
Boneka salju di halaman itu nampak biasa namun mampu menyita perhatian gadis tercantik di kelas, siapa pun yang membuatnya pastilah orang yang ceria dan percaya pada mimpinya sebab ada noda hitam di tubuh bulatnya di karenakan tercampur lumpur akibat salju yang sedikit.
Tuk
Ia mengedipkan mata sadar akan suara ketukan jari di mejanya, saat ia menoleh rupanya itu teman kelasnya yang tengah tersenyum penuh arti.
"Ada apa?" tanyanya.
"Datanglah ke pesta ulangtahun ku besok, jangan lupa ajak pacarmu" ujarnya sambil menyerahkan sebuah amplop kecil berwarna merah muda.
"Besok?" tanyanya lagi sambil melihat kartu undangan itu.
"Ya, kenapa? kau ada acara?"
"Ah tidak, baiklah aku akan datang"
"Bagus, jangan lupa bawa pacarmu sebab ini pesta pasangan" ujarnya lagi mengingatkan.
Pria pertama yang ia ingat tentu saja Manager San, tapi hubungan mereka bahkan sudah kandas tanpa sempay di mulai. Satu-satunya pria yang kini memiliki status dengannya hanyalah Chad, tapi jangankan pergi ke pesta bersamanya bahkan berada di dekatnya dalam waktu lima menit saja sungguh sebuah rekor.
Chad memang punya wajah yang tampan dan cukup baik, tapi setiap di dekatnya menbuat Kyra tak nyaman. Ia merasa senyum Chad mengerikan bak psikopat, aura yang di kekuarkan Chad pun dingin hingga membuatnya menggigil ketakutan.
Mungkin itu di karenakan Chad adalah seorang vampire seperti kata kakeknya, baginya yang berdarah penyihir tentu saja mereka seperti air dan api.
Tanpa gairah pulang sekolah Kyra memilih mengurung diri di kamar, menghabiskan waktunya dengan bermalas-malasan sampai Violet membuat keramaian di kamarnya.
"Oh kemana gadis ku yang ceria?" ujarnya.
"Mati, dia terlalu lelah karena tekanan mental yang ia dapat setiap hari"
"Begitu? kau menyalahkan ibu meski itu demi kebaikan mu?" tukas Violet dengan nada yang mulai meninggi.
"Ayolah bu...jangan mulai lagi, aku lelah" erangnya.
"Belajar dimana tata krama mu itu? bahkan sekarang kamar mu berantai sekali, sampah di semua tempat dan apa ini?" ujarnya melihat kartu undangan saat mengambil sampah.
"Ahh...teman mu mengadakan pesta" ucap Violet setelah membacanya.
"Hei kau punya acara, kau bisa menggunakan ini untuk mengajak Chad pergi" ujar Violet antusias.
Kyra hanya memutar bola mata dengan malas sebab memang ia tak punya pilihan lain.
"Aku akan menelponnya nanti" ujarnya pelan.
"Itu bagus! akhirnya kau sadar juga, baiklah nikmati tidur cantikmu sayang" jawab Violet sebelum pergi meninggalkann kamar.
Kyra memang berkata seperti itu, tapi hingga esok harinya ia masih belum juga menelpon Chad untuk mengajaknya pergi. Terlalu canggung dan terlalu takut pada sosok pria yang akan menjadi calon suaminya itu, pada akhirnya Violet turun tangan juga untuk menciptakan momen agar mereka menjadi lebih dekat.
Malam dimana ia harus pergi memenuhi undangan Kyra telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk bercermin, bukan ingin terlihat cantik di hadapan Chad tapi bingung harus bersikap seperti apa.
"Kau hanya akan pergi ke pesta sayang bukan menjadi pengantin, Chad sudah datang dan menunggumu di bawah" ujar Violet memberitahu.
"Baik, aku hanya sedang memastikan semuanya beres" jawabnya.
Karena Violet tetap berada di sana dan menunggunya mau tak mau Kyra pun bergerak keluar dari kamar, menemui Chad yang memang telah menunggunya.
"Kau terlihat cantik" puji Chad.
