Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 91 Penjemputan Kyra


__ADS_3

Dan apa yang ia takutkan akhirnya terjadi, tubuh itu kembali terbaring di atas tempat tidur tanpa daya. Hanya bisa mendengar tanpa bisa menjawab, hanya bisa berfikir tanpa bisa bergerak, hanya bisa mengawasi dengan kedua matanya yang kembali sendu dengan emosi yang tertahan.


Sepanjang hari di sampingnya Jack tersungkur dengan air mata penyesalannya yang tak mau berhenti mengalir, sebagai seseorang yang teramat mencintai istrinya ia tak tak cukup perhatian.


"Maaf" kata itu terucap lagi untuk yang kesekian kalinya.


Tapi kata itu tidaklah merubah Jessa kembali bugar, kata itu hanya omong kosong yang mewakili penyesalannya.


"Aku... pasti akan mencari cara, kau tenanglah" ujarnya.


Sekian lama terduduk di sana akhirnya ia bangkit, menemui beberapa orang kepercayaannya di tempat rahasia.


"Akan ku jelaskan bagaimana wajahnya, lukis dan carilah dimana pun ia berada" ujar Jack menahan luka di hatinya yang menganga.


Membayangkan bagaimana wajah Tianna dengan terperinci ia menjelaskan, salah satu anak buahnya dengan cermat mendengarkan sambil menggambar di atas kertas.


"Apakah dia seperti ini?" tanyanya selesai menggambar.


"Benar, seperti itu wajahnya. Cepat temukan dia dan beritahu aku jika kalian sudah berhasil" jawabnya.


"Baik tuan" sahut mereka serentak.


Hhhhhhhhh


Menghembuskan nafas panjang ia berharap semuanya berjalan dengan baik, pengharapannya begitu tinggi sebab keinginannya juga tinggi terhadap kesembuhan Jessa.


Lelah menghadapi situasi sulit yang terus menimpanya, Jack pulang dengan langkah gontai. Tapi saat langkah itu baru melewati pintu sebuah pertengkaran membuatnya tertegun, teriakan dari Violet dan Ryu membuatnya heran.


"Apa yang terjadi?" tanyanya.


"Ayah... " panggil Amelia.


Jack berpaling menatap wajah menantunya yang cemas, melirik pada pertengkaran itu Amelia membisikkan sesuatu yang membuat Jack terbelalak kaget.


"Apa-apaan ini?" gumamnya.


Mengepalkan kedua tangannya dengan cukup keras Jack berteriak membuat pertengkaran antar suami istri itu berhenti.


"Ryu! ikut dengan ku!"


"A-ayah.. " panggil Ryu sedikit kaget.


Tapi kemudian ia mengabaikan Violet dan berjalan mengikuti langkah Jack.


"Tunggu! Ryu kau mau pergi kemana?" tanya Violet.


Tapi Ryu tidak menjawab, ia terus berjalan hingga masuk ke dalam mobil. Di temani beberapa pengawal yang di ajak Jack mereka menuju kediaman Joyi, saat tiba kedatangan mereka di sambut oleh pengawal yang berjaga dengan ketat.


"Joyi.... keluar kau!" teriak Jack sekencang mungkin.


Tentu panggilan itu berhasil menarik perhatian tuan rumah, Joyi keluar dengan santai menyambut tamu dadakan itu.


"Well, well well lihat siapa yang datang berkunjung?" ujar Joyi.


Tanpa di duga tiba-tiba Jack menarik sebuah pistol dari sabuk penjaganya dan menodongkannya tepat di hadapan Joyi, tentu saja para pengawal Joyi dengan sigap membalas hingga membuat sisa penjaga yang di bawa Jack pun melakukan hal yang serupa.


Ketegangan terjadi, membuat Ryu menatap ngeri akan kemungkinan buruk yang bisa terjadi.


"Owh rupanya kau berani menodongkan senjata pada wanita tua" ucap Joyi santai.


"Kembalikan cucu ku atau ku tembak kepalamu!" teriak Jack tak main-main.


"Tembak saja, kenapa aku harus takut?" jawab Joyi yang membuat tangan Jack bergetar.


Senyum mengembang di wajah Joyi, senyum yang terlihat mengerikan dengan tatapan dingin.


