
Alisa dan Didi saling mengelus - elus pipi. Dan sesekali ada tawa diantara mereka. Jika ada yang melihat mereka. Memang tampak seperti sepasang kekasih yang romantis.
Tak Lama kemudian, aktivitas mereka terhenti. Karna kedatangan rombongan teman Siswi kelasnya, yang ikut bergabung dengan Alisa dan Didi. Ada Nona , Mayang dan Dona dan 3 teman Siswi lainnya.
"Alisa....kami mau dong ....uyel - uyel pipi Didi ganteng."
Didi terperanjat. Matanya menatap tajam, penuh kekesalan. Diapun cepat merengek manja kepada Alisa.
"Jangan....sayang...cuma kamu yang boleh nguyel - nguyel pipi aku...."
Didi sangat panik dan Alisa terpingkal.
"Hehehe....Hmmm.....aku pikir - pikir dulu yah....Hmmm....."
Memegang keningnya dengan telunjuknya.
Didi was - was.
"Jangan sayaaang....aku tidak mau ada yang menyentuhku selain kamu..."
Kata Didi mengiba.
Alisa menoleh melihat keenam teman Siswinya yang kelihatannya sangat ambisi dan memandang Didi dengan terpesona. Tapi melihat Didi yang tidak ingin di sentuh jadi kasian juga.
"Baiklah...kalian boleh memegang pipinya...hanya batas mengelus lembut, jika menguyel pipinya cuma aku yang boleh...!"
Kata Alisa tegas. Didi hanya bisa menatap lesu dan tidak rela pipinya di sentuh.
"Horeee....akhirnya bisa menyentuh pipi si tampan kita...aduuuh senangnya..."
Teriak Nona sangat senang, begitupun yang lainnya.
Nona, Dona dan Mayang pun berebutan duluan mengelus Pipi Didi.
Akhirnya Alisa menyuruh Nona duluan duduk, di dekat Didi dan mengelus pipi Didi.
"Aduuuhh ganteeeng sekali wajah ini....jadi Bapeeeer deeeh...."
Mengelus kedua pipi Didi sangat lembut. Dan mengerjakan matanya manja dan gemas.
__ADS_1
Giliran Teman Siswi lain. Jauh lebih heboh lagi, awalnya 6 orang. dan akhirnya semua Siswi di kelas Alisa bisa mengelus pipi Didi. Wajah Didi sangat kesal. Dan jika mereka terlalu lama mengelus matanya pun membulat sempurna. Yang membuat siswi bukannya takut malah tambah gemas dan terpukau dengan ketampanan Didi Bak artis China..
"Kali ini....Kubiarkan kalian mengelus pipiku...Lain kali...Jangan Harap!!!"
Didi sangat kesal. Tapi demi Alisa dia pasrah pipinya Di elus.
Setelah para Siswi mendapat semua jatah. Rombongan Siswa pun mengantri.
"Alisa....Boleh dooong...kami elus pipimu juga...."
Kata Geng Doni antusias begitu juga Siswa lain.
Didi marah besar. Diapun berdiri dan mengapit leher Boby dengan memakai lengannya dan berulang menjitak kepalanya..
"Mau...Mampus...Kalian Hah!!!!
Apa Kalian sudah bosan hidup Hahh!!!!!"
Membulatkan matanya dan mendesis.
Melihat penderitaan Boby yang sudah berteriak kesakitan.
"Ampuuun...ampuuun...!!!!"
Tampa komando...Mereka langsung beramai - ramai kembali duduk manis ke tempat duduk masing - masing. Siapa yang tidak kenal Didi. Hampir anak geng apapun namanya di kota ini, adalah semua teman baik Didi.
Alisa hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menarik Didi untuk duduk kembali di dekatnya. Alisa adalah pawangnya. Seketika wajah yang sangat marah itu berubah sangat jinak dan tersenyum manis.
"Sayaaang.....takkan....kubiarkan...Siapapun menyentuhmu. Kamu adalah kesayanganku.."
Dan seperti biasa,. Kembali Alisa pasrah pipinya di unyel - unyel Didi.
Geng Boby hanya bisa merutuk Didi dalam hati. Rasa Iri, dengki, dan kesal bersatu jadi satu, tapi rasa takut jauh lebih besar. Mereka hanya bisa menatap sinis kemesraan dua pasangan yang memang mereka akui sangat serasi itu.
"Alisa...kakek dan Ayahku mau bertemu denganmu."
"Tapi Didi aku tidak bisa keluar rumah kecuali ada alasan pelajaran. kerja kelompok. Atau membolos."
"Baiklah kalau begitu sayang...."
__ADS_1
Didi berdiri dan berteriak.
"Hari ini kita membolos lagi...!!!"
Jlebb...!!
Jlebb..!!!!!"
Semua yang memiliki telinga langsung tercekat dan raut muka sudah sakaratul maut. Mereka pun menggeleng dan segera berkumpul di hadapan Alisa dan melambaikan tangan panik tanda tidak setuju.. Tapi Tampa suara, Karna takut pada Didi.
Mila hanya bisa memijit kepala kembali.
Alisa tersenyum lucu.
"Didi...saya tidak mau membolos...bagaimana jika kita buat acara makan saja di rumahmu. Telpon pembantu mu untuk menyiapkan makanan dan Snack. Jika pulang nanti kita ramai - ramai ke rumahmu, yang kata orang sih sangat besar dan luas sekali pekarangannya.
Aku alasan saja sama supirku kerja kelompok sekalian ajak ibu Nuraida, dia Khan guru kita yang paling gaul. Pasti dia mau kita ajak sekalian.
Juga kita ajak pak sufi, siapa tahu mereka bisa PDKT. Khan sama - sama jomblo.
Geng Doni yang ada di situ pun berteriak senang.
"Waaah...ide bagus tuuuh!!!!"
Di sambut antusias teman yang lain yang berteriak.
"Setujuuuuuu....!!!!!!"
Didi akhirnya tidak bisa menolak.
"Baiklah aku pimjam telpon kantor, menelpon rumahku."
Semua teman - teman sekelas Alisa berteriak senang. Di Tahun ini belum ada telpon genggam hanya telepon rumah.
Setelah mengabari Kakeknya. Para pelayan di rumah Didi pun pada sibuk membuat makanan dan kue - kue. Untuk menyambut Teman - teman Didi.
Sang Kakek sangat senang cucunya sudah bergaul dengan temannya yang dari golongan putih. Tidak seperti teman - teman Didi yang dulu. Mana Bertato. Pakai Anting. Baju compang camping, rambut gondrong, bau lagi. Kakek pun bergidik ngeri, membayangkannya.
"Aku sangat penasaran dengan gadis yang bernama Alisa itu, yang sudah bisa merubah cucuku. Aku akan senang sekali jika dia juga menyukai cucuku. Dan aku tidak akan lama lagi punya banyak cucu...Aduuuh...senangnya...rumahku yang luas ini akan ramai dengan anak kecil.."
__ADS_1
Kakek sangat senang dan membayangkan rumahnya penuh dengan cucu - cucu nya dari Didi. Kakek dan Cucu memang satu shio sama - sama suka banyak anak kecil.
Bersambung.