Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 109 Saatnya Melindungi Alisya


__ADS_3

Alisya bukan hanya sekedar teman biasa, tapi dia adalah hati Agler yang penting. Selain dari itu Alisya yang sempat melihat jati diri Agler membuat Ima tak bisa melepaskan pandangannya begitu saja, ia bertekad untuk terus berada di sisi Alisya hingga keadaannya benar-benar normal.


Meskipun sebenarnya ada masalah lain yang sama pentingnya, itu menyangkut tentang Shigima. Jelas bahwa Shigima adalah penyihir yang menyerangnya waktu itu, menyadari hal itu membuatnya tak tenang sebab jika Chad dan Agler tahu maka masalahnya akan semakin runyam.


Begitu juga dengan Shigima, ia mulai takut masalah itu akan muncul ke permukaan sehingga perseteruan antara keluarga Hermes dengan saudara kembar itu akan semakin memamas.


"Ima.. " panggil Alisya untuk yang ke tiga kalinya.


"Ah... maaf, aku melamun"


"Tidak biasanya kau melamun, ada apa?" tanya Alisya heran.


Mereka telah duduk di kursi itu selama lebih dari satu jam, hingga teh di cangkir mereka menjadi dingin karena udara tak banyak yang mereka perbincangkan.


"Aku... hanya merasa sedih atas apa yang menimpamu, itu lebih menganggu dari apa pun" sahutnya mengatakan setengah kebenaran.


Alisya terdiam, kembali matanya menatap keluar jendela. Hatinya masih saja terkurung tanpa mampu meraih keberanian, setiap saat wujud asli Agler membuatnya takut dan bingung hingga diam adalah cara terbaik yang ia miliki.


"Apakah ada hal lain yang mengganggu mu?" tanya Ima.


"Tidak, tidak ada... " sahut Alisya pelan.


"Baiklah, sepertinya aku harus pulang sekarang"


"Oh, mmm" sahut Alisya tersenyum tipis.


Setelah berpamitan Ima pergi meninggalkan kediaman itu, langkahnya terasa mengambang di udara saat benaknya bergentayangan entah kemana. Tapi ruhnya seketika kembali pada raganya saat beberapa meter lagi sampai ia melihat Shigima tengah berjalan dari arah lain, mata mereka beradu pandang sejenak sebelum akhirnya saling menghampiri.


"Shigima Hermes, kita pernah bertemu sebelumnya" ujar Shigima.


"Aku ingat, namaku Ima" sahutnya.


"Aku ingin bicara empat mata dengan mu" ucapnya.


Ima mengangguk, ia pun menggiring Shigima masuk ke dalam hutan dimana mereka bisa bicara dengan bebas.


"Kau bisa bicara sekarang" ujar Ima setelah mereka cukup masuk ke dalam hutan.


"Baiklah, mungkin kau sudah bisa menebak apa yang akan aku katakan. Ini mengenai pertarungan yang pernah terjadi diantara kita, maksud kedatangan ku adalah untuk minta maaf padamu" ucap Shigima tanpa basa basi.


"Aku mengerti, ini karena ini aku adalah adik kak Agler dan kekasih Chad anak dari adikmu Reinner"


"Sudah cukup perseturuan antara kami, aku tidak ingin menambah masalah lagi yang bisa membuat kami benar-benar saling membunuh"


"Kau tenang saja, aku akan bungkam tentang masalah ini. Lagi pula aku tidak ingin terlibat dalam perseturuan keluarga ini, tapi bukan berarti aku akan diam jika kalian menyakiti kak Agler dan Chad" sahut Ima.


"Tidak mungkin, mereka adalah keponakan ku. Justru aku ingin menyelamatkan mereka dari Joyi, dia telah meracuni kedua keponakan ku dengan cerita bohong" sergah Shigima.


"Sudah ku katakan aku tidak akan ikut campur tentang perseturuan ini, aku tidak peduli siapa yang salah jadi kau tidak perlu mengingatkan ku tentang nenek Joyi" sahut Ima menekankan setiap katanya.


Shigima terdiam, ia beruntung Ima adalah gadis yang bisa di ajak berfikir jernih hingga masalah itu dapat terselesaikan dengan baik. Meski begitu ucapannya bukanlah bualan belaka, ia serius dalam keselamatan Chad dan Agler.


