Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 145 Saat Semuanya Terungkap


__ADS_3

Di tengah kesunyian dan ketidakberuntungan, satu-satunya anggota Hermes yang tersisa masih mencoba menghidupkan suasana dengan mengajak berkumpul untuk menikmati teh melati yang wangi.


Semuanya begitu tenang, mungkin karena masing-masing berada pada benaknya yang terisolasi. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, Kyra datang dengan wajah serius yang menyimpan rasa kesal.


"Haruskah selalu seperti ini?" ujarnya tiba-tiba.


"Kyra... " panggil Jack pelan.


"Meskipun aku pergi tapi kau tidak memberikan ketenangan dalam hidup ku, sekarang pemicu apa yang membuat Ima hampir meregang nyawanya?"


"Kyra!" bentak Amelia.


"Pertama sebagai yang termuda kau harusnya mengucapkan salam terlebih dahulu, kedua kau harus menggunakan bahasa yang sopan dan yang ke tiga kau harus cari tahu dulu bagaimana kisah yang sebenarnya sebelum menumpukkan kesalahan kepada keluarga mu sendiri" ujarnya tegas.


"Begitukah? aku minta maaf atas kelancangan ku tapi kasus yang menimpa Ima itu berbeda, dia bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga ini dan tidak semestinya menjadi korban"


"Kau..."


"Amelia... aku mohon... " sela Shigima yang lelah dengan pertikaian itu.


"Kyra, aku minta maaf atas apa yang menimpa Ima. Aku menyesal itu harus terjadi tapi hal itu memang di luar kendali ku"


"Seandainya kau tidak mengajak Chad berkelahi mungkin hal itu bisa di hindari" tukasnya.


Shigima sudah membuka mulut tapi tak ada kata yang keluar, ia terdiam dan memikirkan masalahnya.


"Kau sudah keterlaluan Kyra, kau benar-benar tidak tahu malu" tukas Amelia.


"Kau baru saja menjelaskan tentang dirimu" balas Kyra yang membuat Amelia semakin naik pitam.


"Sungguh? sebelum kau datang kemari hanya untuk marah apa kau sudah tahu bahwa Chad menculik Jessa? sangat wajah Shigima marah karena tindakan Chad begitu pengecut"


"Apa? Chad... menculik nenek Jessa?" ulang Kyra.


"Ya, kau tidak mempercayainya bukan?"


"Tidak mungkin, mengapa Chad harus melakukan itu?"


"Dia melakukannya sebagai syarat pertukaran dengan Joyi"


"Chad bukan orang yang seperti itu" ujar Kyra bersikukuh.


"Heh, kau sangat mempercayainya hingga tidak menerima keburukannya. Sekarang ikut aku dan kita buktikan!" tukasnya.


Dengan kasar Amelia menarik tangan Kyra dan membawanya keluar, tentu saja itu membuat sebuah kegaduhan terjadi. Jack yang paling merasa khawatir menyuruh Hans dan Shigima ikut serta untuk menghentikan mereka, atau melerai jika sebuah pertikaian yang lebih besar terjadi.


Tak butuh waktu lama Amelia dan Kyra sudah sampai di kediaman Chad, di susul dengan Hans dan Shigima.


"Biarkan kami masuk" ujar Amelia kepada pengawal yang berjaga di gerbang.


"Masuklah" teriak Chad sambil berjalan keluar.


Dari mata yang di pancarkan Amelia sudah jelas ada kebencian di sana, itu membuat Chad tahu bahwa pertikaian baru akan terjadi.


"Lihat bagaimana kau bisa mengambil hati gadis ini sampai yang ia percaya hanya dirimu" ujar Amelia melepaskan tangannya dari Kyra.


"Chad... apakah kau benar-benar menculik nenek Jessa?" tanya Kyra dengan harapan bahwa itu semua hanyalah tuduhan palsu.


"Ya" itu sebuah jawaban tegas tanpa ada keraguan di matanya.


"Kau dengar? sepupu yang kau puja itu penuh dengan tipu daya" sahut Amelia puas melihat raut wajah tak percaya dalam diri Kyra.


Sejenak, selain senyum Amelia tak ada lagi yang terlihat kecuali kekecewaan. Tapi mata Chad tetap menampakkan kepercayaan diri, ini karena memegang sebuah senjata.


