Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 38 Menyelamatkan Colt


__ADS_3

Sudah dua hari Ima tak datang ke rumahnya, biasanya tanpa di panggil pun gadis itu akan datang dan melayaninya tanpa di minta. Hal ini cukup aneh karena memang tidak biasa, Chad pun memutuskan untuk memanggilnya.


Namun Ima datang dengan mata merah yang sembab, badannya lemah seakan energinya di kuras habis.


"Ada apa dengan mu?" tanya Chad.


"Chad... bisakah kau membantuku?" tanya Ima lirih.


"Ada apa?" tanya Chad lagi lebih cemas.


"Ayah ku... dia di culik... "


"Apa?"


"Tolong aku Chad, aku tidak bisa menemukannya di mana pun. Kau adalah orang kaya dengan akses yang kau miliki pasti menemukannya" pinta Ima dengan isak tangis yang kembali muncul.


"Apa kau sudah lapor polisi?"


"Chad, ayah ku seorang vampire. Kami tidak mungkin lapor polisi"


"Begitu rupanya" ujar Chad.


Kini ia harus memutar otak untuk menemukan cara yang bisa membantu Ima, sampai akhirnya terfikir satu nama dalam benaknya.


"Ayo ikut dengan ku" ajaknya.


"Kemana?"


"Menemui paman ku" ujar Chad.


Chad membawa Ima pergi ke pinggiran kota, bagi mereka yang seorang vampire hanya butuh beberapa menit saja dengan berlari maka sampailah mereka di tempat tujuan.


Tok Tok Tok


Chad mengetuk pintu sebuah rumah yang nampak sudah tua, mereka menunggu beberapa menit sampai akhirnya Jhon membukanya.


"Ada apa?" tanya Jhon yang kemudian melirik Ima yang berdiri tepat di belakang Chad.


Mereka pun masuk ke dalam rumah dan Chad segera menjelaskan apa yang terjadi, maksud kedatangannya datang ke sana adalah untuk meminta bantuan Jhon.


"Mungkin ayahmu bertarung dengan seorang penyihir" ujar Jhon.


"Tidak mungkin, ayahku hidup layaknya manusia biasa. Bahkan dia tidak pernah berburu manusia, dan lagi ayah punya beberapa kenalan seorang penyihir jadi tidak mungkin jika ayah di culik oleh penyihir" bantah Ima.


"Lalu mengapa kau bisa mengasumsikan bahwa ayah ku di culik?"


"Itu.. guru kami yang mengatakannya, guru ku melihat bekas pertarungan dan noda darah ayah ku di aspal. Dari bau yang ia cium itu merupakan pertarungan antar vampire, tapi yang lebih aneh bagi ku adalah tidak ada seorang pun vampire yang berani mendekati ayah apalagi melukainya jadi aku tidak tahu siapa sudah berani melakukannya"


"Kenapa?"


"Karena ayah ku adalah asisten ratu vampire Viktoria"


"Apa? ayah mu asisten Ratu terdahulu?" tanya Chad.


Ima mengangguk sedang Jhon butuh waktu untuk mencerna kenyataan yang baru saja ia dengar, ia tak percaya dapat bertemu dengan anak dari sekutunya terdahulu.


"Maksud mu... ayah mu adalah Colt?" tanya Jhon.


"Dari mana paman tahu nama ayah ku?" tanya Ima yang terkejut.


"Jika benar maka hanya ada satu vampire yang mengincar ayah mu, dia adalah vampire tua yang gila. Alabama si ilmuan gila"


"Si-siapa dia?" tanya Ima.


"Kau tidak perlu tahu, yang penting sekarang pulang dan pastikan keluargamu aman-aman saja sebab jika ia menculik ayah ku maka berikutnya bisa jadi kau atau ibumu" tutur Jhon.


"Ta-tapi kenapa? kenapa dia mengincar keluarga ku" tanya Ima.


"Aku tidak tahu pasti, tapi firasat ku berkata demikian. Kalian berdua pulanglah, biar aku yang mencari Colt"


"Baik paman, tolong paman juga hati-hati" ujar Chad.


