Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 27 Tekad Ima


__ADS_3

Keenan kembali memasuki ruang bawah tanah itu, kali ini suara geraman menyambutnya dari dalam sel. Tapi ia tidak memperdulikannya sama seperti biasanya, tujuannya adalah untuk bertemu Alabama maka hanya pada dialah fokusnya berada.


"Kau memanggilku?" tanya Keenan.


"Ya, ini!" ujar Alabama menyerahkan sebuah kertas kepadanya.


"Apa ini?"


"Daftar orang-orang yang kemungkinan bisa menggantikan Anna"


"Maksudmu?"


"Carilah orang-orang itu dan temukan mereka, setelah kau membawa orang-orang itu dalam keadaan hidup kepadaku maka kita bisa melihatnya nanti" jelas Alabama.


Keenan memegang erat selembar kertas itu, ia masih ada harapan meski tidak bisa menemukan keberadaan Anna. Dengan cepat ia pun bergegas kembali ke permukaan, menemui Tianna untuk memberinya tugas penting.


* * *


Di atas kertas yang putih pensil itu terus bergerak membuat garis-garis hingga membentuk sesuatu, dengan benak yang tak berhenti berimajinasi Alisya menyelesaikan sketsanya sampai tiba-tiba sebuah tangan memeluk lehernya dari belakang.


"Apa yang kau buat?" bisik Agler tepat di telinganya.


"Rubah"


"Rubah?" ulang Agler sambil beranjak untuk duduk di samping Alisya.


"Guru ku akan membuat pameran lukisan, dia menyuruh kami untuk membuat lukisan terbaik karena lukisan itu akan ia pajang bersama karyanya yang lain"


"Benarkah? bukankah ini bagus untuk membuat karyamu mendapat pengakuan publik?"


"Untuk itulah aku habiskan waktu ku dengan terus membuat sketsa, ada banyak ide dalam otak ku dan salah satunya akan ku pilih nanti"


"Semoga kau berhasil, aku akan terus mendukungmu" ujar Agler yang membuat Alisya senang.


Alisya melanjutkan sketsanya di temani oleh Agler yang setia di sampingnya.


* * *


Perlahan Ima membuka matanya, yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit putih dengan lampu tergantung di tengahnya. Ia merasa asing sebab kamarnya tidak terasa seperti itu, beberapa detik kemudian barulah ia ingat bahwa semalam seharusnya ia sedang membereskan kamar.


Sontak Ima duduk dan melihat sekeliling ruangan, kamar itu kosong tanpa ada seorang pun di sana. Perlahan ia berjalan keluar kamar dan memeriksa setiap ruangan, tapi Chad ada dimana pun.


"Aku pasti ketiduran semalam, lalu kemana perginya tuan yang dingin itu?" gumamnya.


"Ah sudahlah, sebaiknya aku pulang saja."


Ia cepat pulang dan beruntung masih punya waktu untuk mengganti pakaian sebelum pergi sekolah, ia nampak lesu sebab semalaman melayani Chad hingga kurang istirahat.


Tapi malamnya tanpa peduli kesehatan Ima serang buruk Chad kembali menyuruhnya datang, dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya Ia menemui Chad.


"Kali ini apa lagi?" ketus Ima.


"Begitukah sikap seorang pelayan kepada tuannya? kau memang harus di disiplinkan"


"Tidakkah kau lihat wajah ku yang pucat? aku demam karena harus melayani mu sepanjang malam dengan permintaan-permintaan yang sepele"


"Aku tidak peduli, buatkan aku sup" ujar Chad dingin.


Ima ingin sekali menghajar Chad dengan kedua cakarnya, tapi tentu ia harus menahan rasa kesal itu sebab Chad telah membantu Temannya. Ima segera pergi ke dapur dan menyiapkan bahan-bahannya, tapi ia tidak menemukan daun bawang sebagai bahan pelengkap.


"Chad daun bawang nya tidak ada" ujar Ima memberitahu.


"Beraninya kau memanggil dengan nama ku" ucap Chad kesal.


"Sudahlah tidak ada waktu untuk berdebat, jika kau ingin supnya maka cepatlah pergi ke supermarket dan beli daun bawang" kata Ima yang tidak punya waktu untuk berdebat.


"Tunggu! kau yang seharusnya belanja, aku akan mengantarmu" ujar Chad.


Mau tak mau Ima harus ikut, dengan menggunakan mobil mereka pergi ke supermarket. Tujuan utama Ima adalah daun bawang tapi setelah tiba di sana ia malah tergoda dengan hal lain seperti gelas cantik bahkan boneka.


"Ahh..... Chad aku ingin buah stoberi" ujar Ima yang tergoda akan ukurannya yang besar.