"Aku mengerti, terimakasih atas kerjasama mu" ujarnya.


Ima mengangguk pelan, karena tak ada yang perlu di bicarakan lagi maka ia pun berpamitan pulang. Sementara itu Ima juga mulai melangkah pergi keluar dari hutan setelah kepergian Shigima, tapi tanpa ia ketahui Mina berada di sana.


Mendengarkan semua percakapan mereka sebab saat mereka pergi masuk ke dalam hutan tanpa sengaja Mina melihatnya, karena penasaran ia pun mengikuti mereka hingga mendengarkan percakapan itu.


Kini ia masih terdiam di sana, mencoba mencerna setiap kata yang masuk ke dalam telinganya meski Ima telah pergi dari sana.


Kecemasan mulai merasuk sehingga sulit baginya untuk berfikir jernih, keselamatan Ima yang baginya adalah nomor satu tentu saja sulit menerima kenyataan itu.


Ia bahkan masih kaget mengetahui ternyata yang menyerang putrinya adalah Shigima, orang yang ia kenal sejak dulu.


Butuh beberapa menit yang lama sampai ia bisa bangkit dan memutuskan untuk diam sampai mungkin akan tiba waktunya dimana ia harus buka suara atas kenyataan ini.


* * *


Ucapan Ima ada benarnya, ia tak bisa terus hidup di bawah atap rumah yang aman. Ia tak boleh terus diam merenungkan masalahnya sendiri, hari itu ia memutuskan untuk pergi ke dermaga. Sekedar mencari udara baru dan menikmati pemandangan yang berbeda, namun ternyata layaknya jodoh Agler pun berada di sana untuk merenungkan kondisi Alisya yang masih belum baik.


Tentu senyumnya mengembang saat melihat Alisya berjalan ke arahnya, meski dalam hati Alisya merasa ragu pada tindakannya.


"Bagaimana kabar mu?" tanyanya.


"Sudah lebih baik" jawabnya pelan.


"Hampir setiap hari Ima datang ke rumah, dia pasti merepotkan mu terus ya"


"Tidak, aku senang dia selalu datang mengunjungi ku"


"Begitu ya" sahut Agler.


Ditatapnya wajah cantik Alisya, lewat matanya terpancar kasih sayang yang begitu tulus dan besar kepada gadis itu. Tangannya perlahan terangkat hendak menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi pandangannya, tapi tiba-tiba Alisya bergerak menghindar.


Membuat Agler cukup kaget pada respon itu, Alisya sendiri merasa bersalah setelah melihat raut wajah Agler segera meminta maaf.

__ADS_1


"A-aku.. mau pulang, aku butuh istirahat" ucapnya kaku.


"Aku akan mengantar mu"


"Tidak!" sergah Alisya yang lagi-lagi membuat Agler kaget.


"Maksudku tidak perlu, aku bisa pulang sendiri" lanjutnya yang kemudian pergi dengan langkah yang cepat.


Tapi langkah Alisya berbelok di tikungan, tak ada niatan di hatinya untuk pulang ke rumah. Setidaknya dia masih ingin menghirup udara bebas sendiri, mencari udara segar yang bisa menghempaskan kegundahan hatinya.


"Alisya!" panggil Ima yang tak sengaja melihatnya.


Ia menengok ke belakang, menatap Ima yang berlari menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alisya.


"Mengantar pesanan gaun, kau sendirian?" balas Ima bertanya balik.


Alisya mengangguk pelan, sejenak Ima memperhatikan kantung mata Alisya yang nampak jelas begitu hitam. Sungguh keadaan Alisya tidaklah baik, hal itu membuat Ima semakin gencar mengembalikan keceriaan gadis itu.


"Ayo ikut aku!" ajaknya sambil menarik tangan Alisya.


"Eh, kemana?" tanya Alisya kaget.


Tapi Ima tak menjawab, ia membawa Alisya menaiki taksi dan pergi ke pinggiran kota. Mereka berhenti tepat di jalan, lalu masuk ke dalam hutan.


"Sebenarnya kita mau pergi kemana?" tanya Alisya lagi.


