
Alisya tak bisa tidur begitu saja, ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Agler. Entah apa itu tapi ia cukup yakin, pertama adalah tanpa adanya masalah apa pun Agler memutuskannya dengan alasan yang tidak jelas.
Kedua, ada banyak hal aneh yang terjadi pada diri Agler. Ia cukup ingat bagaimana sebuah mobil hampir menabraknya namun Agler berhasil menarik tubuhnya tepat waktu padahal jarak dari toko ke dirinya cukup jauh, lalu saat mereka mencuci piring dengan jelas tangan Agler tertusuk serpihan gelas tapi begitu ia kembali dari mengambil obat luka itu sudah sembuh.
Tak mau hanya bingung sendiri Alisya memutuskan untuk mencaritahu di komputernya, awalnya ia mencari cara perpindahan tempat dengan cepat. Semua artikel ia baca dari berbagai sumber, ia juga membaca beberapa pendapat dari ahli hingga semua pencariannya merujuk pada satu kata yaitu 'Teleportasi'.
Tak puas hanya sampai di sana ia lalu mencari sesuatu yang bisa menjawab luka di tangan Agler yang dalam waktu singkat sembuh total tanpa meninggalkan bekas apa pun.
Berjam-jam ia duduk pada akhirnya semua tanda tanya itu mengarah pada makhluk mitologi yang membuatnya malah semakin bingung.
Lelah terus mencari Alisya memutuskan untuk mengambil segelas air dingin, ia keluar dari kamar dan berjalan ke arah dapur. Rupanya Chad pun ada di sana dan tengah menikmati segelas teh.
"Kau belum tidur?" tanya Alisya.
Chad hanya menggeleng seperti biasa, tanpa terlalu peduli ia mengambil air dan duduk di samping Chad. Diteguknya segelas air itu hingga habis, lalu diam sejenak hanya untuk kembali berfikir.
"Chad, apa kau percaya vampire itu ada?" tanyanya tiba-tiba.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Chad kaget.
"Apakah... manusia biasa bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat? apakah... manusia biasa bisa tidak mempan jika di lukai? yang seperti itu tentunya bukan manusia biasa, lalu apa sebutan yang pantas untuk orang yang seperti itu?"
"Siapa yang kau maksud?" tanya Chad curiga.
"Seseorang.....yang ku kenal"
"Semua hal bisa di jelaskan secara logis, bahkan sebuah sulap pun hanyalah tipuan belaka" ujarnya.
"Mungkin saja.. " ucap Alisya pelan.
Ia memutuskan untuk bertanya langsung pada Agler, esoknya di kampus ia mencari ke kelasnya tapi Agler tak ada di sana. Ia mencoba bertanya ke setiap orang yang kemungkinan berteman dengannya tapi tak ada yang tahu dimana Agler, ia pun memutuskan untuk pergi ke rumahnya.
Namun saat ia sampai di sana rumah itu nampak kosong, ia mencoba mengetuk pintu berkali-kali tapi tak ada jawaban.
"Kau cari siapa?" tanya seorang wanita yang tak sengaja melintas.
"Oh, maaf apa ibu tahu kemana perginya keluarga yang tinggal di sini?"
"Mereka sudah pindah"
"Pindah? kemana?" tanya Alisya kaget.
"Tidak ada yang tahu" jawabnya.
"Oh.. begitu ya, terimakasih" ujar Alisya pelan.
Berita itu tentu membuatnya syok, ia tak menyangka Agler akan menghilang begitu saja tanpa ada kabar sedikit pun.
"Ah... telpon!" ujarnya yang baru teringat.
Ia segera menekan tombol dan mencoba menghubungi Agler, tapi panggilannya di alihkan yang membuat Alisya semakin frustasi. Sekarang satu-satunya tempat yang bisa ia datangi hanya pasar tempat dimana Agler bekerja, dengan harapan akan mendapatkan informasi ia segera pergi.
"Agler mengatakan ayahnya mendapat tugas di luar kota, itulah alasan kepindahannya juga berhenti kerja sampingan di sini" ujar Giant.
"Apa paman tahu ke kota mana mereka pindah?"
