Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 120 Kepindahan Agler Ke Kastil


__ADS_3

Rumah itu ramai seperti pagi sebelumnya, dengan celotehan Ima sebelum pergi sekolah yang di tanggapi oleh Mina dan Colt. Wajah ceria mereka menjadi ciri khas akan keluarga bahagia, membuat rumah sederhana itu nampak seperti istana.


"Agler, kau baik?" tanya Mina menatap wajah yang tak biasa di sana.


"Ah ya" sahut Agler tersadar dari lamunannya.


Meski tak yakin tapi Mina tak bertanya lagi, ia hanya tersenyum kecil dan melanjutkan sarapan.


"Um... sebenarnya ada hal yang ingin aku katakan" ujar Agler kemudian.


Ima berhenti bersuara dan duduk lebih tegak melihat wajah serius Agler, begitu juga dengan Mina dan Colt.


"Meski tahu bahwa dalam tubuhku mengalir darah Hermes tapi aku sudah memutuskan untuk tetap menjadi bagian dari keluarga ini, itu karena... bagiku kelian adalah keluarga yang sesungguhnya" ucapnya.


"Kenapa kau tiba-tiba mengatakan hal ini?" tanya Mina yang merasakan firasat tak baik.


"Aku berterimakasih atas semua hal yang kalian berikan untuk ku, tapi... mau bagaimana pun darah lebih kental dari air. Aku tidak bisa membohongi diriku untuk tidak tertarik pada keluarga Hermes, sejak kecil aku bahkan tidak tahu bagaimana rupa kedua orangtua kandung ku dan ini adalah kesempatan bagiku untuk mengenal keluarga ku."


Trang


Garpu yang terlepas dari tangan Mina jelas memberitahu ada hati seorang ibu yang terluka, Agler tahu itu sebab ikatan yang sudah terjalin membuatnya ikut merasakannya juga.


"Jika... ibu bilang tidak, apa kau akan menurut?" tanya Mina dengan mata yang memerah.


Dengan sendu Agler menatap Mina, butuh waktu baginya untuk membuka mulut dan bicara.


"Dari kecil aku tidak pernah menentang perintah ibu, kali ini aku ingin melakukan hal atas kemauan ku sendiri. Bukankah aku berhak untuk itu?"


"Kau benar" sahut Mina sadar apa pun yang ia katakan tidak akan berpengaruh.


"Aku ada pekerjaan, selesaikan sarapan kalian" ujar Mina kemudian.


Bangkit dari tempat duduknya tanpa menghabiskan sarapannya, membuat Agler semakin merasa bersalah atas apa yang ia umumkan.


Diruangan tempatnya menjahit Mina berusaha memasukan benang kedalam lubang jarum, namun hingga saat Colt masuk ke ruangan itu ia masih belum berhasil.


Akibat genangan air di dalam matanya lubang jarum itu terlihat ada dua sehingga menyulitkannya, di tambah dengan tangan yang gemetar.


"Biar aku bantu" ujar Colt memegang tangan Mina dengan lembut.


Mina tak mengatakan apa pun, ia diam saja membiarkan Colt mengambil benang dan jarum itu.


"Agler sudah dewasa, dia bahkan berhak keluar dari rumah ini kapan pun yang ia mau" ucap Colt.


"Masalahnya bukanlah kapan dia pergi, tapi kemana tujuannya" sahut Mina.


"Hermes adalah keluarganya, kita harus menghormati apa yang menjadi keputusannya bahkan tugas kita sebagai orangtua untuk mendukungnya"


"Kau tidak tahu seperti apa keluarga Hermes, jika keluarga itu tidak bermasalah tidak mungkin saat ini Agler menjadi putra kita" balas Mina dengan nada keras.


"Tidak ada gunanya melarang, Agler akan semakin penasaran dan menjauh dari kita. Aku tahu kau khawatir tapi jangan bersikap egois, lagi pula Agler tidak akan meninggalkan mu selamanya" bujuk Colt dengan memberi pengertian.


