Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 23 Permintaan Janet


__ADS_3

Seorang wanita berjalan dengan tergesa-gesa di tengah senja yang hampir temaram, kerudung hitam yang menutup kepalanya ia pegang kuat-kuat saat angin berhembus hendak menerbangkannya.


Tinggal beberapa langkah lagi maka ia akan sampai di tujuan, tapi langkahnya sempat terhenti hanya karena hatinya yang terus berdebar.


Hhhhhhhhuuuuuhhh


Satu kali buang nafas panjang matanya menatap dengan yakin dan mulailah ia berjalan kembali, seorang pelayan membukakan gerbang untuknya sehingga ia bisa masuk. Butuh beberapa langkah lagi dan dia pun sampai di depan pintu, tanpa mengetuk pelayan yang sama kembali membukakan pintu untuknya.


"Nyonya, selamat datang" sapa seorang pelayan wanita kepadanya.


"Terimakasih, dimana ibu?"


"Beliau ada di kamarnya"


"Baiklah."


Sepatunya terdengar mengetuk-ngetuk lantai saat ia terus melangkah, setelah sekian lama akhirnya ia datang berkunjung meski seorang diri.


Hhhhhhuuhhhhhh


Ia kembali membuang nafas setelah tiba di hadapan sebuah pintu, meski ragu akhirnya ia mencoba untuk mengetuk.


Tok Tok Tok


"Masuk" sahut sebuah suara dari dalam.


Ceklek


Begitu pintu terbuka dilihatnya seorang wanita tua tengah terbaring di atas ranjang, matanya yang sudah tidak bisa melihat dengan jelas tiba-tiba menumpahkan air mata di pipinya yang keriput.


"Mina..... " panggilnya pelan.


"Ibu.... " balas Mina sambil berlari untuk kemudian memeluknya.


Mereka terus menangis bersama, melepaskan kerinduan yang telah lama terpendam di dalam hati. Hingga habis beberapa menit berlalu hanya untuk hal itu, kini Mina duduk tepat di samping ibunya sambil memegang tangan keriputnya.


"Bagaimana kabar anak-anak mu?" tanyanya.


"Mereka baik-baik saja ibu, Agler tumbuh menjadi pemuda yang baik dan pintar sedang Ima menjadi gadis yang sangat aktif"


"Ima... pasti dia sangat mirip dengan mu, penuh keceriaan dan ambisius"


"Ya... Colt pun sering berkata seperti itu" ujar Mina.


Tapi tiba-tiba senyum ibunya hilang begitu mendengar nama menantunya, tentu karena ini adalah alasan dari perpisahan seorang ibu dan anak.


"Kau terlihat kurus, apa kau makan dengan benar? kenapa tangan mu menjadi kasar begini?" tanyanya sambil meraba-raba telapak tangan Mina.


"Aku sudah tidak muda lagi ibu, Ima bahkan kini sudah berusia 15 tahun. Dan meski tangan ini kasar tapi dia tidak pernah terluka, kedua anak ku selalu membantu pekerjaan ku. Aku bahagia dengan kehidupan ku yang sederhana dan meski aku meninggalkan kotaku tapi tidak dengan mimpi ibu, aku tetap menjadi perancang busana meski dengan skala kecil"


Hhhhhh


"Kau keras kepala seperti biasa" ujar ibunya dengan menghembuskan nafas.


"Mina, umur ibu sudah tidak panjang lagi. Terimakasih kau sudah mau pulang, satu lagi permintaan ibu tolong ajak Ima sekali saja"


"Aku akan membawanya, dia pun pasti senang jika bertemu dengan neneknya"


"Mina... sejak dulu kau selalu membantah perkataan ibu, padahal ibu sering memanjakan mu. Tapi... mungkin itulah kesalahan ibu, yang ibu berikan hanya kemewahan bukan perhatian dan kasih sayang yang semestinya. Kelak, jika hal ini terulang lagi kepada putrimu biarkan dia memilih apa yang dia inginkan. Sebagai seorang ibu kau harus meredam keegoisan mu, jika tidak kau akan tinggal sendirian di penghujung usiamu sama seperti ibu"


"Ibu... hiks... hiks... "


Mina tahu dia sangatlah egois, sejak dulu begitulah sifatnya dan karena hal itu juga ia selalu kena batunya. Masih segar dalam ingatannya, sewaktu perjumpaan pertamanya dengan Colt.

__ADS_1


Ia merupakan gadis manis yang anggun, seorang gadis yang terbiasa dengan kemewahan dan peraturan hidup. Namun saat ia jatuh cinta keegoisannya menjadikannya budak yang patuh, jelas dalam ingatan itu bagaimana Colt mempermainkan hatinya hanya untuk kesenangan semata padahal sahabat sejatinya telah mengingatkannya.


