
Kemeja putih yang bersih dibalut jas hitam lembut menunjukkan betapa gagahnya tubuh itu, tangannya beralih ke sebuah laci di mana dasi-dasi itu tersusun dengan rapi. Sejenak ia berfikir untuk memutuskan dasi mana yang akan ia pilih, tentunya haruslah dasi yang menyempurnakan penampilannya.
Ceklek
Ia menoleh saat mendengar pintu kamar di buka, rupanya Joyi yang datang untuk melihat persiapan cucunya.
"Kau akan memenuhi undangan yang mana?" tanyanya.
"Violet"
"Kenapa? bukankah kau ada janji dengan Ima?" tanya Joyi.
Chad tertegun, jelas karena ia tidak pernah menceritakan undangan makan malam dari ayah Ima.
"Dari mana nenek tahu?
"Kau tidak bisa menyembunyikan apa pun dari nenek" ujarnya.
"Pergilah temui Ima, jangan kecewakan dia biar Violet nenek yang urus" lanjutnya.
"Bagaimana nenek akan mengurusnya?"
"Kau tidak percaya pada nenek? hanya karena nenek melakukan satu kesalahan bukan berarti nenek sembrono" ujar Joyi merasa tersinggung.
"Ah, maaf..bukan maksud ku seperti itu. Baiklah akan ku percayakan kepada nenek" ucap Chad melembut.
Sejujurnya ia pun senang sebab akhirnya bisa memenuhi undangan dari Colt, seorang diri ia membawa mobilnya melaju di jalan dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai.
Sementara itu Joyi bergegas menemui Aeda setelah memastikan Chaf benar-bebar pergi.
"Kau sudah mempersiapkannya?" tanyanya.
"Seperti yang anda minta" jawab Aeda.
"Baiklah, ayo kita pergi" ujarnya sambil berjalan lebih dulu.
Saat Chad dalam perjalanan menuju rumah Ima, Joyi dan Aeda pun dalam perjalanan menuju kediaman Hermes.
Sampai di tujuan Chad sempat berkaca pada spion hanya untuk memastikan segalanya telah sempurna, mengambil botol anggur yang di taruh di dalam kotak ia pun keluar dari dalam mobil.
Sementara itu Joyi yang juga sudah sampai di kediaman Hermes berkata.
"Ingat semua yang sudah aku katakan, jangan membuat kesalahan."
Seorang pria di bangku belakang hanya mengangguk dengan ragu sebab ancaman itu terasa menakutkan.
Tok Tok Tok
Chad terdiam sejenak, menunggu pemilik rumah membukakan pintu. Berbeda dengan pria yang di bawa Joyi, saat ia keluar dari mobil para pelayan segera datang menyambut kedatangannya.
Ceklek
Pintu di buka memperlihatkan Ima dengan wajah kaget menatapnya, ia tak menyangka Chad benar-benar akan datang.
"Sayang...siapa itu?" tanya Mina dari dalam.
Di kediaman Hermes sendiri Violet yang telah berdandan rapi menyambut kedatangan pria itu dan mempersilahkannya untuk masuk.
"Siapa yang datang berkunjung?" tanya Jack sambil berjalan menghampiri.
"Tuan muda Chad" jawab Violet bergerak ke samping agar ayah mertuanya dapat melihat.
Meski sudah tua tapi Jack tidaklah pikun, ia ingat wajah anak muda itu. Wajah yang ia temukan di hutan saat berburu monster yang memangsa manusia, tak percaya pada apa yang di lihatnya Jack hanya bisa tertegun.
Sama halnya dengan Mina yang tertegun saat melihat Chad berdiri dengan pakaian rapih di balik pintu setelah Ima membukanya lebar-lebar.
"Agler? kau bilang ada urusan penting?" tanya Mina.
Chad tertegun, tentu karena dia baru bertemu dengan Mina tapi Mina bersikap seolah mengenalnya. Apaladi dia di panggil dengan nama yang tidak ia kenal, nama yang pernah di panggil Ima saat pertama kali bertemu.
"Selamat malam nyonya" sapa Chad.
"Ada apa sayang?" tanya Colt menghampiri.
"Oh cepat sekali kau pulang, apa urusan mu sudah selesai? um....kenapa kalian diam?" tanya Colt yang masih tidak mengerti keadaan.
