
Bulan terlalu bersinar dengan terang sehingga semua nampak lebih indah dari biasanya, bahkan dengan bantuan sinar itu Chad bisa melihat pantulan bulan di mata Ima. Begitu indah hingga membuatnya ingin terus manatap.
"Aku tahu aku sangat cantik, tapi jika kau tidak berkedip nanti matamu perih" ujar Ima tanpa memalingkan wajahnya.
Chad tersenyum malu, memalingkan pandangnya kepada bulan yang mulai merayu. Membuat malam itu lebih berharga lagi bagi sepasang insan yang masih di mabuk cinta.
"Bukankah bulan itu terlalu sempurna? entah mengapa tiba-tiba aku jadi ingat tentang manusia serigala" ujar Ima.
"Kau takut?" tanya Chad.
"Ingatlah gadis yang kau kencani ini adalah seorang vampire" sahut Ima tegas.
"Aku juga seorang vampire" balas Chad.
Ima hanya menatap sinis mendengar ucapan itu, sebelum kemudian dia kembali menatap bulan.
"Katanya manusia serigala adalah penyihir yang ingin memiliki kekuatan besar, demi hal itu ia melakukan ritual mengerikan untuk meminta kepada sesuatu yang tidak berdarah daging. Dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa tahu sebenarnya ada sebuah kutukan yang menyertainya"
"Kau tau dari mana?" tanya Chad.
"Guru Nick yang menceritakan kisah itu padaku" jawab Ima.
Chad tersenyum, lagi-lagi dengan karakternya yang unik Ima telah membuat Chad semakin menyukainya. Di saat gadis lain lebih memilih dongeng indah tentang pangeran dan putri Ima justru haus akan sejarah kelam makhluk-makhluk yang dianggap mitos, mungkin karena dia termasuk salah satunya.
"Ini sudah malam, ayo pulang!" ajak Chad.
"Baiklah... besok aku harus berangkat sekolah juga" ujar Ima.
Mereka bangkit dari tempat duduk, berjalan menyusuri jalan setapak keluar dari hutan.
Set
Tiba-tiba langkah Chad terhenti, begitu juga dengan Ima. Naluri mereka mengatakan akan sesuatu yang tengah mengawasi, saling menatap seolah menggunakan telepati mereka bisa saling mengerti satu sama lain dan mengangguk.
Whhuuusssss......
Dengan cepat mereka bergerak ke arah berlawanan, menyergap seseorang yang sudah bersiap dengan anak panah di ujung busur.
Buk
Syuuuutt...
Beberapa anak panah di luncurkan, mengikuti arah Chad dan Ima bergerak untuk menghindarinya. Melihat dari banyaknya anak panah itu Chad menduga ada banyak orang yang menyerang mereka, tapi dengan ketajaman mata Ima ia bisa segera mengetahui ada lima penyihir yang meredam aura mereka.
Tanpa menunggu intruksi Ima segera menyerang salah satu dari penyihir itu, tentu imbasnya ia di serbu tapi itu tak jadi masalah.
Kakinya mengayun dengan cepat, menendang salah satu penyihir sebelum ia sempat meluncurkan anak panah.
Trang...
Hampir saja pedang itu menyayat bahunya jika ia tak segera menghalau dengan cakarnya, tak tinggal diam Chad segera membantu.
Buk Buk Buk
Pertarungan terjadi dengan cepat, setiap pukulan dan tendangan Chad sangatlah kuat hingga meski ia harus melawan tiga penyihir sekaligus tak jadi masalah.
Sementara itu Ima justru terlihat menikmati pertarungan, gerakannya semakin gesit hingga memojokkan kedua penyihir itu. Namun ia terlalu terbawa suasana kemenangan hingga tanpa sadar punggungnya bebas.
Syyuutt..
Jleb
Aaahh...
Erangan itu membuat Chad mematung, di lihatnya Ima meringkuk dengan tangan yang mencoba menggapai anak panah yang tertancap di punggungnya.
"Ima.... " teriaknya.
Aaarhgg..
__ADS_1
Buk
Krek
Aaa...
Teriakan lain menggema di penjuru hutan saat sebuah tulang patah begitu saja, matanya yang tajam semakin terlihat mengerikan hingga membuat para penyihir itu berlari menyelamatkan diri.
"Ima... " panggilnya melembut setelah keadaan cukup aman.
