
Membuat ikatan yang lebih kuat Ima dan Alisya sepakat akan bergantia saling menginap di rumah masing-masing, agar adil mereka melakukan permainan gunting kertas batu yang di menangkan Ima.
Keputusan pun dia ambil dengan membuat Alisya lebih dulu menginap di rumahnya, tak bisa mengelak Alisya berjanji akan datang setelah kelas melukisnya selesai.
"Apa kita akan kedatangan tamu?" tanya Colt melihat Ima yang sibuk membersihkan rumah terlebih kamarnya.
"Ya, Alisya akan datang berkunjung dan menginap di sini" jawab Mina yang sudah di beritahu.
"Benarkah? sepertinya kalian semakin dekat" komentarnya kepada Ima.
"Ah kalian pasti tidak akan menyangka dengan fakta ini, ternyata Alisya dan Chad adalah saudara sepupu."
Bbrrruuuuhhhh Uhuk Uhuk Uhuk
Air yang hendak Agler telan menyembur begitu saja saat mendengar kenyataan itu, sekian lama ia mengenal Alisya bahkan sempat memiliki hubungan serius tak membuatnya mengetahui keluarga Alisya dengan baik.
"Dari mana kau tahu?" tanya Mina penasaran.
"Ingat saat Chad mengajak ku makan malam di rumahnya? kami bertemu di sana dan barulah Alisya menjelaskan kalau ibunya merupakan keponakan nenek Joyi, yah secara teknis itu artinya mereka sepupu" jelasnya.
"Astaga.. semua kebetulan ini membuat ku bergidik" gumam Mina.
"Ya, rasanya seperti seseorang telah merencakan semuanya. Orang-orang yang berhubungan dengan Anna di masa lalu kini berhubungan kembali di masa ini" ujar Colt setuju.
Meninggalkan kebetulan yang mengerikan itu Ima kembali sibuk dengan pekerjaannya, hingga Alisya tiba keluarga itu dengan senang menyambutnya.
Terbiasa dengan suasana kediaman Megan kini Alisya lebih terbuka bahkan ikut bercanda ria, hal itu membuat Ima senang karena telah berhasil mengembalikan aura positif di tubuh Alisya.
Malam harinya saat tiba waktunya untuk tidur kedua gadis itu justru melakukan pesta piyama, memakai riasan dan mengobrol tentang rahasia gadis pada umumnya.
"Aku kaget kau bisa memiliki hubungan dengan Chad, seumur hidup ku dia adalah satu-satunya pria terdingin yang membuatku beku" ujar Alisya sambil mencoba fokus mencat kuku jari kakinya.
"Haha ya... justru itulah yang aku suka darinya, benar-benar misterius dan keren" sahut Ima sambil membayangkan sosok Chad.
"Hah ternyata kita punya tipe pria yang benar-benar berbeda, aku lebih suka pria hangat yang manis. Mudah di ajak bicara dan tidak membosankan"
"Seperti kakak ku" timpal Ima yang membuat pipi Alisya memerah.
"Ti-tidak, maksud ku pria lain" sahutnya kikuk.
"Ayolah... hanya ada kita berdua dan sebaiknya kau jujur karena aku tidak akan berhenti mengganggumu"
"Hentikan Ima!" teriak Alisya saat tangan usil Ima mencoba menyenggol pipinya.
Sesuai dengan perkataannya, Ima tak mau berhenti sampai Alisya benar-benar kewalahan dan mengakui perasaannya. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk mengutarakan kesedihannya saat hubungan mereka berakhir, terombang-ambing antara keegoisan dan pengertian sampai saat ini ia masih berharap Agler akan memberi alasan yang jelas.
Melihat Alisya tentu Ima sangat mengerti posisinya, sebagai perempuan sangat wajar mereka meminta jawaban pasti.
"Kau melihat hubungan ku dengan Chad seolah kami pasangan yang istimewa, tapi kenyataan aku juga melalui banyak rintangan untuk mendapat pengakuan darinya" ujar Ima.
"Benarkah?"
"Percayalah kak Agler masih memiliki perasaan terhadap mu, setidaknya dia tidak merangkul gadis lain di hadapanmu"
"Apa Chad melakukan itu?" tanya Alisya kaget.
"Dia bahkan mengenalkan ku sebagai pelayan pada wanita itu, tapi saat aku berkencan dengan seorang pria dia mengacaukannya begitu saja"
"Astaga... sudah ku duga dia jahat seperti wajahnya" komentar Alisya yang justru membuat membuat Ima tertawa.
"Lalu apa yang membuat mu tetap bertahan dengannya?" tanyanya penasaran.
"Matanya"
"Matanya?"
"Sekalipun dia meniduri seorang wanita Chad tidak pernah sekalipun memandang mereka dengan cinta, dia bahkan tidak berbelas kasihan pada mereka. Itulah yang membuat ku yakin untuk mengejar cintaku, karena aku tahu bahwa dia akan setia" jawab Ima.
__ADS_1
Alisya hanya bisa menatap kagum, betapa luar biasa kesabaran yang di miliki Ima hingga ia berhasil mencapai tujuannya.