"Um....ayah...ibu...perkenalkan dia Chad" ujar Ima akhirnya.
Mereka semua terdiam, memperhatikan Chad dengan seksama terlebih Mina yang menatap dengan teliti
Hahahaha
"Jika kau ingin membuat alasan maka buatlah yang bagus, menjadikan kakak mu sebagai pacar mu itu sungguh menggelikan" ujar Colt.
E-hmm
__ADS_1
Chad berdeham mendengar kata pacaran sebab sejujurnya hubungan mereka belum sejauh itu, melihat reaksi mereka yang serius tawa Colt terasa hambar dan menghilang.
"Tidak, dia bukan Agler. Putra ku tidak memiliki mata seperti itu" ujar Mina tiba-tiba yang membuat semua orang terpaku padanya.
Hampir dua puluh tahun Mina merawat Agler dengan tangannya, selama itu ia selalu melihat dan mendengarkan putranya tentu saja sekecil apa pun itu Mina mampu melihat perbedaan yang ada pada Agler.
Dari segi fisik ia akui memang Chad sangat mirip dengan Agler, tapi insting seorang ibu tidak pernah salah. Mata Chad nampak dingin dan tajam, memancarkan duka yang teramat dalam dan gelap berbeda dengan sorot mata Agler yang hangat.
"Ah maafkan aku, kenapa berdiri di luar? ayo masuk!" ajak Mina kembali tersenyum.
"Hmm, terimakasih" jawab Chad.
Ia sempat melirik Ima sebelum kemudian mereka masuk ke dalam, tanpa lupa menyerahkan hadiah yang dia bawa mereka langsung menuju ruang makan.
"Maaf, ku pikir kau tidak akan datang sebab Ima berkata kau sangat sibuk jadi....aku tidak memasak yang istimewa" ujar Mina.
"Tidak perlu di pikirkan, saya memang cukup sibuk tapi saya tidak bisa menghiraukan undangan makan malamnya"
"Kau....sungguh Chad? bukan Agler?" tanya Colt lagi yang baru melihat perbedaan dari kedua orang itu.
Dengan canggung Chad hanya mengangguk, sadar mereka orang yang berbeda Colt menatap Mina penuh arti. Tentu Mina langsung paham tapi ia tak bereaksi apa pun yang bisa membuatnya menjadi pusat perhatian.
Makan malam berlangsung begitu saja dengan obrolan seputar keluarga Chad, hal ini sangat wajar mengingat bagaimana miripnya wajah Chad dengan Agler.
Tak lupa Colt menunjukkan foto keluarga mereka dan beberapa foto Agler lainnya yang membuat Chad terkejut, ia tak menyangka ada orang yang sangat mirip dengannya.
Setelah acara makan malam Colt mengajak Chad mengobrol di ruang tamu, kini topik yang ia bicarakan beralih pada hubungan Chad dan Ima. Tentu Colt cukup mengerti bahwa Chad memiliki perasaan, sebab seorang pria tidak akan memenuhi undangan dari ayah di gadis jika dia tak punya niat sungguh-sungguh.
"Saya rasa terlalu dini untuk mengatakan bahwa kami memiliki hubungan yang spesial, memang kami cukup saling mengenal tapi belum ada sesuatu yang lebih. Meski begitu saya berjanji akan menjaga Ima" ujar Chad.
Colt cukup senang sebab Chad adalah pria kaya yang terpelajar dan bertanggung jawab, dia juga kelihatan dapat di percaya sehingga mereka pun menjadi akrab.
Topik berubah lagi mengingat Chad adalah orang yang menyelamatkan hidupnya, ia mulai bertanya hubungan apa yang Chad miliki dengan Jhon.
"Paman Jhon adalah guru yang sudah ku anggap sebagai keluarga ku sendiri" jawabnya.
Tentu Colt tahu arti guru yang di maksud, itu sama seperti Nick yang menjadi bagian dari keluarga mereka setelah mengajari kedua anaknya tentang dunia vampire.
"Tolong sampaikan salam ku kepadanya, setelah kejadian itu kami tidak bertemu lagi"
"Tentu, akan saya sampaikan" jawab Chad.
Colt tersenyum, ia mengambil gelas berisi anggur yang di bawa Chad. Mereka bersulang sebelum akhirnya minum dan melanjutkan obrolan ke hal yang lebih ringan.