Meski sulit untuk memberi ijin tapi Mina sadar ucapan Colt benar, ia harus menahan keegoisannya demi kebahagiaan Agler.


* * *


Keputusan yang telah ia ambil bukan karena amarah atau rasa penasaran saja, tapi semua konsekuensi telah ia perhitungkan juga sebagai bagian dari keputusan.


Di hari berikutnya ia datang ke kastil milik keluarga Hermes, memberitahu kepada penjaga bahwa ia datang untuk menemui keluarga besar itu.


Sayangnya perintah Jessa yang mengharuskan adanya laporan setiap tamu yang masuk membuat Agler tertahan di sana, tentu itu bukanlah sambutan yang baik.


Awalnya ia tak terlalu keberatan, tapi sebuah gesekan kecil terjadi hingga keributan besar pun tak terelakkan.


Melawan dua penjaga yang telah mendapat pelatihan di Akademi tentu setara dengan melawan seorang penyihir, mah tak mau Agler harus mengeluarkan tenaganya untuk membebaskan diri.


Sementara seorang pelayan berlari ke dalam rumah untuk melaporkan apa yang terjadi di gerbang, keluarga Hermes yang awalnya tengah menikmati sarapan nikmat mereka segera berlari keluar untuk melihatnya sendiri.


"Ada apa ini?" teriak Jack menghentikan pertarungan yang sebenarnya sudah berhenti.


Agler berdiri sebagai pemenang sementara kedua penjaga itu tersungkur di bawah dengan beberapa luka ringan di wajah mereka.


"Kau yang memintaku untuk datang, tapi sambutan seperti ini yang kau berikan untuk cucu mu sendiri" ujar Agler.

__ADS_1


"Agler... ah, aku minta maaf... " ucap Jessa cepat yang mengenali dari cara berpakaiannya.


"Pasti sudah terjadi kesalahpahaman, aku harap kau bisa memaafkan mereka" sambungnya menghampiri.


"Yah, hal ini memang biasa terjadi" tukas Agler masih dengan wajah kesal.


Jessa hanya bisa tersenyum kaku mendengarnya, sementara yang lain saling menatap canggung.


"Sebaiknya kita masuk, kebetulan kami baru sarapan jadi bagaimana jika kau ikut bergabung?" tawar Jessa.


"Benar, ayo masuk! biarkan kami menebus kesalahan ini dengan jamuan kecil" sambung Jack.


Agler mengangguk pelan dan mengikuti langkah mereka masuk kedalam, di ruang makan dengan sigap pelayan memberikan piring dan menuangkan makanan.


"Maaf karena telah bertamu sepagi ini, sebenarnya aku baru mendengar kabar tentang Kyra dan berniat untuk menjenuknya. Jika di ijinkan bolehkah aku menemuinya?" tanya Agler.


"Tentu saja, dia pasti senang atas kedatangan mu" sahut Shigima.


"Terimakasih" balasnya.


Selesai sarapan Agler pergi diantar pelayan ke kamar Kyra, sementara yang lain mulai sibuk dengan tugas masing-masing.


Seperti Shigima yang bersiap untuk pergi ke kantor, di dampingi Amelia yang membawakan tasnya ia pergi keluar dimana mobilnya sudah di siapkan.


"Apa menurut mu tidak masalah membiarkan Agler menemui Kyra?" tanya Amelia tiba-tiba.


"Apa maksudmu?"


"Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik kedatangan Agler yang tiba-tiba itu"


"Itu hanya perasaan mu, mungkin karena Agler mirip dengan Chad. Tapi kepribadian mereka sangat bertolak belakang, Agler sangat baik dan penuh perhatian jadi tak ada yang perlu kau cemaskan" sahut Shigima seraya tersenyum.


Amelia hanya mengangguk kecil tanpa mengatakan apa pun.


"Lagi pula Agler adalah keponakan kita, dia keturunan Hermes resmi dan berhak untuk untuk kastil dan perusahaan juga sama seperti Hans" tambahnya.


