Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 58 Tujuan Yang Tersembunyi


__ADS_3

Seorang reporter mengabarkan ramalam cuaca esok hari akan turun salju pertama, anak-anak mulai bersikap baik bahkan membantu lansia demi kado natal yang akan di berikan pria tua berjanggut putih belum lama lagi.


Tahun ini akan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sepanjang jalan semua tempat akan berwarna putih dengan boneka salju di setiap pekarangan rumah.


Tapi ada satu hal yang berbeda di tahun ini bagi Chad, ia memiliki seseorang yang harus di buat tersenyum. Seseorang yang menggengam hatinya dengan cukup erat sehingga usaha apa pun yang ia lakukan akan sia-sia hanya untuk membuka satu jari sekali pun.


Sayangnya kado yang akan ia berikan harus di bayar dengan harga mahal, bukan dari nilai mata uang melainkan masa yang belum datang.


"Saya sudah menyiapkan semua yang anda minta" ujar Manager San memberitahu.


Meski tatapannya tertuju pada sebuah kayu dengan ukiran nama bayinya tapi apa yang Chad lihat lebih dari sekedar itu, di simpannya benda itu dalam sebuah kotak dan menutupnya dengan rapat.


"Segera siapkan mobil, kita pergi sekarang" ujar Chad.


"Baik" jawab Manager San patuh.


Manager San berjalan lebih dulu untuk menyiapkan mobil, sementara Chad berpamitan pada Joyi. Ada senyum pahit yang pertama kali Joyi perlihatkan, tentu karena ia ingin Chad pun tidak menyia-nyiakan kebahagiaan yang baru saja ia dapat.


Restu yang ia berikan dengan setengah hati itu terpaksa mengantar kepergian Chad hingga depan pintu, sebelum masuk ke dalam mobil masih ada senyum yang mengembang di wajah Chad seolah berkata 'semua akan baik'.


Pintu mobil di tutup setelah Chad masuk, saat mobil melaju Joyi masih berdiri di sana untuk melihat kepergian cucunya yang berjiwa kuat.


"Kemana Chad pergi?" tanya Alisya yang baru menghampiri.


"Menuntaskan pekerjaannya" jawab Joyi pelan.


Chad telah memikirkannya dengan cukup matang, ia sudah siap menanggung segala resiko demi tibanya hari ini. Meskipun salah satu dari resiko yang akan ia terima adalah mati dalam kesendirian saat hatinya telah memiliki seseorang, bahkan di masa ini ia juga memiliki sebuah keluarga yang selama ini ia idamkan.


"Kita sudah sampai tuan" ucap sang supir memberitahu.


Hhhhhhh


Helaan nafas itu menandai hati yang siap bertempur, kepalanya bergerak menengok sebuah gerbang yang maha megah dengan seorang penjaga di dalamnya.


Manager San yang lebih dulu keluar segera membukakan pintu untuknya, dengan di dampingi Manager San yang tepat di belakangnya segera ia menghampiri penjaga gerbang tersebut.


"Beritahu tuan mu bahwa tuan muda Chad hendak bertamu" ujarnya.


Penjaga gerbang itu menundukkan kepala tanda mengerti sebelum ia berlari menuju rumah, dari balik gerbang itu ia bisa melihat tak berapa lama kemudian Violet keluar dari rumah. Langkahnya yang cepat mengiringi senyuman bahagia di wajah cantik yang mulai menua, di balik tubuhnya yang langsing Chad juga melihat anggota Hermes yang lain mulai keluar untuk melihat.


"Selamat siang nyonya Violet" sapa Chad.


"Siang juga, silahkan masuk" jawab Violet senang.


Chad mulai melangkah masuk di ikuti Manager San di belakangnya, saat bertemu dengan anggota Hermes yang lain tak lupa ia juga menyapanya. Duduk di ruang tamu setelah pelayan menyajikan minuman Violet pun mulai berbincang dengan menanyakan kabar hanya untuk basa basi.


"Aku senang sekali kau mau datang berkunjung" ujarnya.