"Sayangnya Agler tidak memberitahu, bahkan dia juga tidak memberikan nomor ponselnya yang baru. Hal ini membuat ku curiga mungkin saja keluarganya terlilit hutang yang besar"
"Apa? hutang?"
"Ya, dia pindah mendadak dan tidak mau memberitahu kemana pergi. Hanya orang yang berhutang besar yang akan melakukan itu" jelasnya.
Tapi Alisya tidak percaya pada alasan itu, ia kenal baik Agler dan di lihat dari keluarganya pun mereka tidak kekurangan apa pun. Tapi ia juga tidak menemukan alasan lain yang lebih masuk akal, dengan putus asa ia kembali ke rumah.
* * *
Hans terbangun dari tidur lelapnya dan mendapati ia hanya seorang diri di sana, di dekat tempatnya berbaring ada berbagai macam buah-buahan dan botol berisi air.
Di teguknya air itu dan segera pergi keluar untuk mencari keberadaan Elf, tapi saat ia keluar dari gua pemandangan di sana telah membuatnya takjub. Rupanya semalam ia melewati pepohonan rimbun dengan berbagai macam bunga yang sedang mekar dengan indah, ia mulai melangkah dan berjalan melewati pepohonan itu.
Terus masuk hingga ia akhirnya menemukan Elf yang sedang duduk di bawah pohon, di pagi itu ia nampak lebih cantik lagi dengan sinar matahari yang membuat rambut peraknya lebih berkilau.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Hans melihat tangannya yang sedang mengusap sayap sesko burung.
__ADS_1
"Dia terjatuh dan sayapnya patah, aku sedang mencoba menyembuhkannya agar ia bisa terbang lagi" jawab Elf.
"Bagaimana caramu menyembuhkannya?"
"Dengan cinta" jawab Elf sambil tersenyum.
Hans kurang mengerti jadi ia hanya bisa memperhatikan apa yang Elf lakukan pada burung itu, semakin ia perhatian semakin ia bisa melihat cahaya putih di balik telapak tangan Elf yang mengelus sayap burung itu.
Setelah beberapa menit Elf pun berdiri dan mengangkat tangannya ke atas.
"Terbanglah... " ujarnya.
Perlahan burung itu mengepak-ngepakkan sayapnya, semakin lama semakin kencang hingga perlahan burung itu dapat mengangkat tubuhnya dan terbang ke atas langit.
"O-oh... dia terbang!" teriak Hans.
"Lihat?" tanya Elf.
"Kau pasti menggunakan sihir, aku melihat cahaya dari tangan mu tadi"
"Itu sihir cinta namanya, bagaimana dengan luka mu? sudah baikan?"
"Lumayan, tapi masih sedikit sakit jika di gerakkan" jawab Hans.
"Sebenarnya kuku Vampanences cukup beracun, jika kau manusia biasa sudah pasti semalam kau demam"
"Begitu rupanya."
Elf mengambil busur dan anak panahnya lalu berjalan lebih dulu, di ikuti oleh Hans yang tepat berada di belakangnya. Untuk beberapa waktu Hans hanya memperhatikan semua hal yang di kerjakan oleh Efl seperti menyembuhkan hewan-hewan yang terluka atau mengambil beberapa buah-buahan yang tersedia.
Perjalanan mereka berhenti di tepian sungai, Elf memberikan buah-buahan yang ia petik kepada Hans dan menikmatinya bersama.
"Apa kau sendirian tinggal di sini?" tanya Hans.
"Ya"
"Sudah berapa lama?"
"Entahlah, aku tidak pernah menghitungnya"
"Tentu saja tidak, ini adalah rumah ku jadi bagaimana bisa aku merasa kesepian di rumah sendiri" jawab Elf sambil menggelengkan kepala.
"Aku melihat sejak tadi kau menyembuhkan hewan-hewan yang terluka, kenapa kau melakukan itu?"
"Karena aku adalah penjaga hutan, tugasku adalah memastikan ekosistem berjalan dengan baik. Aku akan menyembuhkan yang perlu di sembuhkan tapi juga bisa membunuh yang perlu di bunuh, yang penting adalah semuanya tetap aman dan damai"
"Kau pernah membunuh juga?" tanya Hans tak percaya melihat sosok Elf yang lemah lembut bisa berbuat keji.