Jhon segera pergi di ikuti oleh Chad dan Ima yang kembali ke rumah masing-masing.


* * *


Beberapa hari tinggal di kastil memang cukup menyenangkan, di layani dengan baik oleh para pelayan dan bebas melakukan apa pun yang dia mau. Tapi Kyra sudah mulai bosan tapa kehidupan yang damai itu, dengan merengek ia minta di temani belanja kepada ibunya.


Mereka pergi dengan di antar supir yang siap mengantar kemana pun mereka mau, seperti biasa Krya membeli baju baru, tas, sepatu dan benda lain yang menarik perhatiannya.


"Oh sayang, lihatlah semua barang yang kau beli. Tidak bisakah kau sedikit berhemat? ayah mu hanya seorang dokter! " keluh Violet yang membawakan barang belanjaan putrinya.


"Sudahlah ibu, meski seorang dokter tapi ayah tidak akan marah hanya karena aku belanja sedikit barang"


"Sedikit? kau bilang sedikit? astaga ayah mu terlalu memanjakan mu" tukasnya.


"Ibu aku lapar, bagaimana kalau kita pergi cari makanan?"

__ADS_1


"Tentu saja, tangan ibu sudah pegal dan ingin istirahat" jawabnya.


Mereka mulai berjalan dan mencari restoran yang kelihatannya nyaman, Violet memesan dua porsi steak dan jus timun untuk menghilangkan rasa penatnya.


"Permisi... kau...Blue.. " ujar manager San yang saat masuk ke dalam restoran segera menatap gadis berambut merah yang terlihat mencolok.


"Oh... kak San" panggil Krya yang nampak kaget.


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini, apa yang sedang kau lakukan?" tanya manager San.


"Aku sedang belanja dengan ibuku, kak San sendiri sedang apa?"


"Ini restoran favorit ku, aku selalu datang untuk makan siang"


"Ah... begitu rupanya" ujar Krya.


Ia pun memperkenalkan Manager San kepada Violet dan menceritakan bagaimana pertemuan mereka sehingga bisa saling kenal, Violet nampak suka terhadap Manager San sebab sejauh ini dia terlihat baik dan pria tampan yang mapan.


Mereka asyik mengobrol sambil bercengkrama sampai waktu istirahat Manager San habis, dengan sopan ia meninggalkan mereka berdua.


"Ah... ibu tidak menyangka kau punya kenalan pria tampan dan kaya" ujar Violet.


"Mungkin itu sebuah takdir"


"Atau mungkin dia tertarik pada kecantikan mu sayang" sela Violet.


"Ibu hentikan itu.. " ujar Krya yang kurang suka.


"Hmm, nak kau punya wajah yang cantik dan berkat ibu kau punya status yang tinggi. Jangan pernah sia-siakan apa yang Tuhan beri kepadamu, ibu tidak mau kau mengalami kesalahan yang sama seperti ibu"


"Apa maksud ibu?"


"Apalagi? sudah tentu ayah mu, dia memang tampan dan rebutan banyak wanita tapi dia terlalu bodoh untuk keturunan Hermes. Alih-alih ikut andil dalam perusahaan dia malah menjadi dokter dan tinggal di luar negri, beruntung kakek mu sangat menyayangi keluarga kita sehingga ia mengajak kita tinggal bersama. Bayangkan kalau kakek mu tidak mengajak kita! sampai mati kita akan hidup sengsara di sana"


"Ibu... hargailah keputusan ayah, lagi pula ayah tidak punya bakat dalam mengurus perusahaan"


"Siapa peduli? dia bisa angkat asisi yang bisa membantunya, ah.... aku jadi khawatir tentang masa depan kita. Pokoknya kau hanya boleh bergaul dengan orang-orang yang sederajat dengan kita, jika bisa kau juga harus memacari pria seperti San"


"Ibu sudahlah, jangan bicarakan hal-hal yang membuatku badmood" sergah Kyra.


"Pelayan tolong struknya" teriak Kyra.


Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan berkata.