"Yah.. kau benar" jawab Amelia mencoba menghapus perasaan tak enak hati.


* * *


"Masuk" teriak Kyra dari dalam kamar.


Ceklek


Pintu terbuka memperlihatkan Agler yang berdiri tepat di luar kamarnya, tentu itu mengejutkan Kyra sebab ia tak menyangka akan ada orang lain yang mengunjunginya.


"Hai" sapa Agler.


"Hai.. " balas Kyra.


Ia mencoba meluruskan duduknya agar lebih tegak sementara Agler berjalan masuk mendekatinya.


"Bagaimana kabarmu?"


"Oh ya... seperti yang kau lihat" jawab Kyra.


"Sebelum datang kemari aku bicara dulu dengan Ima, dia memintaku menyerahkan ini kepadamu dan menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa menjengukmu. Dia berharap kau cepat sembuh" ujar Agler menyerahkan sebuah buku kepada Kyra.


Saat mengetahui bahwa itu sebuah buku dongeng Kyra tersenyum senang, sebab terlintas cepat dalam benaknya bagaimana kehebohan Ima saat bercerita.


"Terimakasih" ujar Kyra.


"Aku... juga ingin minta maaf padamu sebab sebagai sepupu aku sudah bersikap seperti orang asing kepadamu, harusnya aku segera menengok mu saat mendengar kabar itu"


"Tidak apa, kita hidup dalam dunia yang tak mudah. Aku mengerti kau dan Ima punya alasan, meski datang terlambat tapi kau datang di saat yang tepat. Aku mulai bosan karena Hans terlalu sibuk hingga tidak punya waktu untukku, kau tahu ada beberapa hal yang tidak mungkin aku bicarakan dengan orang tua" sahut Kyra.


Agler tersenyum lega karena kehadirannya di terima dengan baik, mereka mulai mengobrol dan senyum mulai mengembang di wajah Kyra yang membuatnya terlihat cerah.


Tanpa mereka sadari di balik pintu Violet melihat semua itu, bahagia akan ekspresi bahagia Kyra dan memutuskan untuk tidak mengganggu mereka.


"Kau terlihat senang" komentar Jessa yang tak sengaja memergoki senyum itu.


"Ah ibu.. ya.. aku senang Agler mau datang berkunjung, itu membuat Blue bahagia dan tertawa"

__ADS_1


"Ah syukurlah kalau begitu, aku ikut senang mendengarnya" sahutnya.


"Agler itu meskipun saudara kembar Chad tapi sifatnya benar-benar kebalikan dari Chad, Agler punya sifat yang ceria dan penuh perhatian. Dia di besarkan oleh keluarga yang baik sehingga memiliki kepribadian yang baik juga, aku sudah mencoba membujuknya untuk ikut tinggal di rumah ini tapi dia menolak karena tak tega meninggalkan ibu asuhnya" ujar Jessa bercerita.


"Bagaimana jika kita mencobanya lagi? mungkin dengan alasan Blue kali ini dia mau tinggal" ucap Violet tiba-tiba.


"Kau benar, lagi pula Blue memang butuh teman" balas Jessa.


Ia segera menemui Jack untuk membicarakan hal ini, begitu mendengarnya Jack dengan cepat setuju dan memberikan dukungan penuh pada rencana tersebut.


Di ruang tamu mereka duduk hingga Agler keluar dari kamar Kyra, menatap kadatang Agler mereka tersenyum kompak.


"Maaf, kami asik mengobrol hingga lupa waktu" ujar Agler menghampiri.


"Tidak perlu minta maaf, aku justru senang karena Kyra ada teman bicara" jawab Violet.


"Semenjak kecelakaan itu Kyra menjadi sangat pendiam, dia tidak banyak bicara pada kami dan itu sangat membuat kami khawatir. Sekarang melihat dia kembali terbuka membuat kami lega, demi kesembuhannya ia memang harus selalu bahagia" sambung Jessa.


