Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 134 Teka-Teki Insiden


__ADS_3

Dua hari lamanya Agler pergi dan baru kembali ke kediaman Hermes, mengetahui Kyra pergi bersama orangtuanya ia cukup terkejut. Kenyataan bahwa Kyra kurang akur dengan anggota Hermes lainnya adalah hal baru baginya, meski begitu ia mengesampingkan hal itu sebab ada hal yang jauh lebih penting.


Ia datang menemui Jessa dengan basa basi untuk bertanya kabar, tentu saat ini ia sedang tidak baik-baik saja.


"Aku mengatakan ini bukan karena berpihak padamu, tapi kedekatan kita membuat ku yakin kau sudah berkata jujur" ucap Agler.


"Terimakasih, tapi tentu itu tidak akan mengubah apa pun" sahut Jessa.


"Jika di biarkan bukankah Chad akan membalas?"


"Itu sudah pasti, dia sangat menyayangi Joyi lebih dari siapa pun"


"Apa kau tidak masalah? di tuduh atas apa yang tidak pernah kau lakukan, apa kau tidak ingin berusaha mencoba mengungkapkan pelaku sebenarnya?" tanya Agler penasaran.


"Aku sudah pernah memikirkannya, aku rasa Joyi sengaja menusuk perutnya kemudian menemuiku dalam keadaan terluka. Di saat yang tepat Chad melihat kami dan salah paham atas apa yang ia lihat"


"Joyi sudah merencanakan itu semua?" tanya Agler berfikir betapa hebatnya Joyi.


"Entahlah, itu hanya perkiraan ku saja sebab sebelum aku pergi menerima telepon misterius. Seseorang mengatakan orang yang aku sayangi tengah dalam bahaya dan aku harus cepat menyelamatkannya, orang itu menyuruhku datang ke bukit karena itulah aku pergi"


"Kau tahu siapa yang menelpon?"


"Suaranya asing bagiku" jawab Jessa sambil menggeleng.


Meski itu yang di percaya Jessa tapi Agler tidak sepenuhnya setuju akan teorinya, itu karena sehebat apa pun Joyi rasanya waktu saat Chad menemukan Jessa sangatlah tepat waktu.


Selain itu ada dua saksi yang kehadirannya juga ambigu, ia cukup penasaran apa yang dilakukan Jack dan Ryu di bukit hingga bisa menemukan insiden itu.


Tok Tok Tok


"Ya.. masuk" teriak Jack dari dalam kantornya.


Agler membuka pintu, melihat Jack yang sedang duduk di kursinya.


"Boleh aku masuk?" tanyanya.


"Tentu saja, masuklah nak" sahut Jack.


Ini adalah kali pertama Agler masuk ke ruangan Jack, ruang itu mirip layaknya ruang kerja di kantor ruangan. Yang membedakan adalah lukisan Roberto Hermes sang nenek moyang mereka, juga luasnya yang dua kali lipat dari kantor.


"Ruangan yang bagus" puji Agler.


"Terimakasih, um.... kau ada perlu dengan ku?"


"Oh ya" sahut Agler duduk tepat di hadapan Jack.


"Ini mengenai nenek Jessa" ucap Agler yang membuat Jack menegang.


Ekspresi itu tentu membuat Agler lebih penasaran, ia pun mulai mengulik informasi untuk memecahkan teka-teki insiden itu.


"Aku tahu Chad tidak akur dengan keluarga ini, apalagi setelah insiden ini aku khawatir kebenciannya akan semakin menjadi"


"Ya, itu memang sangat di sayangkan" ucap Jack murung.


"Karena itu, bisakah kakek membantuku memecahkan kasus ini? aku yakin nenek Jessa tidak bersalah, karena itu kita harus mencari pelaku yang sebenarnya" ungkap Agler.


Jack tak menjawab, wajahnya nampak gelisah dengan tangan yang memainkan pena. Itu membuat Agler semakin curiga, terlebih ada luka lecet di bagian tangan Jack yang sebelumnya tidak ada.