"Saya pun begitu, akhir-akhir ini saya tengah di sibukkan dengan pekerjaan hingga cukup sulit untuk memiliki waktu senggang karena itu saya pikir ini waktu yang baik untuk berkunjung setelah acara makan malam itu"


"Kau benar sekali, aku agak sedih karena kau langsung pulang begitu saja tanpa memiliki waktu untuk bersantai dengan kami" sahut Violet.


Chad memang tersenyum menanggapi obrolan dari Violet, tapi matanya selalu dapat melihat jelas raut wajah Jack, Shigima dan Ryu yang kurang berkenan akan kehadirannya.


"Anda sangat baik, saya merasa tersanjung atas sikap nyonya yang mau menerima bahkan menganggap saya sebagai bagian dari keluarga untuk itu ijinkan saya untuk meminta beberapa menit" ujar Chad yang kemudian menatap Manager San.


Satu anggukan itu cukup membuat Manager San paham, ia segera pergi keluar sementara keluarga Hermes menatap bingung. Tak berapa lama kemudian Manager San masuk kembali ke dalam rumah dengan membawa beberapa hadiah di bantu oleh pelayan yang ada.


"Saya pikir ini adalah waktu yang tepat, saat ini nona Kyra memang masih belia tapi bukan berarti hubungan ini dapat tertunda. Seperti yang anda lihat, tanpa mengurangi rasa hormat saya ingin meminta persetujuan Tuan Jack sebagai kepala keluarga di rumah ini dan Tuan Ryu sebagai seorang ayah. Dengan mahar yang telah saya bawa saya menginginkan Kyra sebagai bagian dari hidup saya, semoga anda semua berkenan" jelas Chad tak lupa memberi hormat.

__ADS_1


"Ma-maksud mu...kau...ingin menikahi Kyra?" tanya Violet tak percaya.


"Terlalu dini untuk mengatakannya seperti itu, tapi saya harap kita bisa mengikat sebuah tali kekeluargaan dengan pertunangan. Saat ini nona Kyra masih dalam masa belajar, lagi pun saya pikir nona Kyra ingin pendekatan yang perlahan agar dapat saling mengenal baik dengan saya" jawab Chad.


Hampir Violet meloncat dari tempat duduknya saking senangnya mendengar berita itu, akhirnya mimpi menjadi nyonya besar yang selama ini ia idamkan akan menjadi kenyataan.


Tapi kebahagiaan itu tidak berlaku bagi anggota Hermes yang lain, terlebih Jack yang bahkan dengan kunjungan Chad saja membuatnya tidak nyaman.


"Aku sangat senang mendengar berita ini, sayang Kyra sedang tidak ada di rumah" ujar Violet menatap barang-barang yang berada di atas meja.


"E-hm, seperti yang kau katakan memang terlalu dini untuk mengikat sebuah hubungan sakral. Karena kau pun paham akan hal itu aku yakin kau juga paham bahwa kami juga tidak bisa langsung menyetujui hal ini" ujar Jack yang meebuat mata Violet tertuju padanya.


"Ah, ya tentu saya juga paham" sahut Chad.


"Tuan muda, jika anda berkenan tolong beri kami waktu sebentar" ucap Violet memaksakan diri untuk tersenyum.


"Oh, tentu saja" jawab Chad.


Cukup dengan sebuah tatapan Jack mengerti ia harus pergi dari ruangan itu dan mengikuti Violet masuk ke dalam, melihat hal itu sebagai ayah Ryu pun ijin meninggalkan ruangan hingga tersisalah hanya Shigima untuk menemani.


"Sudah aku katakan untuk tidak ikut campur dalam urusan ku, kenapa ayah masih melanggarnya?" tanya Violet dengan nada yang cukup tajam.


"Pertama dia lebih dulu menyebut ku sebagai kepala keluarga di rumah ini itu artinya dia lebih dulu ijin kepadaku, kedua kau tahu alasan ku tidak menyukainya" jawab Jack masih dengan nada lembut.


"Semua itu hanya pormalitas, lihat betapa sopannya ia yang tahu bagaimana cara berdab untuk menghormati yang lebih tua. Tapi bukan berarti kau yang memutuskan" ujar Violet sinis.


