Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 22 Kepindahan Yang Mendadak


__ADS_3

Sepucuk surat datang membawa kebimbangan bagi Mina, entah pilihan mana yang akan ia tentukan. Sebelum itu ada banyak hal yang perlu ia pikirkan termasuk Nick yang sudah menjadi bagian dari keluarganya.


"Kau belum tidur?" tanya Colt mendapati istrinya masih duduk termenung di atas ranjang.


"Bagaimana bisa aku tidur, semua ini membuat ku gila"


"Oh sayang... kali ini apa yang membuatmu khawatir?" tanya Colt mendekap mesra.


"Kau sudah baca surat yang di tuliskan ibu?"


"Belum, kau langsung menyimpannya tanpa mengatakan apa pun"


"Argh benar" ujar Mina yang baru ingat.


Ia beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil secarik kertas yang ia simpan di dalam laci, surat itu segera ia berikan kepada Colt agar ia pun bisa membacanya. Hanya butuh beberapa menit saja dan Colt telah selesai membaca, awalnya ia tak bingung harus mengatakan apa tapi akhirnya ia berkata.


"Semua terserah padamu, dia adalah ibumu dan kau berhak atas segalanya"


"Aku akui aku terlalu pengecut Colt, aku siap menerjang maut jika itu untuk mu atau berjalan di atas duri bersama mu. Tapi ketakutan ku sebagai ibu membuatku hampir gila, aku ingin mengurung anak-anak kita di dalam rumah agar mereka tetap selamat tapi aku sadar itu justru akan membunuh mereka secara perlahan. Aku tidak tahu harus berbuat apa" ujar Mina cemas.


"Jangan terlalu di pikirkan, kau akan menyakiti dirimu sendiri karena hal ini" ucap Colt yang ikut cemas melihat kondisi Mina.


* * *


Berkat usaha yang di kerahkan Shigima akhirnya ia mendapatkan peluang untuk membangkitkan Hermes grup kembali, di balik musibah yang terjadi Shigima memanfaatkan tempat wisata yang kini sudah sepi menjadi tempat baru yang lebih menarik.


Ia membeli tempat wisata itu dengan harga yang cukup murah dan membuatnya benar-benar berbeda, dengan sengaja ia menyiarkan kabar seram tentang tempat itu dan menjadikannya tempat wisata angker.


Tak butuh waktu lama mulailah datang beberapa pengunjung muda mudi yang ingin memacu adrenalin mereka di sana, bahkan para mahasiswa sengaja datang hanya untuk mencoba memecahkan teka teki penyerangan brutal itu.


Dengan sedikit trik sihir yang ia gunakan tempat itu pun menjadi ramai oleh wisatawan asing, perlahan perekonomian perusahaan pun mulai bangkit sehingga mencapai tahap baik.


"Semenjak hari itu sudah tidak ada lagi kabar penyerangan, apakah menurut mu itu benar-benar perbuatan hewan buas atau makhluk lain?" tanya Jack.


"Entahlah, hal itu masih menjadi misteri tapi kita tidak perlu risaukan hal itu lagi. Untuk saat ini kita hanya perlu fokus pada perusahaan, selain itu aku juga terus berjaga malam untuk memastikan hal itu tidak terjadi lagi" jawab Shigima.


"Kau benar, lalu bagaimana dengan Hans? apa ada kabar darinya?"


"Keadaannya lebih baik, dia banyak di andalkan dan mampu menjadi ksatria yang hebat. Aku pikir.... mungkin bakat Hans memang di dunia seperti itu"


"Sejak dulu keturunan Hermes selalu menjadi penyihir yang hebat, tapi kau tahu itu saja tidak cukup kan? dia pun harus bisa hidup di dunia manusia ini" ujar Jack yang tahu betul isi pikiran Shigima.


"Ah ini sudah cukup larut, aku harus pergi berkeliling" ucap Shigima menatap jam di dinding.


"Berhati-hatilah Shigima, meski terlihat damai kita tidak tahu apa yang akan terjadi"


"Aku mengerti" jawabnya.


Dengan mengenakan perlengkapan khusus ia pun pergi keluar, di tengah malam buta langkahnya yang tanpa suara terus berjalan menyusuri tempat-tempat yang berkemungkinan terjadinya insiden.


