Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 50 Benang Merah


__ADS_3

Satu-satunya musik yang terdengar hanya dentuman air yang menghantam bebatuan, memang kadang pun gemerisik dedaunan yang di tiup angin menambah irama baru tapi tetap saja musik alam itu hanya enak di nikmati jika dalam keadaan tenang.


Sepertinya alunan indah itu terdengar beda di telinga Ima, sebab ia tak bisa berhenti menggoyangkan kakinya sambil menikmati sebuah apel di tangan.


"Bisakah kau berhenti?" tegur Chad yang merasa terganggu.


"Apa?"


"Kau membuat ikan-ikannya kabur karena ketakutan" ujarnya sambil mengangkat kail pancing dan mencoba melemparkan ke sisi yang lain.


"Kau saja yang tidak becus"


"Apa kau bilang? berani sekali kau bicara kasar padaku!" hardik Chad.


"Aahh.... baiklah serahkan padaku! akan ku tangkap ikan besar untuk mu" ujar Ima yang malas mendengar omelan Chad.


Ia meraih pancingan dan membawanya turun dari batu besar itu, Chad memperhatikan kemana Ima pergi dan mulai mengikutinya saat Ima pindah ke sisi aliran air yang lebih tenang.


Dia terlihat lebih lihai seolah benda itu mainannya sejak kecil, tanpa ragu ia melempar kail pancing dan duduk dengan tenang. Sambil bersenandung ringan di perhatikan Chad yang berdiri tepat di sampingnya sambil menyilangkan tangan, Ima nampak tak perduli pada tatapan Chad yang biasanya mampu membuat para gadis menjerit histeris.


Sstt ssstt sstt


"Aku mendapatkannya" bisik Ima sambil perlahan bangkit.


"Apa? tidak mungkin" ujar Chad cepat menghampiri.


Dengan cekatan Ima memutar Reel pancing sambil sesekali menarik, wajahnya berseri setiap sensasi tarikan yang ia terima dari perlawanan ikan. Sensasi itu semakin kuat di detik-detik terakhir dimana ia berhasil menarik keluar ikan dari air.


Yeeeaahhhh....


Soraknya melihat ikan yang ia seret ke daratan, Chad hanya mampu terpana tanpa bisa mengatakan apa pun. Dengan bangga Ima mengangkat ikan itu di samping wajahnya, memperlihatkan betapa besar tangkapannya sekaligus membuktikan bahwa ucapannya bukanlah omong kosong belaka.


"Mari tuan, akan saya hidangkan ikan bakar yang masih segar" ujar Ima saat ia berjalan melewati Chad.


"Aku benci sifat sombongnya" gumam Chad merasa malu.


Ima cukup pintar memasak, meski hanya ikan bakar tapi ia tetap menggunakan beberapa bumbu yang sengaja ia bawa dari rumah agar menambah cita rasanya.


"Silahkan tuan" ujar Ima menyodorkan ikan matang itu kepada Chad.


"Mm, enak" ucap Chad mencicipi.


Ima tersenyum senang melihat Chad mulai memakan ikan bakar itu dengan lahap, saat makan dengan perasaan senang wajah Chad akan terlihat manis seperti anak kecil dan hal itu membuat Ima betah menatapnya lama-lama.


"Setelah kita menikah nanti akan ku masakan makanan enak setiap hari"


Buuuhhhhh


Uhuk Uhuk Uhuk Uhuk


"Minum, minum" ujar Ima cepat memberikan sebotol air.


Aahhhh....


"Hampir aku mati" erang Chad menghela nafas sementara Ima menatapnya masih dengan khawatir.


"Jangan katakan hal konyol seperti itu lagi!" hardiknya.


"Apa? konyol apanya?" tanya Ima bukan benar-benar tidak mengerti.


"Memangnya siapa yang mau menikah dengan mu? jangan besar kepala! kau itu bukan tipu ku sama sekali"


"Benarkah? lalu bagaimana tipe mu itu? jangan katakan kau lebih suka wanita yang kau bawa pulang malam itu, dia benar-benar jelek!" ucap Ima dengan nada tinggi.


