
Andre hanya bisa mengelus punggung mantan istrinya.
Andre begitu sedih, dia memang sangat mencintai istrinya. Tapi kebencian orang tua Alisa tak bisa membuatnya membalas, karna jika dia memilih Alisa, hidupnya dengan Alisa tak akan pernah bahagia, Karna tampa restu orang tua hidup mereka tak akan bahagia dan berkah.
Ibu Andre ke dapur untuk memasak air hangat, untuk mengompres luka di wajah Alisa.
Beberapa menit kemudian Ibu Andre keluar dengan kain, dan air di baskom kecil.
"Andre...kompres wajah Alisa."
Ibunya menyimpan nya di atas meja, dan mengajak suaminya ke kamar, tapi terlebih dahulu menutup pintu rumah depan mereka.
Mereka meninggalkan Andre, dan Alisa agar berbicara lebih tenang lagi.
Andre melepaskan pelukannya, dan membawa Alisa untuk duduk di kursi Sofanya.
Andre mulai membasahi kain, dan memeras airnya dan mulai mengompres wajah istrinya yang lebam, karna pukulan ayahnya dan pipinya yang memerah karna tamparan ayahnya.
Alisa mulai meringis kesakitan, saat kompres kain itu, menempel di wajahnya.
"Tahan sakitnya yah, tidak seharusnya kamu berkata kasar kepada Ayah kamu Alisa."
Alisa hanya menatap mantan Suaminya dan berkata dengan nada pelan.
__ADS_1
"Kamu pasti sangat merindukan aku dengan Afkar Andre."
Memegang kedua sisi wajah Andre yang masih sangat tampan dimatanya.
"Mengapa kamu memikirkan Ayahku dan Didi Prayana, ? kita adalah korban keegoisan Ayahku, dan memberi harapan pada Didi Prayana, itu semua salah ayahku Andre."
Andre menatap Alisa, walau wajah itu lebam memerah, tapi wajah itu masih sangat cantik di pandangan matanya.
Andre hanya bisa terus mengompres wajah cantik mantan Istrinya.
"Andre...andai kamu tak pergi, mungkin kita sudah ada anak lagi, adik Afkar."
Alisa tersenyum manis.
Andre menyimpan kain di baskom.
Memegang kedua tangan Alisa, dan menciumnya lembut.
"Alisa kita harus berpikir jernih, kamu harus menerima takdir kita, aku tak bisa melanjutkan hubungan ini, jika harus membuatmu durhaka kepada kedua orang tuamu."
Alisa marah dan melepas paksa jemarinya, yang ada di dalam genggaman Andre.
"Kamu selalu menjadi pengecut dan pecundang Andre, kamu selalu membuatku menderita dengan cinta mu yang plin plan.
__ADS_1
Aku tak mau lagi, kamu meninggalkan aku, saat ini dan sampai kapanpun aku milikmu.
Jangan membuatku memilih mengakhiri hidupku di hadapan kamu Andre, aku tak akan merubah keputusanku, camkan itu..!!!"
Menatap tajam Andre.
Andre pun hanya bisa diam, memberi pemahaman kepada Alisa, tak akan semudah dan secepat itu.
Andre pun kembali membasahi kain, kembali mengompres wajah Alisa yang lebam.
"Andre.. Apakah kamu tak mencintai aku lagi..?"
"Aku sangat mencintai kamu Alisa, tapi aku juga mau mendapatkan restu orang tuamu."
"Cukup Andre, saat ini hanya aku dan kamu saja, jangan membahas yang tak mungkin terjadi. Yang terpenting kamu mencintai aku dan aku mencintai kamu. Aku tak mau kamu membahas masalah yang lain."
Andre hanya bisa terdiam kembali, dia melanjutkan mengompres wajah Alisa.
"Andre...kamu sudah membuatku menderita, meninggalkan aku Andre, aku mohon Andre tolong perjuangkan cinta kita Andre, aku sudah lelah berjuang sendiri Andre, aku sungguh sangat menderita dan terluka Karna aku begitu mencintaimu Andre melebihi nyawaku sendiri. Aku mohon bahagiakan aku dan anakmu Afkar.."
Memegang kembali kedua sisi wajah Andre, yang sudah mulai terlihat sendu dan terharu dengan kata - kata Alisa.
Bersambung.
__ADS_1