Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku

Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku
BAB 73. Apakah Aku Akan Kehilanganmu Alisa seperti Ibuku?


__ADS_3

Mila berharap Alisa bisa mengatasi masalahnya. Jam pelajaran terus berjalan dengan tanya jawab, antara Pak Guru dan Siswa. Setelah 45 menit berlalu jam pelajaran pun telah usai. Pak Guru pun meninggalkan kelas Alisa.


Mila pun menoleh ke Alisa dan mulai bertanya.


"Alisa mengapa kayaknya kamu punya masalah berat"


Alisa menoleh dan mengangguk.


"Nanti saya ceritakan Mila, ada Didi nanti dia dengar."


Benar saja Didi sudah ada di belakangnya.


"Alisa aku mau bicara..."


Alisa menoleh dan langsung di tarik Didi Prayana ke belakang, ke bangkunya.


Alisa terpaksa mengikutinya, mereka berjalan beriringan dan duduk di bangku Didi.


"Didi mengusap rambut Alisa dan membelai pipinya "


"Sayang...aku sangat mencintaimu...sayang, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku..."


"Sayang....kamu tahu tidak, aku tidak ingin menyakiti hatimu..tapi sungguh jika ku teruskan akan tambah melukai perasaanmu."


Hati Didi menjadi sangat resah dan berubah sangat khawatir.


"Alisa...jangan membuatku khawatir, apa yang kamu bicarakan ini ? "

__ADS_1


Mengambil tangan Alisa dan mengecupnya.


Alisa pun mengambil tangan Didi Prayana, dan mengecupnya.


"Pulang sekolah kita kerumah mu yah, ada yang ingin aku bicarakan."


Didi Penasaran, tapi Alisa sudah berlalu meninggalkannya, pelajaran pun, berlanjut kembali. Di jam istrahat, Didi memaksa Alisa membicarakannya, tapi Alisa bersikeras untuk membicarakannya sepulang sekolah di rumah Didi Prayana.


Alisa sudah menjelaskan pada Mila, untuk mengakhiri kesalahpahaman cinta nya pada Didi, bahkan sudah berterus terang pada Ariel, bahkan tentang Ariel yang sangat bersedih dan mau kuliah di luar negeri.


Mila hanya bisa memberi semangat kepada sahabatnya, bahwa cepat atau lambat, semua pun akan terbongkar, dan kejujuran memang harus Alisa lakukan, agar tidak membuat keadaan semakin kacau balau.


Sepulang sekolah, Didi Prayana membonceng Alisa ke rumahnya, Alisa minta tolong ke Mila, agar menunggu pak supirnya, menjelaskan jika Alisa ke rumah Ariel, Satu jam lagi akan pulang ke rumahnya naik Taxi, terpaksa berbohong, Karna cuma Ariel alasan yang masuk di akalnya.


Didi sudah sampai di rumahnya, Didi mengajak Alisa ke halaman belakang, melarang semua pelayannya datang ke halaman belakang. Bahkan mengunci pintu ke arah halaman belakang, atas perintah Alisa. Didi Prayana semakin ketakutan, badannya semakin tak bertenaga lagi.


"Maafkan aku Didi....., aku ingin berterus terang kepadamu, maafkan aku telah bersandiwara...., karna aku hanya ingin melihatmu berubah, dan menjadi pria baik seperti dulu lagi...., menghilangkan rasa kecewa.., kesalahpahaman kamu pada Ayahmu..., membuka pikiranmu bahwa dunia ini sangatlah indah...., memberimu warna yang lalunya hanya hitam yang kamu kenal, dan memperkenalkan kepadamu bahwa di sekitarmu sangat banyak warna yang lain..., tapi aku memang menggunakan cara yang salah untuk itu."


Alisa mulai meneteskan air mata, Didi bertambah pucat, bahkan matanya pun sudah berbinar sedih.


"Apakah aku akan kehilanganmu Alisa, seperti Ibuku..?"


Pikiran Didi Prayana semakin kalut, dia berubah sangat ketakutan dan depresi berat.


"Maafkan aku Didi, aku tidak ingin kamu lebih mencintaiku.... Sebenarnya...., sebelum membiarkan kamu salah faham terus seperti ini,.....Maafkan aku Didi.....sebenarnya....aku sudah memiliki kekasih....."


Air mata Alisa sudah tumpah ruah, dia pun menunduk takut melihat wajah Didi Prayana.

__ADS_1


"Braakkkk......brakkkk...."


Didi sangat emosi dan meninju meja di depannya. Dia tidak menyangka, wajah polos Alisa ternyata seorang penghianat ulung, sangat tega membohongi dan mempermainkan perasaannya.


Hati Didi terasa di hantam dengan palu yang sangat besar. Hati Didi berubah sangat sakit, semua tulang belulangnya terasa mati, Jantungnya berubah sangat lemah, hatinya terasa tersayat belati, sangat perih dan terluka.


"Mengapa kamu lakukan ini kepadaku Hahh....?"


"Kamu perempuan pembohong...penghianat....aku membencimu Alisa sangat membencimu..."


Mencengkram bahu Alisa dan mengguncangnya. Alisa hanya bisa terus menangis tersedu - sedu, dan membiarkan Didi menyakiti bahunya, dia memang pantas di perlakukan seperti itu.


Didi menyadari telah menyakiti Alisa dan mengambil kursi dan membantingnya, meninju lagi meja yang ada di hadapannya, tangannya bahkan sudah berdarah, Didi Prayana mencengkram rambutnya, air matanya pun tak bisa di tahannya, dia pun menangis, air matanya telah tumpah ruah, begitupun dengan air mata Alisa yang mulai ketakutan. Alisa hanya bisa menangis tersedu - sedu.


"Maafkan aku...Didi...Maafkan aku....."


Didi mencengkram wajah cantik Alisa, menarik paksa wajah itu, dan melabuhkan bibirnya dengan sangat kasar, menghisap kuat bibir Alisa bahkan menggigitnya, dan memaksa lidahnya masuk meliuk kasar di dalam, memeluk erat tubuh Alisa.


Alisa hanya bisa pasrah dan terus menangis.


Didi Prayana melepas ciuman kasarnya, menatap Alisa dengan tatapan kebencian.


"Siapa Pria itu, dan sudah berapa kali bibir kamu ini, bergantian menciumku dengan mencium dia Hahh .!!!! aku akan membersihkan bibir kamu ini, Alisa."


Mencium kembali bibir Alisa dengan sangat kasar.


Alisa memukul dada Didi, bibirnya sangat sakit, diapun menggigit bibir Didi kuat, akhirnya Didi melepaskan ciuman kasarnya dari bibir Alisa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2