Meski sudah larut malam tapi beberapa wisatawan kadang masih berkeliaran hanya untuk mencari bir atau sejenisnya, itulah mengapa kebanyakan korban merupakan orang asing.


"Ah... itu.... " gumamnya saat melihat sebuah bayangan hitam melintas di depannya.


Merasakan firasat buruk dengan segera Shigima berlari mengejar bayangan itu, mengandalkan pengetahuannya sebagai penyihir meski jarang di pakai untuk berhadapan dengan makhluk malam tapi ia harus bisa menemukannya dengan cepat.


"Sial! kemana perginya makhluk itu?" gumamnya kehilangan jejak.


Kyaaaaaaaaa........


Tiba-tiba jeritan itu membuatnya panik seketika, dengan cepat ia berlari menuju sumber suara dan menemukan tubuh seorang wanita tergeletak begitu saja di atas tanah dengan seorang gadis berdiri tepat di hadapannya.


"Berhenti!" teriaknya merasakan aura dingin terpancar dari gadis itu.


Meski gadis itu terlihat masih muda tapi ia tetap harus waspada sebab vampire muda saja bisa berusia ratusan tahun dengan pengalaman yang banyak, dengan memasang kuda-kuda ia menarik pedangnya yang sekian lama tersimpan di sarungnya.


"Apa yang kau lakukan? ini adalah wilayahku!" teriak Ima mengingatkan.


'Siapa dia? auranya berbeda, tapi jelas dari baunya dia adalah manusia' batinnya menatap lekat-lekat.


"Jangan bercanda! ini bukan wilayah mu" balas Shigima.


Ia tak boleh membuang waktu untuk hal apa pun, vampire selalu suka bersenang-senang dengan calon mangsanya dan semakin lama ia membuang waktu maka hal itu sama saja dengan memberikan peluang menang untuk sang makhluk malam, oleh karena itu Shigima melancarkan serangan pertamanya.


Trang Trang


Set


Buk

__ADS_1


Ima cukup lincah sehingga mudah mengelak, ia juga bisa melancarkan beberapa pukulan meski tak sekeras yang di pikirkan Shigima. Hal itu cukup mengagetkan bagi Shigima karena ia pikir Ima adalah vampire yang kuat, rupanya Ima bukan tipe vampire petarung seperti yang ia bayangkan.


Hal itu membuat satu keuntungan bagi Shigima, sebab ia juga bukan tipe penyihir petarung. Dengan begitu ada jaminan ia bisa mengalahkan Ima dengan beberapa jurus yang ia kuasai.


"Perisai!"


Nguuuuung....


Ah...


'A-apa ini?' batin Ima yang terkurung dalam perisai yang Shigima buat.


'Sial! jadi dia penyihir yang guru Nick katakan, aku harus segera keluar dari kurungan ini dan kabur sebelum semuanya semakin memburuk.'


Trang Trang Trang


Ima terus melancarkan serangan pada perisai itu, mencoba memecahkannya dengan kekuatan yang masih lemah. Shigima beruntung perisainya bisa tahan pada kekuatan vampire, tapi kegigihan Ima dan staminanya yang lebih kuat membuat tekanan pada perisai Shigima. Jika begini terus maka pada akhirnya perisainya pasti akan hancur juga.


'Aku harus mengakhirinya' batin Shigima membuat keputusan.


Ia menghunuskan pedangnya tepat ke depan, berlari dengan kencang dalam perhitungan yang tepat ia menghilangkan perisai dan menyerang secara bersamaan.


Sret...


Ima mengelak dengan cepat tapi tangannya tetap kena pedang itu, membuat luka goresan yang cukup menyakitkan.


Trang


Dalam waktu sepersekian detik Shigima berbalik arah dan kembali menyerang tapi kini Ima sudah lebih siap sehingga pedangnya beradu dengan kuku.


Buk Buk


Ima membalas dengan beberapa pukulan yang kuat dan.


Bruk...


Ia berhasil membuat Shigima terlempar beberapa mil dan terjatuh dengan menabrak pohon, namun Shigima bangkit dengan cepat dan kembali melancarkan serangan. Ima ingin segera kabur tapi rupanya hal itu cukup sulit, Shigima tidak membiarkannya memiliki celah untuk berlari.


Meski usianya sudah tidak muda lagi, meski ia bukan penyihir tipe petarung tapi jika serius maka ia akan menjadi penyihir yang merepotkan.


