
Seberat apa pun itu ia harus mengambil keputusan, sesulit apa pun harus bisa ia jalankan meskipun akibatnya telapak kaki itu akan di penuhi darah dari luka-luka yang terbuka.
Konsekuensi yang ia ambil kini membuatnya duduk di ruang makan hanya dengan di temani Alisya, saat pelayan menuangkan air ke dalam gelasnya dengan pelan ia bertanya.
"Kemana bibi Aeda?"
"Nyonya terus menolak untuk turun dari ranjangnya, karena itu ibu Aeda sejak tadi pagi di sana untuk mengurusnya" sahut pelayan itu.
Chad mengangguk dan tak berkata apa pun lagi, melihat wajah sedih membuat Alisnya menyuruh semua pelayan pergi untuk membiarkan mereka berdua.
"Pasti akan ada jalannya, aku yakin nenek akan kembali normal lagi" ujar Alisya mencoba menghibur.
"Selama dua puluh tahun lebih mata ini hanya melihat kebaikan dalam diri nenek, sama seperti yang kau miliki saat ini" ujar Chad sambil menatap Alisya.
"Tapi di mata keluarga Hermes ada beberapa kesalahan yang tak termaafkan, aku ikhlas atas hukuman itu dan semoga kau pun juga sama" lanjutnya.
Alisya tidak pernah tahu perselisihan apa yang terjadi diantara kedua kubu itu, hanya saja mendengar perkataan Chad membuatnya cukup sedih sebab ia telah di beri perintah untuk tidak mengharapkan kesembuhan Joyi.
Tanpa menghabiskan sarapannya Chad pergi ke kantor, mengambil kembali pekerjaannya yang sempat terbengkalai.
Menghirup udara baru dalam kehidupannya kini ia bersaing secara sehat dengan Hermes grup yang di pimpin Shigima, menghabiskan waktu dalam kedamaian dengan sedikit hukuman.
Waktu pun berlalu begitu saja tanpa ada kejutan lainnya, ini membuat Chad lebih fokus menemani Joyi selain dari pekerjaannya di kantor.
"Chad... kekasih mu datang" ujar Alisya sambil membuka pintu.
Segera Chad menutup bukunya dan pergi keluar, mendapati Ima datang bersama Agler tentu membuatnya heran sebab jarang saudara itu berkunjung bersama.
"Apa ada sesuatu?" tanyanya.
"Ya, Hans mengadakan pesta kecil untuk ulangtahunnya dan mengundang kita" jawab Agler.
Chad mengangguk sementara Ima mendekatinya sambil membawa surat undangan itu.
"Kita pergi bersama?" tanyanya lagi.
"Tentu saja, aku dan kakak akan menjemput kalian nanti" sahut Ima.
"Kalau begitu ayo kita cari kado yang bagus" ajak Alisya.
Sambil tersenyum mereka pun pergi bersama.
* * *
Pesta itu di adakan di kediaman Hermes, meski acaranya berlangsung nanti malam tapi para pelayan sudah menyiapkan segalanya sejak dini.
"Amelia, bisakah kau datang ke kamarku sebentar?" tanya Violet di tengah kesibukan Amelia menyiapkan pesta.
"Oh, ya" jawab Amelia sedikit heran.
Mengambil langkah untuk mengikuti Violet yang berjalan kembali ke kamarnya, Amelia cukup kaget melihat gaun-gaun yang berjajar di dalam kamar Violet.
"Wow... koleksi mu sangat luar biasa" ujarnya berdecak kagum.
"Semua ini belum pernah ku pakai, beberapa hadiah dari ayah dan ibu" ucapnya.
Meski sama-sama menantu keluarga Hermes tapi Amelia jarang di belikan pakaian oleh Jack maupun Jessa, itu karena Amelia tidak pernah meminta dan bukan tipe wanita yang suka keluar rumah untuk bersosialisasi dengan yang lain.
Ini membuatnya sedikit cemburu kepada Violet, tentu karena Violet selalu berhasil mendapatkan semua hal ini dengan mudah.
"Aku tidak berniat buruk, hanya saja perut ku semakin membesar dan tidak cocok dengan semua gaun ini. Jadi ku pikir karena malam ini adalah pesta putramu mungkin kau ingin menjadi ratunya, sebab jika itu aku sudah di pastikan akulah yang harus tampil paling cantik"
"Kau... memberikan gaun ini untuk ku?" tanya Amelia tak percaya.