"Kyra sendiri yang ingin tinggal di sini, dia sudah cukup muak kepadamu yang tidak bisa menjadi pemimpin yang baik. Tembaklah aku di mana pun kau suka, buat lubang di sana yang akan menghilang nyawaku sehingga semua cucu mu semakin yakin akan sifat buruk mu" ujarnya tegas.


Gemetar di tangan itu semakin tak terkontrol, keringat dingin mulai mengalir di keningnya akibat menahan emosi dan berfikir terlalu keras. Detik terasa begitu lambat saat telunjuknya meraba pelatuk, hanya dengan satu tekanan saja maka hidup Joyi akan berakhir.


Tapi peluru yang hendak bersarang di tubuh itu belum tentu dapat menyelesaikan semua masalah yang ada, sesuai perkataan Joyi bisa saja masalah yang lebih besar akan timbul.


"Tidak...." sebuah teriakan dari suara yang tak asing membuat Jack melemaskan tangannya yang kaku.


Dari dalam Kyra berlari keluar dan tiba-tiba berdiri tepat di hadapan Joyi, tangannya terentang dengan lebar seolah melindungi.


"Kyra.. apa yang kau lakukan?" tanya Ryu.


"Jika kakek berniat membunuh nyonya Joyi maka kakek harus melangkahi mayat ku dulu" jawabnya tegas.


Ucapan itu membuat tangan Jack menjadi lemah, menurunkan senjatanya ia menatap sedih pada cucu yang selama ini begitu ia sayangi.

__ADS_1


Tangannya yang terentang entah mengapa begitu menusuk jantungnya, membuat lubang di sana yang menganga. Batinnya bertanya-tanya mengapa bisa gadis yang ia rangkul dengan cinta sejak bayi bisa berdiri membela musuh, melawannya tanpa ragu dengan tatapan tajam.


"Blue.... " panggilnya lembut.


"Aku tidak akan pernah bergeming apa pun yang terjadi" potongnya.


Sebuah ucapan lain yang membuat luka di tempat baru.


"Blue apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?" tanya Ryu.


"Katakan dimana letak kesalahan ku?" balasnya.


"Chad telah mempermainkan mu, kenyataannya dia adalah saudaramu yang tidak mungkin bisa menikahimu. Tapi dia tetap mendekatimu dan itu semua hanya rencana yang di buat wanita itu demi balas dendamnya kepada keluarga kita"


"Setiap saat leherku tercekik ketegangan yang ada di dalam rumah, setiap malam rasa bersalah menjadi mimpi buruk yang membuatku tak berani menutup mata. Ayah tahu? aku pantas mendapatkan apa yang Chad lakukan padaku, setidaknya dia menyelamatkan nyawaku dan kini sudi menerima ku dengan tangan terbuka" jawab Kyra tegas.


Ucapan itu terlalu benar sampai Jack dan Ryu tak memiliki jawaban untuk membantahnya.


"Aku tidak peduli dengan apa pun yang terjadi pada keluarga Hermes, aku akan segera mencari pria dan mengganti nama belakang ku" ujar Kyra tiba-tiba.


"Apa maksud mu?" tanya Ryu kaget.


"Sudah cukup ayah, sejak kita pindah ke sini aku bahkan tidak punya waktu untuk diriku sendiri" jawab kyra pelan.


Perlahan ia menurunkan lengannya, berjalan menghampiri Jack dan berbisik.


"Aku mohon pergilah dari sini"


"Blue... " sahut Jack parau.


Setetes air mata keluar dari ujung matanya dan mengalir di pipi hingga jatuh ke tanah, menatap sedih pada yang biru itu perlahan ia membalikkan badan.


* * *


Tunas baru telah berjuang muncul ke permukaan, menandai musim yang berganti. Meski udara masih terasa dingin tapi warna bumi tidak sepenuhnya putih, tumpukan salju mulai mencair hingga terlihatlah tanah yang coklat.


Udara musim semi membawa kebahagiaan yang menghipnotis orang-orang untuk tersenyum, sama seperti Agler yang terpengaruh karenanya.


Langkahnya mencairkan es di atas aspal hingga tercipta jejak kakinya yang berjalan ke arah dermaga, dari kejauhan ia sudah bisa melihat seorang gadis berdiri menghadap laut.