"Terimakasih, um...bu kami pamit dulu"
"Ya, selamat bersenang-senang" jawab Violet yang kegirangan sendiri.
Chad juga tak lupa berpamitan sebelum pergi, dengan senyum yang lebar Violet membalas dengan lambaian tangan.
"Kemana Manager San?" tanya Kyra saat masuk ke dalam mobil yang tak ada siapa pun.
"Entahlah, mungkin dia berada di rumahnya sedang beristirahat. Kenapa?"
"Ah, oh tidak.. hanya saja aku terbiasa melihatnya mendampingi mu" jawab Kyra canggung.
Hahahaha
"Ya, biasanya dia memang selalu ikut kemana pun aku pergi" sahut Chad.
Kyra hanya tersenyum menanggapi ucapan itu, tiba di tempat pesta tak lupa Chad menyodorkan lengannya agar mereka dapat bergandengan layaknya sepasang kekasih.
__ADS_1
Saat tiba di ruang pesta tentu saja ketampanan Chad dan kecantikan Kyra membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Hai Kyra, akhirnya kau datang juga" sapa sang pemilik pesta yang tak lain teman kelasnya.
"Oh hai, selamat ulang tahun"
"Terimakasih"
"Perkenalkan ini Chad" ujar Kyra.
Mereka bersalaman sambil saling tersenyum, jelas teman Kyra begitu tertarik pada Chad hingga ia berlama-lama menggenggam tangan Chad.
"Baiklah, silahkan nikmati pestanya" ujarnya sadar bahwa ia telah kelewat batas padahal Kyra berada di sana.
"Terimakasih" jawab Kyra.
Kini mereka di tinggal berdua saja, dengan segelas minuman mereka memulai pesta namun setelah menghabiskan waktu yang cukup lama Kyra tak beranjak dari samping Chad dan jelas itu terasa aneh.
"Kau tidak bergabung dengan yang lain?" tanya Chad.
"Ah itu...aku adalah murid baru jadi..." jawab Kyra yang tak bisa menyelesaikan ucapannya.
Tentu saja Chad paham maksud Kyra, sedari tadi pun tak ada teman yang menyapa Kyra.
"Jika kau mau kita bisa pulang sekarang" tawar Chad.
"Itu...entahlah" ujar Kyra ragu.
Sebenarnya ia memang ingin pulang saja tapi Violet tentu akan bertanya macam-macam bahkan membuat keributan yang tidak perlu karena pulang dengan cepat.
"Aku ingin berjalan-jalan, apa kau mau menemaniku?" tanya Chad tiba-tiba.
Sejenak Kyra terdiam tapi akhirnya ia mengangguk juga, mereka pergi ke taman dimana meski malam hari tempat itu cukup ramai dengan pohon natal yang sudah berdiri di sana sini.
Orang-orang teihat bahagia bersenda gurau dengan pasangan atau keluarganya, hal yang membuat Kyra iri sebab ia tak berada pada posisi itu. Seingatnya bahkan ia melakukan hal itu terakhir kali saat masih di sekolah dasar, saat ia masuk ke sekolah menengah pertama Violet muali berubah sikap dengan mengajarinya menjadi gadis bangsawan.
"Kau ingin makan sesuatu?" tawar Chad.
"Ah tidak, terimakasih" jawabnya.
"Natal nanti dia pasti mendapatkan hadiah yang bagus" gumamanya.
"Maaf?" tanya Kyra.
Chad menunjuk bocah laki-laki itu, membuat Kyra mengerti maksudnya.
"Kurasa juga begitu, setiap anak pasti akan dapat hadiah yang banyak dan menarik. Saat aku kecil bahkan setiap natal aku mendapat hadiah yang aku tulis dalam surat untuk santa, saat aku besar barulah aku tahu bahwa ternyata santa yang aku percaya selama ini adalah ayah ku"
"Sepertinya ayah mu memang sangat menyayangimu, aku berani bertaruh bahkan dia rela memberikan nyawanya demi putrinya" ujar Chad.