"Lalu bagaimana dengan ayah mertua yang kau puja? hidup bertahun-tahun dengan satu atap harusnya membuatmu tahu juga bagaimana liciknya dia" ujar Chad.


"Jangan hina kakek mu sendiri, kau belum mengenal betul tentang dirinya" balas Amelia.


"Sepertinya kau yang belum mengenal tentang dia" sahut Chad sambil menyerahkan sebuah kertas kepada Amelia.


Dengan sedikit ragu dan selebihnya rasa penasaran Amelia mengambil kertas itu, membacanya dalam hati hingga ekspresinya berubah menjadi tak terduga.


"I-ini... " gumamnya.


"Jelas itu adalah tulisan tangannya" ujar Chad.

__ADS_1


Melihat ekspresi Amelia membuat Hans dan Shigima ikut penasaran, maka mereka pun mendekat untuk melihat isi di dalam surat itu.


Melihat satu persatu ekspresi kaget di wajah mereka membuat Chad tersenyum puas, pada akhirnya semua orang mengetahui siapa dalang yang sebenarnya.


"Ayah mertuamu, yang kau banggakan dan kau puja adalah pelaku penusukan nenek Joyi yang sebenarnya. Tapi dengan mudahnya ia memasang wajah tak berdosa bahkan sembunyi di balik punggung istri yang katanya paling berharga" ujar Chad.


"Ta-tapi.... ini pasti sebuah kesalahan, jelas ayah menyesalinya dan dia tidak sengaja melakukannya" bantah Amelia mencoba berfikir positif.


"Sungguh? bagaimana dengan pengorbanan Hans?" tanya Chad yang membuat Hans lebih terkejut dari siapa pun.


"Apa maksud mu?" tanya Shigima cepat.


"Jack membuat perjanjian dengan seorang vampire, dia memintanya menyembuhkan Jessa dan sebagai gantinya dia akan memberikan darah Hans" jawab Chad sambil menatap tajam kepada Hans.


Tentu pengumuman itu membuat semua mata terarah kepada Hans, termasuk Amelia dan Shigima yang meminta penjelasan.


"Sungguh heroik bukan? dia berani membuat perjanjian berdarah demi sang istri tercinta, tapi pertanyaannya adalah mengapa harus Hans? kenapa bukan dirinya saja? andai ayah ku tidak datang mungkin pernikahan Hans dengan vampire itu sudah terjadi akibat keegoisan Jack"


"Tianna.... pernikahan mu dengan Tianna, itu bukan cinta... itu... perjanjian?" tanya Amelia.


Tak ada yang bisa Hans katakan, semuanya adalah benar tapi ia sudah berjanji untuk bungkam.


"Hans katakan pada kami apakah itu semua itu benar?" tanya Amelia dengan nada yang lebih tinggi.


"Jika dia bisa mengorbankan paman Ken dan ayah ku kenapa dia tidak bisa mengorbankan cucunya? sungguh aku beruntung karena di adopsi oleh orang lain" ujar Chad.


Semakin Hans tak mau bicara semakin besar lubang yang ada di hati Amelia, meski ia begitu penasaran dengan penjelasan Hans tapi ia takut fakta itu akan semakin memperbesar lubangnya hingga melenyapkan hatinya.


Maka Amelia pun memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu, di susul oleh Shigima yang takut Amelia akan kehilangan kontrol.


Sementara Hans selama beberapa menit hanya bisa menatap Chad, mengalirkan air matanya sebagai ganti dari mulutnya yang di kunci.


Tanpa rasa bersalah Chad balas menatap hingga Hans akhirnya pergi, kini tersisalah Kyra sendiri.


"Chad... semua itu... apakah... semuanya benar?" tanya Kyra mencoba meraih kewarasannya.


"Agler menceritakan semuanya padaku semalam" sahut Chad.


Selesai bicara dengan Alisya memang semalam Agler menemuinya, awalnya mereka hanya membicarakan tentang Joyi tapi kemudian Agler memutuskan untuk memperlihatkan surat Jack yang ia ambil.


Ia pun akhirnya menceritakan rahasia lainnya yang di miliki Jack, itu adalah tentang perjanjian berdarah yang di miliki Jack dengan Tianna.