* * *
"Omong kosong, apa yang ku takutkan?" sahut Ima semakin menggosok dengan penuh tenaga.
Mina hanya tersenyum melihat tingkah putrinya itu, dulu ia pun sama gugupnya saat Colt datang ke rumah untuk melamar. Hari yang tidak akan pernah di lupakan seumur hidupnya.
"Kelihatannya ayah mu menyukai Chad"
"Benarkah?" tanya Ima yang langsung menoleh.
Mina tertawa kecil melihat sebegitu tertariknya Ima, tawa yang membuat Ima malu dan kembali menyelesaikan pekerjaannya.
"Mari selesaikan sesi cuci piring ini dan bergabung dengan mereka" ujar Mina meraih lap untuk membantu.
Ima tak memberi komentar apa pun, ia takut akan melakukan tindakan bodoh lagi yang meebuatnya malu. Selesai mencuci semua piring kotor Mina dan Ima bergabung dengan membawa cemilan ringan untuk menemani obrolan mereka.
Hari itu Ima yang biasanya cerewet dan tidak bisa diam tiba-tiba menjadi pendengar yang baik, sebaliknya Chad menjadi periang.
Hingga tanpa terasa malam semakin larut dan mengharuskan Chad pamit, diantar oleh Ima ia pergi keluar menuju mobilnya yang terparkir.
"Aku pikir kau akan mati, syukurlah semuanya berjalan dengan baik" gumam Ima.
"Kenapa aku harus mati?" tanya Chad.
"Ayah cukup ketat, dia tidak akan membiarkan sembarangan laki-laki mendekatiku"
"Jadi kau mengkhawatirkan ku? itukah alasan mengapa kau menyuruhku untuk tidak datang?" tanya Chad.
Biasanya Ima selalu terbuka, bahkan ia tidak ragu untuk menyatakan perasaannya. Tapi entah mengapa pertanyaan yang di ajukan Chad membuatnya malu, dengan tegas ia berkata.
"Siapa yang mengkhawatirkan mu? aku hanya takut semuanya jadi kacau"
"Begitu rupanya.." ujar Chad menahan tawa sebab wajah Ima yang nampak lucu.
"Um...terimakasih" ucap Ima pelan.
Entah mengapa tapi Chad sadar ada yang lain dari Ima, matanya tidak berani menatap Chad bahkan wajahnya merona seolah menutup malu. Malam itu, Ima terlihat lebih manis sampai membuat Chad gemas namun yang ia lakukan hanya mengusap kepala Ima untuk menyalurkan perasaannya.
Dengan senyum yang terasa hangat usapan di kepala itu justru membuat Ima semakin malu, telinganya sampai berdenging karena panas.
"Terimakasih juga atas makan malamnya" ujarnya.
__ADS_1
* * *
Ia berharap makan malam itu berlangsung dengan cepat agar tak ada kesalahan yang ia perbuat, tapi bahkan semenjak ia datang tatapan Jack dan yang lainnya terlalu tajam sehingga hampir membuatnya lari ketakutan.
"Silahkan di cicipi, malam ini khusus Kyra yang memasak semuanya untuk mu" ujar Violet menaruh sepotong daging di piringnya.
"Terimakasih" jawabnya.
Ia mulai memotong meski matanya tak bisa berhenti menatap sekeliling, memperhatikan satu persatu anggota keluarga Hermes.
Ia pikir akan mendapat pertanyaan seputar hubungan yang terjalin antara Chad denga Kyra, biasanya seorang ayah akan melakukan hal itu tapi ternyata tidak. Justru ia merasa kehadirannya tidak di inginkan, melihat situasinya ia berasumsi hubungan antara Chad dengan Kyra tidak mendapatkan restu.
"Kami sangat senang kau mau hadir, ini adalah makan malam terbaik yang pernah aku rasakan" ujar Violet tanpa memperdulikan tatapan Ryu yang tidak suka.
"Suatu kehormatan bagi saya bisa hadir di sini" balasnya.
"Ah nak Chad, kau tahu Kyra masih belia dan tengah di sibukkan dengan sekolahnya. Meski begitu aku harap kau tetap mau berkunjung atau sekedar mengajak Kyra jalan-jalan untuk menghilangkan kepenatannya setelah seharian belajar, kau tidak keberatan kan?"