* * *
Geriak air dalam kolam itu begitu memanjakan mata, sayangnya ketenangan yang tercipta karenanya menghanyutkan benak Jack hingga melanglang buana.
Membelah dimensi menuju masa lalu yang tak bisa ia ubah, membungkam kebahagiaannya. Memang tak ada gunanya untuk menyesal tapi tak ada juga hal yang lebih baik dari itu.
Dendam yang membara di mata Chad tak hanya membakar Jack tapi juga seisi kastil yang kini berduka, bahkan Shigima yang paling tabah pun menutup mulut di buatnya.
"Jack... " panggil Jessa lirih.
"Aku pantas mendapatkannya" ucapnya.
"Tidak! semua pasti rencana Joyi, dia sudah mengatur semuanya dengan sangat baik untuk menciptakan ketegangan ini" bantahnya.
"Aku sudah memeriksanya lagi, memang aku yang membunuh kedua orangtua Chad" ujarnya menatap dengan mata kosong.
Tatapan yang lebih menyedihkan dari seekor serangga yang terperangkap di jaring laba-laba, ini sudah melebihi batas kesabarannya.
Mengambil langkah tegas ia menemui Joyi di tempat rahasia, sebuah bangunan yang terbengkalai agar dengan leluasa ia bisa melampiaskan amarahnya.
"Lama kita tidak bertemu, rupanya sekarang seleramu sudah jauh berbeda" ucap Joyi melihat sekeliling tempat itu yang begitu kumuh dan bau pengat.
"Aku sengaja memilih tempat yang cocok untuk mu" balas Jessa.
Mengalihkan tatapannya pada wanita yang kini terlihat lebih tua darinya, dengan keriput yang jelas terlihat di ujung matanya membuat senyum Joyi merekah.
Betapa sekarang mereka terlihat seperti nenek tua biasa dan bangsawan, tentu saja karena Joyi selalu menjaga kebugaran tubuhnya sehingga ia masih terlihat gagah.
"Dimana pun kaki ku berpijak, sekali pun itu lautan emas yang dapat membuat matamu sakit hanya karena silau ku" sahut Joyi yang terbiasa akan permainan hujatan.
"Tidakkah cukup mengincar ku saja? sekarang kau manfaatkan anak tak berdosa" ujar Jessa menghentikan permainan yang menyukut emosi itu.
"Sejak awal yang ku tuju hanga kau dan Jack, jika kemudian anak cucunya terlibat konflik maka itu salah kepala keluarga yang tidak becus mengurus mereka"
Syuuuutt...
Sebuah rongsokan kursi melayang dengan kecepatan tinggi mengincar tubuh Joyi, tapi tanpa bergeming seolah kursi itu menghantam sebuah tembok di hadapan Joyi dan hancur begitu saja.
"Kau memang penyihir hebat, bahkan di usia mu ini kau masih mampu membuat beberapa benda melayang. Tapi kau lupa bahwa meskipun aku manusia biasa tapi seumur hidup ku sudah melayani penyihir seperti mu" ujar Joyi.
"Aku tidak akan memaafkan apa yang telah kau lakukan, kau harus ingat bahwa pedang bermata dua tak hanya mengincar lawan"
"Aku tahu, karena itu memakai baju zirah" sahut Joyi tanpa gentar.
"Jack sudah mengetahui apa yang kau lakukan pada Catherine, dia tidak akan membiarkan mu kali ini"
"Saat dia memutuskan untuk memasang cincin di jari manismu sejak saat itu kalian sudah menggali kuburan kalian sendiri, apa pun yang ku lakukan akan di buruk di mata kalian karena itu aku sama sekali tidak masalah" ujarnya.
Tanpa menunggu Jessa mengeluarkan kata-kata atau umpatannya Joyi segera pergi meninggalkan tempat itu.
Membawa kekesalan ke dalam rumah Ryu menghadangnya dengan menagih penjelasan tentang apa yang terjadi, ia memang tahu ketegangan yang terjadi antara Jack dan Chad bahkan fakta bahwa Chad adalah keponakannya bahkan sudah tersebar diantara pelayan.
Tapi penyesalan di mata Jack tentu hal yang berbeda, apalagi kini Jessa pulang dengan nampak tidak tenang.
"Kau ingat saat Jack kecelakaan?" tanya Jessa.
"Ya, aku ingat. Saat itu aku di luar negri dan cepat pulang karenanya"
"Dalam kecelakaan itu pasangan suami istri tewas di tempat, mereka adalah orangtua angkat Chad"
"Apa? bagaimana bisa?"
"Aku sudah memastikan kebenarannya, itulah yang membuat ayah mu kini meringkuk dalam penyesalannya. Akibat kecelakaan ini Chad semakin yakin bahwa yang membunuh ibunya adalah Jack, sekali pun ada bukti yang menyangkal tuduhan itu kemungkinannya sangat kecil bagi Chad untuk memaafkan Jack" ujar Jessa.
Ryu merenungkan segala musibah yang terjadi dalam keluarga itu, hal yang sulit di lawan memanglah keluarga sendiri.
