Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku

Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku
BAB. 67. Tamat SMA Kita Menikah Yuk.


__ADS_3

Alisa terus curhat pada sahabatnya.


"Mila....Mengapa Andre seperti itu,? aku khan mau juga dia cemburu dan dia marahi jika dekat pria lain Mila...."


Mila mulai kesal seperti biasanya, jika sudah eneg dengan curhatan Alisa.


"Tau... aaaahh....gelap.....urus dirimu sendiri, jangan lagi bertanya padaku....Jika aku adalah kamu, saya nikmati saja semuanya....Tapi.....Alisa....


aku sebenarnya sangat iri kepadamu..


bisa punya tiga kekasih....Tampan semua lagi.


Stok lelaki tampan di kota ini. sudah kamu borong semua...Alisa....sungguh kamu gadis beruntung Alisa......Huhuhu....huhu...."


Mulai menangis lebay Tampa air mata.


Alisa menatap jengah. Mila pun kembali curhat.


"Dewa sangat pencemburu....Dia tidak tampan, tapi aku menyukai dia...Karna dia sangat menghargai aku dan setia padaku, dan sangat royal padaku...membelikan apa saja yang aku mau...jadi aku sangat susah melupakannya."


Alisa semakin jengah bahkan sudah mencibir sahabatnya.


"Ciiiih....dasar wanita Matre....Apa kamu tidak sadar telah mengumbar aib Matremu...?"


Mila pun membalas menatap jengah sahabatnya.


"Ciiiih....Apa kamu tidak sadar diri...kamu jauh lebih buruk dariku....Dasar wanita serakah, wanita Buaya...Wanita Playgirl...!!"


Mila mulai nyolot, yang membuat Alisa membulatkan matanya.


"Kamu tahu Mila...Apa yang sekarang aku mau lakukan kepadamu....?!!!"


Menatap Mila tajam, Mila pun sewot dan membalas menatap wajah Alisa lebih tajam lagi.


"Memangnya Apa yang mau kamu lakukan....?!!!!"


"Aku...ingin sekali menjambak rambutmu...!!!!"

__ADS_1


Mila......, kamu sangat menyebalkan !!!"


"Sama....Aku juga sangat ingin menjambak rambut mu Alisa...!!!"


Tiba - tiba satu kecupan di Pipi Alisa, membuat Alisa tersentak, dan membuat emosi Alisa raib entah kemana.


"Cup..."


Alisa menoleh kesamping, diapun mendapatkan seraut wajah tampan Didi Prayana, sudah tersenyum manis seperti biasanya.


Didi Prayana menarik tangan Alisa ke belakang di bangku terakhir.


Mila hanya menggelengkan kepala.


"Untung pelakor nya datang, kalau tidak...Aku dan Alisa sudah perang Jambak rambut. Alisa sangat menyebalkan, sudah dapat pacar baik, terima dia apa adanya...masih galau...Alisa memang gadis beruntung....."


Hati Mila terus berkicau dalam hati.


Saat ini mereka di kelas, dan sementara jam istirahat.


"Sayaaang....kamu ke rumahku nanti yaah...Sebentar saja. Pak Amat suruh jemput ke rumahku saja yah."


Berapa kali Didi Prayana mengatakan hal seperti itu, tapi Alisa selalu menolaknya. Tapi Karna rasa galau dan butuh pelampiasan kesalnya, diapun mengangguk.


Didi Prayana sangat senang langsung menyambar Pipi Alisa dengan ciuman di Pipinya. Dan mulai memijit dan membelai halus kedua pipi Alisa, dan tersenyum sumringah.


Teman sekelas tampak cuek, melihat kemesraan mereka, mungkin sudah terbiasa melihat Drama percintaan mereka.


Alisa pun kembali ke samping Mila, merekapun saling menyapa dan akhirnya baikan. Mereka sahabatan sudah sangat lama, jadi mereka tidak bisa marahan terlalu lama.


Sepulang Sekolah, Didi Prayana menarik Alisa untuk naik ke motor besarnya. Alisa celingukan kesana kemari, mencari wajah Andre, tapi tidak melihatnya. Diapun naik di boncengan Didi Prayana.


Motor itupun melaju ke luar gerbang sekolah. Sepasang Mata melihatnya dengan tatapan sendu. Siapa lagi jika bukan pemilik hati Alisa, Andre.