"Violet!" panggil Ryu tajam.
Tapi panggilan itu di balas dengan tatapan yang mengisyaratkan untuk tidak ikut campur.
"E-hmm, jika anda mengijinkan tentu tidak" jawabnya canggung.
"Itu bagus" ujar Violet.
Akhirnya acara makan malam selesai meski terasa sangat lama, berulang kali ia melihat Violet memberi isyarat kepada Kyra entah dengan maksud apa.
"Bagaimana jika kita mengobrol sambil minum kopi?" tawat Violet.
"Sepertinya nak Chad terlihat sibuk, saya tahu anda punya banyak pekerjaan jadi saya bisa memakluminya" ujar Jack tiba-tiba.
"Um...itu..."
"Hanya kali ini saja, kau pasti bisa meluangkan sedikit waktu mu" sahut Violet lagi tanpa memberikannya waktu untuk menjawab.
"Kita tidak boleh egois Violet, biarkan nak Chad pualng untuk beristirahat" balas Ryu yang satu pemikiran dengan Jack.
Violet nampak kesal tapi ia tidak bicara lagi, sadar akan situasi yang buruk akhirnya ia memutuskan untuk pamit.
Dengan berat hati Violet mengantarkan kepergiannya sampai depan gerbang, begitu mobil melaju pergi dengan cepat ia berjalan masuk dan bertanya dengan nada tinggi.
"Apa iti tadi?"
"Apa maksud mu nak?" tanya Jack.
"Tidak usah pura-pura aku tahu ayah mencoba mengusirnya" teriaknya.
Jack terdiam, sekilas saja ia sudah tahu bahwa Violet menyukai pemuda bernama Chad itu. Tapi apa yang akan ia katakan ini adalah alasan di balik tindakannya barusan.
"Chad bukanlah pria yang tepat untuk Blue"
"Dari mana ayah tahu itu? ayah baru bertemu dengannya"
"Ayah sudah pernah bertemu dengannya, dia adalah vampire yang memangsa manusia di hutan" jelas Jack yang membuat semua orang di sana terperanjat kaget.
"Maksud ayah...dia dalang di balik teror itu?" tanya Shigima.
"Ya, malam itu ayah merasakan aura pembunuh darinya. Bahkan ayah sempat beradu pedang dengannya, dia beralasan sebagai vampire pengelana yang juga mencari monster itu sebab ulah monster itu ia juga kehilangan makanannya"
"Omong kosong apa yang sedang ayah katakan?" tanya Violet yang membuat Jack tertegun.
"Violet apa yang kau katakan?" tanya Ryu cemas.
"Jangan ikut campur! kau pun sama saja, ayah bilang malam itu berarti bisa saja ayah salah lihat. Kalau pun memang dia orangnya bukankah dia sudah memiliki alasan yang logis atas keberadaannya?" ujar Violet.
"Apa kau tidak sadar dengan apa yang kau ucapkan? kau akan menyerahkan putrimu kepada seorang vampire penghisap darah?" tanya Jack.
"Memangnya kenapa jika dia vampire? bahkan aku pun menikah dengan seorang penyihir! ingat ayah! keluarga mu adalah seorang penyihir, bukan manusia normal jadi jangan ajari aku tentang hal ini sebab aku lebih berhak atas putri ku!" teriak Violet penuh amarah.
Tak ada jawaban yang bisa membantah ucapan itu, Jack sadar semuanya benar dan kemungkinan dia yang salah.
* * *
Pintu terbuka, ia keluar dan segeta masuk ke dalam rumah dimana sebagian lampu telah di matikan. Joyi dan Aeda telah menunggunya sedari tadi dengan resah, melihat dia pulang tanpa lecet sudah dapat di pastikan semuanya berjalan dengan lancar.
"Aku melakukan apa yang anda suruh, mereka tidak banyak bertanya justru seolah tidak menginginkan keberadaanku" ujarnya melaporkan.
"Itu bagus, ini bayaran mu" ucap Joyi sambil menyerahkan sebuah amplop.
"Terimakasih"
"Sama-sama, ah..aku lupa siapa nama mu!?" ujar Joyi lagi.
"Agler nyonya" jawabnya.
__ADS_1