
Sendiri, di gelapnya malam dan sepinya jalan tanpa ada satu orang pun. Entah kemana kakinya akan membawa sebab jiwanya pun tidak ada bersama raganya, rasanya sedetik yang lalu ia masih tertawa bersama sebelum kengerian itu terjadi.
Dua sosok yang berbeda kini bergentayangan di dalam kepalanya, dia adalah Agler yang baik dan perhatian lalu monster yang tak segan-segan untuk membunuh.
Rasanya semuanya bagaikan mimpi, tatapan tajam itu, kecepatan yang tidak masuk akal dan cakar yang siap mengoyak. Bagaimana bisa semua itu menjadi mungkin, sedang selama ini Agler tidak menunjukkan keanehan apa pun kecuali saat dirinya hampir di tabrak mobil.
Dalam kekalutan itu tiba-tiba sebuah suara menarik perhatiannya, Alisya berjalan ke arah sumber suara. Awalnya ia kira itu adalah suara pembangunan, tapi ia berjalan di kawasan perumahan yang kosong.
Saat ia berhasil menemukan sumber suara yang dilihatnya justru kengerian yang lain, sebuah pertarungan yang tidak masuk di akal.
Seorang pria dengan mantel hitam yang panjang menunjukkan taring dan kukunya yang mengilap oleh cahaya bulan, melawan seorang pria dengan stelan serba hitam dan pedang di tangan.
Mereka bertarung dengan cukup intens, kekuatan keduanya nampak seimbang namun jelas ada bekas cakaran di lengan pria dengan pedang itu yang terus mengeluarkan darah.
Bekas cakaran yang mengingatkan Alisya pada Agler, hal itu membuatnya kembali syok dan jatuh terduduk tanpa berkata apa-apa.
Angin berhembus, menyebarkan aroma darah segar dari leher Alisya yang cepat di sadari sang vampire, ia menoleh dan melihat mangsa yang cukup bagus di sana.
Secepat kilat ia berlari menghampiri Alisya demi menghisap darahnya agar kembali kuat, tapi Hans tak akan membiarkan hal itu terjadi.
Trang
Ah....
Alisya mendongak, ia melihat Hans berdiri tepat di depannya. Mengahalau cakar sang vampire agar tidak menyentuhnya dengan pedang, sekuat tenaga ia mendorong pedangnya agar vampire itu menjauh.
Hhhhhhh hhhhhhh Hhhhhhh
"Nona... aku tidak tahu kenapa kau ada di sini, tapi jangan pergi kemana pun atau sembarangan bergerak sampai aku membunuh monster itu" ujar Hans di tengah nafasnya yang putus-putus.
Hiyaaa.....
Hans kembali menyerang, kini dengan kekuatan penuh yang ia kumpulkan di ujung pedangnya. Tentu vampire itu tidak akan tinggal diam, dia pun mengulurkan tangannya siap untuk mencakar dengan kukunya yang tajam.
Tapi kali ini Hans sudah memperhitungkan segalanya, ia menunduk tepat waktu sebelum cakar vampire itu mengenai tubuhnya. Dan dengan satu gerakan pedangnya berhasil menusuk vampire itu tepat di jantungnya.
Aaarrrgghh.......
Teriakan itu menjadi penanda berakhirnya pertarungan, perlahan tubuh vampire itu berubah menjadi abu dan hilang diterpa angin. Hans menghembuskan nafas lega, tapi pekerjaannya belum selesai sebab ada saksi mata yang melihat pertarungan itu.
Ia membalikkan badan, sambil berfikir apa yang harus di lakukan ia berjalan mendekati Alisya. Tapi begitu ia sampai dengan raut wajah yang syok Alisya berbisik, membuat Hans bingung.
"Di-dia pun... sama seperti.... makhluk itu."
Setelah itu tiba-tiba Alisya tak sadarkan diri.