"Tidak boleh! tujuan kita adalah daun bawang jadi hanya itu yang akan kita beli"

__ADS_1


"Kau sangat pelit! kalau begitu aku tidak akan memasak untuk mu!"


"Kau.... "


Hehehehehe


Pertengkaran mereka terhenti sebab seorang ibu-ibu tertawa di dekat mereka, nampak jelas dia memang sedang menertawakan mereka.


"Eh maaf, aku tidak bermaksud menertawakan kalian. Hanya saja melihat kalian membuatku teringat saat pertama kali serumah dengan pacarku, kami memang sering bertengkar dan aku akan merajuk dengan tidak mau memasak untuknya" jelas ibu itu.


"Oh... begitu.. " ujar Ima.


"Hei nak, mengalah lah pada pacarmu. Gadis semanis dia jika kau buat marah pasti merepotkan bukan?" bisik ibu itu kepada Chad.


"E-eh... dia bukan... itu.. "


"Baiklah selamat bersenang-senang" ujarnya meninggalkan Chad yang tak sempat menjelaskan hubungan diantara mereka.


"Ibu itu bicara apa?" tanya Ima penasaran.


"Bu-bukan urusanmu! ya sudah ambil semau mu" ujar Chad dengan wajah yang memerah.


Ima tak lagi bertanya sebab ia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan, setelah puas berbelanja baru mereka membeli bahan yang di butuhkan dan pulang.


Ima cepat memasak sup yang diinginkan Chad setelah mereka sampai di rumah, bau harum dapat tercium oleh Chad meski Ima baru mau menyajikannya di dalam mangkuk.


Ia makan dengan cukup lahap meski pelan-pelan, dari wajahnya Ima bisa menebak masakannya enak dan dapat di terima baik oleh Chad.


"Boleh aku pulang sekarang?" tanya Ima.


"Tidak! buatkan aku kopi dulu"


"Ah... baiklah.. " jawab Ima dengan malas.


Selesai ia mencuci semua piring kotor Ima baru memanaskan air untuk membuat kopi, tapi selesai kopi di buat tiba-tiba kepalanya pusing hingga tak tertahankan. Tanpa ia sadari tubuhnya ambruk begitu saja ke lantai.


Lima belas menit berlalu dan Chad masih belum menerima kopinya, ia mulai kesal dan bersiap menghardik Ima. Tapi saat ia pergi ke dapur yang ia temukan justru tubuh Ima yang tergeletak di lantai.


"Hei.. Ima... Ima... " panggilnya sambil menepuk-nepuk pipi.


"Sial! dia sudah bilang tidak enak badan dan aku memaksanya bekerja" gumamnya menyalahkan diri sendiri.


Chad mencoba untuk tenang dan berfikir mencari cara, barulah ia ingat obat-obatan yang di berikan Jhon untuk mengatasi penyakit vampire. Chad segera mengambil obat itu, dikunyah nya satu obat hingga remuk baru kemudian ia berikan kepada Ima langsung lewat mulutnya.


Rasa pahit dari obat itu rupanya sangat terasa di lidah Ima yang sensitif hingga ia sadarkan diri, perlahan ia membuka mata dan wajah Chad yang begitu dekat adalah hal pertama yang ia lihat.


Ima mengedip beberapa kali, merasakan lidahnya yang terasa aneh sampai Chad membuka mata dan.


Argh....


"Ka-kau sudah sadar" ujar Chad yang kaget sampai mundur beberapa langkah.


Ima tak menjawab, ia masih merasakan lidahnya yang pahit tapi kemudian ia sadar atas apa yang telah terjadi.


Aaaaaaa......


Bruk


Ima berteriak dan melempar bantal hingga mengenai wajah Chad.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Chad.


"Dasar mesum! harusnya aku yah bertanya begitu!" balas Ima.


"Me-mesum, dasar bodoh! aku baru saja menyelamatkan nyawamu" ujar Chad tak terima pada tuduhan itu.


"Menyelamatkan nyawa apanya? aku tidak tenggelam jadi untuk apa kau memberikan ciuman itu?"


"Aku memberimu obat, itulah yang aku lakukan!"


"Apa? obat?" tanya Ima yang sadar bahwa rasa pahit itu ternyata sebuah obat.


"Dengan keadaan pingsan mana bisa kau menelan obat yang padat, karena itu aku menghancurkannya terlebih dahulu baru ku berikan padamu" jelas Chad.

__ADS_1


Ima terdiam, menelaah kalimat yang barusan Chad katakan hingga ia paham.


"Maksudmu... kau.... " ujar Ima yang baru mengerti.


Bruk


Sekali lagi Ima melemparkan bantal yang tepat mengenai wajah Chad kembali.


"Apa yang kau lakukan?" teriak Chad.