Keegoisan itu membuat hubungan persahabatannya renggang, beruntung sahabatnya adalah orang yang sangat baik dan tidak pernah meninggalkannya. Semua berjalan begitu saja sampai akhirnya Colt benar-benar jatuh cinta padanya, bahkan demi cinta itu ia rela melakukan perjanjian dengan vampire.


Semua rintangan mereka lalui bersama sebagai sepasang kekasih, ada masanya dimana mereka berpisah namun kembali bersatu dan Mina yakin itulah kekuatan cinta. Hingga pada akhirnya mereka pun memutuskan untuk menikah di usia muda, rintangan baru pun harus mereka hadapi.


Keinginan itu di tentang keras oleh ibunya juga orangtua Colt, terlebih saat itu Colt adalah seorang model yang baru merambah dunia akting. Pihak agensi pun mencoba memisahkan mereka dengan berbagai macam cara, tapi tekad keduanya sudah bulat.


Mina dan Colt memilih untuk pergi dari kehidupan mereka yang glamor, terlebih Mina yang telah trauma pada pertempuran membuat mereka akhirnya memutuskan untuk menjadi orang biasa yang sederhana.


Sakit hati karena di tentang oleh anak sendiri membuat Janet menjadi acuh, sekian lama mereka tidak bertemu atau berkirim kabar 18 tahun kemudian datanglah sepucuk surat kepada Mina.


Itu adalah surat pertama yang di tulis Janet untuknya, dalam surat itu tertulis penyakit yang di derita Janet dan permintaannya agar Mina kembali kepadanya untuk mewarisi seluruh harta yang Janet punya dan menjadi perancang busana yang terkenal.


Namun hanya satu permintaan Janet yang bisa Mina penuhi sebab ia harus tetap bersembunyi dari dunia, mungkin harta itu bisa Mina terima tapi dia tidak akan menggunakannya jika bukan untuk sesuatu yang lebih penting.


"Ibu... aku harus pergi, sebentar lagi anak-anak akan pulang dari sekolah mereka" ujar Mina.


"Baiklah... tapi kau harus janji untuk membawa Ima kemari"


"Aku janji ibu" jawabnya.


Mina mengecup kening ibunya sebelum ia pergi meninggalkan rumah itu.


* * *


"Kau sudah menemuinya?" tanya colt sepulangnya Mina.


Mina hanya mengangguk sebagai jawaban, untuk saat ini masih belum ingin menceritakan apa pun. Colt juga tidak memaksanya, seolah tak ada yang terjadi mereka bersikap seperti biasa saja.


Colt telah mengurus kepindahan Ima ke sekolah barunya, bukan sekolah yang terbaik tapi cukup bagus untuknya. Agler pun kini tidak tinggal lagi dengan Giant, tapi ia tetap bekerja di pasar seperti biasa meski jaraknya jadi lebih jauh.


Mereka sudah hampir selesai beres-beres, rencananya tinggal membuat kamar di atap untuk Nick. Tentu itu di butuhkan agar Nick bisa istirahat tanpa terganggu aktifitas mereka, sedang Colt kini benar-benar bekerja di kantor seperti kebanyakan para suami di lingkungan itu.


"Biar ibu yang angkat" ujar Mina saat Agler hendak bangkit untuk mengangkat telpon.


"Halo... " ujar Mina.


Sebuah suara menjawab ucapan itu, Mina diam mendengarkan tapi perlahan ekspresinya berubah kaku hingga tiba-tiba ia menjatuhkan gagang telpon.


"Ibu ada apa?" tanya Agler.


Bruk


"Ibu!" panggil Ima melihat Mina tiba-tiba jatuh terduduk.


"Sayang ada apa? siapa yang menelpon?" tanya Colt mulai khawatir.


"Rumah sakit" jawab Mina pelan.


Mina mengatakan seorang suster telah menelponnya, saat itu juga mereka segera pergi ke rumah sakit setelah mendengar apa yang di katakan suster kepadanya.


Langkah Mina semakin cepat saat mereka telah sampai di rumah sakit, seorang pria berjas yang telah menunggu mereka segera menunjukkan jalan.


"Ini ruangannya" ujar pria itu berhenti di salah satu pintu.


Mina menelan ludah, digandengnya tangan Ima sebelum ia membuka pintu. Begitu ia masuk di susul oleh Agler di balik gorden nampak Janet terbaring dengan lemah, Mina tak kuasa menahan sedih saat melihat hal itu hingga akhirnya tumpah lah air matanya.


Genggaman tangannya semakin erat memegang tangan Ima sambil berjalan perlahan ke arah ranjang, ia baru melepaskan genggaman tangannya setelah duduk di kursi.


"Ibu..... " panggilnya sambil mengelus rambut Janet yang memutih.


Perlahan Janet membuka mata, ia tersenyum setelah dapat melihat dengan jelas.

__ADS_1


"Aku... sudah datang membawa Ima" lanjutnya pelan.