* * *
Berkali-kali Joyi menatap jam di dinding, malam semakin larut dan tidak ada tanda-tanda kemunculan Alisya. Hatinya semakin cemas tatkala manager San memberitahu bahwa terakhir kali Alisya terlihat di dermaga dan setelah itu ia hilang entah kemana.
Joyi meminta manager San untuk terus mencari, tapi sampai kini masih belum ada kabar. Di saat-saat itulah ia ingat ucapan Jack yang mengancam dirinya, sebuah pikiran negatif pun muncul tentang sesuatu yang buruk akan terjadi pada Alisya.
Dengan cepat ia menghubungi manager San dan menyuruhnya untuk membawa beberapa bawahannya, kepada Aeda berpesan jika Chad kembali maka sampaikan apa yang telah terjadi.
Dengan tergesa-gesa Joyi pergi di dampingi manager San dan para bawahannya yang setia, sepanjang jalan ia hanya mampu berharap Alisya masih dalam keadaan baik-baik saja.
Berjam-jam berlalu penuh keresahan akhirnya Joyi tiba di kediaman Hermes, tanpa menunggu lebih lama lagi ia mengetuk pintu itu dengan keras.
"Jack.... keluar!" teriaknya.
"Siapa?" tanya Amelia sambil membuka pintu.
Melihat wajah Joyi yang penuh amarah dan orang-orang berjas tepat di belakangnya membuat Amelia heran sekaligus ketakutan.
"Nak... siapa itu?" tanya Jack dari dalam.
Saat Amelia membuka pintu dengan lebih lebar ia pun sama terkejutnya melihat Joyi ada di sana, bingung dengan apa yang terjadi Jack perlahan keluar dan menghadapi Joyi.
Aaaaaa.....
Amelia sontak berteriak saat melihat Joyi mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkannya tepat di wajah Jack.
"Ayah!" panggil Shigima yang baru keluar setelah mendengar teriakan Amelia.
Ia hendak mendekat tapi Jack mengangkat tangan sebagai isyarat agar Shigima tetap diam di tempat.
"Katakan, dimana cucuku?" ujar Joyi.
__ADS_1
"Apa maksud mu?" tanya Jack tak mengerti.
"Kau tidak perlu pura-pura! aku tahu kau telah menculik Alisya untuk membalas dendam padaku" teriak Joyi.
Tak ada satu pun diantara mereka yang berani bicara, sedang Jack hanya terkesiap sebab ia tidak menculik siapa pun.
"Siapa Alisya? bahkan aku baru mendengar namanya kali ini" sahut Jack membela diri.
"Kau pikir aku akan percaya padamu begitu? manager San! geledah rumahnya!"
"Hei apa yang mau kalian lakukan?" sergah Shigima.
"Biarkan!" teriak Jack.
"Biarkan mereka melakukan apa pun yang mereka inginkan, kita tidak perlu takut karena kita tidak melakukan kesalahan apa pun nak" ujar Jack menatap Joyi tanpa berkedip.
Joyi tetap dalam posisi dengan menodongkan senjata sementara Jack pun masih diam tak bergerak, manager San dan para bawahannya melanjutkan misi pencarian Alisya di dalam rumah Jack.
Cukup lama mereka menggeledah rumah itu tapi keluar tanpa hasil, Joyi menatap manager San penuh harap tapi gelengan kepalanya sudah cukup sebagai jawaban.
"Sudah kubilang aku tidak menculik siapa pun" ujar Jack.
"Kau pikir aku percaya? kau bisa menyembunyikan Alisya dimana pun"
"Demi Tuhan Joyi aku sungguh tidak melakukannya!" teriak Jack putus asa.
"Aku tidak perlu sumpahmu, kau lihat saja nanti apa yang akan ku lakukan sebagai balasannya" ancam Joyi.
Ia menarik pistolnya dan kembali ke dalam mobil di ikuti oleh manager San dan yang lain, sedang Jack hanya bisa menatap kepergian Joyi dengan hati yang hancur.
Dalam perjalanan pulang ponselnya berdering yang membuat lamunannya buyar, rupanya itu telpon dari Chad.