"Jika kau tidak keberatan" sahut Violet sedikit khawatir Amelia akan tersinggung.
"Aku tidaklah bodoh Violet! tidak mungkin aku menolaknya" jawab Amelia yang membuat Violet tersenyum.
Merasa lega sebab niat baiknya di sambut baik Violet pun mengeluarkan sebuah perhiasan berupa anting-anting untuk di perlihatkan kepada Amelia.
"Apa pun gaun yang kau pilih anting-anting ini akan indah bila di pasang di telingamu, kau mau mencobanya sekarang?"
"Violet... ini terlalu berlebihan" ujar Amelia ragu.
"Kenapa? kau tidak menyukainya?"
"Aku suka, tapi gaun saja sudah cukup"
"Ayolah Amelia... kau akan menjadi ratunya, lagi pula kau adalah menantu Hermes karena itu ini adalah sebuah kepantasan untuk mu" bujuk Violet.
Apa pun yang di katakan Amelia untuk menolak itu tidaklah berhasil, Violet sangat bersikukuh hingga akhirnya ia menerima hadiah itu.
Dengan penuh gembira Amelia kembali meneliti gaun yang ia pilih dan anting-anting itu di dalam kamarnya, tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin.
"Gaun yang indah, kapan kau membelinya?" tanya Shigima.
__ADS_1
"Violet memberikannya, lihatlah anting-anting ini. Bukankah ini sangat indah?"
"Benarkah? wah... anting ini pasti mahal" komentar Shigima.
"Tentu saja, kau tahu seperti apa Violet... dia tidak akan memiliki barang murahan" ujarnya kembali menatap takjub pada anting-anting itu.
"Lihat? Violet tidaklah seburuk yang kau pikirkan, dia hanya lebih berambisi saja" ucap Shigima.
"Jangan mencoba membujuk ku, bagaimana pun aku lebih tahu baik buruknya seorang wanita terlebih posisi kami sebagai menantu sama" sahut Amelia sedikit merengut.
Tapi diam-diam dia setuju akan ucapan itu, memang aslinya Violet adalah orang yang baik. Mungkin karena latar belakang mereka sangatlah berbeda sehingga menjadikan sikap mereka begitu bertolak belakang, mungkin juga karena pengaruh janin dalam perut Violet yang menjadikannya lebih baik lagi.
Apa pun alasannya Amelia bersyukur bisa akur dengan Violet, dengan begitu ia bisa kembali menyiapkan pesta dengan penuh kebahagiaan.
Sementara sang pemilik pesta yaitu Hans justru sibuk sendiri di hotel, ia meminta sebuah kamar VIP untuk di hias sedemikian rupa.
Ia juga memesan sebuah kue dan anggur terbaik yang ada, semuanya harus sudah siap hanya dalam waktu beberapa jam saja.
"Tuan, semua yang anda minta telah selesai" ujar seorang pelayan.
"Terimakasih, kalian boleh pergi" ujarnya.
Pelayan itu pun memberi isyarat kepada bawahannya untuk meninggalkan tempat itu, setelah kamar itu sepi ia pun mengambil telpon untuk menghubungi seseorang.
"Halo... " ujar seseorang di dalam telpon.
"Reah.... apa kau sudah siap?" tanyanya.
"Aku sudah dalam perjalanan, lima menit lagi aku akan sampai"
"Baiklah kalau begitu aku akan menunggumu"
"Ya, sampai jumpa nanti."
Telpon pun mati, dengan tak sabar Hans segera pergi meninggalkan kamar itu untuk menunggu di loby.
Di hari yang masih terang, tanpa menunggu lama sebuah taxi berhenti tepat di depan pintu hotel. Reah keluar dengan pandangan yang langsung tertuju pada Hans, sambil tersenyum Hans masih berlari untuk menyambutnya.
"Akhirnya kau datang juga"
"Apakah penampilan ku berlebihan?" tanya Reah cemas.
Hans pun menatap dari kepala di mana rambut Reah yang biasanya di kuncir berantakan kini tertata rapih, lalu wajahnya yang biasanya berkeringat kini nampak segar dan cantik. Begitu juga dengan tubuhnya yang biasa di bungkus kaus dan zirah kini dengan gaun yang indah menampilkan lekuk tubuhnya yang sempurna.
"Kau terlihat sempurna" ujarnya.