"Semua ayah memang seperti itu, ayah mu juga pasti begitu"
"Tidak! dia tidak melakukannya"
"Um...mungkin dia hanya tidak berani mengakui perasaannya, tapi diam-diam dia pasti selalu perhatian padamu" ujar Kyra mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung.
"Andai ia bisa mungkin akan seperti itu, sayangnya baik ayah ku atau pun ibuku tidak bisa melakukannya sebab mereka telah lebih dulu pergi saat aku masih terlalu kecil untuk mengerti arti sebuah kematian."
Kyra terdiam akan hal itu, ia tak pernah menyangka ternyata sosok pria yang sempurna ini tidaklah sempurna dari segi keluarga. Ini menjelaskan mengapa acara makan malam itu hanya di hadiri oleh neneknya saja, sayangnya Kyra terlalu acuh sampai baru menyadari hal ini.
"Maafkan aku" ujarnya menyesal.
"Tidak masalah, lagi pula itu terjadi sudah sangat lama sekali" sahut Chad.
Ya, memang sudah terlalu lama tapi sakit hatinya terasa masih baru. Bahkan kini di dalam tubuhnya api dendam masih membara kian besar seiring dekatnya hubungan atara dirinya dengan keluarga Hermes.
Keheningan tiba-tiba hadir diantara mereka yang membuat Kyra semakin merasa canggung dan bersalah, ia yakin meski Chad berkata baik-baik saja tapi topik itu terlalu menyedihkan untuk di bahas.
Dalam malam yang semakin larut dengan angin yang menghembuskan hawa dingin Kyra mulai menggigil, tangannya mencoba menggosok kedua lengan agar sedikit lebih hangat.
Srek
Tiba-tiba Chad memakaikan jasnya, sambil tersenyum ia berkata.
"Maaf telah membawamu ke tempat yang dingin"
__ADS_1
"Ah itu tidak masalah" jawab Kyra cepat.
"Sebaiknya kita pulang sekarang, tidak baik berlama-lama di luar" ujar Chad yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Kyra.
Mereka bangkit dan mulai berjalan beriringan, menyusuri trotoar dengan melewati toko-toko yang sudah mulai tutup menuju mobil Chad yang terparkir cukup jauh.
Saat mereka hendak melewati toko mainan seorang pegawai terlihat sibuk membawa kardus-kardus besar masuk ke dalam, sayangnya tumpukan kardus yang ia bawa terlalu berat dengan posisi yang kurang tepat hingga saat Kyra berjalan melewatinya mereka bertabrakan.
Kardus itu meloncat dari tangan si pegawai dan siap menghantam Kyra yang akan terjatuh, dalam waktu yang seolah berjalan pelan Kyra bisa merasakan bahaya yang ada.
Bruk
Aaaaa....
Matanya tertutup tak kuasa melihat kardus berisi mainan yang menghantam tubuhnya, tapi setelah beberapa detik berlalu ia tak merasakan sakit di tubuhnya. Anehnya tubuhnya juga tidak terjatuh, sebuah tangan yang ia rasakan memegang pinggangnya membuat perlahan matannya terbuka.
Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Chad, memerah karena menahan sakit dari punggungnya yang terkena hantaman kardus.
"Chad!" panggil Kyra.
Dengan cepat ia bangkit melepaskan diri dari pelukan Chad, di lihatnya pegawai itu juga terjatuh dengan mainan yang kini berserakan di bawah.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
"Aku tidak apa-apa, apa anda baik-baik saja?" ujar Chad yang segera memastikan keadaan si pegawai.
"Saya baik-baik saja, maafkan kesalahan saya. Apa anda terluka?" tanya si pegawai yang sama khwatirnya.
Chad hanya tersenyum dan mengangguk, pegawai itu memaksanya untuk pergi ke rumah sakit atau sekedar masuk dulu agar ia bisa memastikan bahwa Chad benar-benar baik-baik saja. Tapi Chad bersikukuh menolak bahkan ia justru membantu pegawai itu membereskan kekacauan yang telah terjadi.
Saat itulah untuk pertama kalinya perasaan takut Kyra terhadap Chad lenyap, kini benaknya menemukan alasan logis di balij tatapan tajam dan aura dingin Chad. Hal itu tak lebih dari rasa sedih kehilangan kedua orangtua, yang sebenarnya Chad ternyata pemuda baik-baik.
