Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 122 Perjanjian Baru


__ADS_3

Meski memang kemungkinannya kecil tapi Jack memutuskan untuk bertanya, Tianna mampu menyembuhkan Jessa yang sakit berat hanya dengan sebuah pil karena itu ia pikir Tianna juga akan mampu menyembuhkan Kyra.


Ia pergi seperti biasa di tengah malam buta saat semua orang sudah tertidur, menemui Tianna di tempat biasa untuk mengambil pil.


"Jatah mu seperti biasa" ujar Tianna menyerahkan sebuah kotak.


"Terimakasih" jawab Jack.


Ia berdiam diri menetap butiran pil itu, seolah ada sesuatu yang salah hingga menarik perhatian Tianna.


"Jumlahnya benar bukan?" tanya Tianna.


"O-oh ya... jumlahnya benar"


"Lalu apa yang kau tunggu?"


"Um... sebenarnya aku ingin bertanya padamu, ini... tentang pil yang lain"


"Pil yang mana?" tanya Tianna bingung sebab ia tak memiliki pil lain selain yang di pegang Jack.


"Apakah... kau punya pil yang bisa membuat orang lumpuh berjalan lagi? ini berbeda dengan Jessa, dia lumpuh karena kecelakaan dan aku ingin sekali membuatnya bisa berjalan lagi" jelas Jack.


Melihat wajah memelas Jack membuat Tianna bergairah, di tengah kebosanan yang mulai melanda tiba-tiba sebuah ide gila muncul begitu saja.


"Bagaimana jika aku memilikinya?" tanya Tianna dengan nada menggoda.


"Bolehkah aku memintanya? kau begitu murah hati, hanya sebuah pil lain pasti tidak menyulitkan" pinta Jack dengan cepat.


"Aku memang murah hati, tapi pertukaran akan selalu berlaku"


"A-apa yang kau inginkan?" tanya Jack merasa takut akan permintaan Tianna.


"Jadikan aku menantu dalam keluarga mu"


"Apa?" teriak Jack kaget.


* * *


Masih ada waktu sebelum pertemuannya dengan Tianna, Hans memutuskan untuk menikmati secangkir kopi sebelum pergi.


Sambil menikmati pancaran bulan yang terang di tengah malam, meraup kedamaian dalam batinnya yang terlalu sunyi.


Bersenandung pelan mengikuti irama angin yang berdesir diantara dedaunan, menjatuhkannya secara perlahan ke bumi untuk menutup nyanyian.


Tuk


Kopi telah habis yang menjadi tolak ukur waktunya, berjalan keluar dari kastil lewat pagar tembok yang sudah biasa ia lewati.


Berjalan santai tanpa tahu Agler memergokinya, dan kini tengah menjaga jarak di belakang untuk mengikuti kemana ia akan pergi.


Rasa penasaran Agler kian bertambah saja melihat semua gerak gerik keluarga Hermes yang seakan menyimpan rahasia masing-masing, ini akan menjadi ulasan penting baginya untuk meninjau seberapa baik keluarga Hermes itu.


Kecurigaan Agler bertambah kuat saat ia merasakan aura vampire yang cukup kuat di depan, ia berfikir entah Hans sadar atau tidak akan sesuatu yang menunggunya di depan.


Semakin dekat Agler memutuskan untuk menyembunyikan aura miliknya agar vampire itu tak menyadarinya, bersembunyi di balik pohon dengan cara meringkuk diam-diam ia mengintip pertemuan antara Hans dengan Tianna.


"Malam sayang... " sapa Tianna senang menyambut kedatangan Hans.


Ia berjalan memutari tubuh Hans dan mencium aroma penyihir yang begitu menggoda dari setiap jengkal leher Hans, dengan jemarinya yang lentik malam itu Tianna tampil sebagai vampire yang penuh gairah.


Ia membelai rambut Hans, menuruninya ke pipi hingga bergeser ke atas bibir dimana bakal kumis tumbuh di sana.


"Sepertinya malam ini kau sedang senang" ujar Hans yang sedikit pun tak tergoda.


