
Sentuhan itu masih saja terasa di tengkuknya, juga nafas yang kian memanas seiring pergerakan lembutnya. Lagi dan lagi rambutnya menghalangi pandangan, namun itu tidak masalah karena yang terpenting adalah ia bisa merasakannya di atas.
Jantungnya semakin berdegup dengan kencang dan akan meledak, hingga kemudian ada ruang kosong yang menyebabkan kehampaan.
Hhhhhhhhh
Hembusan nafas yang hampir yang sama dengan keputusasaan, membebani langkahnya yang harus naik naik meski jumlahnya hanya tiga.
Seorang pelayan membungkukkan kepalanya sebagai ganti sapaan, ia membalas dengan senyuman kecil. Seperti biasa kakinya terus melangkah memasuki rumah itu, berjalan hingga menuju ruang makan.
"Hai San! selama pagi" sapa Alisya yang pertama kali melirik.
"Pagi... nona.. " sahutnya.
Tapi mata itu, tertuju pada gadis yang seharusnya tidak ada di sana. Keningnya berkerut dengan tubuh yang tak bergeming, sementara gadis itu hanya bisa menatap sejenak kemudian mengalihkan pandangannya.
"Oh Manager San, kau mau bergabung dengan kami?" tanya Joyi yang baru saja tiba.
"Ah, tidak, terimakasih nyonya saya... saya sudah sarapan di rumah" jawabnya tersadar.
"Kau sarapan terlalu pagi, lain kali kau harus kosongkan perutmu dan sarapan dengan kami" ujar Alisya.
Manager San hanya bisa tersenyum, tak lama kemudian Chad menyelesaikan sarapannya dan segera pergi bersamanya.
Dalam perjalanan ke kantor fokusnya terbagi dua antara jalan dan Kyra, tentu baru saja tadi ia memimpikan gadis itu dan kini tiba-tiba mereka bertemu di tempat yang tidak seharusnya.
"Um... tuan muda, jika boleh aku ingin bertanya" ujarnya memutuskan agar tanda tanya di atas kepalanya itu hilang.
"Katakan"
"Kenapa nona Kyra ada di kediaman mu?" ucapnya.
Chad sedikit mendengus, tapi kemudian ia menjawab.
"Dia mengalami trauma karena perlakuanku terhadapnya, dia tidak bisa menerima kenyataan itu dengan mudah karenanya aku akan menjaganya sampai dia sembuh"
"Begitu rupanya" gumamnya.
Jelas Manager San sangat tahu kesedihan yang di alami Kyra karena ia ada di sana saat Kyra terpuruk, bahkan ia menjadi alat perangkul bagi gadis itu.
* * *
Meski masalah meradang tapi sebisa mungkin mereka menutupinya, meski jelas terlihat sebuah kepura-puraan tapi hidup harus tetap berjalan.
Seperti pagi yang biasanya keluarga itu berkumpul di ruang makan meski kehilangan selera untuk makan, Jack seperti biasa memimpin keluarga besarnya agar terlihat baik-baik saja.
"Dimana Blue?" tanyanya melihat bangku tempat biasa Kyra duduk kosong.
"Aku akan mengantar makanan untuknya nanti" sahut Violet.
Tak ada pertanyaan lagi, itu menguntungkan Violet karena dia tak mau berdebat dengan Jack.
Kemarin tanpa sepengetahuan siapa pun ua segera bicara empat mata dengan Kyra, menekannya untuk semua rencana yang telah ia susun dengan rapi.
Tanpa di duga kini Kyra menurut tanpa ada perdebatan yang tak perlu, ia seperti keledai yang siap di bawa bahkan ke jurang sekali pun.
Selesai sarapan Shigima pergi ke kantor dengan Jack, Ryu pergi ke rumah sakit tempat ia bekerja sementara yang lain sibuk dengan urusan masing-masing.
Melihat situasi yang cukup aman Violet bergegas pergi, menuju kediaman Joyi untuk melihat putrinya.
Sampai di kediaman Joyi ia di sambut baik oleh para pelayan, begitu juga dengan Kyra yang senang akan kunjungan itu.
"Maaf karena telah merepotkan anda"
"Tidak, tentu saja tidak. Kau berhak menemui Kyra kapan pun kau mau, silahkan kalian berbincang" jawab Joyi yang kemudian meninggalkan mereka berdua.
"Putriku... bagaimana?" tanya Violet penasaran.
"Mereka memperlakukan ku dengan baik, aku senang tinggal di sini"
__ADS_1
"Itu bagus, di rumah ini tidak ada perdebatan jadi kau bisa fokus belajar" ujar Violet yang tak sadar bahwa dialah sumber perdebatan itu.
