Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 115 Kecelakaan Yang Tragis


__ADS_3

Akhir-akhir ini tubuhnya terasa lebih letih dari biasanya, padahal setiap hari pekerjaannya selalu sama dan tak ada yang berubah. Seolah ada sesuatu yang terus menyerap energinya hingga habis, sehingga rasa kantuk terus menyerangnya.


"Mmm... ada apa ini? tumben sekali jalanan macet?" gumamnya menatap antrian mobil yang cukup panjang.


"Astaga... ini sudah siang, tuan muda bisa marah besar jika aku datang terlambat" ujarnya kaget saat melihat jam tangan.


"Pak saya turun di sini saja" ucapnya kepada sang supir taksi.


Meski kediaman Joyi masih jauh tapi ia pikir dengan berlari mungkin ia bisa memotong jalan sehingga sampai tepat waktu, tapi langkahnya menjadi pelan karena harus melewati kerumunan masyarakat.


Saat ia mencoba membelah kerumunan itu tanpa sengaja matanya melihat petugas ambulans yang sedang mengevakuasi korban kecelakaan itu, dan wajah korban yang ia kenali.


"Kyra.... " teriaknya seketika membuat orang-orang di sana menatapnya.


Meskipun wajah itu penuh dengan luka dan berdarah-darah tapi Manager San sangat mengenalinya, apalagi setelah ia berhasil melewati kerumunan dengan jarak yang dekat ia yakin akan penglihatannya.


"Maaf apa kau keluarga korban?" tanya seorang petugas padanya.


Saat ini ia tengah syok melihat tubuh Kyra yang penuh luka dan tak sadarkan diri, tapi telinganya berfungsi dengan baik sehingga ia merespon dengan sebuah anggukan.


Tanpa kata lain ia ikut di ijinkan masuk ke dalam ambulans bersama dengan tubuh Kyra, sepanjang perjalanan dilihatnya petugas bekerja keras untuk melakukan pertolongan pertama.


Tak ada yang dapat ia lakukan selain berdoa, berharap Kyra masih bisa di selamatkan hingga mereka sampai di IGD.


Kyra dan Hakan di bawa ke ruangan yang berbeda untuk mendapatkan pertolongan, sementara ia di suruh menunggu sampai dokter selesai melakukan pekerjaannya.


Bukan hal mudah menanti sebuah kabar yang belum tentu, apalagi ia melihat dengan mata kepalanya kondisi Kyra yang mengenaskan.


Berjam-jam ia di sana dengan jantung yang terus berdegup dengan kencang, resah menyelimuti hatinya hingga semunya terasa serba salah.


Matahari telah tinggi di atas langit, waktu menunjukkan pukula sebelas siang saat seorang dokter keluar menghampirinya.


"Dokter... " sapanya.


"Apa kau keluarga dari pasien?"


"Be-benar, yang wanita bernama Kyra dan yang pria adalah Hakan. Mereka baru menikah belum lama ini, bisakah kau beritahu aku bagaimana kondisi mereka?" tanyanya mencoba bicara di tengah ketegangan yang melanda.


"Bayi yang ada di dalam perutnya tak bisa di selamatkan"


"Apa? ba-bayi... " ulang Manager San.


"Ya, benturan yang terjadi mengakibatkan dia keguguran"


"Lalu bagaimana dengan Kyra?" tanyanya cepat.


"Dia kehilangan banyak darah dan harus mengalami koma, begitu juga dengan pasien prianya."


Tak ada yang tahu nasib seseorang, begitu juga dengan dirinya. Ia pikir Kyra akan hidup bahagia setelah pernikahannya namun ternyata ujian datang tanpa di duga, ia bahkan menjadi saksi akan ujian tersebut.


Mencoba untuk tetap tenang ia berjalan ke arah resepsionis, meminjam telponnya untuk mengabari Chad tentang kecelakaan itu.


Tak butuh waktu lama, beberapa menit kemudian Chad dan Joyi tiba di rumah sakit. Menemuinya untuk meminta menceritakan kembali apa yang telah terjadi, juga keadaan terkini dari Hakan dan Kyra.


"Semoga Tuhan melindungi nyawa mereka, aku akan pergi memberitahu Violet kalian tunggu di sini" ujar Joyi.


Chad dan Manager San mengangguk, maka Joyi pun pergi untuk beberapa menit.


"Aku sudah mengabarinya, sebentar lagi mereka akan tiba di sini" ujar Joyi memberitahu.


"Baiklah kalau begitu mari kita pulang" ajak Chad.


"Kau mau pulang?" tanya Joyi sedikit kaget karena ia pikir Chad akan tetap berada di sana hingga Kyra siuman.