"Kau sudah menunggu lama?" tanyanya menghampiri.


"Tidak, aku juga baru datang" sahut Alisya.


"Ah itu... aku ingin memberikan ini untuk mu" jawabnya sambil menyerahkan sebuah kotak kecil.


"Apa ini?" tanya Alisya kaget.


"Seharusnya ini adalah hadiah natal, tapi kita baru bertemu jadi sudah sangat terlambat. Meski begitu aku tetap ingin memberikannya padamu" jawab Agler.


Alisya terdiam, kesal pada tindakan Agler yang justru membuatnya berharap. Semakin lama kini mereka semakin dekat lagi, tapi hal itu tidak bisa menjadi jaminan akan hubungan yang ia inginkan.


"Maaf, aku tidak bisa menerimanya" ujar Alisya pelan.


Jawaban yang tak pernah Agler perhitungkan, keningnya berkerut dengan memandang heran.


"A-aku... tak punya hadiah balasannya untuk mu" ucap Alisya yang tak tega menatap wajah bingung itu.


"Oh kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, aku tidak akan meminta balasannya" jawab Agler kembali sumringah.


Wajah polos itu benar-benar telah membuat Alisya bingung, entah ia harus bagaimana agar bisa bersikap normal di hadapan Agler.


"Baiklah... terimakasih" ujarnya mengambil kotak itu.


"Bukalah" ucap Agler dengan senyum di wajahnya.


Perlahan Alisya membuka kotak itu, tatapan sendu di matanya berubah terpana melihat sebuah kalung yang begitu indah.


"Ini... indah sekali" gumamnya.


"Aku tahu ini tidaklah cukup untuk membalas semua kebaikan mu terhadap ku termasuk adik ku, tapi setidaknya ini mewakili rasa terimakasih ku padamu" ujar Agler,


Alisya tersenyum senang mendengar ucapan itu, dalam benaknya seketika tertanam jiwa yang di butuhkan orang lain.


Dengan senang hati Agler memakaikan kalung itu di leher Alisya yang mulus, sejenak tiba-tiba ada rasa penasaran akan darah yang bisa timbul dari sana. Membuat Agler tetap bertahan dalam posisi itu dengan mata yang intens menatap, tapi kemudian ia tersadar dan segera menjauhkan diri.


"Terimakasih, aku menyukainya" ujar Alisya.


"Sama-sama, aku senang mendengarnya"


"Ah bagaimana kalau kita pergi minum, anggaplah ini balasan hadiah ku" ujarnya.

__ADS_1


"Baiklah" jawab Agler dengan senang hati.


* * *


Membawa kesedihan kedalam kediaman Hermes yang sudah gelap membuat kastil itu benar-benar suram, luka di hatinya semakin lebar dan meluas ke segala tempat.


Membuatnya hanya mampu duduk sambil melihat keluar jendela tanpa adanya gairah, kopi di dalam gelas kini telah dingin saking terlalu lama ia diamkan.


Tapi kemudian matanya yang kosong tiba-tiba berisi saat sebuah bayangan lewat di depan matanya.


Dengan cepat ia pergi kemana arah bayangan itu pergi, memastikan tak ada yang melihat ia keluar dari rumah dan menuju ke samping rumah dimana tanaman begitu lebatnya.


"Tuan" sapa seorang pria.


"Bagaimana? kau sudah menemukannya?" tanya Jack tak sabar.


"Vampire itu bernama Tianna, dia adalah salah satu pengikut Keenan yang sempat menjabat sebagai Raja. Saat Keenan di bawa oleh Sang Dewi dia pergi dari istana bersama seorang vampire tua dan penyihir bernama Shishio" jawabnya.


"Apa? kemana dia pergi?"


"Tidak ada yang tahu akan hal ini" jawabnya lagi.


Jack memutar otak dengan keras, berfikir kemana kiranya Tianna pergi. Tapi jika ia pergi bersama Shishio maka dia sudah lepas dari peraturan istana, itu artinya ia bisa berada di mana saja.


"Coba cari ke desa-desa terpencil, temukan dia secepatnya" ujar Jack kembali memberi perintah.


"Baik tuan" jawab pria itu yang tak lupa memberi hormat sebelum pergi.