Chad menangkup tubuh Ima yang tak bisa tegak, anak panah itu menancap cukup kuat hingga menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.
"Panas... ujung anak panahnya terbuat dari perak dan membakar daging di dalam tubuhku" ujar Ima mencoba menahan rasa sakit itu.
"Bertahanlah, aku akan menyelamatkan mu" ujar Chad cemas.
Ia segera menggendong Ima di punggungnya, berlari sekuat tenaga ia menemui Jhon untuk di mintai tolong. Beruntung Jhon segera menangani luka Ima sehingga tak ada organ dalam yang terluka berat, dalam beberapa jam luka itu telah sembuh namun meninggalkan bekas yang jelas.
"Perak, bekas luka dari benda itu tak bisa hilang begitu saja. Gunakan ramuan ini untuk menghilangkan bekasnya" ujar Jhon memberikan sebuah botol kecil.
"Terimakasih paman Jhon" sahut Ima sambil mengambil botolnya.
"Aku tidak mengerti mengapa kalian di serang, perang telah berakhir bukan?" tanya Jhon.
"Aku juga tidak tahu, mereka tiba-tiba mengepung kami dan menyerang begitu saja" jawab Chad.
"Apa mereka benar-benar penyihir?"
"Siapa lagi yang bisa menyerang vampire?" ujar Ima balik bertanya.
"Kau benar" sahut Jhon merasa konyol.
"Sudahlah, lupakan dulu masalah ini dan pulanglah" lanjutnya.
Chad mengangguk, ia pun ingin segera pulang agar Ima bisa segera beristirahat. Saat tiba di kediaman Megan memang Ima tak menunjukkan tanda-tanda bekas terluka atau pertarungan, bahkan ia dengan santainya mengucapkan selamat malam dan pergi ke kamarnya.
Tapi Chad yang telah berjanji tak bisa tenang begitu saja, di belakang Ima ia mengajak Colt dan Mina bicara.
"Tunggu dulu! ada apa ini? kenapa kau meminta maaf?" tanya Colt heran begitu juga Mina.
Chad menatap kedua orangtua Ima dengan penuh sesal, lalu ia pun menceritakan pertarungan yang terjadi beberapa jam yang lalu dan luka yang Ima dapatkan dari pertarungan itu.
"Apa?"
"Aku tidak tahu kenapa kami di serang, tapi yang terpenting adalah mulai saat ini aku akan lebih memperhatikan dan menjaga Ima" ujar Chad tegas.
"Kenapa.. mereka selalu mengincar Ima? apakah ini ada hubungannya dengan masa lalumu?" tanya Mina sambil menoleh kepada Colt.
"Aku tidak tahu, tapi aku akan mencoba mencari tahu" jawabnya.
"Maksud anda?" tanya Chad tak mengerti.
"Dulu saat kami tinggal di desa Ima juga di serang oleh seorang penyihir, itulah alasan kami pindah ke kota."
Chad termenung, mulai berfikir mungkin penyerangan ini di pimpin oleh seseorang yang ingin menyakiti Ima. Tentu ia tak bisa tinggal diam, dengan segera ia mencari tahu dengan satu petunjuk yaitu desa dimana Ima di serang adalah tempat mereka pertama kali bertemu.
Ia memutuskan untuk kembali pada Jhon dan membicarakan masalah ini, saat mendengarnya tentu Jhon pun mulai ikut berfikir.
"Chad, aku rasa mereka tidak mengincar Ima sepenuhnya"
"Apa maksud paman?"
"Pikirkan, mungkin yang mereka buru adalah kau bukan Ima"
"Aku?" tanya Chad semakin bingung.
"Ingat? kau adalah monster yang membunuh manusia-manusia itu demi dendam mu kepada Jack, kau juga seorang pangeran tentu banyak yang menginginkan kematian mu. Bahkan sebagai manusia saja kau adalah pemilik Sanwa hotel yang berjaya, ada banyak pesaing mu di dunia" jelas Jhon.
Chad merenungkan ucapan itu, mulai berfikir semuanya masuk akal. Mungkin saja selama ini tanpa sepengetahuannya seseorang sedang mengintainya, melihat kedekatan Ima dengannya bisa saja serangan itu hanya umpan untuk menariknya.
__ADS_1
* * *
Trek
Aw...