"Kenapa dengan tangan kakek?" tanyanya.


"Oh ini.. tidak apa-apa, kakek terjatuh di kamar mandi karena licin."

__ADS_1


Sebuah jawaban yang tidak masuk akal, Agler tahu Jack sedang berbohong tapi demi mengungkapkan keadilan ia pun mulai bersandiwara.


"Begitu rupanya, lalu apa yang kakek lakukan di bukit? apa kakek juga mendapat telpon misterius seperti nenek Jessa?"


"Ah, itu... tidak. Joyi yang menelpon dan mengajak bertemu di bukit, ia meminta kakek untuk tidak mengijinkanmu bekerja di kantor agar berhenti bersaing dengan Chad" jawabnya.


"Lalu?" tanya Agler sambil membaca gerak tubuh Jack yang ia rasa cerita itu benar adanya.


"Kami bertengkar, tapi setelah itu kakek memutuskan untuk meninggalkannya dan tiba-tiba terdengar suara teriakan. Saat mencari sumber suara kakek bertemu Ryu, saat teriakan itu kembali terdengar kami menemukan Joyi sudah dalam keadaan tak berdaya di pangkuan Chad" jelasnya.


Agler mengangguk, kali ini ada sedikit gelagat aneh dari Jack sehingga membuatnya kurang yakin apakah itu kisah yang sebenarnya. Ia pun mencoba meminta pendapat Jack tentang siapa pelaku sebenarnya, tapi Jack bungkam tanpa ada perkiraan bahkan ia juga tak berfikir Joyi akan melakukan jebakan seperti yang di pikirkan Jessa.


Selesai menginterogasi Agler kembali ke rumah sakit, menemani Chad dan Alisya yang masih tak mau beranjak.


Melihat betapa hancurnya mereka berdua hatinya ikut terpukul, meski di luar Joyi terkenal kejam dan dingin tapi bagi kedua anak yatim piatu itu Joyi adalah mentari mereka.


"Chad... boleh aku bertanya sesuatu?" tanyanya.


Hmmm


Sahut Chad tanpa memalingkan pandangan dari lantai yang putih.


"Apa yang kau lakukan di bukit saat itu?"


Ada rasa sedih yang kembali menyeruak dari dalam, membuat kerlingan air mata berkilau sebelum jatuh ke atas lantai.


"Nenek menelpon ku dengan ponselnya, suaranya gemetar dengan nafas yang terengah-engah. Ia berkata seseorang menyerangnya, ia berbisik seakan takut seseorang akan memergokinya yang tengah bersembunyi. Dia meminta tolong dan berteriak.... lalu telpon mati begitu saja" ujarnya mengingat jelas bagaimana peristiwa itu terjadi.


"Dan kau... menemukan nenek Jessa menusuknya" lanjut Agler yang sudah tahu akhir dari kisah itu.


"Andai Alisya tidak menghentikan ku, tidak.... andai aku dan Alisya tidak pernah bertemu sebagai saudara. Aku tidak akan memiliki beban meskipun harus mati demi membalaskan dendam ini" ucap Chad sarat akan amarah yang hampir meledak.


Kisah itu membuat Agler merasa pilu, untuk saat ini yang bisa ia lakukan hanya menenangkan Chad sebisa mungkin agar tetap pada kewarasannya.


"Aku mengikuti Jessa, aku melihatnya pergi ke luar rumah secara buru-buru karena itu aku mengikutinya. Tapi sesampainya di hutan aku kehilangan jejaknya, dan saat aku mencapai bukit terdengar suara teriakan seseorang. Aku sempat bertemu ayah saat mencari sumber suara tersebut, lalu saat teriakan itu kembali terdengar yang kami dapatkan adalah bibi Joy sudah tergeletak di pangkuan Chad dengan luka serius"


"Apa paman pikir nenek Jessa benar-benar melakukannya?"