"Violet tolong pelankan suara mu sedikit, kau tidak pantas bicara seperti itu kepada ayah" timpal Ryu yang justru mendapat tatapan tajam.


"Aku tidak ingin berdebat lagi tentang hal ini, pokoknya aku akan menerima lamaran Chad"


"Kau tidak boleh melakukan hal itu, kita tidak kenal baik anak itu bahkan kita tidak tahu bagaimana keluarganya" sergah Jack sekali lagi.


"Apa? kapan itu terjadi?" tanya Ryu yang cukuo kaget mendengar pengakuan tersebut.


"Sudahlah kau tidak perlu ikut campur"


"Violet! aku adalah ayah Kyra dan ikut berhak atas dirinya" sahut Ryu serius.


"Benarkah? lalu dimana tanggung jawab mu sebagai ayah selama ini? kenapa kau tidak kembali sibuk dengan pasien miskin mu dan urusan sihir yang tidak menghasilkan apa-apa? biarkan aku dengan caraku membahagian putriku."


Ada tekanan penuh dalam ucapan itu yang membuat dadanya terasa sesak, baik bagi Violet maupun Ryu ucapan itu sama menyakitkannya dengan seribu tusukan jarum di tempat yang berbeda.


Bahkan Jack pun tak sangguo bicara di tengah masalah keluarga anaknya sendiri, mungkin sifat kasar Violet akhir-akhir ini adalah pelampiasan kesabaran yang ia pertahankan selama beberapa tahun.


"Maafkan aku" ujar Ryu pelan.


"Maaf? untuk apa? karena janji yang tidak bisa kau penuhi padaku? tidak masalah, justru aku berterimakasih padamu karena sudi membawaku keluar dari panggung drama meski hak itu tidak cukup membuat ku bahagia."


Sekali lagi dadanya terasa sesak, mencoba bertahan dalam ujian kehidupan ini meski ada air mata yang mengalir ia mencoba untuk tersenyum.


"Setidaknya tolong jangan putuskan masalah ini sendiri, kita tidak boleh egois atas kehidupan putri kita. Blue pun punya hak untuk masa depannya sendiri, jadi biarkan dia yang memutuskan" bujuk Ryu.


Pemuda seperti Chad sangatlah sukar di dapatkan sekali pun ia memiliki nama besar di belakang namanya, Violet takut dia tidak akan mendapatkan kesempatan besar seperti ini lagi tapi bujukan Ryu selalu mampu membuatnya luluh.


Pada akhirnya Chad pulang tanpa jawaban pasti, ia harus menunggu sampai Kyra memberikan jawabannya sendiri. Tidak menjadi masalah besar baginya, sebab Chad tidak mengincar Kyra.


Sejak awal Kyra memang adalah jembatan baginya, di balik lamaran yang ia kirimkan ada tujuan lain yang ia sembunyikan. Yaitu sebuah retakan di atas pondasi rumah Hermes, saat retakan itu semakin lebar maka hanya butuh satu pukulan ringan untuk menghancurkannya.


* * *

__ADS_1


Tentu saja Keenan sadar akan tatapan itu, ia mengerti mengapa Hans bahkan tak berkedip saat melihat kedatangan Shishio.


"Ah, kenapa kau tidak menyapa rekan sesama penyihir mu?" tanya Keenan.


"Aku datang untuk melaporkan hasil penelitian ku" ujar Shishio yang memalingkan pandangannya dari Hans meski tatapan Hans masih tertuju padanya.


"Kau sudah mendapatkan hasilnya?" tanya Keenan.


Kini pandangan Hans beralih pada botol emas yang di berikan Shishio kepada Keenan, seperti yang ia duga ramuan itu telah diambil darinya.


"Ini benda yang cukup unik, aku belum pernah melihatnya dimana pun. Ada campuran mineral dan lainnya tapi untuk fungsinya sendiri aku tidak tahu, yang pasti ini bukanlah racun melainkan semacam obat" jelas Shishio.


Keenan mengernyit mendengar penjelasan itu, beralih pada Hans ia bertanya.


