
Ekspetasi terpatahkan dengan realita yang jauh lebih indah, kabar simpang siur itu ternyata memang bukan bualan semata. Gelar Sang Dewi rupanya bukan panggilan yang di sematkan begitu saja, bahkan wujudnya yang kentara membuatnya bingung apakah ambisinya dapat tercapai dengan mudah
Zhhaaaassss.....
Lamunannya hancur berkeping-keping saat sebuah tekanan yang kuat memaksanya untuk berlutut, susah payah ia melirik Elf dan melihat gerakan bibirnya yang menyuruh untuk memberi hormat.
"Yang Mulia...." anehnya ucapan itu keluar dengan mudah.
"Bangunlah..." jawab Sang Dewi dengan suaranya yang lembut.
Elf bangkit lebih dulu sementara Keenan masih ragu, tapi saat matanya mencoba melirik Elf kembali ia di beri intruksi untuk bangkit. Entah mengapa tekanan yang besar itu tiba-tiba hilang sehingga ia dapat bangkit dengan mudah, melihat Sang Dewi ia menerka itu adalah kekuatannya.
"Maaf atas kelancangan kami, hamba ini menghadap karena ada sesuatu yang perlu ia tunjukkan kepada anda" ujar Elf.
Keenan maju dua langkah lebih dekat, melihat dengan seksama bagaimana rupa Sang Dewi itu.
"Sungguh sebuah kehormatan bagiku bisa menemui Yang Mulia, bertahun-tahun yang lalu aku mendengar kehebatan anda di medan perang. Hal itulah yang membangun kekuatan dalam diri ini untuk mengikuti jejak anda, dengan penuh perjuangan kini aku telah berhasil menjadi Raja dari bangsa vampire dengan kekuatan yang dahsyat. Tapi sayangnya hal itu tidak membuat ku puas"
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Bertarunglah dengan ku, aku ingin menguji kekuatan ku dengan anda" ujar Keenan dengan sorot mata yang berbinar.
Jika bukan di hadapan Sang Dewi saat ini Elf pasti telah melancarkan serangan, tapi ia harus bisa menjaga sikapnya sehingga yang bisa ia lakukan hanya mengepalkan tangan kuat-kuat.
"Sungguh kau adalah makhluk yang pemberani, tapi perlu kau ketahui melawanku sama saja dengan memukul angin" jawab Sanh Dewi sambil tersenyum.
"Apa maksud anda?"
"Aku adalah sesuatu diantara nyata dan tidak, bisa di lihat dan di sentuh tapi tidak di genggam. Bagaimana caramu memukulku?"
"Kita tidak akan tahu jika belum mencobanya" ucap Keenan bersikukuh.
"Jika kemudian kau berhasil mengalahkan ku lalu apa yang akan kau lakukan? ketahuilah hasratmu tidak akan pernah habis sampai kau bisa mengendalikan diri, apa pun yang ada di dunia ini tak akan pernah mampu memuaskannya."
Jelas itu adalah penolakan dan Keenan tidak terima akan hal itu, dari balik pakaiannya di keluarkan sebuah kertas yang dia dapat dari Tianna untuk ia tunjukkan kepada Sang Dewi.
Srek
"Apa kau tahu ini?" tanyanya.
Elf melihat isi dari kertas itu yang merupakan lukisan sebuah wajah seorang pria, dengan heran kemudian di tatapnya mata Sang Dewi yang terpaku pada lukisan wajah itu.
Dari balik mata Sang Dewilah ia melihat segala kenangan yang terkunci dalam sebuah peti, segala perasaan manusia yang telah di ambil dari Sang Dewi pun ada di sana.
"Rocky" gumam Elf pelan.
Seorang pria istimewa yang namanya begitu dalam terpatri, wajahnya tergambar jelas dengan berbagai ekspresi hingga kematian tragis yang menyisakan duka. Dia adalah pria yang satu-satunya memiliki cinta Sang Dewi dan membawanya ke alam lain.
"Jika kau tidak mau melawanku maka akan ku hancurkan benda ini" ancam Keenan.
Whuuuussss...
