
Pagi itu cerah seperti biasa, harusnya ia bangun dengan mata binar dan senyum manis yang mengembang. Tapi entah mengapa kepalanya pusing dan tubuhnya pun terasa sangat sakit, butuh beberapa menit baginya hanya untuk bangun.
Tapi tiba-tiba perutnya seakan di kocok hingga menimbulkan rasa mual, bergegas ia berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan apa pun yang mendesak keluar.
"Blue... kau tak apa-apa?" tanya Violet yang baru saja masuk ke kamarnya.
"Ah ya... aku hanya merasa mual, entah mengapa badanku juga rasanya tidak enak" jawabnya bangkit dari kloset.
Violet memandangnya dengan cemas, pikirannya membayangkan sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.
"Sebaiknya kita periksakan ke dokter, ayo bersiaplah" ujar Violet.
"Tidak usah bu, aku baik-baik saja" sahut Kyra.
Tapi Violet tak mendengarkan, ia tetap saja membawa Kyra pada seorang dokter yang lokasinya justru lebih jauh dari kediaman Hermes.
Hal itu mengundang tanda tanya Kyra, namun saat bertanya Violet tidak menjawab apa pun. Sesampainya di sana mereka segera menemui sang dokter, selama beberapa menit Kyra di periksa sampai akhirnya dokter mengetahui penyakitnya.
"Selamat nyonya, dia sedang mengandung saat ini" ujarnya.
"Ma-maksud dokter... putriku hamil?" tanya Violet.
Srek
Gorden itu di buka dengan cepat oleh Kyra yang masih duduk di ranjang pasien, matanya segera beradu dengan Violet. Ekspresi mereka sama kagetnya dan di penuhi tanda tanya, tapi Violet segera mengucapkan terimakasih dan berpamitan pergi.
Sepanjang jalan perjalanan mereka pulang tak ada satu pun diantara mereka yang bicara, Kyra sibuk dengan penyesalannya sementara Violet berfikir keras menyelesaikan masalah ini.
"Tolong pinggirkan mobilnya" ujar Violet tiba-tiba.
Meski sang supir heran tapi ia menurut, ia segera menepi.
"Keluarlah" ujar Violet tentu kepada Kyra.
Dengan perasaan takut Kyra menurut, ia pergi mengikuti langkah Violet yang terus berjalan hingga sang supir tak bisa melihat mereka.
Di satu tempat yang sepi Violet berhenti dan membalikkan tubuh, menatap putrinya untuk menagih penjelasan.
"Siapa ayah dari anak itu?" tanyanya.
Jantung Kyra mulai berdegup kencang dan semakin kencang saat ia membayangkan wajah Manager San, tentu karena dialah ayah dari anak itu. Tapi tidak mungkin ia mengatakannya karena hal itu akan merusak segala rencananya, bahkan pernikahan yang akan menyelamatkan hidupnya pun bisa gagal karenanya.
"Siapa lagi? tentu saja calon suamiku" jawab Kyra berdusta.
Violet tersentak kaget, ia tak mengira hubungan Hakan dan Kyra begitu dekat hingga melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan setelah resmi menjadi suami istri.
Awalnya Violet menyesalkan perbuatan putrinya, tapi kemudian ia berfikir untuk menjadikan janin itu sebagai pengikat Hakan. Dengan adanya calon anak mereka maka pernikahan itu pasti benar-benar terjadi, maka Violet pun memaafkan putrinya.
"Dengar, jangan katakan hal ini pada siapa pun. Untuk menyelamatkan anak itu kita harus mempercepat pernikahan kalian, beritahu Hakan untuk segera mempersiapkan segalanya karena minggu depan kita akan melangsungkan pernikahan mu" ujarnya.
Tak ada yang bisa Kyra lakukan selain menurut, meski ada rasa bersalah kepada Hakan karena ia telah berbohong tapi ini jalan terbaik yang ia miliki.
* * *
Ia telah memantapkan hatinya, untuk itulah ia menemui Agler. Mereka bertemu di sebuah kafe yang tak ramai di pinggiran ibu kota, tentu Alisya juga ikut sebab dia adalah kunci utama kasus ini.
Hans yang telah menunggu sejak tadi akhirnya mulai gugup saat Agler dan Alisya datang, segera ia bangkit dan menyapa mereka yang datang menghampiri.
Agler sedikit bingung mengapa Hans memilih tempat pertemuan yang tak biasa untuk membuktikan ketidabersalahannya, terlebih ia juga meminta Alisya untuk ikut serta.
"Nona Alisya, apa kau masih ingat aku?" tanya Hans.
Mata Agler segera tertuju pada Alisya yang mencoba mengingat, tapi jelas dalam ingatannya hanyalah Hans yang masuk ke dalam sedang posisinya hanya memakai kau dalam.
Dengan pelan Alisya menganggukkan kepalanya, itu membuat Hans sedikit tersenyum namun Agler tetap menatapnya tajam.