Hahahahaha
"Kau terlihat cantik Reah, percaya dirilah.. " sahut Hans yang tak bisa menahan tawa melihat wajah cemas itu.
"Baiklah, ayo pergi" ajaknya.
Tanpa malu Hans meraih tangan Reah untuk menggandengnya, tentu saja itu membuat Reah kaget. Apalagi saat mereka berjalan memasuki hotel semua mata tertuju pada mereka yang membuat wajahnya memerah karena malu, namun ia juga tak bisa menutupi rasa senang sebab merasa Hans bertindak seperti pacarnya.
"Kita sampai" ujar Hans tepat di depan pintu sebuah kamar.
"Di sana? pesta ulang tahun mu di dalam?" tanya Reah sebab ia pikir pesta itu akan di adakan di atap.
Hans mengangguk, dengan sedikit ragu Reah pun memutar kenop dan masuk ke dalamnya. Matanya yang sejak tadi tak percaya diri segera di manjakan oleh pemandangan indah nan romantis, takjub akan hiasan dalam ruangan itu ia masuk secara perlahan.
"Bagaimana menurut mu?" tanya Hans.
"Luar biasa... ini sangatlah indah" jawabnya.
"Tapi Hans, dimana semua orang? jangan bilang pestanya sudah berakhir" tanya Reah saat sadar akan satu keanehan.
"Di rumah, mereka masih menyiapkan pestanya"
"Apa maksud mu?"
"Pesta ulang tahun ku akan di adakan nanti malam di rumah, karena itu semua orang masih bersiap"
"Apa? lalu... ini.... " tanya Reah semakin tak mengerti.
Mata Hans berubah serius, perlahan ia mendekati Reah untuk berdiri tepat di hadapannya dalam jarak yang dekat.
"Aku sedang menepati janji ku padamu, aku tidak bisa mencintai mu... setidaknya belum bisa... tapi hari ini.. di hari yang istimewa ini aku adalah milik mu seutuhnya. Cintai aku seperti duri yang selama ini menancap di hatimu, aku akan membalasnya sebagai penurut" ujar Hans.
Pikiran Reah telah terbuka, ia sudah ingat janji Hans yang akan memberikan pesta ulang tahun sungguhan untuk membayar bantuan yang ia berikan waktu itu.
Tanpa peringatan air mata itu menetes begitu saja, membahasi gaun indah yang telah lama ia siapkan dan menghapus make up yang mempercantik wajahnya.
"Padahal aku sudah lupa, kenapa kau menepati janjimu? tidakkah kau sadar semua ini hanya mengingatkan ku pada kekejaman mu?" tanya Reah merintih.
Hans terpaku, ia tak mengira respon Reah akan seperti itu.
__ADS_1
"Memang kenapa jika aku tersiksa akibat cintaku sendiri? walau pun aku tahu di matamu aku tidaklah bermakna, walau kau hanya datang saat dalam kesulitan tapi aku bersyukur. Biarkan aku dengan cintaku, dengan harapan ku yang mungkin tidak akan pernah terwujud, dengan Hans-ku.... yang hanya ada dalam khayalanku."
Reah mengambil satu langkah, mendekatkan dirinya pada Hans hingga mereka bisa merasakan nafas satu sama lain.
"Aku akan tetap berjuang dalam cerita cintaku, seperti aku berjuang dengan sihirku di perbatasan. Di lain hari, tidak perlu sebuah pesta yang indah. Cukup pegang tangan ku dengan tulus meskipun perasaan yang kau miliki hanya sekedar teman, itu lebih baik dari pada kau mematikan hatimu" ujarnya.
Reah menghapus air matanya, tanpa sebuah senyuman bahkan matanya sarat akan benci yang penuh ia meninggalkan ruangan itu.
Sementara Hans yang sejak tadi membeku mulai bergerak, tersenyum pahit untuk menertawakan kebodohannya.
Dengan lesu, tanpa bisa memperbaiki keadaan ia memilih untuk pulang. Mengurung diri dalam kamarnya hingga persiapan untuk pesta akhirnya telah selesai, meski tak bersemangat ia tetap keluar mengumbar senyum untuk semua orang.
Terlebih untuk Amelia yang sudah tampil cantik bak ratu, juga tamu spesial seperti Chad dan yang lainnya.
Pesta itu hanya dihadiri oleh keluarga dan orang terdekat saja, satu persatu Hans menatap mereka sementara hatinya mulai bersyukur.