Tianna bergerak mendekatkan tubuhnya pada Hans, lalu tepat di telinganya ia berbisik.


"Kakek mu membuat perjanjian baru, dia akan mengangkatku sebagai menantu dan kau adalah mempelai prianya"


"Apa?" teriak Hans tak percaya.


Membuat Agler kaget sekaligus penasaran apa yang sedang mereka bicarakan hingga Hans terlihat marah, sayangnya jarahnya terlalu jauh sehingga tak bisa mendengarkan percakapan mereka.


Hihihihi


"Menurut mu bagaimana?" tanya Tianna senang akan respon yang di berikan Hans.


"Aku harus pergi" ujar Hans membalikkan badan.

__ADS_1


"Eh, kau belum menuntaskan tugasmu" sergah Tianna menahan tangan Hans.


Hampir ia lupa pada tugasnya karena masalah baru yang di munculkan Jack, Hans pun terdiam. Membiarkan Tianna merangkulnya dari belakang, kemudian dengan kukunya yang setajam pedang menggores lehernya sebelum kemudian membenamkan mulutnya di sana.


Itu hanya berlangsung beberapa menit saja, setelah selesai Tianna segera menutup bekas goresannya seperti biasa dan membiarkan Hans pergi.


Tersenyum senang akan permainan itu Tianna pulang dengan perasaan bahagia, wajahnya yang semakin terlihat cantik dan segar berkat asupan dari Hans membuat Shishio penasaran.


"Kau dari mana?" tanyanya melihat Tianna yang baru saja pulang.


"Kau tahu apa pekerjaan ku" sahut Tianna.


"Sepertinya akhir-akhir ini kau mendapatkan darah dengan kualitas terbaik"


"Lebih baik dari itu, aku bahkan menerima energi yang kuat"


"Tianna... jangan bilang kau mengambil darah penyihir" ujar Shishio yang curiga.


Bertahun-tahun hidup dengan meneliti vampire bahkan kini hidup diantara mereka membuat Shishio mengenal baik apa yang baik dan buruk bagi vampire, termasuk darah penyihir yang bukan saja membuat bugar tapi juga menambah kekuatan.


Aargghhh...


"Kenapa sekarang kau menjadi cerewet seperti nenek-nenek?" erang Tianna.


"Tianna apa kau gila? perbuatan mu bisa membuat peperangan kembali terjadi"


"Kami membuat perjanjian Shishio! tidak akan ada masalah yang terjadi, kau tidak perlu secemas ini" jawab Tianna kesal.


"Sungguh? perjanjian apa yang di buat seorang penyihir dengan musuhnya?" tanya Shishio dengan mata tajamnya seolah mencoba membaca isi hati Tianna.


"Bukan urusanmu!" tukas Tianna sembari pergi meninggalkan Shishio.


Shishio adalah seorang pengamat yang sensitif, hanya dengan satu gerakan diluar kebiasaan saja ia bisa menyadari akan sesuatu yang tengah di sembunyikan.


Rasa penasaran yang mendarah daging membuatnya tidak akan melupakan hal itu, diam-diam dia akan bergerak mencaritahu tanpa ada yang menyadari.


* * *


Melihat Hans membiarkan vampire mengambil darahnya tentu itu cukup membingungkan, kecuali ia memiliki perjanjian. Agler memang bukan vampire seperti pada umumnya, ia lebih condong seperti manusia meski tetap meminum darah manusia sesekali.


Ia sangat baju terhadap berbagai peraturan dan kebiasaan vampire hingga tak mengerti mengapa dus musuh itu bisa bersama tanpa saling menyerang, jika itu manusia maka ia bisa memahaminya.


"Apakah... Hans jatuh cinta pada vampire itu?" gumam Agler menerka.


Tapi mengingat wajah Hans bahkan caranya menemui Tianna bisa di bilang terlalu biasa bagi orang yang sedang jatuh cinta, bahkan Hans terlihat seperti tidak menyukainya.


"Apakah ada hal yang tidak ku ketahui tentang vampire?" gumamnya lagi bertanya seorang diri.