"Maaf nona, makanan anda sudah di bayar lunas oleh pria yang tadi makan bersama kalian"


"Lihat! San adalah contoh pria yang akan membahagiakan mu" ujar Violet.


* * *


Jhon memulai dari tempat dimana pertarungan itu terjadi, tentu ia harus melihat TKP agar tahu kemana langkah selanjutnya yang harus dia ambil. Dari sana ia sudah punya gambaran vampire seperti apa yang membawa Colt pergi, baginya cukup mudah melacak seorang vampire bangsawan karena mereka punya ciri khas sendiri.


Dari jejak yang ia temukan Colt di bawa pergi jauh ke luar kota, ia sempat kehilangan jejak saat memasuki hutan sebab di sana ilalang dan hewan hutang bisa menghancurkan jejak.


Tapi kepiawaiannya sebagai vampire yang telah berpengalaman akhirnya ia bisa menentukan jalan yang harus dia pilih agar bisa menemukan Colt, titik pencariannya berakhir di sebuah desa kecil.


Di atas bukit yang nampak tak terjamah manusia sebuah bangunan tua berdiri kokoh, tempat yang cocok untuk bangsa vampire bangsawan.


Jhon memutuskan untuk menekan auranya agar tak ada yang menyadari kedatangannya, ia menduga vampire itu terdiri dari beberapa orang.


Pintu masuk itu tak di kunci, memudahkannya untuk beraksi. Perlahan ia berjalan terus melewati ruangan demi ruangan sambil mencoba mengendus, berharap akan menemukan Colt dengan cepat.


"Pasti di ruang bawah tanah" gumamnya menerka.


Ia hendak masuk ke salah satu ruangan namun sebuah suara membuatnya berhenti, rupanya itu adalah Tianna yang baru keluar dari kamarnya.


"Kenapa harus selalu aku yang melakukan semua ini, aku seorang putri! bukan pelayan!" gerutunya sambil membawa sebuah tas plastik.


Jhon bisa melihat isi tas itu adalah roti dan minuman, makanan manusia yang lumrah. Itu artinya Tianna hendak pergi menemui Colt, ia pun segera mengikuti kemana Tianna pergi.


Benar dugaannya, Colt di tahan di ruang bawah tanah. Tempat itu cukup luas namun gelap dengan lampu adalah satu-satunya sumber penerangan yang ada, Colt nampak duduk lesu dengan tangan dan kakinya yang di ikat.


"Hei bangun! ini makanan mu!" ujar Tianna.


Perlahan Colt mengangkat kepalanya.


"Jika kau ingin hidup maka cepatlah makan, ingat kami tidak akan memberikan mu setetes darah pun" ucapnya lagi.


Tianna menyimpan makanan itu tepat di bawah kaki Colt, setelah itu ia membuka ikatan di tangan Colt sebelum ia pergi tanpa lupa mengunci pintu.


Setelah memastikan Tianna benar-benar pergi tanpa menunggu lagi Jhon menghancurkan kunci itu agar dapat membukanya, begitu ia masuk di lihatnya Colt yang sedang mencoba membuka ikatan di kakinya.


"Colt... " panggil Jhon pelan.


Colt mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang memanggilnya, butuh waktu baginya untuk mengenali Jhon sebab matanya kabur dan pencahayaan di ruangan itu jelek.


"Paman Jhon... " sahutnya.

__ADS_1


Jhon segera membantu Colt melepaskan diri.


"Apa yang paman lakukan di sini?" tanyanya.


"Putri mu meminta bantuan ku untuk mencarimu"


"Ima... bagaimana kau bisa mengenalnya?"


"Akan kuceritakan nanti, yang penting kita harus keluar dari sini dulu. Apa kau bisa jalan?"


"Yeah aku bisa"


"Bagus!" jawab Jhon.


Colt memang bisa berjalan, tapi ia tetap butuh bantuan Jhon agar bisa bergerak dengan cepat. Yang perlu mereka waspadai hanya Tianna yang bisa saja kembali lagi dalam waktu singkat, namun beruntung tak ada penjaga yang berjaga sehingga memudahkan mereka untuk kabur.


