Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 116 Perceraian


__ADS_3

Kabar kecelakaan Kyra sampai ke telinga Alisya, sebagai teman ia ingin ikut menjenguk namun Chad tak mengijinkan sehingga yang bisa ia lakukan hanya menunggu kabar dari Chad.


Namun sekembalinya Chad dan Joyi tak banyak informasi yang ia dapat selain keadaan Kyra yang koma, tentu cukup mengganggu hingga membuat rasa penasarannya semakin menjadi.


Tapi Alisya tak ingin ada masalah sehingga ia hanya bisa diam dan berdoa untuk kesembuhan Kyra, sebagai pengalih perhatian ian mencoba menyibukkan diri dengan melukis.


Merasa tak ada yang menarik di rumah itu ia memutuskan untuk pergi keluar, mulai dari menyusuri taman hingga menemukan sesuatu yang menarik.


Pandangannya tertuju pada seorang ayah yang sedang mengajak putri kecilnya bermain layangan, baginya itu pemandangan indah sehingga dia buatlah dalam bentuk sketsa.


Di hari yang cerah warna bumi begitu bervariasi, mulai dari hijau daun hingga biru langit yang terpantul di genangan air.


Begitu damai seakan tak ada topan masalah yang memporakporandakan hatinya, senyum manis itu pun menjadi simbol kebahagiaan tersendiri.


"Alisya... " panggil Agler.


Terkejut akan panggilan itu seketika Alisya menoleh, menatap bingung akan keberadaan Agler yang sudah berdiri di belakangnya.


"Ba-bagaimana kau tahu aku ada di sini?" tanyanya.


"Aku punya radar untuk melacak mu" sahut Agler tersenyum menggoda.


"Oh lukisan yang bagus" komentarnya sembari duduk tepat di samping Alisya.


"Mm, terimakasih" sahut Alisya masih merasa canggung.


Keheningan tiba-tiba menjadi pembatas diantara mereka, begitu kentara hingga membuat Agler bingung harus berkata apa atau bersikap bagaimana.


Sudah beberapa hari ia merasa Alisya menghindarinya dan itu membuatnya tersiksa sendiri.


"Hari ini cuacanya begitu cerah" ujarnya.


"Oh mm" sahut Alisya canggung.


"Ah, rasanya aku bisa tertidur" ucap Agler lagi sambil merebahkan tubuh diatas rumput yang lembut.


Alisya hanya memperhatikan bagaimana Agler menutup matanya, membiarkan cahaya matahari itu menyinarinya. Saat itulah sebuah tanda tanya menggantung di atas kepalanya, ia telah mengetahui identitas Agler namun hal itu membuatnya bingung mengapa tubuh Agler tidak terbakar sinar matahari.


Sejauh ini ia juga tak melihat Agler meminum darah, yah tentu saja hal itu dapat di sembunyikan dengan baik. Namun sikap Agler benar-benar seperti manusia biasa, bahkan rutinitas yang ia lakukan juga tak ada yang aneh sehingga Alisya tak menyadari kelainan itu.


Tanda tanya itu kini menjadi rasa penasaran, ia ingin bertanya tapi tak memiliki keberanian untuk melakukannya. Pada akhirnya ia memutuskan akan bertanya kepada Ima di lain hari.


"Agler... apa kau lapar?" tanyanya.


Seketika Agler membuka mata, menatap Alisya yang menunggu jawabannya.


"Kau ingin makan apa?" tanyanya langsung sambil bangun.


"Burger"


"Baiklah, ayo kita pergi" ajaknya dengan senyum senang sebab akhirnya Alisya mau bicara.


Mereka pun bangkit dan mulai berjalan bersama, mengitari taman meski tak ada obrolan untuk mengisi waktu kosong.


"Aawaass........... "


Syuuuuuuuuutt


Buk


Alisya tak melihat apa yang telah terjadi sebab semua berjalan dengan cepat, bahkan ia juga tak merasakan apa-apa tapi ia tahu dari posisi Agler yang berdiri membelakanginya.


"Maaf, maafkan kami. Anda tidak apa-apa?" ujar seorang remaja laki-laki yang berlari menghampiri mereka.


"Tidak apa-apa, maaf aku tidak menangkap bolanya" sahut Agler.


"Tidak masalah, itu kesalahan ku karena menendangnya dengan kencang tanpa perhitungan. Sekali lagi aku minta maaf" jawabnya.


Agler hanya tersenyum dan membiarkan remaja itu pergi untuk mengambil bolanya, sementara Alisya terpana akan isnting kuat Agler.


