
Entah sudah berapa hari ia tinggal di sana, Hans tidak pernah menghitung hari bahkan sempat lupa pada misinya. Hutan itu begitu damai sehingga membuatnya nyaman di tambah dengan kehadiran Elf yang membuatnya semakin betah, sampai suatu hari Elf bertanya tentang alasan mengapa ia bisa berada di sana.
"Aku... sebenarnya sedang berada dalam misi penting"
"Misi?" tanya Elf heran.
"Ya, saat ini dunia di luar hutan sangatlah genting. Para vampire menyerbu bangsa penyihir dan manusia dengan membabi buta, saat ini kami kaum penyihir mulai kekurangan Ksatria untuk melindungi manusia. Kami semakin kewalahan dan jika terus di biarkan bisa-bisa dunia akan hancur di bawah kekuasaan bangsa vampire" jelas Hans.
"Aku mengerti, dengan kata lain kau sedang mencari bantuan"
"Aku hanya butuh seseorang saja, guru ku bilang hanya dia yang bisa mengehentikan kekacauan ini"
"Siapa yang kau maksud?"
"Sang Dewi Keabadian" jawab Hans.
Elf terpaku, dia diam dengan ekspresi yang sulit di tebak.
"Elf... apa kau tahu dimana dia berada?" tanya Hans.
"Aku... tahu, tapi tidak sembarang makhluk bisa masuk ke sana. Hanya dia yang berhati suci yang bisa masuk, lagi pula aku tidak yakin dia mau ikut pergi bersama mu"
"Kenapa? dia tidak bisa meninggalkan tempatnya"
"Meski begitu tolong antarkan aku padanya, siapa tahu aku bisa membujuknya" pinta Hans.
"Baiklah, besok pagi kita pergi" jawab Elf.
Hans hanya bisa berterimakasih atas bantuan yang di berikan Elf, ia harap bisa membujuk Sang Dewi untuk ikut bersamanya.
* * *
Desir angin membawa tubuh tegap itu menuju ujung bukit, di tatapnya kota yang hidup meski malam telah larut. Lampu-lampu menyala terang dan godaan para gadis di sepanjang tembok adalah sesuatu yang lumrah.
Ia berjalan di balik bayangan sampai tak ada yang menyadari kehadirannya, mengikuti jejak yang di tinggalkan oleh seseorang yang sangat ia kenali. Hingga tibalah dia di satu rumah nan megah, terdapat penjaga di balik gerbang yang dengan mudah bisa ia lewati.
Bahkan ia masuk ke dalam rumah itu tanpa ada seorang yang pun tahu, dilintasinya setiap ruangan dan dimasukinya setiap kamar sampai ia menemukan apa yang ia cari.
Dalam kamar yang gelap itu ia berjalan perlahan menghampiri seseorang yang tengah tidur di atas ranjang, untuk beberapa saat ia masih menatapnya sampai orang itu tiba-tiba terbangun.
Aaaaaaa....mmhmmmm
Dengan cepat ia bergerak menutup mulut orang itu agar ia berhenti berteriak, kemudian di dekat telinganya ia berbisik.
"Dimana sang pangeran?."
* * *
Sesuai janji Elf membawa Hans pergi menemui Sang Dewi, Elf mewajibkannya sarapan sebab perjalanan mereka cukup jauh dengan rintangan yang cukup berat.
Mulai dari matahari terbit mereka berjalan melintasi hutan, Hans masih senang sebab perjalanan itu rasanya menyenangkan di temani Elf yang cantik. Sekitar tiga jam kemudian mereka keluar dari hutan dan melintasi padang rumput yang luas, sejauh mata memandang yang ada hanya ilalang.
"Hans kau belum cerita bagaimana cara mu bisa sampai di hutan ku" ujar Elf.
"Oh.. itu.. aku pergi ke makam Lord vampire, di sana aku mengikuti jejak sihir dan masuk ke lubang pohon hingga berakhir di hutan mu"
"Begitu ya, kau memang seorang penyihir" gumam Elf.
"Kenapa?" tanya Hans penasaran.