"Kau akan tahu nanti" sahut Ima.


Hari semakin senja dan mereka masih berjalan menyusuri jalan diantara semak belukar, hingga Ima menghentikan langkahnya di dekat bebatuan.


"Kita sudah sampai" ujarnya sambil naik ke salah satu batu besar dan duduk diatasnya.


Alisya menatap sekeliling, hanya ada pepohonan dan batu-batu diantara semak-semak yang mulai di telan malam.


"Kenapa kau membawaku kemari?" tanya Alisya mencoba menaiki salah satu batu.


"Kau akan tahu nanti" jawab Ima sambil membantunya naik.


Mereka duduk diam di atas batu itu hingga malam benar-benar datang dengan kegelapan yang pekat, namun perlahan rembulan pun menunjukkan sinarnya yang kemilau.


Lalu perlahan bersamaan dengan bintang-bintang yang datang menghias langit malam, kunang-kunang mulai terbang menuju langit.


Ia tak terbang jauh, hanya berputar di sekeliling tempat itu untuk memberikan keindahan alam kepada mereka. Senyum takjub kini menghiasi wajah Alisya, cahaya yang di timbulkan kunang-kunang menghipnotis matanya sehingga tak ingin berkedip.


Alisya melirik Ima, tersenyum padanya sebelum kemudian kembali menatap kunang-kunang itu.


Entah berapa lama mereka terdiam menikmati keindahan semesta dengan penghuninya yang menakjubkan, tentunya cukup lama sampai Alisya merasakan dinginnya udara malam.


Ima segera mengajak pulang tentu karena jika mereka lebih lama lagi di sana dikhawatirkan Alisya bisa masuk angin, Alisya pun setuju untuk pulang karena ia juga mulai mengantuk.


Tapi baru saja mereka keluar dari hutan tiba-tiba Ima menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Alisya.


Sshhh


Mengambil konsentrasi penuh Ima menempelkan tangannya di mulut, memberi isyarat kepada Alisya untuk diam. Tentu itu membuat Alisya heran sekaligus takut, apalagi raut wajah Ima yang serius membuat sebuah bayangan negatif melintas dalam kepalanya.


"Lari!" teriak Ima tiba-tiba.


Tanpa sempat bertanya Ima sudah membawa Alisya berlari, sensitifitasnya telah menangkap sebuah bahaya yang menghampiri mereka. Itu adalah aura membunuh yang kuat, Ima menerka hal itu datang dari vampire sebab auranya begitu kuat di rasakan Ima.


"Ke sini!" ujar Ima berbelok untuk masuk lagi ke dalam hutan.


Srek Srek Srek


Gemerisik dedaunan dan ranting patah yang mereka injak membuat irama cepat yang membuat jantung Alisya semakin berdegup kencang.


"Kemari!" perintah Ima menemukan sebuah celah batu.


"Berlindunglah di sini, apa pun yang terjadi jangan pernah keluar sampai aku bilang aman" ujar Ima sambil menyuruh Alisya agar menunduk.


"Ta-tapi kau mau kemana?"


"Ikuti saja perintah ku" sahut Ima.


Alisya tak bisa berlari lebih cepat lagi sehingga kemana pun mereka pergi pada akhirnya bahaya itu tetap akan menemukan mereka, maka satu-satunya cara adalah bertarung.


Berdiri di depan bebatuan tempat dimana Alisya berlindung Ima meningkatkan kekuatannya, untuk mendeteksi seberapa dekat bahaya itu dari mereka.


Srek


Mata Ima cepat melirik ke arah kirinya dimana suara itu berasal, dugaannya benar. Seorang vampire yang terlihat kumuh berdiri di sana dengan mata merahnya yang menyala, cuping hidungnya berkedut mendekati Ima bersamaan dengan langkah kakinya.

__ADS_1


"Ini... aroma mu?" tanya vampire itu.


"Ya, aku tidak utuh seperti mu" jawab Ima.


Tapi vampire itu menajamkan indra penciumannya.


"Tidak, ada dua aroma" sahutnya.


Whuuuuusssss


Aaaaaaaa.....


Dengan satu gerakan cepat vampire itu telah berada di hadapan Alisya, menyeringai dengan memperlihatkan cakarnya yang tajam.