Dalam puncak acara yaitu meniup lilin Hans melihat senyum di wajah mereka, setelah kepergian Jessa dan Jack ada kebahagiaan yang tak bisa ia jelaskan terpancar di masing-masing wajah itu.
Shigima, Amelia, Ryu, Violet, Reinner, Chad, Ima, Agler, Alisya, Manager San, Kyra, Tianna, Shishio, dan Nick. Menunggunya selesai mengucapkan harapan sebelum kemudian sedikit membungkuk untuk meniup lilin.
Fiuhhh......
Prok prok prok prok
"Selamat ulang tahun nak" ujar Shigima.
"Terimakasih ayah" sahutnya.
Satu persatu dari mereka pun memberikan ucapan selamat, Hans menyalami mereka sambil berterimakasih. Musik pun dinyalakan, tanda pesta yang sesungguhnya baru di mulai.
"Kau baik-baik saja?" tanya Amelia jelas melihat ada yang tidak beres dengan putranya.
"Tentu ibu, ini adalah hari terbaik untuk ku" sahutnya pelan.
"Reah..... " teriak Ima tiba-tiba yang membuat semua mata tertuju padanya, begitu juga dengan Hans.
Mendapati dirinya menjadi pusat perhatian membuat Reah gugup, ia hanya bisa tersenyum kaku sementara Ima menghampirinya.
"Kau juga datang?" tanya Ima riang seperti biasa.
"Ya, aku... harus memberikan kado kepada Hans" jawabnya pelan saat matanya beradu pandang dengan Hans.
Mengabaikan Amelia Hans berjalan menghampiri Reah, mengerti situasinya Ima segera pergi memberi privasi.
"Reah... " panggilnya.
"Aku lupa memberikan mu kado, maaf karena aku pergi begitu saja"
"Oh tidak apa-apa, itu salah ku" ujar Hans.
Huft.. hh...
"Kenapa?" tanya Hans bingung sebab Reah tertawa kecil seolah ada yang lucu.
"Kau memang sangat jujur, bahkan dari nada bicara mu saja aku sudah tahu isi hatimu" ujarnya.
"Maaf karena aku terbawa emosi, harusnya aku tidak bersikap demikian. Kau sudah berniat baik, bahkan ini hari ulang tahun mu juga" lanjutnya.
"Aku yang bodoh, aku tidak menyangka itu akan menyakiti mu" ucap Hans menyesal.
"Yeah, kau memang selalu bodoh" sahut Reah.
Hans menatap senyum cerah di wajah gadis itu, ia pun tersenyum hingga suasana hatinya membaik.
"Kenapa berdiri di sini? nikmatilah pestanya" ujar Amelia sambil mendekat.
"Eh... i-iya.. " jawab Reah gugup sebab ini adalah pertama kali mereka bertemu setelah hanya berpapasan saja.
"Um bu, ini Reah... dia teman ku di Akademi" ujar Hans memperkenalkan.
"Seorang ksatria, nama mu sudah pernah ku dengar sebelumnya. Sebuah kehormatan dapat bertemu dengan mu"
"Astaga anda terlalu berlebihan, saya bukanlah orang yang pantas menerima rasa hormat ini" ujar Reah cepat sebab merasa sungkan.
"Tidak ada yang berlebihan, seorang alpha seperti mu adalah bintang bagi keluarga Hermes. Walau pun kami tidak terjun langsung ke Akademi tapi kami tahu murid-murid hebat di sana juga sepak terjang para ksatria, memiliki mu sebagai teman Hans adalah sebuah keberuntungan bagi kami apalagi jika hubungan kalian lebih dari itu"
"Apa?" tanya Reah kaget.
"Ibu?" tanya pula Hans yang sama kagetnya.
"Apa? ibu hanya mengutarakan pikiran ibu saja" ujar Amelia yang membuat Reah menundukkan kepala karena malu.
"Ya sudah... silahkan nikmati pestanya" ucap Amelia sambil tersenyum sebab berhasil menggoda mereka.
Reah baru berani mengangkat kepalanya setelah Amelia meninggalkan mereka, masih menatap Amelia yang berjalan pergi ia berkata.
__ADS_1
"Oh Hans... sepertinya harapan ku untuk mendapatkan mu naik 50%"
Hans terdiam sejenak, tapi saat mereka saling bertatapan tawa kecil pun menghangatkan suasana yang sempat beku.