"Bisa-bisanya kau mengatakan orang lain jelek tanpa berkaca dulu, lihatlah dirimu! kau sangat pendek dan berantakan. Setidaknya wanita itu wangi dan kulitnya juga mulus"


Kesalahan besar, saat mengatakan kekurangan seorang gadis terlebih mengenai fisik maka itu merupakan dosa yang tidak termaafkan.


Jelas mata Ima memerah dan mulai berkaca-kaca, selama ini ia selalu di puji manis dan lucu oleh semua orang. Kali pertama ia mendapat hinaan bahkan itu pun dari pria yang ia sukai, tapi mau bagaimana pun Ima tidak pernah menunjukkan kelemahannya.


"Baik! jika kau menganggap ku tidak cantik tidak masalah, tapi akan ku buktikan bahwa aku lebih baik dari wanita itu. Secantik apa pun dia hidupnya hanya untuk uang sehingga tidak ada kehormatan yang di berikan pria kepadanya, tapi aku! aku akan menunjukkan kepadamu betapa banyak pria yang menyukai ku dan menghormati ku" ujarnya dengan tegas.

__ADS_1


"Buktikan jika kau memang kau bisa" tantang Chad.


"Kau lihat saja!" teriak Ima.


Chad masih berdiri di sana, menatap punggung gadis mungil yang berjalan dengan kesal. Sekilas, Chad dapat melihat kilauan di dekat kuping Ima yang ia terka adalah butiran air mata yang terbang tertiup angin.


"Sial!" gumamnya sambil melempar batu ke arah air terjun.


Matanya tidaklah buta, ia bisa melihat kesedihan di wajah Ima akibat ucapannya yang keterlaluan. Bahkan air mata yang di tahan itu adalah bukti nyata kekejamannya, seharusnya ia meminta maaf tapi keegoisan terlalu meninggikan harga dirinya.


Seorang diri Chad hanya mengutuki diri dengan penyesalan yang tidak berguna, tanpa menyadari kehadiran Joyi yang sudah sedari tadi melihat dan mendengar teriakan mereka.


Melihat cucunya tenggelam dalam masalah pribadi Joyi memutuskan kembali ke hotel dan menunggu kepulangan Chad, tentu saja Chad kaget mengetahui Joyi ada di sana saat ia pulang.


"Nenek... sejak kapan nenek di sini?" tanya Chad.


"Nenek baru datang" jawabnya berdusta.


"Oh, apa... ada masalah?" tanyanya lagi.


Tentu ada, itu masalah terkait Hermes. Maksud kedatangannya jauh-jauh ke sana adalah untuk memberitahu Chad masalah undangan Violet serta rencana mereka dalam pembalasan dendam.


Sejak awal tangannya meraih Chad adalah demi mewujudkan tujuan utamanya membalas dendam kepada Jack, akan sangat baik melihat Jack hancur oleh cucunya sendiri terlebih Chad pun tak masalah akan hal itu.


Tapi melihat dunia Chad yang baru ini ia temukan niat itu tiba-tiba masuk ke dalam ruangnya, dalam satu waktu Joyi melihat senyum, canda dan kegalauan khas seorang pemuda yang sangat normal dalam diri Chad.


Hal itu membuat Joyi yakin gadis yang ia lihat bersama Chad bukanlah gadis sembarangan, meski gadis itu terlihat miskin tapi jelas ia punya sesuatu yang dapat menarik Chad ke dalam dunianya.


"Tidak ada, nenek hanya ingin bertemu dengan mu untuk membahas perkembangan pembangunan hotel, jika bisa nenek ingin kau kembali untuk mengurus kantor sebab tidak baik kau pergi terlalu lama" jawab Joyi sambil tersenyum.


"Oh... aku mengerti, mungkin lusa aku sudah bisa kembali"


"Itu bagus" sahut Joyi.


* * *


Chad adalah anak yang ia besarkan seorang diri, sebesar apa pun dendamnya kepada Hermes atau sebesar apa pun kebenciannya kepada Jack tetap saja janji setianya untuk membesarkan keturunan Jack adalah poin utama yang tidak akan pernah ia langgar.