Trang.....


Ima datang tepat waktu saat kuku yang tajam itu hendak mencabik tubuh Alisya, terpaku pada kengerian yang ada Alisya hanya bisa menonton.


"Jika kau menyentuhnya aku akan membunuhmu tanpa ragu" ujar Ima.


"Dia milik mu?" tanyanya pelan.


Masih dengan cakarnya yang di tahan Ima ia menatap Alisya, rasa hausnya sudah tak tertahankan hingga kegilaan mulai merusak nalurinya.


"Kita bisa berbagi" ujarnya.


"Tidak!" bentak Ima mendorong mundur vampire itu dengan satu hentakan saja.


Hal itu tak berarti banyak, sang vampire justru membuat posisi siap untuk menyerang.


"Alisya, tetaplah di belakang ku" perintah Ima sebelum ia meluncur ke depan.


Whuuuuusssss...


Angin berhembus seketika saat Ima berlari ke depan, meski harus melawan vampire murni tapi kekuatan Ima patut di pertimbangkan. Ia sudah biasa pada pertempuran dan dapat mengimbangi kecepatan vampire itu, semua anggota tubuhnya bergerak lincah dan digunakan untuk senjata.


Trang


Buk Buk Buk


Kakinya menendang, tangannya memukul dan kukunya mencakar. Setiap gerakannya penuh perhitungan hingga berhasil membuat luka di beberapa bagian tubuh vampire itu.


Ima cukup pintar hingga menyadari vampire yang ia lawan sudah lama tak meminum darah manusia hingga tubuhnya melemah, kesempatan ini ia manfaatkan untuk mengakhiri pertarungan dengan cepat.


Sret


Ah....


"Ima!" jerit Alisya melihat lengannya yang kena cakaran.


"Cih! sialan!" gumam Ima yang tersungkur karena serangan itu.


Matanya tajam menatap musuh sambil mencari celah, saat itulah ia melihat batang kayu dengan ujung yang cukup tajam.


Menemukan cara mengakhiri pertarungan ia lekas bangkit meski luka di lengannya terasa sakit.


Whuuuuusssss...


Kakinya cepat berlari seakan siap menyerang, tapi begitu tubuhnya mendekati musuh ia melompat ke depan. Mengambil kayu itu dan sebelum sang vampire sempat membalikkan tubuh ia sudah siap dengan senjata di tangannya.


Jleb


Argh...


Ujung kayu itu menembus jantungnya, menghentikan detakan jantung dalam beberapa detik kemudian.


Bruk


Ima melepaskan pegangan tangannya saat tubuh itu tak mampu lagi berdiri, kini di hadapannya hanya ada Alisya yang masih menatap ngeri.


Bruk


Ia ikut terjatuh, terlalu lelah karena pertempuran yang menguras tenaga. Saat dadanya naik turun karena nafas yang tak beraturan Alisya perlahan menghampirinya, menatap luka di lengannya yang mulai pulih dengan sendirinya.


"Ini pasti bukan kali pertama mu, kau pernah melihatnya bukan?" tanya Ima.


Alisya terdiam, tentu karena itu adalah sebuah kebenaran.


"Lain kali bawalah belati perak kemana pun kau pergi, salib tidaklah mempan bagi vampire kecuali ujungnya tajam dan terbuat dari perak" ujarnya lagi.


"Kenapa kau memberitahuku? bukankah itu artinya kau memberitahuku kelemahan mu juga?" tanya Alisya yang telah mengetahui bahwa Ima juga bagian dari makhluk malam itu.


"Aku, Chad dan kak Agler memiliki kelemahan yang sama. Kau bisa membunuh kami jika kau merasa terancam dengan benda apa pun yang terbuat dari perak, cukup tusuk jantung kami dengan benda itu tapi jangan lakukan saat ada vampire lain yang datang"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena saat itu adalah tugas kami untuk melindungi mu" jawab Ima dengan senyum ceria khas miliknya.


Alisya tersentak kaget, kalimat singkat yang telah menyadarkannya bahwa selama ini ia hidup diantara makhluk penghisap darah yang cintanya lebih besar dari manusia.


__ADS_2