__ADS_1


"Jika kita terus di sini mereka bisa melemparkan kesalahan kepada kita, aku tidak mau berkelahi untuk sesuatu yang tidak perlu" sahutnya.


Itu memang ada benarnya, tapi tetap saja Joyi merasa heran karenanya.


"Baiklah kalau begitu" ujarnya.


Meski Manager San ingin tetap di sana tapi jika tuannya menyuruh untuk pergi maka ia pun akan pergi, lagi pula ia adalah orang asing bagi Kyra.


* * *


Drap Drap Drap Drap


langkah kaki yang cepat itu seirama dengan detak jantung yang berpacu melawan waktu, saat kakinya tiba di rumah sakit secara bersamaan kaki Chad dan yang lain pergi meninggalkannya.


Wajah merah dengan mata sembab yang mengeluarkan air membuat siapa saja yang melihat dapat menerkanya dengan mudah, ia di lingkupi kekhawatiran yang besar.


Di belakangnya Ryu dan yang lain memberikan ekspresi yang sama, langkah mereka semakin cepat hingga tiba di ruang ICU.


Seorang dokter menghampiri untuk menegaskan apakah benar mereka keluarga pasien, Violet dan Ryu mengangkat tangan dengan menyatakan bahwa mereka adalah orangtua pasien.


Maka Dokter pun meminta mereka untuk mengikutinya ke ruangan lain, dimana sang Dokter memberikan penjelasan lebih rinci tentang keadaan Kyra dan Hakan.


Untuk saat ini yang bisa mereka lakukan hanya menunggu perkembangan selanjutnya, sambil berdoa akan adanya keajaiban.


"Bagaiamana?" tanya Jack sekembalinya Ryu dan Violet.


"Kyra... dia.. kehilangan banyak darah dan tulang kakinya patah sehingga kemungkinan setelah sadar ia tak bisa berjalan dengan normal" jawab Ryu menahan isak tangisnya.


Ah...


"Astaga.. " pekik semua orang mendengar berita menyedihkan itu.


"Lalu bagaimana dengan Hakan?"


"Keadaannya tak jauh berbeda dengan Kyra, tapi Hakan masih beruntung karena tak ada luka berat yang ia alami" jawabnya.


Padahal baru saja Hans sembuh dari sakitnya tapi kini Kyra malah mendapatkan luka yang lebih serius, hal ini membuat hatinya berdebat antara mempercayai ucapan Joyi atau menganggap semua hanyalah takdir.


Di tengah kekalutannya tiba-tiba Joyi sudah berdiri di hadapannya, menatap tanpa ekspresi.


"Kau.. a-apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.


"Kau lihat Jack? kutukan itu tak akan pernah berhenti sampai kau menyingkirkan Jessa dari hidupmu"


"Bohong! aku tahu semua ini rencana mu!" teriaknya memilih untuk menepisnya.


"Kenapa kau tidak mencobanya untuk membuktikan apakah ucapan ku benar atau tidak? sebelum cucu mu benar-benar harus menderita, bukankah dulu pun saat Jessa tidak ada kau bisa hidup bahagia dengan lima anak dan tiga istri?" tanyanya.


Jack tak tahu harus menjawab apa, ia terlalu syok hingga tak bisa memutuskan apa yang harus ia lakukan. Sampai Joyi pergi meninggalkannya sendiri, Jack masih di sana bergulat dengan benaknya.


"Kakek... " panggil Hans menghampiri.


Perlahan Jack mengangkat wajahnya.


"Ini sudah malam, sebaiknya kakek pulang dan beristirahat" ujarnya.


Kaget Jack melihat sekeliling, rasanya tadi matahari masih bersinar terang namun ternyata setelah Joyi pergi ia terus melamun hingga lupa waktu.


"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Jack pelan.


"Paman dan bibi akan menunggu di sini, sedang ayah, ibu dan nenek Jessa akan pulang jadi sebaiknya kakek juga ikut pulang saja"


"Bagaimana dengan mu?"

__ADS_1


"Aku juga akan pulang sebentar untuk membawa baju hangat untuk paman dan bibi"


"Begitu ya" sahut Jack yang malah kembali melamun.


Melihatnya membuat Hans sadar bahwa saat ini Jack dalam keadaan tidak stabil, berita ini terlalu mengguncangnya yang sudah menua.


"Kakek... udara di sini tidaklah baik untuk kesehatan kakek, lagi pula kakek juga harus menemani nenek Jessa di rumah sebab dia juga harus banyak beristirahat untuk menjaga kesehatannya" bujuk Hans lembut.


Jack menatap cucunya itu lekat-lekat, menemukan sedikit ketenangan hingga akhirnya ia mau untuk mengikuti saran Hans.


