Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku

Haruskah. Masih Memilihmu Sayangku
BAB 86. Sebegitu Marahnya Kah Engkau Ibu


__ADS_3

Alisa pun segera bangun dan Andre segera duduk di tepi ranjang.


Alisa membuka pintu, mendapatkan wajah yang sangat jutek milik ibunya. Semua telah berubah 180 derajat, wajah yang selalu lembut penuh kasih sayang, sudah berubah sangat jutek dan pemarah.


"Sebegitu marahnya kah engkau Ibu"


Alisa bergumam lirih dalam hati.


"Banyak sampah diluar, suruh suamimu buang, jangan jadi pemalas.!"


Andre tersentak, dia tidak menyangka kata - kata wanita yang sudah menjadi mertuanya, begitu pedis dan menyakitkan.


Ibu Alisa segera pergi, dan masih berteriak kesal.


"Cepatlah, buang sampah itu!!!"


Alisa tertunduk sedih, dia berlari memeluk Andre dan menangis.


"Huhuhu....Maafkan aku sayang, aku juga sangat sedih dengan perubahan ibuku...Mengapa ibuku sekejam itu sayang...huhuhu...."


Andre pun sangat sedih, tapi Alisa benar, Istrinya jauh lebih sedih mendapatkan perubahan drastis orang tuanya, yang dulunya sangat menyayanginya sekarang begitu membencinya.

__ADS_1


"Kita harus kuat sayang, asalkan kita saling mendukung dan menguatkan sayang. aku cuci muka dulu."


Andre mengusap air mata istrinya yang cantik dan mencium keningnya dan mengecup bibirnya lembut, berdiri dan melangkah ke kamar mandi mencuci wajah tampannya dan segera keluar menemui mertuanya.


Alisa menemani Suaminya ke ruang tengah, tampak tatapan sinis dan kesal orang tua, dan paman dan bibinya, yang seolah sangat jijik melihat kedua pasangan beda kasta ini. Itupun penilaian mereka sih, yang sudah di butakan harta dunia.


Ibu Alisa berbicara ketus.


Suruh Suamimu pungut dan kumpul sampah itu di luar, dan membakarnya.


Andre mengangguk dan segera berlalu dan di susul Alisa.


Setelah selesai mereka pun masuk dan mendapatkan lagi kata - kata yang menyakitkan.


"Begitulah jika kita tidak memiliki apa - apa, jadi jangan marah jika dianggap pembantu atau pelayan."


Kata Paman tertua.


"Besar nyali dia, berani masuk di keluarga kita, memangnya dia siapa, tidak ada rasa malu.


Kata Paman muda.

__ADS_1


Apakah dia tidak ada cermin di rumahnya, ?seharusnya dia bercermin dulu, siapa dia sebenarnya. .Ciih..."


Kata Bibi Istri tertua Paman.


Kata - kata mereka sangat menyakitkan, mata Andre sudah berkaca - kaca, Alisa segera menarik Suaminya masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya.


Alisa dan Andre masuk ke kamar dan saling memandang.


Andre menitikkan air mata kepedihannya, begitupun Alisa.


"Sayang...sabar yah, kita harus kuat sayang, kamu Khan lusa mau juga balik kerja di luar kota sayang, Karna ijin mu hanya tiga hari sayang."


Andre mengangguk dan masuk mencuci tangannya di kamar mandi. Begitupun Alisa.


Satu hari ini, ada ada saja perintah keluarga Alisa yang merendahkan Andre, tapi Andre dan Alisa mencoba tabah dalam diam, hanya larut dalam pikiran kesedihan mereka, tetapi mencoba melawan kesedihan itu.


Akhirnya sang Surya telah tergantikan, burung - burungpun yang mengepakkan sayap menantang angin dan menjelajahi angkasa, mulai pulang ke peraduan mereka. Sinar mentari jingga, begitu elok dan indahnya membiaskan sinarnya yang indah dan membias langit sore dengan indahnya. Sungguh pemandangan elok tapi tak se elok hati dan kebencian keluarga Alisa yang terlalu mengagungkan harta dan tahta di atas segalanya.


Alisa hanya bisa mengendap untuk mencari makan untuk dirinya dan Suaminya yang dari tadi pagi belum makan, karna banyaknya perintah yang sengaja keluarganya berikan untuk menumpahkan kekesalan mereka kepada Alisa dan Suaminya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2