"Terjadi sebuah kesalahpahaman diantara kita, karena itulah aku ingin kau mengingatnya dan mengatakan bahwa aku tidak melakukan apa pun padamu" ujar Hans.
"Tapi... aku tidak ingat apa pun tentang malam itu" sahut Alisya yang membuat kedua pemuda itu membelalakkan mata.
__ADS_1
"Kau.. "
"Tunggu!" teriak Hans saat kerah bajunya telah di tarik Agler.
"Tolong tenangkan dulu dirimu, kita bisa bicarakan ini baik-baik" sahutnya.
"Bicara baik-baik katamu? jelas kau seorang pendosa yang hina" ujar Agler murka.
"Dia tidak ingat apa pun yang artinya aku juga belum tentu bersalah, karena dia harus mencoba mengingat apa yang telah terjadi malam itu" ungkap Hans.
Yang di ucapkan Hans adalah benar, ia tak bisa main hakim sendiri maka di lepaskannya kerah baju itu. Kembali duduk ia menatap Alisya yang hanya menundukkan kepalanya, mencoba mengingat apa yang telah terjadi malam itu.
"Cobalah mengingatnya dengan perlahan, mulai dari kegiatan yang menjadi kebiasaan mu" ujar Hans mengintruksikan.
"Aku... itu samar-samar" ucap Alisya.
"Tidak apa-apa, akan ku pesankan minuman agar kau rileks" sahut Hans.
Ia segera pergi menuju meja pelayan, memesan tiga minuman dingin yang datang tak lama kemudian. Dengan degup jantung yang semakin cepat ia menatap sekeliling, terlebih Agler dan Alisya untuk memastikan tidak ada yang melihatnya.
Di rasa cukup aman ia pun mengeluarkan botol kecil berisi ramuan, dengan hati-hati di tuangkannya ramuan itu ke dalam satu gelas.
Tuk
Mencoba bersikap biasa saja Hans meletakkan satu persatu minuman itu di atas meja, sedang gelas yang telah di campur dengan ramuan ia berikan langsung kepada Alisya.
"Minumlah ini, mungkin kau akan merasa lebih baik" ujarnya.
Alisya menerima gelas itu tanpa kecurigaan apa pun, tapi penciuman Agler yang sangat tajam tak bisa di bohongi.
"Tunggu!" ujarnya yang membuat Hans hampir mati karena kaget.
"Ada apa?" tanya Alisya menjauhkan bibirnya dari gelas.
"Aku mencium bau sesuatu yang aneh" jawabnya.
Deg Deg, Deg Deg
Saat kepalanya mendekati gelas milik Alisya Hans sudah putus asa akan rencananya.
"Ah sampah di luar itu, harusnya mereka membersihkannya" ujar Agler menatap kerumunan lalat yang terbang di sana.
Seketika Hans melirik keluar, menghembuskan nafas lega dan kembali menatap Alisya yang kini sudah meneguk minuman itu.
Tuk
Habis separuh gelas itu ia simpan di atas meja, bersandar pada kursi ia mencoba untuk rileks agar dapat mengingat kejadian malam itu.
Tapi beberapa menit kemudian yang ia rasakan justru adalah rasa sakit di kepalanya, rasanya sakitnya semakin lama semakin bertambah hingga ia tak mampu untuk menahannya.
Aaaahhh...
"Alisya!" panggil Agler melihat kekasihnya memegang kepala dengan raut wajah yang kesakitan.
"Alisya ada apa? katakan padaku!" ujarnya panik.
"Kepalaku.... rasanya sakit sekali" jawab Alisya.
Hanya Hans yang diam mematung, melihat reaksi ramuannya yang bekerja dengan hebat. Tentu saja untuk mengembalikan sebuah ingatan secara paksa akan menimbulkan sebuah rasa sakit yang luar biasa, Hans hanya dalam meminta maaf dalam hati karena telah membuat Alisya menderita.
"Agler.... " panggilnya lirih.
Seketika semuanya menjadi gelap, tak ada yang bisa ia lihat bahkan tangannya sekali pun. Tapi kemudian setitik cahaya mulai muncul di atas, semakin lama semakin banyak hingga ia tahu bahwa titik-titik cahaya itu adalah bintang.
Pada detik selanjutnya ia dapat melihat langit malam yang indah, kemudian suara deburan ombak yang memecah keheningan di kepalanya.
Itu adalah suasana indah yang romantis, namun sayangnya yang kemudian ia lihat adalah beberapa penggangu.
Beruntung disana ia bersama Agler, dengan mudah para pengganggu itu Agler hajar hingga babak belur. Namun saat Agler menatapnya, yang ia lihat adalah sosok monster yang mengerikan.
__ADS_1
Makhluk malam penghisap darah yang selalu bersembunyi di balik kegelapan, rasa takut menjalar di seluruh tubuhnya hingga naik ke ubun-ubun.