"Karena saat itu adalah tugas kami untuk melindungi mu" ucapan Ima di hari itu tiba-tiba terngiang di kepalanya.


"Benar" gumamnya menyadari satu hal.


Apa pun identitas Agler ia selalu ada untuknya, melindunginya dari apa pun yang dapat membahayakannya.


Agler, Ima dan Chad mungkin memang monster. Tapi mereka tak pernah menyakiti siapa pun, bahkan mereka selalu ada untuknya.


"Apa tangan mu baik-baik saja?" tanyanya.


"Oh, ya tangan ku tidak apa-apa" sahut Agler.


"Terimakasih, karena kau sudah melindungi ku" ujarnya yang membuat Agler sejenak terdiam tapi kemudian tersenyum dan menjawab.


"Sudah menjadi tugasku."


* * *


Perlahan kelopak matanya bergerak, terangkat untuk menampilkan birunya mata itu. Namun meski telah terbuka penglihatannya belum baik, semuanya nampak samar dengan warna putih yang mendominasi.


Ada nyeri di bagian pinggul hingga kaki, juga pening di kepalanya yang membuat kelopak mata itu kembali tertutup.

__ADS_1


Esok harinya barulah mata itu benar-benar terbuka dengan baik, penglihatannya juga sudah jelas sehingga ia bisa mengenali perawat yang memeriksanya.


Dokter datang tak lama kemudian, mengajaknya bicara dengan menanyakan beberapa hal sebelum akhirnya mengijinkan Violet masuk ke dalam untuk menejenguk.


"Oh sayang... bagaimana perasaanmu?" tanyanya.


"Aku... merasa sedikit pening, tapi aku baik-baik saja" jawabnya.


"Berbaringlah, kau perlu istirahat yang banyak" ujar Violet sambil membantunya kembali berbaring.


"Ibu... bagaimana dengan Hakan?" tanyanya.


Ia ingat semua yang telah terjadi meski peristiwa itu terjadi dengan cepat, tentu ia perlu mengetahui keadaan suaminya.


"Ah ya, dia baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya" jawab Violet mencoba terlihat biasa saja.


Tentu ia tak bisa mengatakan bahwa Hakan telah diijinkan pulang beberapa hari yang lalu, tanpa sedikit pun ada niatan untuk menjenguk Kyra justru melayangkan sebuah surat cerai.


Suatu hari Kyra pasti akan tahu tapi bukan hari ini, untuk saat ini ia harus konsentrasi pada kesembuhannya terlebih dokter telah menyatakan luka di kakinya akan menyebabkan cacat.


Setiap hari semenjak ia siuman keluarga Hermes silih berganti saling menjenguk, seiring dengan pengobatan yang ia jalani. Sampai akhirnya tubuhnya semakin membaik dan ada harapan untuk sembuh meski sekali lagi masalah utama Kyra ada pada kakinya.


Tentu ia cukup syok mengetahui kemungkinan seumur hidup ia akan menggusur satu kakinya saat berjalan, tapi kali ini dengan tagar ia menerima kenyataan itu sebagai penebus dari dosanya kepada Hakan.


"Ibu.. aku ingin bertemu Hakan, apa ibu bisa mengantar ku?" tanya Kyra yang belum di perbolehkan bergerak banyak.


"Sayang, kau ingat kata dokter kalau kau harus banyak beristirahat" sahut Violet bingung harus bicara apa.


"Hanya sebentar, aku ingin melihat keadaannya" bujuk Kyra sedang dalam hati ia ingin kembali meminta maaf.


"Bagaimana kalau besok? hari ini kau baru saja selesai pemeriksaan"


"Baiklah.. " sahut Kyra menyerah sebab ia pun merasa tubuhnya lemas.


Baru saja ia hendak memejamkan mata tiba-tiba sebuah kegaduhan terjadi di luar, Violet yang penasaran memerintahkannya untuk diam sementara ia akan memeriksa.


"Ada apa ini?" tanya Violet.


"Ah nyonya Hermes, saya perlu bertemu dengan nyonya Kyra perihal perceraian yang di ajukan tuan Hakan" ucap pengacara yang di utus Hakan.


"Apa kau gila? Kyra baru saja bangun dari koma dan sudah mau membuatnya mati karena syok!" omelnya.


"Saya sudah bicara dengan dokter dan keadaanya sudah stabil, itu artinya saya bisa bicara dengannya"


"Tidak! langkahi mayat ku jika kau ingin bertemu dengannya" ujar Violet pasang badan di depan pintu.