"Entahlah, mereka memang tidak akur sejak dulu bahkan Joyi pun pernah mencoba membunuh Jessa jadi bisa saja hal itu benar terjadi. Apalagi sebelum tak sadarkan diri bibi Joy sempat menunjuk dan menyebutkan nama Jessa" sahutnya.


Agler kembali menimbang, ia tahu Ryu jujur seratus persen tanpa mengurangi atau melebih-lebihkan ceritanya. Ia juga cukup netral tanpa memihak siapa pun meski memiliki pendapat sendiri.


"Agler, aku tahu seharusnya sebagai keturunan Hermes asli aku tidak mengatakan ini. Tapi aku cukup khawatir padamu yang tidak tahu bagaimana keluarga kita, sejak dulu keluarga ini memiliki masalah di setiap generasinya. Hal ini yang membuatku tidak ikut serta dalam urusan kantor bahkan pergi keluarga negri demi hidup damai dengan keluarga baruku, jika bisa sebaiknya kau pun tidak terlalu ikut campur"


"Jadi menurut paman sebaiknya aku diam saja melihat Chad mencoba membunuh salah satu anggota keluarganya?" tanya Agler.


Ryu terdiam sejenak, berfikir sebelum kemudian kembali bicara.


"Ada satu hal yang belum kau ketahui tentang ayah mu, dulu saat ia berkhianat pada kaum dan keluarganya salah satu paman mu yang bernama Ken meninggal di tangan ayah mu"


"Apa... maksud paman?" tanya Agler seolah pendengarannya bermasalah.


"Anna yang tak lain adalah Sang Dewi, dulu dialah pemilik cinta dan kasih sayang Hermes bersaudara. Bahkan kami semua termasuk kakek mu selalu memanjakannya, kami semua rela melakukan apa pun demi dirinya. Hingga suatu hari saat ia harus pergi ke istana vampire demi kedamaian kami mencari cara untuk membuatnya pulang dengan selamat, saat itulah Rei dengan sengaja menikam Ken di istana vampire agar Anna bisa pulang" ujarnya menceritakan kisah kelam yang seharusnya tidak pernah muncul di permukaan.


"Dia melakukannya demi cinta, Anna benar-benar pulang meski dalam keadaan berduka dan Ken juga ikhlas berkorban demi keselamatan Anna. Apa pun alasannya anggota keluarga Hermes selalu dekat dengan kematian dan pelaku utama" lanjutnya.


Itu mengingatkan Agler pada pengorbanan Hans, entah ia harus bangga pada sifat saling sayang yang melebihi kata wajar atau sedih atas pengorbanan yang tak masuk akal.


"Aku.... pamit dulu" ujarnya pelan.


Langkahnya gontai membawa akal yang sudah tak lagi sehat, terlalu banyak hal mengerikan yang membuat kepalanya terus bekerja keras.

__ADS_1


Ia kembali ke rumah sakit, ikut duduk termenung bak boneka diantara Chad dan Alisya.


* * *


Meski tak ada tandanya tapi semua orang tahu ruangan itu tak boleh di masuki sembarangan, hanya dokter dan perawat yang boleh masuk sebab pasien harus benar-benar istirahat tanpa di ganggu.


Memang keadaan Joyi saat ini jauh lebih baik, ia sudah boleh di jenguk meski hanya sebentar dan itu pun untuk satu orang. Alisya dan Chad sudah bergiliran menjenguk, dalam waktu singkat yang bisa mereka lakukan di dalam hanya berdoa demi kesembuhan Joyi.


Namun yang tak mereka ketahui adalah adanya pengunjung lain, seseorang yang kehadirannya tidak terdeteksi bahkan oleh vampire sekalipun.