"Biasanya Kyra akan ceria di hadapan Hans, hanya dia yang bisa membuat Kyra tertawa. Tapi akhir-akhir ini Hans sibuk sehingga tidak punya waktu untuk menemani Kyra, melihat Kyra dapat terbuka padamu aku berfikir kehadiran mu adalah jalan lain untuk kesembuhan Kyra" tambah Jack.


"Kau terlalu berlebihan, Kyra hanya sedang butuh teman bicara dan kebetulan aku berkunjung" sahut Agler.


"Tidak ada yang kebetulan, kami adalah keluarganya dan kenal seperti apa Kyra. Melihatnya membuat ku mengerti bahwa kau di butuhkan di rumah ini" ucap Jessa.


"Apa?"


"Demi kesembuhan Kyra aku harap kau mau tetap di sini, setidaknya sampai tetapi Kyra selesai"


"Maksudnya.. aku tinggal di sini?" tanya Agler.


"Tolong pikirkan Kyra, ini semua hanya untuk Kyra. Tapi jika permintaan ku sekiranya terlalu berlebihan untuk mu maka aku minta maaf" ujar Jessa.


Agler terdiam, menatap satu persatu orang itu hingga memutuskan.


"Baiklah, mulai sekarang aku akan menjadi bagian dari keluarga Hermes"


"Benarkah?" tanya Jack tak percaya.


Agler mengangguk yakin, membuat senyum merekah di wajah mereka.


* * *


Srek


Suara gorden yang tersingkap itu membuat mata Kyra terbuka, meski di tengah tidur yang nyenyak tapi telinganya cukup tajam hingga mendengar suara itu.


Ia bangkit saat melihat sesosok bayangan hitam masuk melewati jendela kamarnya, meski dalam kegelapan tapi ia tahu sosok itu merupakan pujaan hatinya yang sudah ia tunggu sedari tadi.


"San... " panggilnya pelan.


"Aku datang" jawab Manager San.


Kyra mengulurkan tangan, menggapai Manager San dan tersenyum senang.


"Jangan nyalakan lampunya, jika ada yang melihat kamar ku terang mereka akan memeriksanya" ujar Kyra.


"Aku mengerti" sahut Manager San.


Bukan masalah besar sebab baginya bisa menemui Kyra itu sudah cukup, meskipun memang merepotkan memanjat pagar setiap malam dan menyelinap seperti pencuri.


"Ada apa?" tanya Manager San melihat raut wajah Kyra yang tiba-tiba lesu.


"Sampai kapan kita akan bersembunyi seperti ini? aku lelah menutupi hubungan kita San" jawab Kyra pelan.


"Aku mengerti, tapi keadaan mu saat ini tidak memungkinkan kita untuk berterus terang. Keluarga mu menentang hubungan kita dan aku takut jika kita berterus terang hal buruk akan menimpamu, bersabarlah sedikit sementara aku akan mencari jalan keluarnya" bujuk Managar San.


Selama ini Kyra sudah cukup bersabar dengan cintanya, kini ia harus bisa bersabar sedikit lagi untuk bersatu dengan cintanya tersebut.


Melupakan hal itu ia mulai dengan mengubah topik pembicaraan, mulai bercanda sebagaimana pasangan kekasih. Sibuk dengan dunia yang mereka ciptakan sendiri hingga tak menyadari ada seseorang yang tengah mengintai.


Entah mengapa malam itu Violet tidak bisa tidur, tiba-tiba benaknya di penuhi gambaran tentang Kyra sehingga membuatnya memutuskan untuk melihat kamarnya.


Kecurigaan timbul saat Violet mendengar sebuah percakapan dari dalam kamar Kyra, jelas suara yang dia dengar adalah suara Kyra dan seorang pria.

__ADS_1


Merasa ada yang tak beres Violet tak bisa menerka-nerka dan memutuskan untuk melihat.


Ceklek.


__ADS_2