawa bahagia.


"Kakek...Tampan, kata raya, bahkan tajir melintir deh pokoknya., Apa kakek tidak ingin menikah lagi. aku yakin kakek masih banyak yang antri untukmu....Kakek masih sangat taaaampaaan....!!!!"


Kakek pun terpingkal kembali.


"Hahaha...haha.....haha...."


"Kalian benar, kakek masih sangat tampan"


Celutuk Dina. Membuat Didi mendekati kakeknya, yang terus tertawa.


"Apa yang kalian perbuat pada kakekku, jangan membuatnya selalu tertawa, nanti kakekku kelelahan."


"Didi....ternyata...warisan ketampanan dari kakek mu...hanya 10 persen saja, kamu miliki. Kakek mu...sungguh sangat tampan, "


Kata Dina Sewot.


"Iya Didi, makanya jangan sombong dengan ketampanan mu...itu...biarkan kami juga merasakan, mengelus pipimu juga, jangan hanya Alisa saja."


"Enak saja....Memangnya wajah tampanku ini, tepung roti, Aaaaaah......sudahlaah...kalian..suka sekali ambil kesempatan."


Didi memandang Kakeknya, Jengah !!!

__ADS_1


Sepertinya Kakek telah banyak berbicara Sombong.


"Dika..kami..sarankan Kakek mu...menikah lagi...."


Kata Ningsih si Ratu Polos.


Didi terperanjat.


"What !!!!!!!!!


Kalian sungguh membawa pengaruh buruk pada kakekku....Sana...sana...jauh - jauh...dari kakekku...Tak Kusangka kalian Mak Comblang Narsis."


Menarik satu persatu temannya, yang sudah pada manyun.


Kakek tertawa.


"Sudahlah....Didi, biarkan teman - temanmu di sini, Kakek tidak mungkin mau menikah lagi..."


Mulai terpingkal kembali.


"Hahaha.....haha...."


Didi menatap intens, wajah kakeknya, sepertinya benar. Terlihat kebenaran di wajah Kakeknya.


"Kakek....."


Sapaan ceria dari dua wanita cantik, siapa lagi kalau bukan Alisa dan Mila.


Didi langsung merangkul pinggang kekasih hatinya.


"Waaaah....senangnya...di sapa wanita cantik...Jika kamu muda di zaman kakek, pasti aku juga akan menikahi mu"


Kakek memuji Alisa dan Didi mulai sewot.


"Enak saja....Kakek sungguh tidak membiarkan aku lahir ke dunia."


Mereka pun terpingkal bersama.


Didi segera menarik Alisa menjauhi kakeknya, dan membawanya berkeliling rumahnya.


"My Honey...yuk kita melihat rumah kita.."


Alisa tertawa geli, tapi menuruti jg langkah kaki Didi Prayana.


Mereka pun berjalan ke Taman belakang. Sesampai disana Alisa berdecak kagum.


Halaman yang sangat luas, seakan tampa ujung, rumput kecil dan rapi, Tanaman Bunga yang berjejer rapi, sangat meneduhkan hati.


Didi Prayana mendekap erat tubuh Alisa dari belakang, dan menempelkan pipinya ke pipi Alisa dan sesekali mengecupnya mesra. Tapi Alisa sudah terhipnotis dengan taman yang begitu indah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2