"Dasar bodoh! kau kan bisa menghancurkannya dengan sendok atau benda lainnya, tinggal kau beri sedikit air saja. Kenapa kau harus menghancurkannya dengan mulutmu!" balas Ima berteriak.


"Ah... a-aku... tidak berfikir ke sana" akui Chad.


Ia terlalu khawatir sebab hanya ada dirinya seorang, terlebih Ima adalah sesama vampire sehingga ia tahu sekali pun sakit dokter tidak begitu pandai mengobatinya. Satu-satunya cara yang ia pikirkan memang hanya hal ini saja.


"Ma-maaf..... " ujar Chad menyesal.


Ima melembut, ia melihat ketulusan di mata Chad yang membuatnya sadar bahwa Chad memiliki sisi baik yang jarang dia perlihatkan.


"Asal kau tahu saja itu adalah ciuman pertama ku" ujar Ima menggoda.


Chad terkejut, gadis semanis Ima rupanya baru melakukan hal itu dengannya. Tapi tiba-tiba ia menjadi malu sebab hal itu juga adalah kali pertama baginya, selama ini dia tidak dekat dengan siapa pun dan Ima adalah satu-satunya gadis yang kini ada dalam hidupnya.


"Ma-maaf... " ulang Chad.


"Maaf saja tidak cukup, kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan"


"Apa maksud mu? bagaimana cara ku bertanggung jawab?" tanya Chad bingung.


Ima mendekatkan diri pada tubuh Chad sampai membuat Chad sedikit kikuk.


"Jadilah pacarku"


"Apa?" tanya Chad padahal ia mendengarnya dengan jelas.


"Sebenarnya kau ini adalah tipe ku, meski aku tidak suka sikap mu yang suka mengatur dan egois tapi itu tidak terlalu menjadi masalah. Jadilah pacarku dan tebus ciuman itu"


"Apa kau gila? siapa yang mau menjadi pacar anak kecil seperti mu?"


"Umurku sudah lima belas tahun, aku bukan anak kecil lagi" ujar Ima kesal.


"Tetap saja bagiku kau anak kecil, lagi pula aku tidak suka padamu jadi kenapa aku harus menuruti keinginan mu?"


"Jika aku bisa membuatmu jatuh cinta bagaimana?"


"Tidak mungkin! kau bukan seleraku" ujar Chad yang membuat Ima naik pitam.


"Baiklah! tuan Chad dengarkan aku, setiap hari aku akan menyatakan perasaanku padamu jadi bersiaplah. Aku juga akan membuatmu jatuh cinta padaku meski aku bukan seleramu" ujar Ima serius.


"Jangan bicara omong kosong, pergilah sana! kelihatannya kau sudah sembuh" jawab Chad sambil memalingkan muka.


"Kau lihat saja nanti, aku tidak akan menyerah sampai kapan pun" ujar Ima bertekad.


Ia bangkit dari tempat tidur dan pergi meninggalkan rumah itu, siapa pun sudah tahu sifat Ima yang pantang menyerah jika sudah membulatkan tekad. Sifat yang kadang merepotkan Agler sebab mau tidak mau ia harus menuruti keinginan Ima, dengan tujuan itulah Ima pulang untuk memulai rencana.


Tanpa ia sadari bahwa Chad diam-diam mengikutinya dari belakang, hanya untuk memastikan Ima pulang dengan selamat sampai di rumah.


* * *


Tianna kembali dengan informasi yang sudah ia dapat, bukan hal sulit baginya mencari beberapa vampire sebab ia memiliki kemampuan menghipnotis yang kuat. Keenan yang sudah menunggunya sadari tadi dengan cepat menyambut kepulangannya.


"Sudah kau temukan?" tanya Keenan.


"Tentu saja, tapi belum semuanya. Aku baru mendapatkan beberapa informasi saja dan sudah mengintai mereka meski hanya sebentar"


"Bagus, aku ingin membawa mereka hidup-hidup. Lebih baik lagi jika kau bisa mengajak mereka sebagai sekutu"


"Tapi bagaimana caranya?" tanya Tianna.


"Mereka adalah manusia setengah vampire yang hidup di bawah lingkungan manusia, mau tak mau mereka harus bersikap layaknya manusia biasa. Cari tahu kelemahan mereka, entah itu hutang yang menggunung atau yang lainnya. Kita gunakan kelemahan itu untuk menjadikan mereka budak kita"


"Baiklah aku mengerti" jawab Tianna.

__ADS_1


Keenan tersenyum senang, akhirnya apa yang dia dambakan selama ini dapat tercapai juga. Tanpa Anna ia yakin kekuatan itu akan menjadi miliknya, dan setelah berhasil mendapatkannya sesuai rencana ia akan menguasai tahta kerajaan demi mendapatkan yang lebih lagi.


__ADS_2