Trang Trang


Pertarungan itu masih berlanjut dengan Shigima yang mendominasi, Ima cukup kerepotan hingga mendapat beberapa luka di tubuhnya.


Hhhhhhhh Hhhhhh Hhhhhhh


Baik Ima maupun Shigima mulai kelelahan, nafas mereka tak beraturan dengan darah menetes di setiap luka yang mereka terima.


'Tidak ada cara lain, ini memang sangat memalukan tapi lebih baik dari pada aku mati di sini' batin Ima menemukan sebuah ide.


Dengan cepat ia bergerak mendekati tubuh wanita yang tadinya merupakan mangsanya, di angkatnya tubuh wanita itu sampai terduduk.


"Jangan bergerak atau ku bunuh wanita ini!" teriaknya dengan menempelkan kukunya tepat di leher sang wanita.


'Sial! dia menggunakan sandera' batin Shigima tak bisa bergerak.


Untuk beberapa saat Ima diam mengawasi, ia pun tak ingin menggunakan cara ini tapi tak ada pilihan lain. Setelah memastikan Shigima tak berani mendekatinya dengan cepat ia menggores leher wanita itu, tidak dalam tapi cukup untuk mengeluarkan darah.


"Tidak!" teriak Shigima melihat Ima tetap melukainya sebelum akhirnya pergi melarikan diri.


Ingin sekali Shigima mengejar Ima tapi ia tidak boleh mengabaikan sandera, alhasil ia harus segera menutup luka goresan itu dan membawanya ke hotel untuk di beri penanganan yang tepat.


* * *


Srrreeet..... Srrrrrreeeett.....


Dengan susah payah Ima menggusur badannya yang sudah lemah, energinya sudah terkuras habis dengan luka yang di sekujur tubuhnya. Tangannya terangkat menatap pintu rumah yang tertutup, dengan suara parau ia berkata.


"To.... long..... "


Tapi tak ada yang mendengar, satu detik kemudian matanya terpejam begitu saja.


"Ima... Ima.... sayang... bangun... "


"Ima.... Ima.... "


'Itu... suara ibu' batinnya mencoba mengingat suara yang ia dengar.


Perlahan ia membuka mata, beberapa kali ia harus berkedip sampai akhirnya bisa melihat dengan jelas. Seketika Mina langsung memeluknya, air matanya tumpah tak kuasa menahan sedih dan senang yang bercampur aduk.

__ADS_1


"Aku... di rumah?" tanyanya menatap sekeliling yang terasa tak asing.


"Ya, kau di rumah. Nick menemukan mu tergeletak di halaman, sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanya Colt.


"Tolong Colt jangan sekarang, putri kita masih lemah" ujar Mina.


"Tidak apa-apa ibu, aku sudah baikan" jawab Ima sambil mencoba bangkit.


"Siapa yang menyerangmu?" tanya Nick jelas melihat luka bekas pertarungan di tubuh Ima.


"Aku tidak tahu, tapi jelas dari caranya bertarung ia seorang penyihir" jawab Ima mengingat.


Satu ruangan itu tiba-tiba terdiam, jelas karena sekian lama mereka hidup di sana ini adalah kali pertama seorang penyihir datang menyerang. Nick sendiri teringat pada Shishio, saat ini beberapa penyihir memang ada yang memburu vampire tapi setahunya adalah vampire ganas.


"Aku akan membereskan hal ini, kalian tidak perlu khawatir" ujar Nick hendak pergi.


"Tidak Nick!" ucap Mina menghentikan.


"Tetaplah tinggal di rumah, hari ini kalian semua tidak boleh keluar rumah selain dari ijinku" lanjutnya.


Nick tak berani membantah perintah tuannya, maka dari itu ia tetap diam sesuai instruksi.


"Istirahatlah nak, pulihkan dirimu" kata Mina sambil mengelus lembut.


Ima mengangguk dan membiarkan kedua orangtuanya serta gurunya pergi meninggalkan kamarnya. Setelah menutup pintu Mina mengajak Colt pergi ke kamarnya untuk membahas sesuatu yang penting.


"Besok aku akan membereskan semua pekerjaan ku, lalu kita berbenah dan kembali ke kota" ujar Mina tiba-tiba.


"Apa? pindah ke kota?' tanya Colt yang segera di jawab oleh Mina dengan anggukan.