"Tentu saja, beberapa waktu ada harimau yang mengacaukan hutan. Dia sangat rakus hingga memangsa hampir semua binatang, akibatnya banyak hewan yang takut keluar dari sarang dan banyak juga tanaman herbal yang mati karena di rusaknya. Dengan terpaksa aku harus membunuhnya demi kebaikan yang lain" jelas Elf.
"Begitu rupanya."
Setelah istirahat beberapa menit mereka melanjutkan perjalanan, kini Hans ikut membantu sebagai sukarelawan. Awalnya ia cukup bingung sebab ia tak bisa telepati atau mengerti bahasa binatang seperti Elf, tapi perlahan ia bisa berguna juga.
Mereka kembali ke gua tepat setelah matahari terbenam, Elf membuatkannya sup jamur untuk makan malam yang saat di coba ternyata rasanya enak.
Esok harinya tiba-tiba Elf membangunkannya dengan keras, hal itu membuatnya kaget.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ayo ikut aku, ini sudah waktunya ada yang ingin aku tunjukkan kepada mu" jawabnya dengan penuh semangat.
Meski masih mengantuk Hans bangun juga dan mengikuti Elf berlari keluar gua, mereka melintasi pepohonan dimana hari itu bahkan matahari belum menampakkan sinarnya.
Langkah mereka berhenti di tepi sungai, Elf mengajaknya berjalan perlahan menyusuri sungai sambil membuka ilalang yang menghalangi.
"Ketemu!" teriak Elf.
Hans segera menghampiri untuk melihat apa yang ingin di tunjukkan Elf, rupanya itu merupakan sekumpulan anak bebek yang baru menetas dari telurnya.
"Lihatlah, bukankah mereka sangat lucu?" tanyanya.
"Ah... ku kira apa yang ingin kau tunjukkan"
__ADS_1
"Kenapa? apa kau sudah biasa melihat anak bebek?" tanya Elf sebab reaksi Hans sangat biasa.
"Tidak, sebenarnya ini kali pertama bagiku melihatnya. Tapi rasanya biasa saja"
"Ah... hidup mu sungguh tidak menarik, eh lihat!" ujar Elf tiba-tiba.
Ia menunjuk pada sebuah telur yang masih utuh, perlahan telur itu bergerak sedikit demi sedikit hingga tercipta sebuah retakan halus. Hans mulai tertarik untuk memperhatikannya saat retakan itu semakin besar dan keluarlah anak bebek dari dalamnya.
"Hore... kau berhasil sayang... selamat datang ke dunia.. " ujar Elf yang teramat senang.
Ciiiiiittt...ciiittt...
Anak bebek itu mengeluarkan suara kecil yang melengking tapi begitu imut di dengar, membuat Elf semakin gemas kepada mereka. Melihat betapa antusiasnya Elf ia sedikit heran kenapa Elf hanya diam menonton tanpa memberi bantuan kepada anak-anak bebek itu.
"Apa kau tahu jawaban dari pertanyaan sesuatu yang jika di hancurkan dari luar maka akan mati tapi jika dihancurkan dari dalam maka akan hidup?" tanya Elf.
"Entahlah, apa itu?"
"Aish..... jangan langsung menyerah, pikirlah dulu.. " erang Elf.
"Hmmm baiklah... " jawab Hans.
Ia terpaksa berfikir meski pun sebenarnya ingin langsung mendengar jawabannya, beberapa menit berlalu sampai ia menatap cangkang telur bebek yang sudah pecah.
"Ah... jangan-jangan jawabannya.. " seru Hans.
"Ya, telur! entah itu telur bebek, ayam, angsa atau binatang apa pun" ujar Elf.
"Jika aku membantu mereka keluar dari cangkang telur maka yang ada aku malah membunuh mereka, untuk dapat hidup mereka harus berjuang sendiri dengan kekuatan sendiri agar bisa memecahkan cangkang itu. Yah... sebenarnya aku bisa membantu mereka sebab anak-anak bebek itu sudah siap keluar, tapi tetap saja itu buruk bagi perkembangan mereka" jelas Elf.