"Lubang itu adalah jalan menuju dimensi lain, siapa pun yang masuk mereka bisa berakhir di tempat yang berbeda-beda. Tergantung kekuatan yang di miliki tubuhnya, kau seorang penyihir yang cukup andal maka tak heran jika kau bisa berakhir di hutan ku" jelas Elf.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan kembali diam, ini adalah kali pertama bagi Hans untuk melihat belahan dunia yang lain. Tak henti ia di buat kagum oleh berbagai hal yang alam miliki, meski itu hanya sejumput rumput yang terinjak.
Setelah ia tinggal bersama Elf bukan hanya luka di lengannya saja yang sembuh tapi juga luka di hatinya, kini ia memandang dunia dengan mata yang berbeda.
Padang rumput itu berakhir dengan bebatuan yang membatasi wilayah lain, saat matahari mulai meninggi kaki mereka harus lebih kuat lagi melangkah dengan penuh kehati-hatian sebab medan yang mereka lewati adalah bukit bebatuan.
Jika tidak hati-hati mereka bisa tergelincir dan jatuh menghantam batu yang tajamnya sama dengan sebilah pedang, suara nafas Hans mulai terdengar ngos-ngosan tapi ia masih melanjutkan meski Elf menawarinya istirahat.
Tanpa adanya tempat untuk berteduh menurut Hans mereka justru akan mati kepanasan, maka lebih baik terus melanjutkan perjalanan.
"Apa kau tidak lelah Elf?" tanya Hans.
__ADS_1
"Belum, aku sudah terbiasa jadi tidak masalah itulah kenapa kau harus sarapan" jawab Elf yang masih bisa tersenyum.
"Ah... kau lebih hebat dariku" gumam Hans.
Jelas bahwa matahari berada di atas sana tapi Hans merasa panasnya bak neraka seolah jarak antara kepalanya dan matahari hanya sejengkal, perlahan penglihatannya mulai kabur dengan langkah yang lunglai.
"Hans..... " panggil Elf saat ia melihat tubuh Hans hampir saja jatuh.
Srek..
Dengan cepat Elf menopang tubuh Hans, perlahan membaringkannya di tempat yang aman dan memberinya minum.
"Apa... sudah dekat?" tanya Hans pelan.
"Hans... perjalanan kita masih setengah hari lagi, jika kau sudah tak sanggup sebaiknya kita kembali" ujar Elf yang tak tega melihat kondisi Hans.
"Tidak... aku tidak akan mundur... aku harus membawa Sang Dewi" jawabnya.
Perlahan Hans mulai bangkit, jika tidak sanggup berdiri maka ia memilih merangkak. Meski pelan tapi pada akhirnya ia pasti akan sampai juga, semangat Hans yang pantang menyerah membuat Elf merasa iba. Ia tak tega melihat perjuangan Hans namun tak ada yang bisa berbuat banyak, hanya sebotol air minum saja yang bisa ia berikan.
"Aku akan membantumu.. " ujar Elf sambil mengangkat tangan Hans dan menaruhnya di bahu.
Bersama mereka berjalan kembali selangkah demi selangkah sampai matahari mulai turun sehingga panasnya tak terlalu menyengat, senyum Hans mulai timbul saat dari kejauhan ia melihat hutan yang rimbun.
Langkahnya pun semakin membaik hingga mampu berjalan tanpa bantuan Elf, semangatnya mulai berkobar sampai akhirnya ia sampai di hutan tersebut.
Bruk
Hhhhhhh Hhhhhhh Hhhhhhh
Hans dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya di atas dedaunan kering yang empuk, nafasnya yang serasa menipis perlahan dapat di atur hingga mulai normal kembali.
Ishhhh...
Erangnya saat ia mencoba bangkit, ada perih di kakinya dan saat ia membuka sepatu rupanya ada banyak luka lecet di sana.
"Hans.... jika di paksakan luka mu akan semakin bertambah parah" ujar Elf melihat luka di kaki Hans.
"Tidak apa-apa, aku akan membalutnya agar tidak semakin parah" jawab Hans.
Mereka pun kembali berjalan meski kali ini langkah Hans terseok-seok akibat luka yang ia alami di kakinya.