Ia terpaku, menatap Agler yang kemudian lari meninggalkannya sendirian. Masih dalam trauma ia berjalan mencari pertolongan, tapi yang ia lihat kemudian adalah sebuah pertarungan hebat antara Hans dengan seorang vampire lainnya.
Hans berhasil membunuhnya dan menyelamatkan hidupnya, ia di bawa ke tempat Hans untuk di obati. Saat itu Reah juga ada di sana dan membantunya menenangkan diri, karena rasa lelah ia tertidur dan bangun esok harinya.
Matanya berkedip beberapa kali sebelum akhirnya bisa melihat dengan jelas, ia bangun dan merasa aneh karena tiba-tiba berada di kamarnya.
"Bukankan semalam berada di kamar Hans?" gumamnya.
Ahhh...
Pekiknya tiba-tiba, matanya terbelalak menatap selimut namun jelas gambar yang ada di otaknya adalah semua hal yang telah ia lalui.
Itu bukanlah mimpi, semua itu adalah potongan ingatannya yang hilang dan telah kembali dalam waktu satu malam saja.
Laku secara perlahan ia mulai ingat bahwa Agler mengajaknya keluar yang ternyata menemui Hans, di sebuah kafe Hans memintanya untuk mengingat peristiwa malam itu.
Kini ia telah mengingatnya, malam itu Hans memang tidak berbuat jahat padanya. Justru Hans telah menyelamatkan hidupnya dari vampire, kenyataan itu membuatnya sadar bahwa ada satu hal lagi yaitu identitas asli Agler.
Akhirnya semuanya menjadi masuk akal, kekuatan Agler yang di atas orang normal dan tangannya yang langsung sembuh dari bekas sayatan.
"Agler... kau... seorang... " kata selanjutnya tak bisa ia ucapkan, terlalu ngeri bahkan untuk memikirkannya saja.
Ia kembali merebahkan diri, menatap langit-langit untuk berharap hal ini hanya mimpi buruk saja tapi semuanya adalah kenyataan.
* * *
Melihat Alisya yang kesakitan membuat tingkat kecemasan Agler mencapai puncaknya, tanpa memperdulikan hal lain ia segera membawa Alisya pulang ke rumahnya.
Colt, Mina dan Ima yang melihat Kondisi Alisya hanya bisa menatap kebingungan sebab mereka tak tahu apa yang telah terjadi.
Akhirnya Ima memutuskan untuk menelpon Chad, tak berapa lama kemudian Chad datang dengan seorang dokter ke rumah. Anehnya dokter tidak menemukan penyakit apa pun, semuanya normal tanpa ada yang perlu di khawatirkan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Chad.
"Aku juga tidak tahu, kami hanya pergi ke kafe dan minum seperti biasa lalu.... " ucapan Agler terhenti saat ia menyadari sesuatu.
Brak
"Sialan!" teriaknya murka.
"Ada apa?" tanya Ima.
"Kami menemui Hans, dia memberi kami minum dan... mungkin dia menaruh racun pada minuman Alisya" ujarnya.
"Apa?" teriak Chad.
"Bajingan!" kini giliran Chad yang berteriak kesal.
"Akan ku habisi dia" gumam Agler mulai mengambil langkah.
Tapi dengan cepat Ima menghadang, dengan tegas ia menatap Agler.
"Aku tidak akan membiarkan mu bertindak bodoh, tidak ada gunanya kau membunuhnya sekarang sementara kita tidak tahu bagaimana kondisi Alisya saat ini" ujarnya.
"Tapi... "
"Jangan biarkan amarah menguasai dirimu!" teriak Ima memotong ucapan Agler.
"Alisya lebih penting, kita harus membawanya ke orang yang lebih ahli" lanjutnya.
Ucapan Ima sangatlah benar, mereka tidak bisa membiarkan Alisya begitu saja. Maka mereka pun membawa Alisya pulang, membaringkannya di atas ranjang sementara Chad pergi menemui Jhon.
Hanya dia satu-satunya orang yang bisa di mintai tolong, tak berapa lama kemudian Jhon datang dengan Chad yang langsung masuk ke kamar Alisya lewat jendela.
Jhon mulai memeriksa Alisya dengan teliti tanpa melewatkan apa pun, setelah selesai memeriksa ia berkata.
"Aku menemui tanda-tanda ia telah meminum sebuah ramuan, akan ku teliti lebih lanjut sementara itu biarkan dia istirahat"
__ADS_1
"Baik" jawab Chad.
Jhon pun pergi setelah pekerjaannya selesai, begitu juga dengan Chad dan Ima. Sebenarnya Agler ingin tetap di sana, memastikan Alisya baik-baik saja sebab semua terjadi karena kesalahannya. Tapi Ima cepat menariknya keluar agar Alisya bisa beristirahat sesuai perintah Jhon.