Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku

Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku
Bab 149. Bisakah Aku Memelukmu Sayangku.


__ADS_3

Didi sangat terpukul dengan pertemuan Alisa dan Andre yang masih saling mencintai.


Cukup lama dia menangis dan akhirnya tertidur, Karna tadi malam dia hampir tak tidur, sangat sedih akan kehilangan Alisa.


Matahari semakin naik dengan gagahnya. Alisa sehabis makan dan mandi dan banyak berbincang dengan Andre, tentang apa yang dia lakukan di luar negeri. Senyum keduanya pun, selalu terhias di wajah mereka berdua.


Orang tua Andre hanya bisa selalu menarik nafas panjang, tak tahu apa yang harus mereka lakukan, Mereka hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Andre dan Alisa.


Alisa minta pamit menemui Didi Prayana di rumahnya. Alisa yakin Didi sudah pulang ke rumahnya. Andre mengangguk, biar bagaimana pun Didi tak bersalah, dia hanya mencintai mantan Istrinya yang sudah sah menjadi miliknya.


Alisa pun ke rumah Suaminya memakai mobil sewa.


Sesampai disana dia di sambut Kakeknya, yang belum mengetahui ada badai besar di kehidupan Alisa dan Cucunya.


Setelah menyapa Kakek, Alisa pun naik ke kamarnya.


Diapun masuk ke dalam kamar pribadi nya dengan Suaminya, Didi Prayana.


Alisa menutup pintu perlahan, dia melihat Suaminya yang tertidur dengan wajah yang pucat, di penuhi kesedihan.


Alisa berjalan mendekati Suaminya, berniat menyentuhnya.


Didi Prayana membuka matanya, dan menatap wajah Alisa sendu.


"Apakah aku bermimpi...?"


Alisa menggeleng, dan mulai menangis. Sangar kasian pada Didi Prayana Suaminya.


Didi menyentuh jemari Alisa.


"Bisakah aku memelukmu sayangku, aku masih Suamimu."


Alisa pun berbaring di samping Didi Prayana, di atas lengannya.


Didi Prayana, langsung memeluk erat Alisa dalam pelukannya, mencium keningnya.


Alisa hanya bisa membalas pelukan Didi Prayana Suaminya.


Didi Prayana melepaskan pelukannya, mulai membelai wajah Alisa dengan lembut, mencium seluruh wajah istrinya dengan lembut, dan beberapa kali mengecup bibir istrinya dengan sangat lembut. Air matanya tak mampu dia bendung karna ciumannya itu mungkin yang terakhir kalinya untuk orang yang sangat dia cintai.

__ADS_1


Alisa mengusap air mata Didi Prayana.


"Maafkan aku sayang..."


Ucap Alisa dengan air mata yang juga sudah tak bisa di bendung nya.


Didi pun mengusap air mata Alisa, mereka saling mengusap air mata.


"Sayang...jika memang kamu bahagia dan memilih Andre, aku akan mengikhlaskan kamu sayang..."


Tubuh Didi Prayana terguncang, air mata nya bertambah deras keluar dari kedua kelopak matanya, mengucapkan kata - kata itu sungguh sangat menyakiti hatinya, karna dia sangat tak rela melepaskan Alisa.


Alisa memeluk Suaminya, mereka saling berpelukan erat sambil menangis pilu.


Kedua tubuh itu terguncang tak sanggup menahan kesedihan.


Alisa menangis pilu karna rasa bersalahnya


menyakiti hati Suaminya, yang begitu baik padanya, dan begitu mencintainya.


"Maafkan aku sayang, sungguh aku tak mau menyakiti hatimu, tapi sungguh aku sangat mencintai Andre, dan kami dipisahkan dengan cara yang licik oleh Ayahku sendiri. Sungguh sayang, kita hanya korban keegoisan Ayahku."


Didi hanya terdiam dan masih terus memeluk Istrinya.


"Aku akan membantumu mengurus perceraian kita sayang, dan membujuk Ayahmu agar merestui mu sayang dengan Andre."


Alisa makin menangis pilu, melihat Didi yang selalu baik padanya, walau pun tersakiti hatinya.


Didi tersenyum dan mengelus wajah istrinya dengan lembut.


"Apakah aku boleh meminta sesuatu."


Alisa mengangguk lemah, walau masih menangis pilu.


"Aku masih Suami sah mu saat ini, dan aku ingin kamu melayani ku, untuk terakhir kalinya."


Mengecup bibir Alisa lebih agresif.


"Di saat sedih begini kamu masih berpikiran mesum."

__ADS_1


Didi tersenyum walau masih terasa senyumnya sangat menyedihkan.


"Aku sungguh menginginkanmu sayang, Karna aku tak mau membuatmu berdosa, dengan menolak Suami yang masih berhak pada tubuh kamu. dan sebelum kita resmi bercerai aku mau kita selalu melakukannya.""


Alisa menjadi bimbang, tapi Didi Prayana benar, dia saat ini masih sah menjadi Suaminya.


"Tapi hari ini aku sudah mau mengurus surat cerainya."


Didi Prayana menatap sedih.


"Baiklah tolong layani Suamimu saat ini, untuk terakhir kalinya."


Alisa pun hanya bisa mengangguk sedih.


"Baiklah."


Alisa pun bangun dari tempat tidur, berjalan mengunci pintu, dan mulai membuka satu persatu bajunya hingga tak ada lagi penghalang mata Didi Prayana di tubuhnya yang sudah polos.


Melihat tubuh polos Istrinya, bukannya membuatnya bergairah, hanya semakin sedih karna dia bukan hanya mencintai tubuh itu, tapi sungguh sangat mencintai Alisa sepenuhnya.


Alisa tahu Didi Prayana begitu mencintainya bukan hanya tubuhnya, tapi sungguh sangat menyayanginya lahir dan batin.


Air mata Suaminya, menjawab semuanya.


Alisa masuk kedalam pelukan Suaminya.


Didi Prayana menatap sendu.


"Apakah aku bisa tidur, tampa kamu di sisiku lagi Alisa.


Apakah aku bisa tak melihatmu setiap hari, setiap aku pulang kerja. Aku sungguh selalu tak betah lama di kantor, karna selalu ingin cepat pulang, hanya ingin melihat wajah ini, makanya aku selalu gelisah mau pulang secepatnya."


Alisa pun menangis sedih, dan berkata lirih


"Maafkan aku sayang...."


Mengusap wajah Suaminya yang masih banjir air mata.


Hilangkan semua kesedihan mu hari ini, aku akan melayani mu sebaik mungkin. Saat ini aku milikmu seutuhnya, Tubuh dan cintaku hanya untuk kamu seorang saja, jadi berhentilah menangis dan lakukan tugasmu aku sudah kedinginan.

__ADS_1


Mencoba bercanda walau hatinya pun sangat sakit, dan tak tega melihat kesedihan Suaminya.


Bersambung.


__ADS_2