Termenung sendiri tiba-tiba Agler teringat akan percakapannya dengan Nick tentang penyihir yang membuat perjanjian dengan vampire, jelas saat itu Nick mengatakan nama penyihir itu adalah Hans.


"Astaga... kenapa aku bisa lupa? perjanjian berdarah... ya... sekarang aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Hans benar-benar membuat perjanjian itu untuk kepentingan Jack" ucapnya yang tiba-tiba merasa tegang.


Ironis memang, keluarga Hermes yang terpandang bahkan di kalangan penyihir sekalipun ternyata diam-diam bersimpuh di kaki vampire hanya demi kepentingan pribadi.


Agler yang sejak kecil di tanamkan untuk saling menyayangi sesama saudara bahkan selalu memanjakan Ima saking sayangnya tak bisa tenang setelah mengetahui hal itu, ia merasa kasihan pada Hans yang harus menanggung beban keegoisan Jack.


Mencoba berfikir jernih ia memutuskan untuk mengambil keputusan, memilih membantu Hans keluar dari jerat vampire yang pasti akan menghancurkannya.


Siang itu ia melihat Hans sedang bersantai menikmati kopinya di taman, sambil membaca koran ia terlihat seperti kakek tua yang sudah pengsiun.


"Kau tidak ke kantor?" tanya Agler menghampiri.


"Tidak, aku tidak bekerja di sana"


"Kenapa? bukankah kau penerus ayahmu?" tanya Agler lagi kini sambil duduk di sampingnya.


"Aku pernah bekerja di kantor, sekali mendapatkan proyek aku menghancurkannya dan itu membuatku berfikir kalau pekerjaan itu tidak cocok untuk ku" akui Hans.


Agler tersenyum mendengarnya, menyadari sifat Hans yang mudah tertekan.


"Satu kali gagal itu wajar, kau akan berhasil di lain hari"


"Tidak seperti itu, aku tahu kemampuan ku sendiri dan sayangnya kepintaran ayah tidak menurun padaku. Lebih mudah membunuh sepuluh vampire sekaligus daripada menjalakan sebuah proyek kecil."


Agler kembali tersenyum kecil.


"Kau masih menjalankan tugas di Akademi?"

__ADS_1


"Tentu saja, itu pekerjaan ku sekarang" jawab Hans.


Tuk


Tiba-tiba Agler menyimpan sebuah botol kecil di atas meja, Hans memperhatikannya dengan bingung.


"Ini untuk menjaga stamina mu, ini hanya sedikit saran jadi kau bisa mengabaikannya. Tapi lebih baik kau memutuskan perjanjian mu sebab vampire tidak hanya menelan darahmu tapi juga menyerap energi sihirmu, jika kau terus melakukannya ada kemungkinan sihirmu akan lenyap" ujar Agler.


"Ka-kau... tau dari mana?" tanya Hans kaget sebab ia paham apa yang di maksud Agler.


"Vampire yang kau temui untuk meminta saran adalah guruku, guru Nick menceritakan semuanya kepadaku" jawab Agler.


Hans termenung, wajahnya memucat dengan cepat bahkan tangannya sedikit gemetar.


"Bi-bisakah kau merahasiakan hal ini?" tanya Hans.


"Aku adalah vampire karena itu tahu betul bagaimana sifat vampire yang membuat perjanjian denganmu, dia akan terus bermain dengan mangsanya hanya untuk membangkitkan gairah"


"Aku... terpaksa melakukannya... "


"Hans, kau bisa memilih jalan lain yang lebih baik selain mengorbankan dirimu sendiri" bujuk Agler.


"Andai saja hal itu ada aku pasti akan memilihnya"


"Apa keegoisan Jack lebih penting dari nyawamu?" tanya Agler penuh makna.


"Jika cinta sebuah keegoisan maka yang aku lakukan pun adalah keegoisan bukan pengorbanan, aku menyayangi kakek seperti dia menyayangi nenek" jawab Hans tanpa ragu.


Agler hanya bisa terdiam sebab ia pun pasti melakukan hal yang sama jika Ima berada di posisi Jack, meski harus kehilangan nyawa tapi itu hanya sebuah pengorbanan kecil.