Mata Janet bergerak seiring dengan kepalanya yang perlahan menoleh ke arah Ima, ia tersenyum dengan berlinang air mata. Tangannya terulur seakan ingin menggapai Ima, dengan cepat Ima meraih tangan itu dan mendekatkan diri.


"Cucuku..... kau... sudah besar" ujar Janet.


Biasanya Ima sangat bawel, tapi saat itu tak ada kata yang bisa ia ucapkan. Ia hanya terpaku dan membiarkan Janet mengelusnya.


"A... pakah... dia... Agler?" tanya Janet menatap seorang pria di belakang Ima.


"Mm, dia putra sulung ku" jawab Mina.


"Ke... marilah... nak" ujar Janet.


Agler segera berjalan ke sisi yang lain, sama seperti Ima ia juga membiarkan Janet mengelusnya.


"Kau... sangat tampan.... " ujarnya.


Untuk beberapa saat Janet tak bicara, ia menatap kedua cucunya lekat-lekat. Mencoba menggambar wajah mereka dalam benaknya agar selalu ingat bagaimana paras mereka, selain dari itu ia juga bersyukur di beri kesempatan untuk bertemu meski hanya sekali dalam seumur hidupnya.


"Di.. mana.. Colt?" tanyanya.


Mina mengangkat kepalanya, mencari-cari dimana suaminya itu. Agler segera keluar dan menemukan Colt tengah berdiri tepat di samping pintu, setelah Agler mengatakan bahwa Janet mencarinya barulah ia mau masuk.


Hatinya yang gugup tiba-tiba hancur melihat kondisi Janet yang tidak baik, rasa bersalah mencambuk hatinya dengan keras sebab ialah yang telah membuat Janet dalam kondisi seperti ini.


Tapi Janet sendiri tersenyum, akhirnya ia bisa melihat keluarga anaknya dengan utuh. Ia bisa melihat menantu dan cucunya yang dalam keadaan baik.


"Kenapa.... kau... berdiri di sana? ke... marilah... " ujar Janet.


Mencoba menahan air mata Colt pun bergerak mengikuti perintah, ia berdiri di samping Agler dan memegang tangan Janet dengan lembut.


"Aku.... tidak marah padamu..... kau... sudah memberikan..... kebahagiaan kepada... Mi... na, aku.... hanya sedih.... karena... kalian.... memutuskan untuk.... pergi" ujar Janet mencoba bicara meski tubuhnya terlampau lemah.


"Maafkan aku, tolong jangan bicara lagi. Anda harus banyak istirahat" jawab Colt.


"Colt..... aku... boleh meminta sesuatu padamu.... "


"Tentu saja" jawab Colt cepat.


"Aku.... ingin... mengambil foto... bersama kalian.... tolong... pajang... foto kita" ujar Janet sekuat tenaga.


Tanpa berfikir Colt segera mengabulkan permintaan itu, ia meminta seorang perawat untuk mengambil foto mereka dengan kamera yang rupanya sudah Janet persiapkan sebelumnya. Mina, Ima, Agler dan Colt mencoba tersenyum meski air mata mereka tak bisa terbendung lagi.


Satu jepretan saja sudah cukup, Colt mengambil kembali kameranya dan saat ia berbalik dilihatnya Janet sudah menutup mata.


Tak lama ia mendengar sebuah teriakan yang di sambut oleh isak tangis, ternyata itu merupakan teriakannya.


* * *


Sesuai janji Colt memajang foto itu di ruang keluarganya, Mina masih belum kembali dari rumah duka sebab pengacara memiliki beberapa keperluan dengannya. Sedang Ima mengurung diri di kamar dan menangis sepanjang hari sejak kepergian Janet, meski ia itu adalah untuk pertama kalinya ia bertemu dengan neneknya tapi itu juga merupakan hari terakhir mereka bertemu.


Agler sendiri terlihat lebih kuat, namun Colt yakin di dalam hatinya ia tetap menangis. Sebagai seorang lelaki dia hanya ingin terlihat tegar agar bisa menghibur yang lain.


Ceklek


Pintu terbuka menunjukkan Mina yang baru pulang, segera Colt menghampiri untuk memberikan pelukan yang nyaman. Ia membawa Mina ke kamar untuk beristirahat, tapi Mina hanya berbaring tanpa bisa terlelap.


"Semua harta ibu sudah berpindah tangan padaku, dia tak hanya memberikan kekayaannya saja tapi juga kasih sayang yang berlimpah. Tapi aku sebagai anak tak mampu membalas semua itu, hingga akhir hayatnya aku hanya memberikan luka" ujar Mina penuh penyesalan.


Ssssstttt


"Tidak sayang, kau tidak bersalah. Lihatlah wajah mendiang di foto yang kita ambil, dia tersenyum" ujar Colt mencoba menghibur.

__ADS_1


__ADS_2