"Nenek, dimana nenek sekarang?" tanya Chad panik.
"Nenek dalam perjalanan pulang sayang"
"Nenek... maafkan aku... harusnya aku bisa menjaga Alisya dengan baik" ujar Chad menyesal.
"Jangan salah kan dirimu nak, satu-satunya yang harus di salahkan adalah Jack Hermes. Sebentar lagi nenek akan sampai, kita bicara lagi nanti"
"Baik, aku mengerti" jawab Chad dan telpon pun di tutup.
Setelah Joyi pulang di ruang kerja mereka bicara empat mata mengenai hilangnya Alisya, satu-satunya musuh mereka hanya Jack maka kemungkinan besar memang Jack adalah dalang di balik semua ini.
Meski sebenarnya Joyi sedikit ragu karena Jack bukan tipe orang yang seperti itu, tapi selain Jack ia pun tidak menemukan alasan lain di balik hilangnya Alisya.
"Aku akan minta bantuan paman Jhon untuk mencari Alisya, sementara itu kita lakukan pencarian secara bertahap" ujar Chad.
"Nenek mengerti, tolong Chad... bawa Alisya pulang"
"Nenek tidak perlu memohon, Alisya adalah salah satu tanggung jawabku" ujar Chad.
Ia bergegas menemui Jhon di tempat biasa, di ceritakan nya masalah hilangnya Alisya. Jhon dengan senang hati akan mencari, sebagai vampire yang sudah berpengalaman ia memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu.
* * *
Entah cahaya apa yang menyinari wajahnya, namun cahaya itu terlalu menyilaukan hingga membuatnya perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit yang putih, ia menoleh dan menatap lampu tidur yang sudah mati.
Perlahan Ia bangkit, tapi rasa pusing di kepalanya sangatlah sakit hingga butuh beberapa saat baginya untuk diam baru mengangkat kepala.
"Oh... kau sudah bangun" ujar Hans yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"A-aku membawakan mu sarapan" ucap Hans gugup sambil tiba-tiba membalikkan badan.
Alisya tidak tahu mengapa Hans bersikap seperti itu, tapi saat merasakan tubuhnya yang terasa dingin barulah ia sadar bahwa ia hanya memakai penutup dadanya saja.
Aaaaaahhhh....
"Jangan lihat!" teriak Alisya.
Dengan cepat ia mencari pakaiannya dan bergegas memakainya, barulah Hans berbalik dan menyimpan nampan yang berisi sarapan itu di atas meja.
"Ini... sarapan mu" ujar Hans.
"Terimakasih.. " jawab Alisya.
Ia mengambil air putih itu dan meminumnya, selesai minum Alisya baru mempertanyakan keberadaannya saat ini yang tidak ia ketahui.
__ADS_1
"Kau ada di kamarku" jawab Hans.
"Kenapa aku di sini? dan... kenapa tadi aku berpakaian seperti tadi? ah.... jangan-jangan... kau.. dan aku.... kita... sudah... " ujar Alisya mulai histeris sebab bayangan buruk telah memenuhi kepalanya.
"I-itu tidak benar, tidak terjadi apa pun diantara kita" jawab Hans cepat.
"Lalu kenapa aku ada di sini?" tanya Alisya.
Hans tidak bisa menjawab, dengan susah payah ia telah menyembunyikan kebenarannya dari Alisya agar dia tidak trauma. Tapi kini ia juga tidak punya alasan yang masuk akal untuk menjelaskan situasi mereka saat ini.
Tok Tok Tok
Ketukan di pintu itu cukup membuat mereka kaget, Hans bergerak menuju pintu untuk melihat siapa yang bertamu. Tapi wajahnya mendadak kaget saat seorang wanita tua berdiri tepat di hadapannya dengan di dampingi vampire, Hans ingin mengambil pedangnya tapi benda itu tersembunyi cukup jauh dari jangkauannya.
"Siapa itu?" tanya Alisya menengok.
"Nenek!" panggil Alisya kaget.