Jleb
Beruntung Keenan memiliki reflek yang sangat baik, jika tidak anak panah itu akan menancap di kepalanya. Dengan ekspresi terkejut di tatapnya Elf yang masih dalam posisi siap menyerang, dari tatapan itu ia tahu Elf tidaklah main-main.
"Berani sekali kau berkata seperti itu, sebelum mengajak Sang Dewi kau harus mampu melewatiku dulu" ujar Elf dingin.
"Jangan sia-siakan kekuatanmu, itu tidak akan berhasil. Dengarlah Yang Mulia, jika anda tidak mau melawanku maka kehancuran umat manusia itu adalah salahmu" ucap Keenan.
* * *
Rasanya mustahil ada seorang pria yang tak terpana akan kecantikannya, tapi nyatanya pria itu benar-benar ada. Parahnya ia berani mempermainkan perasaan seolah semua berada dalam genggaman tangannya, untuk pertama kalinya juga ia merasa tersaingi dan ingin berkompetisi.
Cermin di kamarnya itu memantulkan sosok gadis sempurna yang akan naik ke fase dewasa, saat ia telah duduk di bangku perkuliahan maka lamaran akan datang dari segala arah yang menandakan bahwa ia bisa mengikat Chad dengan sesuatu yang lebih resmi.
Namun untuk mencapai tujuan itu yang perlu ia lakukan adalah mengenal baik sosok Chad seperti mengetahui hal-hal yang dia sukai dan benci, satu-satunya orang yang bisa menjadi ladang informasi hanyalah satu pria.
"Kau mau kemana Blue?" tanya Violet.
"Aku ada urusan sebentar" jawabnya tanpa berhenti.
Tentu Violet penasaran akan kepergian Kyra yang terlihat seperti sedang buru-buru, dengan cepat ia pun mengikuti kemana putrinya pergi. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Kyra menemui Manager San di sebuah kafe, rasanya ia ingin sekali menarik Kyra untuk kembali pulang tapi kemudian mengingat tindakan nekat Kyra yang berbahaya maka di urungkanlah niatnya itu.
Sebagai gantinya ia akan terus memantau mereka, rupanya Manager San pun cukup di buat terkejut juga saat menerima pesan dari Kyra yang mengajaknya bertemu.
__ADS_1
Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya bahkan ia sempat berfikir Kyra mencoba membangun hubungan mereka lagi, tapi rupanya ia salah besar.
"Sejak kapan kau bekerja dengan Chad?" tanya Kyra.
"Ah itu lumayan, awalnya aku hanya magang untuk menambah biaya kuliahku. Tapi nyonya merasa puas dengan hasil kinerja ku sampai akhirnya aku di berikan pekerjaan tetap"
"Begitu rupanya, sekian lama bekerja untuk Chad kau pasti sangat dekat dengannya. Jika aku boleh tahu wanita seperti apa yang di sukai Chad?" tanya Kyra tanpa membuang waktu.
Obrolan yang terfokus pada Chad membuat Manager San cukup kaget mengetahui Kyra dengan cepat dapat menerima Chad, jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa tak rela namun tak bisa berbuat banyak juga.
"Itu...tuan muda tidak pernah membicarakan masalah pribadinya"
"Benarkah? tapi setidaknya kau pasti tahu seperti apa mantan pacar Chad"
"Setahuku tuan muda tidak pernah pacaran, dia memang di dekati banyak gadis cantik dan kadang menghabiskan waktu di bar tapi tidak ada yang benar-benar memiliki hubungan serius" jawabnya.
Itu cukup membuat Kyra jengkel, jelas saat itu Chad memperkenalkan seorang gadis yang ia sukai tapi Manager San tidak mau bilang. Memandangnya dengan muak Kyra merasa Manager San hanya tidak mau dia dekat dengan Chad.
"Bagaimana dengan makanan favoritnya? apa yang dia sukai?" tanya Kyra merubah topik.