Berhari-hari mereka bergantian menunggu di rumah sakit sampai akhirnya Hakan yang pertama kali sadar, awal siuman tak banyak yang ia ingat sehingga membuat Jack sedikit khawatir.


Tapi keesokan harinya ia sudah lebih baik dan di pindahkan ke ruang rawat inap, anehnya saat Jack mencoba menengok Hakan tidak menerimanya.


Hakan tidak menerima siapa pun dari keluarga Hermes untuk menjenguknya, tentu ini cukup mengherankan namun mereka berfikir mungkin Hakan merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa mereka.


Berfikir positif Jack menyuruh keluarganya untuk memakluminya dan memberi waktu kepada Hakan sampai ia benar-benar pulih.


* * *


Manager San sama sekali tak bisa fokus pada pekerjaannya, benaknya hanya tertuju pada Kyra yang sampai saat ini masih belum sadar. Setelah melewati perang batin yang cukup lama akhirnya ia memutuskan untuk menjenguk, tak peduli apakah keberadaannya akan di terima atau tidak.


Dengan bunga di tangan ia berjalan melewati pintu masuk rumah sakit, terus melangkah masuk hingga tinggal beberapa langkah lagi sampai di ruangan Kyra.


"Apa maksud mu?" teriak Violet yang suaranya begitu jelas terdengar.


Merasakan adanya sesuatu yang tak beres ia memutuskan bersembunyi sambil mendengarkan, di lihatnya seorang pria berpakaian rapi berdiri diantara kelurga Hermes.


"Anda bisa membuktikan keaslian suratnya, klien ku mengajukan permohonan ini dalam keadaan sadar dan telah menimbang segalanya" ujar pria itu menyodorkan sebuah kertas.


"Tapi kenapa Hakan menceraikan Kyra? pernikahan mereka baru seumur jagung dan..


dan dalam kondisi sakit seperti ini?" tanya Violet bingung.


"Apa?" gumam Manager San kaget mendengar pertanyaan itu.


Memang tak habis pikir tapi itulah yang di lakukan Hakan, ia melayangkan surat perceraian tanpa memberitahu alasan yang jelas kepada keluarga Hermes.


Tak bisa diam Manager San memilih untuk menemui Hakan, hanya untuk menanyakan alasan dari tindakan Hakan tersebut.


"Siapa kau?" tanya Hakan melihat Manager San yang masuk kamarnya tanpa ijin.


"Maaf atas ketidaksopananku, tapi aku benar-benar harus mengetahui mengapa kau menceraikan Kyra" ujarnya tanpa basa basi.


"Apa yang membuatku berfikir aku akan mengatakannya pada orang yang bahkan tidak aku kenal?" tanya Hakan sarat akan ketidaknyamanannya.


"Apa ini karena kecelakaan yang menimpa kalian? apa kau merasa bersalah sehingga memutuskan untuk berpisah? yang kau lakukan ini akan menyakiti Kyra jadi sebaiknya kau tarik lagi niatmu itu, pikirkan baik-baik tentang hati Kyra"


"Berani sekali kau menceramahi ku tanpa tahu apa yang dilakukan wanita itu kepadaku!" teriak Hakan yang lepas kendali.


"Korban yang sebenarnya adalah aku! bukan wanita itu! dia telah menipu ku dan mempermainkan pernikahan suci kami, dia yang berbohong dan karenanyalah disini aku berada"


"Apa.. maksudmu?" tanya Manager San kaget.


"Kyra! dia... dia sudah mengandung anak dari pria lain sebelum menikah dengan ku" jawab Hakan dengan suara yang hampir hilang karena amarah yang coba ia kontrol.


Manager San hanya bisa terdiam mendengarnya, ternyata bayi yang meninggal akibat kecelakaan itu bukanlah darah daging Hakan melainkan orang lain.


Tapi siapa?


Berjalan keluar dari kamar Hakan, ia berfikir masih sambil membawa bunga di tangannya. Mencerna peristiwa yang bagai benang kusut, memintalnya sedikit demi sedikit hingga akhirnya ia berhasil menemukan ujungnya.


Aahh... arhh...

__ADS_1


Erangan itu keluar dari tenggorokan yang kering, reaksi dari ketidakberdayaannya menghadapi kemungkinan yang hampir seratus persen adalah kenyataan.


Tiba-tiba air mata jatuh begitu saja, menangisi bayi yang telah tiada bahkan sebelum Tuhan memberinya ruh. Bayi yang tercipta hasil dari buah cintanya dengan Kyra, betapa hidupnya begitu merana hingga harus menghadapi kenyataan yang perih.


__ADS_2