
Di sekolah berulang kali Didi Prayana menyakinkan Alisa agar memilihnya tapi Alisa sudah tidak ingin menyakiti hati Didi lagi.
"Maafkan aku Didi...Tolong lupakan aku, tolonglah aku tidak mau tambah menyakitimu"
"Alisa aku sangat mencintaimu, mengertilah..aku tak bisa melupakanmu."
Di bangku belakang kelas mereka, mereka saling berbisik. Untunglah teman - teman mereka tidak begitu memperdulikan mereka Karna itu sudah pemandangan biasa bagi mereka, yang menganggap mereka pasangan yang akan langgeng selamanya, padahal saat ini sudah di ambang kehancuran.
"Alisa mengapa kamu begitu tega padaku..."
"Maafkan aku Didi, maafkan aku.."
Kamu pikir aku akan menyerah sayang, kamu milikku dan akan selalu seperti itu, aku sudah kehilangan ibuku dan aku tidak mau kehilangan kamu juga. Aku sungguh tidak bisa hidup tampa kamu Alisa.
Didi mengusap kedua pipi Alisa lembut dengan mata yang berkaca - kaca. Alisa sungguh kasian dengan Didi tapi dia tidak mencintainya. Alisa hanya diam, membiarkan Didi mengusap wajah dan bibirnya, dengan jemarinya.
__ADS_1
Hari berganti hari, dan Minggu berganti Minggu, Didi selalu berusaha membujuk Alisa tapi Alisa hanya diam, membuat Didi sangat frustasi, harapannya untuk memiliki Alisa sudah tak ada harapan baginya.
Kakek dan Orang tuanya sangat prihatin dengan Didi yang sekarang banyak melamun, tapi mereka takut bertanya, mereka hanya bisa menerka jika ada masalah dengan Alisa gadis yang sangat Didi cintai.
Waktu terus bergulir, dan hari perpisahan sekolah telah berlangsung hari ini, acara tiap acara sudah terlewati sesuai urutannya yang di bacakan siswi yang di tunjuk sebagai pembaca acara perpisahan sekolah.
Hari perpisahan Sekolah, nampak banyak orang tua Siswa dan Siswi yang hadir di acara perpisahan sekolah. Para Siswa dan Siswi maju bersalaman kepada Bapak dan Ibu guru yang telah mengajarkan pelajaran - pelajaran yang berguna, untuk bekal masa depan mereka yang gemilang.
Mereka pun berfoto bersama, baik dengan Bapak dan Ibu guru serta Bapak kepala Sekolah dan Wakilnya, juga Guru BP bahkan staf kantor di Sekolah mereka.
Tak lupa juga mereka berfoto dengan teman sekelas mereka, dengan wajah ceria.
Alisa pun sangat kasian dengan Didi tapi jika dia selalu berpura - pura, itu akan lebih menyakiti Didi Prayana.
Saat ini Alisa dan teman - temannya, akan berpisah dengan tujuan dan cita cita yang berbeda - beda. Masa depan mereka masih Abu - abu seperti warna seragam bawah mereka. Mereka hanya tahu melewati hari demi hari, lebih baik dan lebih baik lagi.
__ADS_1
Mila memutuskan ke Jakarta kerumah kerabatnya di Jakarta, dia sudah pasrah dengan hubungannya dengan pacarnya.
Orang tua pacarnya tidak menyukainya dan Mila sudah cukup bersabar. Dia mau sekolah modeling dan peran. Dia ingin jadi aktris terkenal. Sedangkan Alisa ingin menjadi Dokter, tapi mengingat hubungannya dengan Andre itu akan membuat batas dinding antara cinta mereka bertambah tinggi.
Alisa berdebat dengan Ayahnya yang ingin Alisa menjadi dokter, tapi Alisa menentang dengan berbagai alasan, takut melihat darah. Takut lihat pasien yang kecelakaan, tidak ada hobby disana. Dan ingin menjadi seperti Ayahnya. memutuskan menjadi Insinyur saja.
Ayahnya tak bisa menolaknya lagi, sedangkan
Ariel telah mendaftarkan diri kuliah di Jepang, agar jauh dengan Alisa. Mereka bahkan tak pernah bertemu lagi.
Ariel sangat merindukan Alisa tapi sekuat tenaga di tahannya, dia selalu berusaha melupakan Alisa walau sangat berat, dan sepertinya tidak akan mungkin bisa melupakan Alisa yang begitu di cintainya.
Didi Prayana memutuskan ke Luar Negeri juga, Dia memilih Negara Amerika Serikat dan mencoba melupakan Alisa, yang telah menyakiti hatinya dan berusaha melupakannya.
Teman - temannya yang lain pun, ada juga ke luar negeri tapi hanya sedikit. Kebanyakan ke Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Dan banyak pula hanya di Sulawesi sepert Alisa.
__ADS_1
Alisa sangat sedih ditinggalkan Ariel, tampa minta pamit padanya, dia menangis seharian, biar bagaimanapun Ariel sudah seperti Abang dan sahabat sejatinya, dia tega meninggalkannya tampa pamit, begitupun Didi Prayana yang juga sangat dia sayang seperti saudara kandungnya juga, meninggalkannya tampa pamit juga.
Bersambung