Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 150 Sisa Perang


__ADS_3

Dimensi itu memang berbeda, satu detiknya terasa begitu lama jika nyawamu berada di ujung kematian tapi akan terasa lambat jika hatimu di penuhi bunga musim semi.


Setelah perang usai dengan penuh pertimbangan akhirnya para tetua sepakat untuk menyebar debu Ballard di sekitar hutan, membiarkannya mengisi tempat itu untuk selamanya.


Sedangkan Reinner setelah berhasil mencapai tujuannya, memerintahkan untuk menyalakan lilin-lilin dan tak boleh padam selama sepuluh hari. Hal itu ia lakukan sebagai bentuk perkabungan dari para prajurit yang telah gugur juga para ksatria yang mau membantu menyukseskan misinya.


Tak ada musik, tak ada anggur, tak ada tarian. Istana itu begitu sunyi lebih dari makam leluhur, sebab sang Raja sedang berduka.


Duka yang sama sebagaimana anggota Hermes lainnya, seperti yang selalu terjadi di setiap generasinya.


Semua orang menggunakan pakaian serba hitam, begitu juga dengan Violet dan Ryu yang baru datang di kastil.


Tak ada air mata yang mengalir di pipi mereka seperti Jack, tapi juga tak ada senyum yang mengembang di wajah itu. Langkah mereka pelan memasuki altar, tempat dimana peti berada.


Amelia yang baru saja menghapus air matanya berjalan mendekati mereka hanya untuk berkata.


"Selamat datang kembali."


Tentu itu bukan kata sambutan yang baik di saat seorang nyonya akan melepas tugasnya, tapi Violet tak mau berkomentar apa pun.


Tiga hari lamanya kediaman itu di penuhi orang-orang yang datang dan pergi hanya untuk mengucapkan bela sungkawa mereka, lalu hari dimana langit menujukan sisi gelapnya peti itu pun di bawa pergi dari altar.


Semua orang sudah bersiap untuk pergi termasuk Jack, tapi langkahnya sempat terhenti saat Joyi datang di dampingi Chad.


Dari wajahnya ia tahu saat ini Joyi masih sakit, tapi ada perasaan lega sebab keadaannya jauh lebih baik.


"Kau akan mengantarnya?" tanya Jack.


"Kami datang sebagai rekan bisnis" sahut Chad.


Jack tak keberatan akan hal itu, ia tersenyum kecil dan berjalan lebih dulu.


Proses pemakaman berlangsung dengan cepat, itu karena hujan mengguyur bumi tepat setelah peti di turunkan. Orang-orang telah pergi dengan cepat, meninggalkannya seperti biasa.


Bruk

__ADS_1


Ia sudah tak bisa menahannya lagi, takdirnya terlalu menyedihkan sehingga harus melewati dua kali pemakaman.


Lucunya langit bertindak seperti dahulu seolah ia pun masih ingat bagaimana dengan sengaja ia turunkan hujan untuk menyamarkan air matanya.


Itu membuat Joyi mengerti apa yang sedang terjadi, ia melepaskan rangkulan tangannya dari Chad dan perlahan mendekati Jack.


Tanpa memperdulikan pakaiannya yang basah kuyup ia duduk di samping Jack, menatap bagaimana kepedihan memenuhi mata tua itu.


"Hapus air matamu tuan ku, ada banyak hal yang harus kau pikirkan sekarang. Anda punya waktu satu minggu untuk berkabung, namun saat ini tegarkanlah hatimu demi masa depan Hermes" ujar Joyi dengan mata kosong seolah ia sendiri tak tahu apa yang sedang ia katakan.


Jack tersenyum, betapa meski duri telah banyak melukai kakinya dalam perjalanan hidup ini dan bagaimana setiap jarum selalu menusuk hatinya ribuan kali. Pelayannya selalu ada di sana, bahkan selalu menjadi sahabat yang setia.


"Ini untuk yang terakhir kalinya Joyi, aku akan berkabung dalam penyesalan ku kemudian kau akan melanjutkan tugasmu" ujarnya.


Butuh beberapa menit bagi Jack untuk tetap di sana, memberikan kesempatan pada hatinya agar mau ikhlas.