Oleh karena itu melihat Chad yang rasanya menemukan dunianya sendiri ia harus memastikan gadis yang dekat dengan Chad tidak akan menyakiti Chad atau menjadi beban kedepannya.


Perjodohan antara Chad dan Kyra memang ia lakukan tapi bukan berarti ia akan menikahkan Chad dengan Kyra, ia hanya akan membuat kehebohan yang bisa menyakiti Jack. Baik Kyra atau pun Chad masuk ke daftar keturunan Jack yang akan ia jaga juga kedepannya dengan caranya sendiri.


Tok Tok Tok


Ketukan pintu sengaja ia buat kencang agar orang di dalam dapat mendengarnya dengan jelas, sesuai harapan seseorang membuka pintu tak berapa lama kemudian.


"Apa yang kau lakukan selarut ini?" tanya Jhon.


"Aku butuh bantuan mu" jawab Joyi.


Melihat kerutan di kening Joyi ia tahu ini masalah serius, Jhon pun mempersilahkannya masuk dan menyuguhkan segelas teh kepadanya.


"Apa ini masalah Chad?" tanya Jhon.


"Kurang lebih seperti itu, aku ingin kau menemukan seseorang untuk ku"


"Siapa?" tanya Jhon mulai tertarik.


"Seorang gadis, aku melihat dia sangat dekat dengan Chad. Dia seperti gadis desa biasa namun ada sesuatu yang unik, samar-samar aku merasakan aura yang sama seperti Chad dari dirinya"


"Apa namanya Ima?" tanya Jhon yang sudah mempunyai gambaran.


"Itu... entahlah, kenapa kau menerkanya? apa kau mengenal gadis ini?" tanya Joyi penasaran.


"Chad pernah membawa gadis ini kepadaku"


"Apa? untuk apa?"


"Untuk mencari ayahnya yang hilang, gadis ini bernama Ima dia adalah putri dari Colt"


"Maksudmu... Colt... yang menikahi Mina teman Anna? Colt itu?" tanya Joyi memastikan.

__ADS_1


Jhon mengangguk yang berarti semua itu benar, ia juga memberitahu ciri-ciri Ima yang mirip dengan gadis yang ia lihat di air terjun itu. Tentu Joyi sedikit syok sebab ia tak mengira akan bertemu anak dari orang yang ia kenal, dari sekian banyak gadis di dunia rupanya Chad terpaut pada orang yang masih memiliki hubungan di masa lalu dengan Jack.


Bisa di katakan seperti itu sebab ia sangat mengenal Janet ibu Mina yang merupakan teman baik Jack, rupanya di kehidupan ini cucu-cucu Jack mengikat benang merah pada penerus orang-orang penting bagi Jack.


Jika memang benar gadis itu adalah Ima maka kini tergantung pada hati Chad, apakah ia serius padanya atau hanya main-main. Tapi, kalau pun itu hanya main-main ia berniat untuk tidak ikut campur.


* * *


"Kau belum tidur sayang?" tanya Joyi melihat Alisya yang duduk di kursi meja makan.


"Ah aku... tidak bisa tidur, oleh karena itu aku membuat susu hangat"


"Begitu rupanya"


"Dari mana nenek selarut ini?" tanya Alisya sadar akan waktu yang sudah menunjukkan tengah malam.


"Dari rumah teman, kami asik mengobrol sampai lupa waktu" jawabnya.


Joyi ikut duduk dan menuangkan segelas air putih untuk menghilangkan dahaganya, kemudian ia melihat wajah sendu cucu perempuannya. Ia ingat beberapa waktu lalu Alisya pernah dalam keadaan seperti ini juga, entah masalah apa yang di hadapinya tapi itu cukup berpengaruh pada kesehatannya.


Kini ia tahu alasan kemurungan Alisya adalah karena patah hati, tapi meski begitu ia tak bisa berbuat banyak meski beberapa waktu lalu ia sempat melihat sedikit semangat pada Alisya saat berada di Ooty.