Melihat anak buahnya sudah menghilang barulah Jack keluar dari persembunyian itu dan kembali masuk ke dalam rumah, setelah ia duduk di kursi yang tadi Amelia mendekatinya.


"Apakah ayah ingin ku ambilkan minuman baru?"


"Tidak nak, tidak perlu" jawabnya.


Maka Amelia pun hanya duduk, menemani ayah mertuanya yang terus melamun. Hal ini cukup membuatnya khawatir, tentu saja karena ia sudah lama mengenal keluarga Hermes yang terkenal hebat.


"Kyra tidak mau pulang?" tanya Amelia.


"Dia... bahkan melindungi Joyi seolah wanita itu malaikat" jawab Jack mengenang peristiwa itu.


"Kyra masih kecil, apa yang dia lihat akan ia anggap kebenaran tanpa memikirkannya lebih dulu. Ayah hanya perlu bersabar dan memberinya pengertian sedikit demi sedikit"


"Bagaimana ini bisa terjadi? sungguh Amelia, semua ini membuat ku kehilangan akal" ucap Jack bingung.


"Ayah... selalu ada ujian untuk orang-orang baik, kita akan menghadapinya bersama seperti dulu. Bukankah sejauh ini semuanya berhasil? pada akhirnya kita kembali menjadi satu keluarga meski tidak lengkap" ujar Amelia sambil mengelus pundak Jack dengan lembut.


"Ya, tapi bukan keluarga yang damai. Bahkan Blue sudah mengatakan akan mencari seorang pria dan menikah dengannya agar bisa terlepas dari nama Hermes"


"Apa?" tanya Amelia kaget.


"Bagai sebuah kutukan dia tidak mau lagi menyandang nama itu di belakang namanya, setelah ia menikah nama Hermes itu akan di gantikan begitu pun posisi kita sebagai keluarga."


Amelia hanya bisa temenung, tentu ia tak paham mengapa Kyra bisa berfikir seperti itu bahkan mengatakannya kepada Jack.


Baginya yang sudah lama mengenal Jack tentu ucapan itu sangat menyakitinya, karena ia tahu bagi Jack keluarga adalah segalanya.


Tapi tiba-tiba sebuah ide gila muncul dalam benaknya, sebuah ide yang kemudian ia jelaskan kepada Jack.


Awalnya Jack menolak tapi dengan keuntungan yang akan Jack dapatkan jika misi itu berhasil akhirnya ia pun setuju.


Pagi-pagi sekali seolah tak ada masalah yang terjadi Jack sarapan seperti biasa, sebelum berangkat ke kantor ia sempat berpamitan kepada Jessa di kamar.


Tentu tak lupa ia ucapkan janji akan menyembuhkan Jessa kembali, setelah itu barulah ia berangkat dengan hati yang penuh akan keyakinan.


Tiba di kantor di panggilnya sang Manajer, menanyakan tentang segala pekerjaan yang harus segera di tuntaskan. Dalam keadaan prima itu bahkan ia memimpin rapat dengan baik, setelahnya secara rahasia ia meminta Managernya untuk membuat sesuatu.


"Pesta itu akan di adakan tepat setelah proyek kita selesai, hanya tinggal menunggu setidaknya seminggu lagi" ujar sang Manager.


"Aku tidak ingin kau melewatkan apa pun, pokoknya semuanya harus berjalan dengan baik" ucap Jack memperingati.


"Saya akan melakukan yang terbaik, sehari sebelum pesta di mulai akan saya berikan laporannya kepada anda" jawabnya.


"Itu bagus, aku tahu kau bisa diandalkan dan ingat bahwa ini harus di rahasiakan"


"Saya mengerti, kalau begitu saya mohon undur diri"


"Ya, silahkan" jawab Jack mulai berpaling.


Sebelum keluar dari ruangan itu sang Manager sempat diam-diam melirik Jack, mengerutkan kening dengan ekspresi heran.


"Untuk apa dia meminta hal itu?" gumamnya.

__ADS_1


Tapi kemudian dia menggelengkan kepala, menepis apa pun pertanyaan itu karena ia harus paham bahwa apa pun permintaan bosnya harus ia lakukan.


__ADS_2