"Kau... menerima tawaran ibu?" tanyanya lagi.


"Aku tidak ingin hal ini terulang lagi, tempat ini sudah tidak aman untuk putri kita Colt. Lagi pula kita bisa tinggal bersama lagi dengan Agler seperti dulu, dengan begitu Ima akan ada yang mengawasi"


"Jangan ambil keputusan dengan cepat, kau harus memikirkannya terlebih dahulu"


"Kita hanya akan tinggal di kota bukan menerima tawaran ibu, kau bisa bekerja di kantor dan aku di rumah menjaga anak-anak kita"


"Baiklah, apa pun keinginan mu sayang" ujar Colt sambil memeluk istri kesayangannya.


Perasaan cemas yang melanda hati Mina tentu dapat Colt rasakan dengan jelas, dan untuk membuat hati Mina menjadi baik lagi maka ia akan menuruti apa pun keinginannya sebab semua ini adalah salahnya.


Andai dulu ia lebih pintar tidak mungkin ia terjerat perjanjian dengan Viktoria, meski kini Viktoria sudah mati tapi darah vampire yang mengalir dalam tubuhnya telah turun juga kepada anaknya.


Salahnya yang memperlihatkan monster dalam tubuhnya kepada Mina, salahnya yang menunjukkan perang besar kepada Mina. Akibat semua salahnya itu kini Mina menderita kekhawatiran yang berlebih, ia terlalu trauma pada semua hal yang berkaitan dengan pertempuran.


Rencana ini segera Mina kabarkan kepada Nick dan Ima di esok harinya, tentu Ima sangat senang karena ia bisa bertemu dengan Agler. Nick sendiri tidak masalah karena ia bisa menyesuaikan diri dimana pun ia berada.


Setelah semua pekerjaan Mina selesai ia segera membereskan semua barang-barangnya, begitu pun dengan Ima dan Colt. Tak lupa ia juga mengabari Agler dan memberikan alamat rumah mereka yang baru, itu merupakan rumah yang sengaja Mina beli setelah pernikahannya namun karena suatu alasan mereka tidak jadi menempatinya.


Bertahun-tahun di biarkan tentu rumah itu sangat kotor dan mengalami beberapa kerusakan, sebisa mungkin Agler memperbaikinya dan membersihkannya.


Hingga tiba waktu dimana kedua orangtuanya dan Ima sampai rumah itu sudah bersih meski belum sepenuhnya, dengan bahagia ia menyambut mereka di depan pintu rumah.


"Kakak..... aku sangat merindukanmu" ujar Ima tanpa melepaskan pelukannya.


"Aku juga merindukan mu, bagaimana kabar kalian berdua?" tanya Agler.


"Kami baik, bagaimana dengan mu? kau terlihat lebih kurus" jawab Mina menatap anak sulungnya.


"Aku baik ibu, rumahnya sudah aku bersihkan tapi belum sepenuhnya"


"Tidak masalah, nanti kita bersihkan sama-sama" jawabnya.


Mereka pun segera masuk ke dalam, Ima nampak senang karena rumah barunya cukup luas dan lebih bagus dari rumah mereka yang lalu. Pemandangannya pun cukup menarik hingga membuat Ima tak bisa diam, hari itu waktu mereka di habiskan dengan bersih-bersih agar bisa cepat di tinggali.


"Ibu... " panggil Agler yang masuk ke dalam kamar ibunya.


"Ya?" tanya Mina tanpa menghentikan aktifitas membersihkan kamarnya.


"Aku sudah mendengar alasan ibu pindah kemari dari ayah" ujarnya pelan.


"Ibu.... maaf, seandainya aku ada bersama Ima mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi" lanjutnya dengan penuh penyesalan.


Mina berbalik, menatap putranya dan tersenyum.


"Entah siapa yang harus ibu salahkan, tapi yang jelas itu bukan salah mu. Kita hidup dengan takdir yang mengerikan tapi bukan berarti kita salah memilih hidup, Ima memang mengalami luka-luka tapi kau lihat dia masih bisa loncat sana sini dengan riang" ujarnya.


Agler tersenyum, dengan penuh rasa kasih sayang ia memeluk ibu terbaik yang tak selalu kuat menghadapi berbagai cobaan yang datang.

__ADS_1


__ADS_2