* * *
Sebenarnya Hans enggan membawa Keenan ke rumah Elf dan merawatnya, tapi karena ia tak bisa membiarkan Keenan begitu saja dan lagi ramuan jiwa yang masih di pegang Keenan akhirnya ia tak punya pilihan lain.
Selama sehari penuh ia merawat luka Keenan hingga benar-benar sembuh, sementara itu Elf masih berbaring dan butuh istirahat beberapa hari lagi.
"Aneh, seharusnya luka ku akan cepat menutup dengan sendirinya" gumam Keenan melihat bekas tusukan itu.
"Itu bukan sebarangan perak" ujar Elf.
"Ah Elf, kau belum boleh bangun dulu" sergah Hans khawatir.
"Tidak apa-apa, terus berbaring membuatku malah jadi pusing"
"Apa maksud mu bukan sembarangan perak?" tanya Keenan penasaran.
"Itu perak yang di olesi bawang putih" jawab Elf.
"Apa?"
"Vampire tidak hanya benci bawang putih karena baunya saja yang merusak indra penciuman, tapi saat memakannya pun bawang putih dapat menjadi racun tersendiri bagi tubuh vampire" jelas Elf.
Hal ini baru Keenan ketahui, ia tak menyangka dari sekian banyak buku yang ia baca ternyata infomasi kecil dari makhluk penjaga hutan lebih bermanfaat dan aktual.
"Kenapa kau memberitahuku? bukankah aku adalah musuh mu?" tanya Keenan heran.
"Aku tidak menganggap mu musuh, perlu kau ketahui di sisi lain bagian dari hutan ini ada sekelompok makhluk yang telah tinggal lebih lama dari umurmu sekarang. Mereka adalah penghuni hutan juga yang harus ku jaga dan ku lindungi meski terkadang mereja merusak, mereka adalah bangsa yang satu jenis dengan mu"
"Vampanences" ujar Hans menyelesaikan kalimat Elf.
Hans telah menyinggung kaum ini saat mereka hendak masuk ke dalam lubang pada pohon, awalnya Keenan hanya so tahu karena ia tak begitu tertarik. Anehnya sekarang saat Elf yang menyinggung bangsa ini gairahnya mulai tergugah untuk mencari tahu lebih lanjut.
"Pertarungan kita seimbang, itu artinya tak ada yang menang dan kau belum boleh bertemu Sang Dewi sebab aku belum mengijinkan. Dari pada menempuh perjalanan jauh demi Sang Dewi yang belum tentu bisa kau datangi bagaimana kau kau menemui bangsa ini? aku yakin kau akan mendapatkan kejaiban yang tidak akan kau dapatkan dari Sang Dewi" ujar Elf.
"Ceritakan padaku lebih banyak tentang kaum ini" pinta Keenan.
Dengan senang hati Elf mengulang ceritanya, menjelaskan tentang bangsa vampananences ini kepada Keenan seperti ia menjelaskannya dulu kepada Hans.
Meski nampak seperti dongeng tapu cerita itu dapat di percaya dengan adanya saksi hidup lainnya yaitu Hans, karena rasa penasaran Keenan Hans juga ikut menceritakan bagaimana pengalaman pertamanya saat di buru oleh bangsa vampanences.
Beberapa kemiripan yang dimiliki vampanences dengan vampire brutal hasil uji coba Alabama membuatnya teringat ucapan vampire tua itu yang sempat menyinggung vampanences dengan panggilan pendahulu.
Kekuatan vampanences yang di gambarkan Hans membuatnya lebih tertarik lagi hingga sesaat ia lupa akan ambisinya bertemu Sang Dewi, kini Keenan meminta kepada Elf untuk mengantarnya ke sarang vampanences.
__ADS_1
Awalnya Hans menolak mengingat kondisi Elf yang masih terlalu lemah, tapi setelah mendapat kesepakatan bahwa ia akan pergi setelah Elf sehat barulah Hans setuju meski tetap dengan syarat ia akan ikut juga.