Ekspresi kagetnya semalam sama seperti Shigima dan Amelia, tapi perasaan selanjutnya yang hadir hanya sisa dari kebencian yang ada.


"Tianna, dia menyembuhkan mu karena Hans berjanji akan menikahinya"


"Apa?" tanya Kyra tak percaya.


"Harusnya setelah kau sembuh mereka menikah, tapi ayah ku menawarkan hal yang lain sehingga Hans bebas dari perjanjian" jelasnya.


Satu lagi rahasia yang terungkap ke permukaan, membuat Kyra butuh waktu untuk menenangkan diri dan mencerna semua hal.


* * *


Jack tak menyangka anak-anaknya akan kembali dengan cepat dan dalam keadaan baik, namun saat mendekat begitu melihat ekspresi mereka jelas sesuatu yang tak baik telah terjadi.


"Nak.. kalian tidak apa-apa?" tanyanya selembut mungkin.


"Tidak, hatiku sangat hancur hingga tidak ada lem yang bisa merekatkannya kembali" sahut Amelia.


"Apa yang terjadi?" tanya Jack bingung.


"Yang Terjadi adalah kau sudah memukul tepat di hatiku, menghancurkan kepercayaan dan cintaku padamu"


"Amelia... "


"Kami sudah mengetahuinya" tukas Shigima.


"Tahu apa?"


"Kenapa kau bisa setega ini? padahal aku bisa merasakan cinta yang tulus darimu, apakah artinya keluarga bagimu sehingga dengan mudahnya kau korbankan putraku untuk kesembuhan istrimu? apakah itu sepadan?" tanya Amelia.


Kekecewaan itu telah membuka mata Jack, saat ia menatap Hans ringkasan berbagai kesalahannya muncul di sana sebagai hukum.


Tak dapat membela diri Jack pasrah pada konsekuensi yang harus ia terima, termasuk dalam waktu sementara ini tak ada yang mau bicara dengannya.

__ADS_1


Kembali ia meringkus diri di kamar, memeluk selimut yang selalu menghangatkan tubuh renta Jessa. Membasahinya dengan gerlingan penyesalan yang tidak ada gunanya, sampai kembali ucapan Joyi terngingang di telinganya.


Maka di malam yang bahkan bintang pun enggan hadir, di temani rintikan hujan dengan angin dingin. Jack mengambil sebuah kertas berwarna coklat kusam, jarinya yang mulai gemetar mengambil pena dan saat hembusan nafas itu keluar dari hidungnya sebuah kata mengawali segalanya.


"*Namaku Jack Hermes, saat ini posisiku adalah kepala keluarga yang tinggal di dalam kastil. Bisa ku katakan saat ini keluarga yang ada berjumlah tiga, Shigima adalah kepala rumah tangga dari keluarganya yang pertama, memiliki seorang putra hebat yang bernama Hans. Lalu putraku Reinner selamat dari maut dan kembali dalam keadaan utuh, ia memberikanku cucu kembar yakni Chad dan Agler. Dan dari putraku Ryu ia memberikan cucu perempuan pertama yang bernama kyra, atau sering kami panggil Blue.


Saat ini kami sedang di pisahkan oleh sebuah masalah yang mencoba memecah belah keluarga Hermes, tapi sebagaimana wasiat turun temurun akan ku lakukan segala cara agar keutuhan keluarga Hermes berjaya.


Oleh karena itu, secara sadar dan tanpa paksaan siapa pun ku berikan tampuk kepemimpinan perusahaan kepada Shigima Hermes agar ia jalankan sebaik mungkin.


Sementara tiga cucu laki-laki ku juga berhak mendapatkan bagian dari perusahaan secara adil, sementara untuk cucu perempuan ku berada tepat di bawah mereka.


Dan mereka yang berdarah Hermes berhak atas kastil ini, setiap ruangan yang ada, setiap fasilitasnya, bahkan setiap kuncup yang akan mekar di tamannya berhak atas mereka.


Satu yang harus mereka ingat dan tidak boleh lupa, meskipun benci, meskipun di luar sana ada yang lebih baik tapi darah lebih dari segalanya.


Kastil ini telah bertahan selama ratusan tahun dan akan tetap bertahan selama ratusan tahun kedepan lagi, terus di huni oleh darah Hermes dan tetap seperti itu.