"Tolong jangan buat pekerjaan ku menjadi sulit" pinta pengacara itu.


"Kami mohon kepadamu berikan kami sedikit waktu lagi, saat ini putriku butuh istirahat total" ujar Ryu yang juga tak ingin sampai Kyra terguncang gara-gara kabar itu.


"Oh Tuhan, apa yang harus aku katakan pada Blue?" gumam Kyra yang lebih takut.


Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu, bahkan Jack sekalipun hanya mampu diam mengutuk dirinya yang merasa tak berguna.


* * *


Amarahnya telah sampai di puncak ubun-ubun, memang tidak ada yang lebih menyakitkan dari sebuah pengkhianatan. Terlebih setelah semua yang ia berikan, dalam diam ia bertanya-tanya apa yang salah dari dirinya sehingga harus terhina sedemikian rupa.


Memang tak ada jalan yang lebih baik selain perpisahan, semuanya sudah ia pikirkan dengan cukup baik.


Saat pengacara yang ia bayar untuk mengurus masalah itu datang tanpa hasil akhirnya ia memutuskan untuk menemui Kyra secara langsung, malam itu juga ia pergi ke rumah sakit meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih.


"Hakan... nak.. " panggil Jack kaget melihat keberadaannya di sana.


Semua mata tertuju padanya, tentu karena mereka mengetahui apa yang diinginkan Hakan dari Kyra.


"Aku ingin bicara empat mata dengan Kyra" ujarnya.


"Nak, saat ini Kyra sudah tidur. Sebaiknya kita bicarakan lagi besok" bujuk Violet yang tak mungkin membiarkan Hakan masuk begitu saja.


"Aku harus bicara dengannya, ijinkan aku.. " ulangnya dengan tatapan tajam.


Violet terdiam, tak mampu melawan tapi juga tak ingin membiarkan. Sampai Ryu menarik tangannya, memberi isyarat bahwa ada hak bagi Hakan sebagai suami.


Maka Hakan pun menarik pintu itu, membukanya dan melihat Kyra yang masih terbangun.


"Hakan.. " panggilnya sambil menegakkan tubuh.


Perlahan berjalan menghampiri Kyra yang duduk di atas ranjangnya, melihat tubuhnya ada sedikit rasa kasihan sebab luka yang di terima Kyra dari kecelakaan itu lebih parah darinya.


"Bagaimana keadaan mu? tadi aku berencana menjenguk mu tapi ibu tidak mengizinkannya" ujar Kyra.


"Seperti yang kau lihat, aku jauh lebih baik darimu" sahutnya dingin.


"Ah syukurlah, aku mencemaskan mu" balas Kyra sedikit canggung sebab ucapan Hakan begitu dingin kepadanya.


"Apa ini?" tanyanya kemudian saat Hakan memberinya sebuah berkas.


"Bacalah" jawabnya.


Penasaran sekaligus heran Kyra membuka lembar berkas itu, membacanya perlahan hingga sampai pada puncaknya.

__ADS_1


"I-ini... " ujarnya yang tak bisa berucap dengan benar.


"Hakan" panggilnya tak percaya.


"Kedatangan ku kemari hanya untuk memintamu menandatanganinya"


"Tapi kenapa?" tanya Kyra.


"Kenapa? haruskah ku ingatkan apa yang melukai hatiku?" balas Hakan bertanya.


Air mata tumpah tanpa peringatan, membasahi berkas yang ingin Kyra hancurkan. Tentu ia ingat bagaimana kekecewaan Hakan kepadanya setelah mengetahui ada bayi dari pria lain dalam perutnya, hal yang membuat mereka berseteru hingga mengalami kecelakaan.


"Hakan... aku minta maaf, aku bersumpah akan menuruti semua keinginan mu tapi tolong jangan lakukan ini" pintanya.


"Bagaimana kau bisa bersumpah sedang sumpah pernikahan kita pun kau permainkan di hadapan Tuhan? kau sudah menghinanya Kyra..."


"A-aku... tidak bermaksud, aku takut kau akan membenciku karena itu aku menyembunyikannya... hidupku sudah di penuhi kemalangan dan kau adalah satu-satunya kebahagiaan ku"


"Dan kau adalah cinta ku, tapi hubungan seperti apa yang kita jalin dalam sebuah dusta?" sergah Hakan tak bisa lagi menahan emisinya.


Tak sanggup lagi memandang Kyra kini Hakan membuang muka, mendengarkan isakan tangis yang memilukan.


"Ini adalah jalan terbaik yang kita punya" ujarnya pelan.