Entah mengapa tiba-tiba ia berfikir Alisya bisa menggantikan Chad yang tidak mungkin meneruskan balas dendamnya karena Ima, ia ingat pada Hans putra Shigima yang masih lajang.


Akan bagus jika Hans pun masuk ke dalam asuhan tangannya juga lewat Alisya, dengan begitu semua cucu Jack benar-benar telah berada dalam perlindungannya.


Hal ini patut di coba, benang merah itu akan terikat kuat sebab Alisya adalah cucu kesayangannya yang murni asing dari Hermes.


"Teman nenek membuka klinik kecantikan, dia mengundang nenek untuk datang. Apakah kau mau menemani nenek ke sana?" tanyanya.


"Um... entahlah, aku sedang ingin di rumah saja" jawab Alisya ragu.


"Oh, sayang... lihatlah kulitmu yang pucat! kau harus keluar dan melihat masih banyak kebahagiaan yang belum kau temukan."


Jika Joyi sudah mengeluarkan rayuan manisnya maka tak ada alasan bagi Alisya untuk menolak, maka ia pun mengangguk untuk mengukir senyum di wajah yang sudah menua itu.


Jika tujuannya untuk merayu seorang pria maka yang perlu di lakukan adalah tampil cantik dan menarik, ia belum melihat profil Hans tapi bisa ia lakukan nanti setelah mengurus Alisya yang kehilangan gairahnya.


Hal itu pula yang di lakukan oleh Ima, ia pun sadar penampilan adalah poin utama yang harus ia perbaiki jika ingin menggaet pria tampan.


Dengan bantuan Mina tentu bukan hal sulit baginya untuk tampil cantik, meski Mina pun sedikit bingung mengapa tiba-tiba putrinya berubah lebih feminim lagi dari biasanya tapi ia senang sebab inilah yang inginkan dari Ima sejak dulu.


Gadis yang lemah lembut dengan pembawaan sopan santun, saat pergi ke sekolah dengan tampilan barunya ini semua mata segera tertuju padanya.


Ima adalah murid baru di sana, hanya beberapa minggu menjadi pusat perhatian karena statusnya murid baru kini ia kembali menarik perhatian dengan kecantikannya yang berbeda.


Salah satu kakak kelas yang terkenal paling tampan juga sampai mengajaknya bicara di jam istirahat, tawa kecil khas seorang gadis membuat pemuda itu semakin bersemangat mengatakan hal-hal lucu demi mendapatkan perhatian lebih dari Ima.


"Um.... apa besok kau ada waktu senggang?" tanyanya.


"Sepertinya ada, kenapa?" tanya Ima.


"Ah, ada kafe baru yang cukup terkenal. Aku pikir... kita.. maksud ku kau mau pergi?" jawabnya yang tak bisa berhenti gugup.


"Baiklah"


"Apa?" tanyanya memastikan.


"Aku akan pergi"


"Benarkah?" tanyanya lagi.


Ima mengangguk yang membuat pemuda itu sedikit bersorak, melihat tingkahnya yang seperti anak kecil membuat Ima tertawa kecil. Sadar jadi bahan tertawaan ia segera berdiri tegak sambil mengusap kepala untuk menutupi malu, tapi tentu hal itu kurang berhasil hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk pamit pergi.


Ima sempat melambaikan tangan yang membuat wajah pemuda itu merona, sampai sosoknya hilang di belokan senyum itu pun ikut lenyap dari wajahnya.


Ia cukup pandai bersandiwara, apalagi menebar senyum dan menggaet hati pria bukanlah hal sulit sebab ada pesona vampire yang ia miliki.


Yang cukup mengejutkan bukannya senang mendapatkan banyak perhatian dari pria tampan hatinya justru merasa sakit, ada rasa jijik pada dirinya sendiri yang merasa sembunyi di balik topeng.


Sambil memandang langit biru bibirnya bergumam.

__ADS_1


"Mengapa tidak kau yang memberikan perhatian itu? padahal aku sangat mendambakannya."


__ADS_2