"Perjalanan kita masih jauh Hans, meski tidak ada binatang buas yang dapat memangsa kita tapi rintangan yang sesungguhnya adalah langkah kita sendiri. Hutan yang hangat, padang rumput, bukit bebatuan dan kini hutan rimbun dengan akar-akar yang dapat menghalangi langkah kita, apakah kaki mu masih kuat melewati medan itu? setelah ini kita akan melewati rawa dan belum lagi padang pasir" ujar Elf.
"Aku baik-baik saja, bagaimana dengan mu? apa kau masih kuat?"
"Kenapa malah mengkhawatirkan aku? lihatlah bahkan aku tidak berkeringat sedikit pun" ujar Elf sambil cemberut.
Hahaha
"Maaf karena aku sempat menyulitkan mu, kali ini aku akan berusaha agar tidak membebani mu" jawab Hans dengan senyum di wajahnya.
Sayangnya karena langkah mereka terlalu pelan saat matahari terbenam mereka baru keluar dari hutan itu, Elf menyarankan untuk bermalam dan melanjutkan perjalanan esok hari sebab medan yang akan mereka lewati adalah hutan rawa dimana mereka harus bisa melangkah dengan benar agak tak terjebak dalam genangan lumpur.
"Elf... seperti apa Sangat Dewi itu?" tanya Hans di tengah waktu istirahat mereka.
"Dia.... penuh misteri, dia bisa menjadi apa pun tergantung pikiran kita menggambarkannya. Yang jelas dia adalah sebuah keabadian yang tidak bisa mati" jawab Elf.
"Begitu ya, kata guru ku dia adalah gadis yang sangat cantik, penuh semangat dan mudah emosi. Tapi dia sangat baik dan rela mengorbankan diri demi orang lain terlebih temannya, di hanya gadis biasa yang jatuh cinta pada seorang vampire dan hidup dalam abu cinta" ucap Hans sambil menatap bara api yang merah menyala.
"Heh, aku tidak tahu apa maksud guru ku tapi dengan berbangga hati dia mengatakan sewaktu muda dia adalah pacar Sang Dewi" ujar Hans sambil tersenyum geli sebab baginya hal itu sangatlah konyol.
"Siapa nama guru mu?" tanya Elf dengan wajah datar.
"Shishio" jawab Hans.
Tak ada ekspresi khusus yang di tunjukan Elf tapi jelas ia mengetahui sesuatu yang tak di sadari Hans.
Hooooaaammmm...
"Aku sudah mengantuk, selamat malam Elf" kata Hans sambil menggeliat.
"Selamat malam" jawab Elf.
__ADS_1
Hans membaringkan tubuhnya begitu saja sementara Elf masih memandang api yang menari-nari di atas kayu bakar, cukup lama sampai ia akhirnya mengantuk dan tidur.
Begitu fajar menyingsing mereka pun melanjutkan perjalanan, kini Hans lebih bertenaga setelah mendapat istirahat yang cukup dan makan beberapa buah.
"Berhenti!" ujar Elf tiba-tiba.
"A-ada apa?" tanya Hans yang langsung berhenti bergerak.
"Mundurlah" perintahnya.
Hans mundur beberapa langkah kemudian Elf mencari sesuatu di sekitarnya, ia mengambil sebuah kayu berukuran sedang dan melemparnya ke depan.
Kayu itu perlahan bergerak dan masuk ke dalam dedaunan, rupanya Hans hampir saja melangkah menuju lumpur hisap yang tertimbun dedaunan.
"Mengerikan... " gumamnya yang sadar ia hampir saja mati sia-sia.
"Kau harus lebih berhati-hati, ada banyak lumpur hisap di sini" ujar Elf memperingatkan.
Hans mengangguk pelan masih ngeri sambil menatap kayu yang telah tenggelam, Elf pun mengambil langkah lebih dulu dan Hans mengikutinya dari belakang.
Seolah telah terbiasa Elf mengambil langkah-langkah tepat sehingga mereka bisa keluar dari hutan itu dalam keadaan selamat, tapi hari sudah mulai siang. Jika mereka tidak cepat medan selanjutnya adalah padang pasir dimana akan lebih berbahaya jika matahari sudah berada di atas kepala.