Hans menjadi sadar dan teringat pada nasibnya, ia merasa seperti anak bebek yang di bantu keluar dari cangkang oleh ayah dan kakeknya. Hal itu berguna tapi di sisi lain ia kehilangan kekuatannya sendiri, ia tak mampu berenang dengan baik sehingga terbawa arus dan tenggelam begitu saja.
"Lihat! ini pertama kalinya mereka akan berenang" ujar Elf yang membuyarkan lamunannya.
Tepat saat matahari muncul di permukaan bumi sang induk memimpin di depan dan lebih dulu turun ke dalam air, anak-anak bebek itu satu persatu berbaris dengan rapi mengikuti induknya hingga mereka semua masuk ke dalam air.
"Mereka berhasil melakukannya" ujar Hans pelan.
"Kau benar, bahkan alam pun ikut bergembira menyambut para makhluk kecil itu" sahut Elf.
Elf berbalik arah menatap pepohonan di belakang mereka, desiran angin menggoyangkan dahan-dahan itu hingga menerbangkan dedaunan yang kering.
Elf berjalan ke depan sambil mengangkat tangannya dengan lembut, dalam langkah selanjutnya ia mengangkat satu kaki sambil berputar lalu menghempaskan kedua tangannya.
Melihat wajah cantik Elf dengan senyum damainya Hans di buat terpukau lagi dengan tarian indah itu, tak ada musik yang terdengar tapi alam seolah mengiringi setiap gerakannya.
Hans berjalan mendekatinya dan tepat menangkap tubuh Elf saat ia berputar, di simpannya satu tangan di pinggang Elf sedang yang lain memegang tangannya. Elf tersenyum dan mereka pun berdansa di bawah langit biru yang cerah, setiap gerakan mereka teratur dan nampak menikmatinya sampai Elf tak berhenti tersenyum kadang pun tertawa.
"Kelihatannya lengan mu sudah mulai pulih" ujar Elf saat dalam perjalanan pulang.
"Ya, sudah tidak terlalu sakit" jawab Hans.
"Kita harus mengganti perbannya, ini sudah dua hari obatnya pasti sudah meresap dengan baik" ujar Elf.
Mereka kembali masuk ke dalam gua, Elf segera menyiapkan air untuk membersihkan lengan itu. Sementara Elf merawat lukanya Hans larut dalam lamunannya sendiri, ia masih kepikiran pada anak bebek itu.
"Apa sakit?" tanya Elf.
"Apa? maaf kau bilang apa tadi?" tanya Hans.
"Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Elf tanpa memalingkan pandangannya dari lengan Hans.
"Ah... tiba-tiba aku kepikiran ayah dan kakek ku"
"Mereka sakit?"
"Tidak, hanya saja... aku merasa seperti bebek yang di bantu keluar dari cangkangnya. Kakek dan ayah ku memperlakukan ki dengan sangat baik, mereka mengajariku dengan baik dan memberikan ku kepercayaan atas perusahaan keluarga. Tapi begitu aku mencoba bekerja sendiri perusahaan itu malah hancur sampai bangkrut, namun setelah ayah ku kembali memegang kendali atas perusahaan semuanya berjalan normal lagi" jelas Hans.
"Aku mengerti, kau merasa mereka terlalu memanjakan mu di awal sehingga saat waktunya kau berenang sendirian kau malah tenggelam"
"Ya.. kira-kira seperti itu" ujar Hans.
"Tidak ada orang tua yang tidak sayang kepada anaknya, mungkin mereka salah karena telah memanjakan mu tapi kau tidak boleh menyalahkan mereka atas hal itu. Sebab apa yang mereka berikan adalah kasih sayang, tidak masalah jika kau gagal yang penting adalah kau masih hidup dengan utuh. Kau bisa memulai lagi dari nol tanpa bantuan siapa pun, tidak ada kata terlambat dalam memulai" ucap Elf.
__ADS_1
Hans tersenyum, perasaannya kini jauh lebih baik. Rupanya Elf tak hanya pintar mengobati luka di lengannya tapi juga luka di hatinya.