"Tidak! aku tidak akan pernah mau melakukannya" bantah Kyra bersikeras.


"Apa kau tahu ayah dari bayi itu?" tanya Hakan tiba-tiba.


Sejenak Kyra terdiam, tapi kemudian ia mengangguk.


"Apa dia tidak mau bertanggungjawab?"


"I-itu... aku... tidak memberitahunya" akuinya.


"Kenapa?"


"Karena kami tidak bisa bersama"


"Bagitu rupanya" sahut Hakan.


"Tapi itu bukan berarti kau membencinya kan?"


"Apa?" tanya Kyra seolah ia tak mengerti bahasa Hakan.


"Kalian melakukannya atas dasar cinta, hanya karena tak bisa bersama lantas kau pikir aku bisa menjadi ayah bagi anak itu. Kau melakukan kesalahan besar, bagaimana bisa aku mencintai anak yang bukan darah daging ku jika begini caranya?" tanya Hakan.


Tak bisa menjawab pertanyaan itu Kyra hanya terdiam, ia tak pernah berpikir panjang dalam hal apa pun.


"Aku bukan orang baik Kyra, aku tidak bisa memaafkan mu dengan mudah" ujarnya lagi.


Dalam beberap saat mereka mengisi waktu itu dengan kekosongan, diam tanpa kata sampai Kyra menyerahkan kembali berkas itu lengkap dengan tanda tangannya.


"Mungkin sejak awal kisah kita memang tidak pernah ada, sepertinya takdir kita hanya untuk bertemu dan berpisah tanpa ada cerita di dalamnya" ujar Kyra.


Hakan mengambil berkas itu dengan mata yang tertuju pada air mata di pipi Kyra, kemudian berganti pada bubuhan tanda tangan diatas kertas.


"Aku akan memberikan rumah kita kepadamu, anggaplah sebagai hadiah pernikahan dariku" jawabnya.


Kyra tak mengangguk tak juga menjawab, mulutnya telah terkunci untuk segala hal. Meski begitu untuk terakhir kalinya sebelum Hakan benar-benar pergi ia berkata.


"Terimakasih sudah menjadi harapan ku, meski itu hanya bertahan sebentar tapi setidaknya sebelum pergi aku masih sempat hidup dalam damai."


Hakan hanya mengangguk, kembali berjalan meninggalkan tempat itu. Violet dan yang lain menatap kaget saat Hakan membuka pintu, tapi tak ada yang berani bertanya atau bicara apa pun padanya.


Setelah kepergian Hakan mereka segera memburu masuk untuk melihat keadaan Kyra, dari matanya yang merah dengan mudah mereka bisa menebak sejak tadi air mata itu telah tumpah.


"Sayang... " panggil Violet iba.


Menghapus air matanya Kyra mencoba tersenyum.


"Ibu aku ingin tidur, tolong tinggalkan aku sendiri" ujarnya.


Mereka saling bertatapan sejenak sebelum mengangguk dan membiarkan Kyra istirahat. Tapi setelah mereka pergi Kyra tidak benar-benar tidur, menjelang malam yang semakin larut susah payah ia mencoba duduk di atas kursi roda hingga berhasil.


Di putarnya roda itu hingga melaju, perlahan tanpa sepengetahuan siapa pun ia menyelinap keluar. Masuk ke dalam lift dan menuju atap gedung, saat ia tiba angin berhembus cukup kecang di atas sana.


Mudah baginya untuk menjalankan kursi roda hingga ke tepian, dari sana ia bisa melihat pemandangan kota di malam hari. Begitu indah dengan lampu-lampu dan bulan yang bersinar terang di langit gelap.


Ia hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk menangkap pemandangan indah itu, menyimpannya dalam memori benak sebelum mengangkat tubuhnya dan bersandar pada pembatas.


Mengambil satu kakinya yang di perban agar ia bisa menghadap pada pemandangan kota, kini ia siap untuk langkah selanjutnya.


Tangannya mulai gemetar saat meraba perutnya, begitu juga dengan bibirnya yang mencoba tersenyum.


Menghirup nafas panjang dalam posisi duduk di atas pembatas, tangannya terentang seakan sepasang sayap timbul di punggungnya.


Memejamkan mata untuk merasakan arah angin, dalam detik berikutnya pinggulnya bergeser sehingga tubuh itu melayang.


Whuuuuussss....


Gep

__ADS_1


Ah


Sebuah tangan yang kuat tiba-tiba menggenggam satu tangannya, membuat tubuhnya menggantung di atas ketinggian.


__ADS_2