Saat kembali ke rumah ia mendapatkan semua yang ia harapkan, keluarganya berkumpul tanpa ada yang absen meskipun karena sebuah duka.


"Aku sudah minta pelayan untuk menyiapkan air hangat, pergilah mandi agar tubuhmu lebih santai" ujar Violet.


"Terimakasih nak, kau pun harus banyak istirahat demi cucuku" jawab Jack begitu bahagia akan perhatian Violet itu.


Chad dan Agler memutuskan untuk pulang setelah hari semakin larut, itu karena Joyi harus segera beristirahat.


Setelah mengantar Joyi ke kamarnya Chad menghabiskan sisa malamnya dengan Ima, menikmati pemandangan langit yang masih saja berkabung.


"Bagaimana keadaan nenek?" tanya Ima.


"Belum ada perubahan, paman Jhon, Shishio dan Alabama masih mencari obat menyembuhkannya"


"Sesulit itukah?"


"Sesuatu yang membuat nenek menjadi seperti ini adalah campuran sihir dan tanaman langka, bahkan mereka belum tahu bahan pelengkap apa yang di gunakan untuk membuatnya" sahut Chad.


Ima terdiam, cukup prihatin atas apa yang menimpa Joyi hingga membuat Chad menjadi lebih pendiam.

__ADS_1


Saat ini Chad hanya memikirkan Joyi sampai kebenciannya kepada Jack dapat ia kubur begitu saja, menjalani hari seolah tak pernah ada hal luar biasa yang terjadi.


"Apa kau akan datang pada acara itu?" tanya Chad tiba-tiba.


"Apa?" tanya Ima tidak mengerti sepenuhnya apa maksud Chad.


"Penobatan Tianna, setelah acara perkabungan ini selesai ia akan memenuhi janjinya kepada Tianna"


"Owh... jika kau pergi aku juga pergi" sahut Ima simpel.


Chad hanya merespon ucapan itu dengan sebuah senyuman, ia sendiri tak tahu apakah ia akan pergi atau tidak sebab kesembuhan Joyi saat ini adalah yang paling utama.


Satu hari mereka semua mengatakan sebuah kepahitan yang tak bisa ia terima, mereka menyatakan tak ada obat yang bisa menyembuhkan Joyi.


"Apa maksud mu? kau adalah ahli ramuan tidak mungkin kau menyerah pada hal ini!" ucap Chad mengungkapkan kekecewaannya.


"Setiap sebuah penyakit memang ada obatnya, tapi aku tahu batas kemampuan ku dan untuk itulah aku mengatakan pendapat ku" ujar Alabama santai.


Semua orang terdiam, tak tahu apa yang harus mereka katakan sebagai penghiburan.


"Pasti ada, pasti ada cara untuk menyembuhkannya" gumam Chad.


"Saat ini hanya keajaiban yang bisa mengubah penderitaan menjadi pengharapan besar, tundukkan kepala mu dan mintalah pertolongannya" ujar Alabama.


"Kau bercanda? pada siapa aku harus meminta?" olok Chad dengan sinis.


"Pemilik keajaiban, Sang Dewi" sahut Alabama yang membuat Chad perlahan menatapnya.


Seketika ia paham apa yang di maksud Alabama, tentu saja jika Sang Dewi memiliki kekuatan untuk menaklukkan Keenan tanpa menyentuhnya maka ia juga punya kekuatan untuk menyembuhkan Joyi.


"Dimana aku bisa menemukannya?" tanya Chad yakin.


"Hans, hanya dia satu-satunya orang yang tahu kemana kita harus mencarinya" ujar Shishio.


Chad termangu, harapan mulai tumbuh mencerahkan wajahnya. Mendapat saran itu tanpa menunggu lebih lama lagi ia segera pergi ke kediaman Hermes, tak peduli bagaimana pendapat orang atau harga diri yang seharusnya malu akan tindakan itu.

__ADS_1


Demi kesembuhan Joyi maka semuanya patut untuk di coba, sekalipun ia harus mengemis dan menjilat sepatu.


Chad datang dengan harapan besar, namun saat ia tiba sebuah duka lainnya menyambut di depan pintu.


__ADS_2