"Apa mereka menanyakan ku?"
"Tentu saja, kakek mu seperti biasa menanyakan mu tapi ibu tidak bilang. Dia juga tidak bertanya lagi jadi sebaiknya kau berhenti memikirkan keluarga ayah mu itu, yang paling utama adalah meski kau dan Chad tidak bisa menikah tapi dia bisa bersama mu" jawabnya.
Kyra mengangguk dan sedikit tersenyum.
"Kali ini kita tidak boleh ikut dalam masalah ini, biarkan apa pun yang terjadi jangan pernah mencampurinya. Kita hanya punya satu sama lain, kita harus memikirkan nasib kita sendiri" ujar Violet sambil mengelus rambut Kyra dengan lembut.
"Aku mengerti" jawabnya.
Meski ingin berlama-lama di rumah yang lebih indah dari kediaman Hermes tapi Violet tahu ia harus tahu diri, puas bercengkrama dengan Kyra ia segera berpamitan.
* * *
Berkali-kali ia melirik jam di tangan hingga sebuah teriakan membuatnya menengok ke belakang, dari jauh Ima melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.
Begitu lampu merah menyala dengan cepat ia berlari menyebrang jalan, seperti biasa keceriaan segera datang begitu ia sampai.
"Kau menunggu lama?" tanyanya.
"Aku bahkan hampir menjadi gosong karena mu" gurau Alisya.
"Maafkan aku, kau tahu butuh waktu untuk sampai di sini"
"Sudahlah ayo pergi" ujar Alisya.
Hari ini dua gadis itu berencana menonton sebuah film, bukan film romantis yang biasa tapi sebuah film horor yang cukup menjijikkan. Ini karena Alisya kalah dalam permainan saat mereka melakukan pesta piyama di rumah Ima, akibat kekalahan itu Alisya harus membayar tiket bioskop untuk Ima dan mentraktirnya makan.
"Ah...aku paling benci hal ini, aku yakin seumur hidup aku akan menyesalinya" ujar Alisya saat mereka telah duduk di kursi.
"Ayolah... ini tidak seburuk itu, kau hanya perlu menutup mata saat ketakutan"
"Mudah bagimu untuk bicara" sahut Alisya agak kesal.
Ima hanya tersenyum menanggapi ucapan itu, tak termakan ekspresi cemberut Alisya dengan santai ia menikmati film yang di putar.
"Kapan kita akan melakukan pesta piyama di rumah ku?" tanya Alisya.
"Kapanpun kau mau"
"Ada sedikit perubahan di rumah, apa kau tidak masalah?"
"Ada apa?" tanya Ima penasaran.
Alisya sedikit berfikir sambil menggigit bibir bawahnya, baru kemudian ia bicara.
"Ada seorang gadis yang ikut tinggal di rumah kami"
"Siapa?"
"Namanya Kyra, dia sepupu Chad yang lain. Kau ingat saat memberikan kado natal untuk ku? kalian sempat bertemu waktu itu" jawabnya.
Ima termenung, menerka apa yang telah terjadi sampai Kyra bisa tinggal serumah dengan Chad.
"Tidak masalah, lebih banyak orang lebih seru bukan?" ujar Ima.
"Baiklah kalau begitu malam ini juga kau menginap" sahut Alisya.
Ima mengangguk setuju, tidak masalah baginya akan kehadiran Kyra tapi hatinya menagih penjelasan dari Chad.
Sore itu mereka tiba di rumah, dengan senang Joyi menyambut kedatangan Ima sementara Kyra hanya bisa menatap heran. Tapi kemudian mengingat bagaimana hubungan Chad dan Ima memang wajar jika Ima di terima dalam keluarga itu.
"Terkadang Chad makan malam di luar, biasanya aku juga selalu sibuk hingga pulang larut malam dan membiarkan Alisya makan sendiri. Tapi malam ini dengan kunjungan mu dan Kyra akhirnya aku bisa merasakan makan malam yang bahagia" ujar Joyi di ruang makan.
Mereka banyak bercengkrama terlebih Ima yang dengan bebas bisa bicara kepada Joyi dan Alisya, membuat Kyra sedikit iri sebab dia hanya bisa menjadi pendengar.
Selesai makan malam Joyi pergi untuk mengurus beberapa hal, meninggalkan tiga gadis yang masih duduk di ruang makan.
__ADS_1
"Kyra, kami mau melakukan pesta piyama. Apa kau mau ikut?" tawar Ima.
"Itu... sepertinya aku akan pergi tidur saja" jawab Kyra ragu.
"Ayolah, ini tidak akan membosankan" bujuk Ima.