Namun tetap saja, mereka baru melewati setengah padang pasir saat matahari benar-benar berada di atas kepala. Hans merasa panasnya dua kali lebih hebat dari bukit bebatuan, sepatunya telah di penuhi pasir begitu juga dengan pakaiannya yang sudah kotor.
Kakinya yang luka meronta meminta pertolongan yang membuat hatinya gundah dan ingin berhenti sampai di sana saja, tapi sudah terlalu jauh untuk kembali. Lagi pula ia tidak bisa meninggalkan misi begitu saja sedang semua orang tengah berharap padanya.
Hhhhhhhhhh Hhhhhhhhhh Hhhhhhhhhh
Nafasnya mulai tersekat seolah tak ada oksigen di sana, dengan kaki yang mulai goyah langkahnya semakin perlahan sambil menelan ludah demi membasahi kerongkongannya.
Dengan satu tangan ia melindungi matanya saat mencoba seberapa dekat matahari dengan kepalanya, tapi yang ia lihat hanya cahaya menyilaukan yang seakan-akan menelan tubuhnya dan lenyap dalam kegelapan pekat.
Hanya gelap yang bahkan ia sendiri tak mampu melihat tangannya, ia mencoba meraba-raba tapi tak ada apa pun di sana. Anehnya meski ia berjalan tapi kakinya tidak menapak apa pun, ia melayang.
Ia mengedip beberapa kali sampai kegelapan itu perlahan memudar, meski tidak jelas tapi ia bisa melihat bintang-bintang di langit lalu dedaunan yang rimbun.
Perlahan semakin ia sering mengedipkan mata akhirnya ia bisa melihat api unggun yang menyala terang di sampingnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Elf.
"Apa... aku baru saja pingsan?" tanya Hans mencoba mengingat.
"Ya, bahkan cukup lama sampai matahari terbenam"
"Lalu.. dimana kita? bukankah tadi kita ada di padang pasir?" tanya Hans sambil mencoba untuk bangkit.
"Kita sudah sampai di hutan"
"Maksudmu? jangan-jangan kau.... membawaku melewati padang pasir.. " tebak Hans menduga.
"Melihat tekad mu yang kuat tidak mungkin aku membiarkan mu mati di padang pasir, ini! makan supnya agar kau kembali bertenaga" ujar Elf sambil menyodorkan semangkuk sup yang ia buat.
"Terimakasih" jawab Hans mengambil mangkuk itu.
Ia segera memakan sup itu sampai habis, untuk beberapa saat mereka terdiam menikmati malam sunyi sampai akhirnya memutuskan untuk beristirahat.
"Kita sudah dekat" ujar Elf di siang itu.
"Benarkah?" tanya Hans yang kembali bersemangat padahal tadi ia sudah akan putus asa.
Elf memimpin jalan melewati semak belukar yang menutupi jarak pandang, langkahnya terhenti saat melihat air terjun tepat di depan mata.
"Inikah tempatnya?" tanya Hans begitu keluar dari semak-semak.
"Ayo!" ajak Elf.
Ia berjalan di atas tebing yang curam, melangkah dengan pasti meski semakin mereka dekat dengan air terjun jalan itu semakin kecil. Hingga pada akhirnya Elf membawanya masuk ke dalam air terjun itu.
Rupanya di balik air terjun yang deras ada sebuah gua dengan stalaktit dan stalakmit yang indah, Elf terus memimpin jalan memasuki juga itu sampai mereka tiba di sebuah ruangan dengan batu besar di tengah-tengah.
"Berikan aku air" pinta Elf.
Hans memberikannya sebotol air yang kemudian air itu Elf tuang di bawah lantai, Hans melihat air itu mengalir melewati celah-celah hingga ia sampai pada batu besar yang berada di tengah.
__ADS_1
Perlahan air keluar dari batu dan tumpah kembali ke lantai, tapi air itu perlahan terangkat ke udara dan menciptakan sebuah sosok perempuan.
"Salam kepada Sang Dewi" ujar Elf sambil membungkukkan badan.