* * *


Chad baru mendapatkan kabar dari Jhon dan dalam kabar yang ia berikan hanya berisi bahwa Joyi akan pulang nanti malam, karena hal ini Chad memutuskan untuk pulang lebih cepat dari biasanya.


Sore hari ia sudah berada di rumah hanya untuk menunggu kepulangan Joyi, setelah makan malam ia memutuskan untuk menunggu di ruang depan sambil menikmati segelas anggur.


Waktu terus berputar, semakin malam semua pelayan pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat termasuk Aeda sang kepala pelayan.


Sesuai permintaan Chad lampu di matikan di seluruh ruangan seperti biasa, dalam kegelapan itu Chad duduk dengan tenang hingga akhirnya setelah menunggu lama di dengarnya suara langkah kaki seseorang yang masuk.


Tuk Tuk Tuk


Suara sepatu yang mengetuk lantai menggema dalam ruangan gelap yang hanya di huni oleh Chad, kemudian berhenti tempat di samping kursi tempat Chad duduk.


"Kau sengaja menyambut kedatangan nenek?" tanya Joyi.


"Aku bahkan mencari nenek sejak kemarin, lebih dari itu aku sampai minta bantuan paman Jhon"


"Oh, akhirnya setelah sekian lama kau kembali memperhatikan nenek juga" ujar Joyi.


Chad bangkit dari tempat duduknya, memutar gelas secara perlahan sambil berjalan mendekati Joyi.


"Tujuan ku mencari nenek hanya untuk mencari tahu tentang satu hal, nenek harus menjawabnya" tukas Chad.


Joyi menatap dengan mata tajamnya, berdiri tegak dengan kepala sedikit mendongak untuk memperlihatkan kekuasaannya.


"Kenapa nenek menyuruh Alisya untuk menjauhi Agler?" tanya Chad dengan suara tertahan.


"Karena dia bersekutu dengan keluarga Hermes" jawab Joyi dingin.


"Tidak, Agler tidak melakukan hal itu. Dia bahkan terus menolak ajakan Jack karena baginya keluarganya saat ini jauh lebih berharga, pasti nenek telah merencanakan sesuatu yang tidak aku ketahui" sergah Chad.


Bukannya menjawab Joyi malah berjalan lebih mendekat pada Chad, menatapnya dengan tajam tanpa ada kasih sayang di dalamnya.


"Jika kau mencoba mencampuri urusan nenek maka mulai saat ini nenek akan buatkan tembok yang sama untuk mu, tembok besar yang nenek buat untuk memisahkan Agler dan Alisya" ujarnya sebagai peringatan.


"Apa yang terjadi padamu? kenapa kau berubah?" tanya Chad seolah Joyi menjadi orang asing.


"Bukan nenek tapi kau, terlena dalam cinta membuat hatimu lunak seperti usus. Kau bahkan sudah tidak peduli bagaimana nenek akan bertanggungjawab pada orangtua mu nanti, apa yang bisa nenek katakan setelah bertemu mereka di langit?" bantah Joyi dengan tegas.


Mata Chad seketika memerah, ada rasa sakit seperti luka lama yang sengaja di gores kembali. Bahkan dadanya semakin sakit tatkala mengingat bagaimana rupa orang tuanya yang tak pernah ia ketahui.


"Kau sudah memilihnya, hiduplah tenang dalam dunia yang kau bangun sendiri atau nenek akan membuatmu mencakar tembok pembatas yang memisahkan mu dengan Ima" ujar Joyi.


Kedua tangan Chad mengepal dengan kuat untuk menahan emosi yang coba ia redam, mematung seolah kakinya terpaku di sana saat Joyi meninggalkannya sendiri.


Prang....

__ADS_1


Akhirnya gelas dalam genggaman tangannya pecah karena tak tahan menerima tekanan yang kuat, serpihan kaca itu menembus kulit telapak tangan Chad.


Memberikan rasa pedih dengan darah yang mengalir ke luar, tapi Chad tak peduli.


__ADS_2