"Benar, lebih banyak orang maka akan lebih seru" tambah Alisya.
Karena mereka terus mendesak tanpa henti akhirnya Kyra menyerah juga, ia berfikir untuk tetap berperan sebagai pendengar yang baik saja. Tapi di pesta piyama itu Alisya yang terlihat anggun berubah menjadi cerewet dan banyak bertanya, membuatnya sulit untuk menyangkal.
"Aku tidak pernah tahu kalau Chad punya sepupu lain, sebenarnya bagaimana hubungan mu dengan Chad yang sebenarnya?" tanya Alisya yang membuat Ima jauh lebih kaget dari Kyra.
Tentu saja karena itu berarti Alisya tidak tahu tentang segala permasalahan yang terjadi pada Chad, hal ini membuat Ima berfikir bahwa Alisya juga tidak tahu tentang persaudaraan antara Chad dan Agler.
"Aku... ayah ku adalah kakak dari ayah Chad" jelas Kyra secara singkat.
"Begitu rupanya, tapi sekian lama kenapa kau baru datang menengok?" tanya Alisya lagi.
"Sebelumnya aku tinggal di luar negri, karena itu aku baru datang"
"Ah begitu rupanya" gumam Alisya.
Pertanyaan demi pertanyaan terus di ucapkan dan Kyra terus menjawab dengan singkat tanpa menjelaskan lebih rinci, seolah ia ingin menutupi hubungan yang pernah terjalin antara Chad dan dirinya.
Semakin larut akhirnya pesta itu berakhir saat mereka mulai mengantuk, tidur di satu ranjang yang sama dan saling berbagi selimut anehnya membuat Kyra nyaman hingga tertidur dengan lelap.
Tapi Ima yang sudah biasa hampir terjaga setiap malam memutuskan untuk pergi keluar, menemui Chad yang baru pulang dan tengah beristirahat di perpustakaan sambil membaca buku.
"Kau benar-benar suka membaca, mau ku ambilkan minum?" tanya Ima.
"Tidak perlu, bagaimana pestanya?"
"Menyenangkan seperti biasa" jawab Ima.
Chad mengangguk beberapa kali sebelum kemudian kembali pada bukunya.
"Um.... Chad, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu" sahut Chad.
"Apa Alisya tidak mengetahui semua kenyataan ini? dia bahkan sepertinya baru bertemu Kyra dan tidak mengetahui kau saudara kak Agler" ujarnya.
Mata Chad menjadi kosong karena pertanyaan itu, di tutupnya buku itu masih sambil melamun. Setelah beberapa detik termenung ia pun menjawab.
"Sebisa mungkin aku ingin menutupi semuanya dari Alisya, dia adalah keluarga pertama yang aku kenal sekaligus orang asing jadi aku tidak ingin melibatkannya dalam masalah ini"
"Tapi Chad, Alisya sempat hilang dan kau bilang Hans adalah penculiknya. Itu berarti hidupnya dalam bahaya sama seperti mu, bagaimana bisa kau sembunyikan semua fakta ini jika dia terlibat langsung"
"Aku tahu, inilah yang sedang aku coba perbaiki"
"Setidaknya dia harus tahu garis besarnya, dia juga berhak tahu ikatan saudara yang kau dan kak Agler miliki" ujar Ima tegas.
"Akan ku ceritakan semuanya, aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk bicara" jawab Chad.
Keinginan Chad untuk melindungi Alisya memang tindakan benar, tapi menutupi semua masalah darinya juga bukan hal bisa di benarkan.
* * *
Terlalu fokus pada masalah Chad membuat Jack melupakan seisi rumah yang mengkhawatirkannya, kesadarannya baru kembali saat malam itu Jessa tiba-tiba terjatuh di kamar mandi.
Barulah ia sadar bahwa ia belum memberikan pil untuk menjaga kesehatan Jessa, menyesal pada kecerobohannya Jack lantas pergi ke tempat biasa ia dan Tianna bertemu.
Sayangnya Tianna tidak pernah muncul, bahkan hingga pagi menjelang tidak ada tanda-tanda kemunculannya.
"Kenapa ia tiba-tiba menghilang?" gumamnya resah.
Lelah menanti sepanjang malam akhirnya ia memutuskan untuk pulang membawa kekesalan, kakinya baru saja melangkah memasuki area rumah seorang pelayan tiba-tiba berlari menghampirinya.
"Ada apa?" tanyanya heran melihat raut wajah cemas sang pelayan.
__ADS_1
"Nyonya... dia tidak bisa bangun dari tempat tidurnya"
"Apa?" teriak Jack kaget.