Dengan berlari mereka kini sudah sampai di hutan, merasa cukup aman Jhon pun berhenti sejenak untuk istirahat.


"Ini cukup aneh, mereka tidak memasang penjagaan" ujar Jhon.


"Mungkin mereka sudah tidak membutuhkan aku lagi" jawab Colt.


"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kau bisa di culik?"


"Jawabannya ada pada darahku, awalnya dia meminta secara baik-baik tapi karena aku menolak jadi dia membawaku secara paksa. Seorang vampire tua hanya mengambil darah ku beberapa kali, hanya itu saja yang mereka lakukan padaku"


"Kenapa mereka mengambil darah mu?"


"Entahlah, tapi vampire itu bereksperimen dengan darahku"


"Apa kau mengenalnya?"


"Dia mengenalkan diri sebagai Keenan, adik Viktoria"


"Apa? maksud mu Viktoria tuan mu?" tanya Jhon memperjelas.


Colt mengangguk yang membuat Jhon teringat masa lalu saat ia adalah vampire setia bagi bangsanya, cukup lama hidup di istana membuatnya tahu sisi gelap lain para penghuni istana.


Dengan pernyataan yang di berikan Colt ia semakin yakin bahwa hal ini ada kaitannya dengan Alabama, vampire tua yang di sebut dalam legenda.


"Ayo kita pergi, lebih cepat sampai di rumah maka semakin baik" ujarnya cemas.


Mereka melanjutkan perjalanan, setelah beberapa jam berlalu akhirnya mereka sampai di rumah Chad. Sayangnya tubuh Colt sudah terlalu lelah karena darahnya yang terus di ambil sehingga ia tak sadarkan diri begitu sampai di rumah.


Melihat kondisi ayahnya Ima kini dapat bernafas lega masih sedikit khawatir, tapi tentu ia tak lupa mengucapkan terimakasih kepada Jhon yang telah membawa ayahnya pulang.


"Dengar! kau dan keluarga mu harus segera pindah dari sana. Carilah rumah yang aman untuk di tinggali, aku tidak yakin kalian bebas sepenuhnya" ujar Jhon.


"Aku mengerti, sekali lagi terimakasih" jawabnya.


Setelah Jhon pergi Chad pun mengantar Ima pulang dengan ayahnya menggunakan mobil, tentu akan cukup merepotkan jika mereka harus membopongnya sampai ke rumah.


Chad menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Ima, setelah berterimakasih Ima membawa ayahnya yang masih tak sadarkan diri masuk ke rumah sementara Chad segera pergi dari tempat itu tepat saat Agler membuka pintu rumah.


* * *


"Kau sudah memberinya makan?" tanya Keenan yang baru pulang.


"Sudah"


"Baguslah, ayo kita lihat apa dia sudah lebih baik atau tidak" ajaknya.


Meski malas tapi Tianna ikut juga, ia berjalan tepat di belakang Keenan. Tapi saat sampai di pintu bawah tanah ia bisa melihat ruangan itu kosong dengan kondisi pintu yang rusak.


"Ti-tidak mungkin! kemana perginya dia?" ujar Tianna kaget.


Ia segera masuk ke dalam untuk mengecek jika Colt benar-benar tidak ada di sana, sedang Keenan memeriksa kerusakan di pintu dan jejak yang di tinggalkan.


"Dia pasti belum jauh, aku akan mencarinya" ujar Tianna hendak pergi.


"Berhenti! tidak ada gunanya, biarkan saja dia lagi pula kita sudah tidak membutuhkannya" sergah Keenan.


"Lalu... apa yang harus aku lakukan?" tanya Tianna pelan.


"Fokus saja pada tugas yang ku berikan"


"Keenan, kau sudah tidak membutuhkannya lalu bagaimana dengan orang-orang yang ada di daftar itu?"


"Lupakan! aku juga sudah tidak membutuhkan mereka"


"Kalau begitu apa aku boleh membuat mereka jadi mainan ku?" tanya Tianna penuh harap.


"Terserah kau saja"


Yeeeeyyy....


Sorak Tianna penuh kegembiraan.

__ADS_1


__ADS_2