"Tidak ada yang spesifik, tuan muda bisa makanan jenis apa pun"
Ck
Decakan itu membuat Manager San sadar bahwa Kyra mulai kesal, meski ada rasa kecewa tapi mengingat dirinya yang pengecut ia telah memutuskan akan sedikit membantu meski itu mungkin tidak akan berhasil.
"Tuan Chad lebih tertutup dan pendiam, dia suka membaca buku dan sering menghabiskan waktu untuk hal itu semalaman. Saat membaca biasanya ia minum kopi hitam kadang malah segelas anggur, sejauh ini wanita yang paling berharga bagi tuan adalah nona Alisya. Dia adalah satu-satunya keluarga tuan muda yang ada" ujar Manager San.
Mendapat secercah cahaya membuat Kyra kembali bersemangat, kini ia putuskan untuk mendekati Alisya dan perlahan masuk ke dalam keluarga itu agar mendapat hati Chad kembali.
Dengan suka rela Manager San memberikan informasi tentang Alisya, maka mulailah strategi Kyra.
Kampus tempat Alisya kuliah termasuk pada golongan populer, banyak pelajar yang mendambakan menyelesaikan studinya di sana. Bagi Kyra sendiri mudah pastinya untuk masuk ke sana, ia sengaja datang tentu dengan maksud tertentu.
Mudah baginya menemukan Alisya, seperti penggambaran Manager San ia memang wanita yang cantik. Di bangku taman itu ia duduk sendiri dan tengah sibuk dengan bukunya, Kyra berjalan menghampiri hingga dapat melihat rupanya Alisya sedang membuat sketsa.
"Hai..." sapanya yang cukup membuat Alisya kaget.
"Oh ha-hai" jawab Alisya.
"Tentu saja" jawab Alisya segera bergeser.
"Seperti yang di katakan orang-orang, ini memang kampus yang bagus. Tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang kurang" ujarnya.
Alisya hanya melirik dan menyunggingkan senyum sedikit sebelum kembali ke dunianya lagi, ternyata Alisya tidak terlalu mudah di dekati.
"Aku Kyra!" ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Alisya" jawabnya pelan membalas uluran itu.
"Sketsa yang bagus, kau mengambil jurusan Art?"
"Ah tidak, ini...ini hanya hobi saja"
"Benarkah? aku rasa jika kau menekuninya kau pasti akan menjadi pelukis yang terkenal, tidak mudah tentunya tapi setiap orang punya peluang"
"Yeah, aku belum yakin tentang itu"
"Boleh aku melihatnya?" tanya Kyra.
Alisya sedikit ragu tapi kemudian ia memberikannya, satu persatu sketsa itu ia lihat dan perhatikan dengan seksama.
"Aku tidak begitu mengerti soal seni tapi jujur aku mudah terpukau pada sesuatu yang unik, um....apa kau sedang tidak nyaman?"
"Ke-kenapa? aku baik-baik saja"
"Kau membuat lukisan hujan beberapa kali, kalau tidak salah itu mengartikan kesedihan yang kentara" jawabnya.
Alisya termenung sejenak sebelum ia tersadar bahwa Kyra cukup perhatian, umpan telah di makan dengan baik. Alisya mulai bicara dan mereka pun banyak mengobrol hingga membuat rencana untuk pertemuan selanjutnya di luar kampus.
* * *
Kebetulan adalah sebuah takdir yang mengerikan, berbagai persepsi bisa muncul dan memakan logika. Mempermainkan prasangka hingga timbul curiga, perasaan tak nyaman menimbulkan tindakan yang berlebihan.
Dengan langkah yang terburu-buru seolah takut ia akan melarikan diri, sepatunya terus menekan lantai menimbulkan irama yang teratur.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kyra dengan nada tegas.
Tentu pertanyaan yang di ajukan begitu saja membuat Ima kaget, ia tak menyangka akan bertemu Kyra di sana.
"A-aku sedang belanja" jawabnya.
"Benarkah? bersama Chad?"
"Tentu saja tidak, di jam segini dia sedang sibuk bekerja" sahutnya.
Kyra menatap Ima dengan begitu teliti, melihatnya dari ujung kepala hingga ujung seolah menilai penampilannya.