"Apa yang akan kau gunakan dengan benda ini? lalu kenapa kau mencuri abu Lord vampire juga?"


"Heh, jika kau ingin jawabannya bukankah kau harus membiarkan ku hidup?" jawab Hans dengan senyum meremehkan.


Vampire penjaga yang melihat sikap itu terlihat geram dan hendak memberi Hans pelajaran dengan satu tonjokan saja, tapi Keenan justru senang. Ia bisa melihat pelajaran keras yang di terima Hans untuk membuat sikap kuat itu, tanpa mengurangi rasa hormatnya Hans bersikap layaknya pria jantan.


"Sepertinya kau pandai bernegosiasi" komentar Keenan.


"Itu tergantung pada penawaran mu"


"Hehe, bukankah bisa menghirup udara secara gratid sudah menjadi harga yang pantas?"


"Hhhhhhh rupanya harga ku cukup murah, aku pikir akan ada sesuatu yang lebih" ucap Hans menghela nafas.


"Kau benar-benar pintar bernegosiasi" komentar Keenan.


"Bawa dia ke bawah dan jangan lupa beri makan" ujar Keenan memerintahkan bawahannya.


Sementara Hans bertanya-tanya dalam benaknya tentang keberadaan Shishio yang sepertinya bukanlah musuj di istana dan tentang apa yang akan di lakukan Keenan padanya, Keenan sendiri rupanya sudah punya rencana.


"Aku akan membuat surat udangan untuk pemimpin kaum penyihir, kami perlu bertemu untuk membahas sesuatu" ujar Keenan di dalam kamarnya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan penyihir itu?" tanya Tianna.


Jelas Hans memiliki maksud yang tidak mereka ketahui, tapi menginterogasinya adalah hal percuma. Di lihat dari keberaniannya yang masuk ke wilayah musuh seorang diri sudah di pastikan Hans tak akan buka mulut sesulit apa pun.


"Aku akan menyuruh Shishio untuk meneruskan penelitiannya, aku yakin jawabannya pasti ada pada benda itu. Setelah selesai menulis surat akan ku suruh penyihir itu untuk mengantarkannya"


"Jadi kau akan membebaskannya begitu saja?" tanya Tianna.


"Dia tidak terlalu berguna, sekuat apa pun dia aku masih melebihinya. Kita juga punya Shishio yang lebih pintar dan handal dalam mencari informasi, di tambah vampire tua yang tidak perlu di ragukan lagi serta kau yang bisa ku andalkan" jawabnya.


"Tapi Shishio masih baru, dia memang orang yang asik di ajak mengobrol tapi kau tahu sulit percaya pada orang seperti itu"


"Kau tenang saja, dia juga tak luput dari ujian" jawab Keenan yang memang sudah punya rencana untuk Shishio.


Selesai menulis surat di suruhnya seorang penjaga untuk membawa Hans menghadap padanya, dalam keadaan bingung itu Keenan menyuruhnya untuk menjadi merpati pembawa pesan.


Hal itu cukup mengagetkan Hans karena di luar dari ekspetasinya, setidaknya ia pikir akan mendapat beberapa pelajaran yang membekas di tubuhnya. Tapi Keenan hanya menyuruh beberapa prajurit untuk mengantarnya hingga ke perbatasan, memastikan Hans benar-benar pergi tanpa meninggalkan masalah.


Satu urusan telah selesai, kini Keenan beralih pada Shishio. Ia mengajaknya pergi ke suatu tempat yang ternyata cukup jauh, tempat itu berada di wilayah manusia namun tak terjamah tangan manusia.


Dengan curiga Shishio memperhatikan jalur yang mereka lewati hingga tiba di satu rumah yang lebih mengerikan dari tempat dimana ia pertamab kali ikut bergabung, masuk ke dalam rumah yang lebih gelap dari gua mereka menuju ke ruang bawah tanah.


Seorang vampire bertubuh tinggi besar menyambut kedatangan mereka, disanalah. Sebuah ruang berdinding teralis besi dengan bau apek dan busuk yang bercampur menjadi satu Shishio melihat seonggok tubuh yang di rantai.

__ADS_1


__ADS_2