Ia masuk melewati celah seperti angin yang tak kasat mata, belaiannya yang dingin membangunkan Joyi dari tidur panjangnya. Dengan penglihatan yang tidak cukup baik Joyi menatap sosok itu yang menampakkan wajahnya, tengah tersenyum padanya hingga menampilkan deretan gigi putih bersih.


"Kau beruntung, aku tidak akan melukai mu lebih dari ini" bisiknya dengan suara yang mengalun bak seruling.


Uh....


Joyi mengerang, merasakan sakit di sekujur tubuhnya terlebih bagian perut yang masih di perban.


Cukup lama sosok itu berdiri di sana, memperhatikan bagaimana Joyi beraksi atas rasa sakit dan ketidakmampuannya dalam bergerak.


"Siapa.... kau... " tanya Joyi lemah.


"Aku... yang menusuk mu" jawabnya.


Joyi hendak bertanya lagi tapi kekuatannya sudah habis, terakhir yang dapat ia lihat hanya sosok itu bergerak mengitarinya sebelum hilang dalam kegelapan.


* * *


Udara di luar yang terlalu dingin siap membekukan tubuhnya menjadi patung es, tapi Jack tak mau beranjak pergi. Ia masih di sana dengan ketakutan yang menjadi mimpi buruk dalam lelapnya, insiden yang terjadi pada Joyi tak mengijinkannya untuk bernafas dengan tenang.


Satu hal yang tidak ia ceritakan kepada Agler adalah bahwa pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan Joyi lebih dari sekedar adu mulut, saat itu mereka sempat beradu kekuatan hingga Jack mendapatkan luka lecet di tangannya.


Kata demi kata yang di ucapkan Joyi terlalu menyukut emosinya hingga ketenangannya robek, ia menyerang secara membabi buta layaknya orang gila.


Meski hanya manusia biasa tapi Joyi memiliki kemampuan untuk melindungi diri dari serangan Jack, tapi bukan berarti dia selamat begitu saja.


Dalam satu serangan yang sudah di perhitungkan Jack mengulurkan tangan dimana belati itu ia genggam sekuat tenaga, tak mau kalah Joyi juga mengambil ancang-ancang bersiap menerima serangan.


Saling berhadapan, Jack berhasil mendekat hingga belati itu tepat mengarah ke perut Joyi. Dalam satu serangan ia menancapkan belati itu di perut Joyi, bersamaan dengan pukulan Joyi yang mengenai kepala Jack hingga menyebabkannya kehilangan kesadaran.


Saat ia terbangun darah sudah berserakan di atas dedaunan kering, mencoba mencari keberadaan Joyi yang ia temukan adalah pitnah untuk Jessa yang tidak tahu apa pun.


Kini ia menyesal, harusnya ia tak terbawa emosi hingga melukai Joyi karena pada akhirnya itu menyulut keretakan dalam keluarganya yang semakin parah.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumamanya bertanya pada angin malam.


Jika ia mengaku maka kesempatannya untuk membawa Chad ke rumah telah sirna, tapi ia juga tak bisa menumpuk tanggungjawab kepada Jessa.


"Ayah" panggil Shigima mengejutkannya.


"Oh nak, kau membuat ayah kaget" ujarnya sambil mengusap dada.


"Apa yang ayah lakukan tengah malam begini?"


"Tidak ada, ayah hanya tidak bisa tidur dan mencoba jalan-jalan sebentar"


"Pasti kecelakaan itu membuat ayah kepikiran, tolong jangan terlalu khawatir... itu tidak baik bagi kesehatan ayah" ujar Shigima yang selalu peka pada perasaan Jack.


Hanya sebuah senyuman kecil yang bisa Jack tampilkan, ia tak tahu harus berkata apa sebab saat ini ia memang sedang tidak baik-baik saja.


"Mari kita buat susu hangat, jika meminumnya pasti ayah akan segera mengantuk" ajaknya.

__ADS_1


"Baiklah.. " sahut Jack mengikuti langkah Shigima kembali masuk ke dalam rumah.


__ADS_2