"Cih, aku tidak menyangka Chad tergoda oleh gadis kampung sepertimu" gumamnya.
"Kau bilang apa?" tanya Ima merasa tersinggung.
"Dengar, sebaiknya kau jangan besar kepala hanya karena Chad mengatakan kalau dia menyukaimu. Hubungan ku dengan Chad sudah serius bahkan kami siap untuk menikah, kami hanya sedang tegang karena segala persiapan itu" ujarnya.
"Aku mengerti" jawab Ima santai yang membuat Kyra bingung.
"Ba-bagus kalau kau mengerti, jadi sebaiknya mulai sekarang kau jauhi Chad"
"Aahh....kalau itu aku tidak bisa, aku adalah pelayan pribadinya jadi tidak mungkin aku menjauhinya. Bagaimana caraku menyiapkan segala kebutuhannya jika kami berjauhan?" ujar Ima polos.
Kyra semakin geram di buatnya, hampir ia melampiaskan amarahnya jika tidak ada sebuah suara yang memanggil namanya.
Dari jauh ia melihat Alisya berlari menghampiri mereka, saat Ima berbalik ia di kejutkan lagi akan kebetulan itu.
"Kau...." ujar Alisya yang kini berjalan pelan saat melihat Ima.
"Kak Alisya! apa kabar? sudah lama kita tidak bertemu" tanya Ima riang seperti biasa.
"Ah iya, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan mu?"
"Ini sungguh luar biasa! baru saja aku berdoa agar bisa bertemu dengan mu dan di sinilah kita sekarang"
"Kenapa kau ingin bertemu dengan ku?" tanya Alisya penasaran.
Dari dalam tas yang ia bawa di keluarkannya sebuah kotak kado kecil, Alisya lebih heran lagi saat Ima menyodorkan benda itu kepadanya.
"Di keluarga ku ada sebuah adat dimana saat natal kami akan bertukar kado, ini memang sudah sangat terlambat tapi aku harap kau mau menerimanya" ujarnya.
"Untuk ku?" tanya Alisya kaget.
"Mm, kau boleh membukanya sekarang" jawab Ima sambil menganggukkan kepala.
Perlahan Alisya pun membuka kotak itu, sementara Ima menunggu ekspresi bahagia Alisya di sisi lain Kyra hanya termenung memikirkan bagaimana kedua orang itu terlihat akrab.
"Wah...ini...cat air" ujar Alisya.
"Ku dengar kau suka melukis karena itu aku pikir ini hadiah yang cocok"
"Terimakasih tapi....aku tidak punya apa-apa sebagai balasannya" ucap Alisya pelan.
"Sebagai gantinya jika boleh aku ingin minta sesuatu"
"Apa itu?" tanya Alisya penasaran tapi Kyra jauh lebih penasaran lagi.
"Datanglah ke rumah untuk makan malam bersama kami" ujar Ima yang membuat mereka berdua kaget.
"Ta-tapi..." gumam Alisya yang tak tahu harus menjawab apa, tentu karena dia sedang dalam masa moveon dari Agler tapi ia juga tak bisa menolak permintaan itu terlebih Ima telah baik kepadanya.
"Jika kau sibuk tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa. Tapi aku tetap akan menunggu kedatanganmu, baiklah kalau begitu sampai ketemu nanti" ujar Ima segera melambaikan tangan dan berlalu.
Sementara Alisya bingung harus bertindak bagaimana Kyra sibuk dengan benaknya yang semakin menumpuk benci kepada Ima, ia tak pernah mengira ternyata Ima sudah satu langkah jauh di depannya.
Jika sudah begini maka ia harus memutar otak, mencari cara lain yang lebih efektif sekaligus cepat agar Chad tak lebih menjauh darinya.
"Kau mengenalnya?" tanya Kyra mencoba mengorek informasi.
"Ah itu...ya, kami saling mengenal" jawab Alisya yang tak mendengarkan dengan baik.
"Di mana kau mengenalnya?"
"Um...kakaknya adalah teman kampusku" jawab Alisya mencoba terlihat biasa saja.
__ADS_1