__ADS_1
"Jika terus begini maka Joyi akan mendapatkan apa yang ia inginkan, pertumpahan darah dalam keluarga Hermes" ucap Jessa.
Ryu hanya bergidik, membayangkan apa yang sempat terjadi di masa lalu dimana Anna menguhunuskan pedangnya kepada Reinner.
"Tidak, kita harus menghentikannya" sahut Ryu.
* * *
Kenyataan tentang Chad yang bagian dari keluarga Hermes telah memukul hati semua orang, tapi diantara yang terluka Violet lah yang paling menderita.
Ia banyak berharap pada Chad namun kenyataan selalu merenggut kebahagiaan darinya, masalah keluarga Hermes adalah satu-satunya masalah konyol yang membuatnya semakin mengutuk diri sendiri.
Dalam masa frustasi tanpa sengaja telinganya mendengar percakapan antara Jessa dan Ryu, tengkuknya bergidik membayangkan pertumpahan darah antar saudara yang sempat di bahas.
Tapi beberapa menit kemudian sebuah ide muncul dalam benaknya, tanpa menunggu lagi ia segera bergegas meninggalkan rumah.
Tujuannya adalah Joyi yang ia temui di tempat biasa, dengan tak sabar tangannya terus saja mengetuk-ngetuk meja sambil sesekali melihat arah pintu masuk.
"Maaf aku telah membuatmu menunggu" ujar Joyi segera menyapa begitu sampai.
"Tidak masalah, aku tahu anda sangat sibuk"
"Yah... banyak pekerjaan yang harus ku urus" sahut Joyi membenarkan.
"Pasti itu merepotkan, aku harap anda selalu di beri kesehatan"
"Terimakasih Violet, lalu hal apa yang membuat mu meminta pertemuan ini?"
"Ah sebenarnya... aku sudah mendengar tentang Chad dan keluarga Hermes" jawab Violet tanpa berbasa-basi.
Joyi masih terdiam, mendengarkan hal apa yang akan di katakan Violet.
"Aku cukup terpukul akan kenyataan itu, anda tahu putriku telah berkorban segalanya demi pertunangan ini. Mendengar kenyataan ini putriku mengalami trauma yang cukup parah, aku takut hal ini akan membuatnya mengulang insiden yang telah lalu" ujarnya.
"Aku menyesal hal ini harus terjadi, sebagai gantinya aku akan mengirimkan dokter terbaik untuk merawat putrimu" ujar Joyi yang lelah dengan drama itu.
"Tidak, tidak!" sergah Violet.
"Ma-maksud ku dokter tidak sepenuhnya bisa mengatasi trauma Kyra, saat ini yang terbaik baginya adalah membimbingnya secara perlahan pada kenyataan ini dan satu-satunya yang bisa melakukannya hanya Chad, aku harap anda bisa mengerti itu" sahutnya dengan wajah memelas.
Joyi menatap tajam pada wajah seorang artis panggung, begitu lihai berekspresi dengan kata-kata yang meyakinkan. Sejenak ia hanyut akan rasa kasihan dan haru dari perjuangan seorang ibu demi anaknya, tapi kemudian ia tersadar pada sifat yang telah ia tebak.
"Jadi...apa saran mu?" tanya Joyi.
"Dengan kemurahan hati anda, ijinkan Kyra tinggal bersama di kediaman anda bersama Chad" jawabnya.
Joyi tak pernah mengira Violet bisa begitu lancarnya mengatakan permohonan yang tidak masuk akal, menjadikan putrinya sebagai umpan ia yakin ada niat terselubung di balik permohonan itu.
"Tolong anda jangan melihat aku sebagai anggota keluarga Hermes, aku hanya seorang menantu di rumah itu yang baru beberapa bulan tinggal. Dan meskipun putri ku memiliki darah Hermes aku bisa menjamin kami tidak ada kaitannya dengan masalah ini" ujarnya cepat untuk lebih meyakinkan Joyi.
Entah apa yang di rencanakan Violet yang pasti Joyi tahu ia harus hati-hati, selain dari itu ia juga melihat sebuah celah dari kesempatan ini.
"Baik, akan ku atur semuanya dan jika sudah siap aku akan menghubungimu" jawabnya.
"Benarkah?" tanya Violet memastikan.
"Mau bagaimana pun juga aku harus bertanggung jawab atas apa yang kami lakukan terhadap Kyra, tapi kau harus ingat untuk memegang perkataan mu sendiri"
"Tentu saja, yang terpenting bagiku adalah kyra. Sebentar lagi dia akan lulus karena itu tidak boleh ada hal apa pun yang menghalangi kesehatan mental dan fisiknya"
"Kalau begitu sampai jumpa nanti"
"Baik, sampai jumpa lagi. Hati-hati di jalan" jawab Violet.
Rencananya berjalan dengan cukup mulus, ini membuat satu harapan baru bagi Violet untuk benar-benar merubah nasibnya.
"Persetan dengan masalah keluarga, aahh.... andai aku memiliki anak laki-laki juga pasti semuanya akan lebih mudah" gumamnya.
__ADS_1