"Aku harap Alisa mencintai Didi, mereka pasangan yang sangat serasi, aku merasa bersalah pada Didi...telah menerima dan memberi harapan pada Alisa. Aku sangat mencintainya, tapi tidak mungkin aku bisa memilikinya. Aku ibarat seseorang Pria yang hanya menjaga jodoh seseorang. Tapi apa dayaku, aku sangat mencintainya dan selama ada kesempatan itu, aku akan menjaganya. Tapi akupun harus ikhlas melepaskannya, jika pemiliknya sudah datang mengambilnya.


Andre melangkahkan kakinya, dengan gontai. Sahabatnya Dimas datang menghampiri dan merangkulnya, mereka pun, berjalan bersama ke parkiran. Seperti biasa Dimas yang membonceng Andre pulang, dan mengantarnya sampai kerumahnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Alisa sudah ada di rumah Didi Prayana.


Didi menariknya menemui kakeknya, yang begitu senang Alisa datang. Kemudian Didi membawa Alisa ke taman belakang dan duduk di sofa belakang.


Didi duduk di sampingnya dan menarik Alisa duduk di pangkuannya. Dan menyimpan tangannya di paha Alisa. Saat ini Alisa duduk menyamping, di atas kedua paha Didi Prayana. Didi meremas jemari Alisa.


"Tamat SMA, kita menikah yuk."


Alisa tersentak dan memandang wajah tampan Didi.


"Aku mau kuliah dulu sayang..."


"Kamu bisa kuliah kok sayang, walau kita sudah menikah. Aku tidak akan melarang mu sayang."


"Sayang..jangan di bahas dulu yah, kita lihat saja nanti."


Didi Prayana memeluk Alisa, menyimpan wajahnya di dada Alisa. Dan menyusupkan wajahnya lebih dalam di dada Alisa. Dua gundukan lembut itu, terasa nyaman di wajahnya.


Pikiran Alisa mengembara tak berujung. Alisa sangat galau dan frustasi.


Jemari Didi Prayana mulai nakal menyusupkan satu jarinya masuk ke dalam sela kancing Alisa dan mengusap salah satu daging lembut dengan satu jarinya. Didi bahkan sudah membuka kancing baju Alisa dan mulai memasukkan telapak tangannya dan mengelus utuh kedua bukit indah Alisa yang masih tertutup Bra, bergantian.


Alisa tersadar dan memegang tangan Didi dan menariknya. Didi memeluk pinggang Alisa dan melebarkan pahanya agar tubuh Alisa merendah dan segera Didi Prayana membekap Bibir Alisa dengan rakus. menciumnya gemas, dan mulai menghisap bibir Alisa yang di bawah dan diatas silih berganti Tampa jeda. Alisa berusaha mendorong tubuh Didi Prayana. Tapi


Didi Prayana sudah menyusupkan lidahnya masuk lebih dalam rongga mulut Alisa, mengabsen di setiap sudut rongga mulut Alisa dan terus meliuk dan menari.


Alisa sekuat tenaga mendorong, dia sampai kehabisan nafas. dan akhirnya ciuman Didi terlepas.


Alisa menghirup oksigen sebanyak - banyaknya dan mulai bernapas teratur, tapi sayang, sepasang mata Didi memperhatikannya dengan tatapan gemas. Melihat Alisa sudah bisa bernafas lebih teratur. Bibir Didi Prayana segera menyergapnya kembali, menekan kuat bibir Alisa dan menghisap bibir Alisa dan menyapu bibirnya dengan lidahnya.


Menekan lebih kuat bibir Alisa menghisapnya kembali, menyusupkan kembali lidahnya ke dalam rongga mulut Alisa, yang membuat Alisa kesulitan kembali bernafas. Tangannya pun aktif meremas salah satu bukit indah Alisa.


Alisa pun berontak kembali dan setelah berhasil melepaskan ciuman ganas Didi. Diapun segera melompat turun dari pangkuan Didi Prayana. Dan berjalan menjauhinya dan berdiri menatapnya kesal dan jengah, menatap Didi Prayana telah menyiksa bibirnya sedemikian rupa, sambil mengusap bibirnya yang terasa perih, dari siksaan bibir Didi Prayana, yang sangat gemas mencium bibirnya.


Sedangkan yang di tatap pun, hanya tertawa sedikit, kemudian banyak dan akhirnya terkekeh. Melihat kekasihnya benar - benar kesal kepadanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2