Ada pun menyangkut kepala pelayan yang bertanggung jawab aku telah memikirkannya dengan baik, kembali mengikuti aturan keluarga akan ku panggil kepala pelayan itu.


Dia yang lebih berhak dari darah Hermes, ku panggil namanya... Joyi*."


Jack membubuhkan tanda tangan di atas lembaran kertas itu, setelah sebelumnya membaca ulang untuk memastikan semuanya benar.


Meski malam itu telah larut dan gerimis masih membasahi permukaan bumi tapi seorang pria yang di panggil Jack tetap datang, ia segera menemui Jack di kamarnya.


"Tuan" sapanya.


"Waktunya hampir tiba, umumkan setelah kepergian ku" ujar Jack menyerahkan lembaran kertas itu.


Pria itu membukanya untuk melihat, mengetahui isinya membuatnya sedikit terkejut.


"Perlu saya bertanya terlebih dahulu, apakah anda menulisnya dalam keadaan sadar tanpa pengaruh apa pun dan paksaan siapa pun?"


"Aku menulisnya dengan mempertimbangkan segalanya, semua telah mendapatkan hak mereka sebagaimana darah yang mengalir dalam nadinya" jawab Jack.


"Kalau begitu tidak ada yang perlu saya tanyakan kembali" ujarnya.


"Akan saya lakukan tugas saya sebaik mungkin, saya mohon diri. Selamat beristirahat tuan Jack" ucapnya.


Jack mengangguk dan membiarkan pria itu pergi, sementara matanya yang bengkak menatap keluar jendela dimana bunga-bunga menutup diri dari tetesan air hujan.


* * *


Hahahahhaha


Jika mengingatnya lagi Ballard tak bisa menahan geli hingga tawanya menggelegar, semuanya sangat sempurna dan perasaan puas itu begitu ia nikmati.


Jessa menatapnya dengan penuh kewaspadaan, menunggu Ballard memulai ceritanya.


"Ya, aku telah menyempurnakan rencana Joyi" ujarnya.


Segalanya telah ia perhitungkan dengan baik, termasuk rencana Joyi untuk memanggil Jack. Dalam kesempurnaan rencananya ia panggil Jessa dengan suara yang di samarkan, dan ketika pertikaian antara Joyi dan Jack pecah di sanalah peran besarnya di mulai.


Detik dimana belati Jack terhunus sebenarnya sasarannya melesat, itu karena Ballard datang tepat waktu untuk memukul tengkuknya hingga pingsan.


Melihat Jack tak sadarkan diri tentu membuat Joyi sedikit panik dan heran akan kedatangan Ballard, karena waktu yang ia miliki singkat maka Ballard tak membuang waktunya untuk bersenang-senang.


Ia memberikan Joyi sebuah ramuan yang dapat membuat benaknya di penuhi oleh hal yang paling ia takutkan, saat efek ramuan itu mulai bekerja dengan sedikit bermain kejar-kejaran pada akhirnya ia yang menusuk Joyi.


Sebuah tusukan yang tepat sebelum Jessa menemukannya, dalam keadaan setengah sadar Joyi berusaha meminta pertolongan dan memperingatkannya akan sesuatu.


"Setelah Joyi, kau adalah target selanjutnya" ujar Ballard.


Itulah yang coba Joyi katakan dengah tangan yang terulur penuh darah, tapi di tengah dekapan Chat Joyi hanya mampu memanggil namanya sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.


"Jadi... Joyi tidak berniat memfitnah ku, tapi dia mencoba mengingatkan ku" ujar Jessa termangu.


"Yeah, menarik bukan? aku tahu kalian saling membenci sudah sangat lama, tapi saat dalam bahaya rupanya dia masih mengkhawatirkan mu" ujar Ballard.


"Kau.... melakukan semua ini, saat cucu-cucu Hermes mendengarnya tunggulah ajal mu!" teriak Jessa murka.


"Tidak, tunggulah sampai Jack pun bergabung dengan kalian sebab dia target yang terakhir" sahut Ballard.


Senyum mengembang lebar di wajahnya, dan saat tawa itu mulai terdengar lagi bersamaan dengan langkahnya untuk meninggalkan tempat itu Tianna bergegas pergi agar tidak ketahuan.

__ADS_1


Dalam hati ia mulai berencana memberitahu Reinner tentang apa yang baru saja ia dengar.


__ADS_2