"Ah.. Alisya... sayangku.... kau selamat nak" jawab Joyi yang segera berlari menghampiri.
Mereka berpelukan cukup lama sambil Joyi tak henti menciumi Alisya, rasa syukur dan lega membludak seketika melihat cucunya dalam keadaan baik.
"Ka-kau... neneknya? bagaimana anda tahu dia di sini?" tanya Hans sebab ia tidak menyiarkan identitas Alisya.
"Kau... Hans Hermes!" ujar Joyi dengan nada tajam.
"Ba-bagaimana anda tahu siapa saya?" tanya Hans heran.
"Siapa yang tidak mengenal mu? kau... dan kakek mu... sudah aku kira dalang di balik semua ini adalah kalian" ujar Joyi murka.
"Apa maksudmu?"
"Tidak perlu mengelak, semuanya sudah terbukti dengan jelas" ungkap Joyi.
"Ayo Alisya, kita pulang" ajak Joyi kini dengan nada yang lebih lembut.
Ia membantu Alisya berdiri dan cepat meninggalkan tempat itu, sedang Hans hanya mematung tanpa tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
Beberapa waktu yang lalu Jhon mengabari Joyi bahwa ia melihat bukti adanya tanda bahwa Alisya pernah ke dermaga bersama seseorang, di tempat kejadian ia menjelaskan adanya bekas pertarungan di sana.
Hati Joyi semakin hancur tatkala ketakutan akan kondisi Alisya yang belum pasti, dari dermaga Jhon menuntun Joyi untuk mengikuti jejak hingga mereka sampai di perumahan yang tidak terpakai.
Di sana Jhon juga melihat bekas pertarungan, namun kali ini ia bisa mengatakan bahwa pertarungan ini antara vampire dan penyihir. Dari sana Jhon kembali mengikuti jejak hingga sampai di rumah Hans, dengan penuh percaya diri Jhon mengatakan Alisya ada di dalam sana.
Kini Alisya sudah pulang dan di sambut oleh Aeda dengan segelas teh manis yang hangat, Chad yang baru di beritahu bahwa Alisya sudah ketemu segera menghampirinya dan memeluknya dengan erat.
"Maaf... maafkan aku yang tidak bisa diandalkan" bisiknya penuh penyesalan.
"Katakan siapa yang telah menculikmu?" tanya Chad melepaskan pelukannya.
"Hans, Hans Hermes yang telah melakukan semua ini" jawab Joyi.
"Sialan! akan ku beri dia pelajaran" ujar Chad penuh emosi.
"Chad!" panggil Joyi menghentikan langkahnya.
"Ini bukan waktu yang tepat, Alisya baru saja kembali jadi biarkan keadaan rumah kita tenang dulu. Nenek masih syok atas insiden ini, tolong jangan buat sesuatu yang membuat nenek khawatir lagi"
"Nenek... baiklah" ujar Chad menurut.
"Alisya.. pergilah ke kamar mu dan istirahatlah" perintah Chad.
"Nenek akan mengantarmu sayang, ayo!" ajak Joyi.
Alisya menurut, dia berjalan diiringi Joyi di sampingnya. Mereka masuk ke dalam kamar dan Alisya pun segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Alisya... nenek tahu kau masih lelah, tapi... bisakah kau menceritakan apa yang telah terjadi padamu?" tanya Joyi.
Alisya terdiam sejenak, mencoba mengingat apa yang telah terjadi padanya hingga bisa berakhir di kamar Hans.
"Aku tidak tahu" jawabnya.
"Apa maksud mu tidak tahu?" tanya Joyi heran.
"Aku tidak ingat apa pun, terakhir kali yang aku ingat adalah Agler membawaku ke dermaga. Kemudian tiba-tiba semuanya gelap dan saat aku buka mata aku sudah berada di kamar itu, selain itu... "
"Selain itu?" tanya Joyi.
__ADS_1
"Aku.... tidak memakai busana"
"Apa?" tanya Joyi dengan nada tinggi.