Lamunan itu teramat panjang hingga menghanyutkan sebagian benaknya, saat hilang konsentrasinya inilah yang akan ia dapat. Sebuah luka di ujung jarinya karena gunting yang tak sengaja ikut memotong habis kukunya, bersama dengan tangkai bunga yang tak di perlukan.
Violet segera mencari kotak obat, menutup lukanya dengan perban agar tidak ada darah lagi yang keluar dari sana.
Rasanya sangat perih, tapi tidak menyita perhatiannya. Kembali ia merapikan bunga-bunga itu dan menaruhnya ke dalam vas kaca, meletakkannya di meja agar ruangan itu terlihat lebih indah.
Selesai satu pekerjaan membuatnya bingung, rumah itu tidaklah besar dan tak akan ada tami yang berkunjung sehingga ia tak perlu menyita waktu untuk membersihkannya.
Kini ia pun duduk sambil menatap bunga-bunga liar yang tumbuh di halaman, makhluk yang paling di sukai Ryu.
Mengingat suaminya itu membuatnya teringat pada ucapan Joyi, sedikit demi sedikit ia mulai menyadari bahwa ia terlalu egois. Pada akhirnya ia pun luluh dan melangkahkan kakinya untuk melewati pintu pagar rumah itu.
Semakin jauh ia melangkah semakin dekat ia pada kediaman Hermes, hingga kini ia benar-benar berada di pintu gerbang yang megah itu.
Kepalanya menengadah, menatap ujung pintu pagar yang masih nampak kokoh, saat ia melangkah seorang penjaga segera membukakan pintu untuknya.
Begitu pun saat ia masuk ke dalam rumah, seorang pelayan yang pertama kali melihatnya nampak kaget hingga hampir menjatuhkan nampan yang ia bawa.
Violet tak menghiraukannya, ia kembali berjalan memasuki ruangan lain menuju kamarnya.
Ceklek
Pintu di buka, memperlihatkan Ryu yang tengah tidur di atas ranjang. Tanpa menimbulkan suara Violet berjalan mendekatinya, menatap tubuh kurus yang tak bertenaga itu. Meski terpejam tapi lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas, menunjukkan betapa menderitanya ia selama ini.
Mmmm...
"Violet... " gumam Ryu dalam tidurnya.
Mendengar namanya di sebut semakin hancur hatinya, bahkan Ryu sampai mengigau karenanya. Dengan perlahan di elusnya kening Ryu hingga ke pipi, tak di sangka sentuhan itu walau pun lembut dapat membangunkannya.
Violet terkejut karena Ryu membuka matanya, reflek ia mundur ke belakang beberapa langkah. Mematung sampai Ryu bangkit dan menatapnya dengan sendu.
"Violet... itu kau?" tanyanya tak percaya.
"E-hmm, ya" jawab Violet bingung harus bersikap seperti apa.
Bruk
Tak di duga Ryu dengan cepat berlari dan memeluknya dengan begitu erat, tangisnya segera pecah kemudian. Violet hanya diam, membiarkan Ryu mengeluarkan emosinya.
"Maaf aku... "
"Sudahlah" ujar Violet yang muak dengan kata-kata penyesalan.
"Violet.. " panggilnya lirih.
"Aku datang karena aku masih peduli padamu, tapi bukan berarti aku memafkan mu. Sekarang yang perlu kau lakukan hanyalah memilih"
"Apa maksud mu?" tanya Ryu bingung.
"Aku sudah tidak betah tinggal di sini, jika kau ingin bersama ku maka ikut dengan ku tapi jika tidak aku tidak akan memaksa mu" jawabnya.
Ryu terdiam, tentu bukan hal mudah memilih antara keluarga sendiri. Dengan wajah putus asa ia kembali duduk, berfikir harus bersikap bagaimana.
"Aku tidak meminta mu untuk melawan keluarga mu sendiri, kita pernah lakukan ini dulu dan bisa hidup mandiri lagi. Kapan kau mau pintu rumah ku terbuka untuk mu" ujar Violet yang tidak ingin membuat semuanya menjadi susah.
Membiarkan Ryu memilih ia pun pergi keluar hendak pulang, tapi saat melewati ruang tengah Amelia sudah berada di sana sambil menyilangkan tangan.
"Semoga kau tahu aku datang bukan untuk meminta maaf" ujar Violet.
"Aku lebih mengenalmu dari pada yang kau tahu"
"Bagus" balas Violet.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan Amelia ia terus berjalan melewatinya, melewati pintu hingga hilang dari pandangan.