Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 39 Evolusi Vampire


__ADS_3

Jika ingin mencari Dewi Keabadian maka makam Lord vampire adalah tempat pertama yang harus di tuju, sebab di makam itulah dulunya batu keabadian berada sampai tiba-tiba hilang di curi seseorang.


Dalam pelariannya demi menyelamatkan dunia Hans masih tidak habis pikir pada apa yang baru ia dengar dari Shishio, bagaimana bisa semua orang menyembunyikan identitas Dewi Keabadian terhadapnya padahal dia adalah keponakan dari sang Dewi.


Tak banyak yang di ceritakan Shishio, hanya garis besar yang mudah di mengerti saja. Sejauh ini yang ia ketahui hanya Anna adalah keturunan murni dari keluarga Hermes, selama di Akademi ia sangat berprestasi hingga suatu ketika Ratu vampire terdahulu menginginkannya tinggal di istana.


Sayang setelah beberapa waktu lalu Anna tinggal di sana Ken yang berniat membawanya pulang meninggal di istana tersebut, setelah membawa jasad Ken kembali Anna pergi entah kemana dan kembali sebagai bangsawan vampire.


Di dalam darahnya memang mengalir darah vampire sampai terkuak bahwa batu keabadian yang di cari para vampire itu adalah Anna, dalam perang besar yang terjadi Anna memihak pada penyihir dan membunuh ratu vampire saat itu yaitu Viktoria.


Beberapa vampire yang ingin hidup damai keluar dari istana dan hidup sebagai pengelana, sedang mereka yang tidak mau tunduk pada aturan yang di buat pemimpin penyihir diam-diam mengumpulkan kekuatan untuk menyerang balik.


Hanya untuk beberapa waktu Reinner Hermes pamannya berhasil menjabat sebagai Raja vampire tapi di gulingkan dari tahta karena suatu alasan yang masih belum pasti, bahkan di jatuhi hukuman mati.


Kini Hans menjalani misi rahasia yang hanya di ketahui oleh dirinya dan Shishio, ia harus membawa Anna kembali untuk menghentikan kehancuran.


Perjalanannya yang berat dengan keluar masuk hutan bahkan bertemu dengan beberapa vampire ganas yang menyerang membuatnya hampir putus asa, tapi saat ia berhasil menemukan sebuah makan kuno yang di duga makan Lord vampire semangatnya kembali berkobar.


"Akhirnya... aku menemukannya" ujarnya menatap kuburan yang tak berbetuk itu.


Hans segera menghampirinya, memeriksa diantara puing yang berserakan di tanah. Dari batu nisan itu tertulis nama Lord yang telah memudar, di lihatnya sekitar tempat itu mencari-cari sebuah petunjuk sampai ia ingat ucapan Shishio.


"Kemungkinan Sang Dewi tidak ada di dunia kita, tapi berada di dimensi yang lain. Untuk menemukannya kau harus masuk ke sebuah portal yang terhubung dengan dimensi itu, gunakan peralatan yang ku berikan agar kau bisa menemukan portal itu."


Hans mengeluarkan sebuah kantung kecil, dari dalamnya ia mengambil sebuah serbuk berwarna biru yang kemudian ia taburkan di sekeliling makam itu. Beberapa menit kemudian taburan bubuk itu berubah warna menjadi merah muda yang cantik.


"Yes! aku menemukannya, jika bubuknya berubah warna itu artinya ada sihir yang tertinggal di sini" teriaknya gembira.


Hans kembali menaburkan bubuk itu mengikuti alur sampai ia masuk lagi ke dalam hutan, langkahnya terhenti saat bubuk biru itu hanya berubah warna di sebuah pohon yang berlubang.


"Apakah ini portal menuju dimensi lain?" tanyanya menerka.


Tak ada waktu untuk menimbang Hans membuat keputusan dengan mencoba masuk ke dalam lubang di pohon itu, saat ia melangkah masuk tiba-tiba kakinya tergelincir dan.


Aaaaaaaaahhh....


Bruk


Ia terjatuh tepat di atas tanah setelah meluncur dari dalam pohon, Hans meringis kesakitan sambil mengusap bokongnya. Tapi pemandangan hutan yang luar biasa dengan cepat mengalihkan perhatiannya.


Hutan itu sangat indah dengan nuansa oranye, daun-daun maple berjatuhan hingga menutupi tanah. Ia bangkit dan berjalan diantara pohon-pohon, entah mengapa matahari tiba-tiba siap tenggelam padahal beberapa menit yang lalu masih siang benderang.


"Aku rasa ini efek dari portal, rasanya seperti beberapa detik tapi nyatanya berjam-jam. Lalu... apa ini dimensi yang di sebut guru? jika benar aku sudah dekat dengan Sang Dewi" gumamnya.


Hans terus berjalan sampai malam tiba, lelah berjalan ia memutuskan untuk membuat api unggun dan bermalam. Untung ia masih punya beberapa roti untuk mengisi perutnya yang kosong, hutan itu pun nampak sepi yang membuatnya tak yakin akan berburu.


Ia baru menghabiskan satu bungkus roti dan bersiap untuk tidur sampai tiba-tiba sebuah bayangan hitam melintas di atas kepalanya.


Srek...


Hans cepat bangun dan mengambil kuda-kuda dengan pedang di tangannya, makhluk itu bersembunyi di balik kegelapan sehingga ia tak bisa melihat dengan jelas.


"Siapa kau?" teriak Hans


Makhluk itu tak menjawab tapi mengeluarkan suara geraman seperti binatang, dengan perlahan Hans maju untuk melihat seperti apa wujud dari makhluk yang mencoba menyerangnya.


Sreet..


Ah...


Entah bagaimana bisa tapi makhluk itu bergerak sangat cepat sampai melukai lengannya hingga berdarah, sadar posisinya yang dalam bahaya ia cepat kembali ke api unggun namun sebuah makhluk yang cukup besar menghadangnya.

__ADS_1


"Baiklah.. rupanya kalian bergerombol" ujar Hans.


Dddsssshhhhh


Entah itu suara nafas atau ******* yang lain, di dalam kegelapan Hans tak bisa melihat dengan jelas tapi ia cukup mampu menyerang dengan tepat.


Srak Srak Srak Srak


Trang... buk buk


Trang.. Trang....


Entah makhluk macam apa yang sedang ia hadapi, hanya mata ungunya saja yang bisa ia lihat di tengah kegelapan itu. Yang jelas makhluk itu cukup kuat sebab mampu menahan serangannya, ia juga cukup cepat bahkan lebih cepat sehingga menyudutkannya.


'Sial! jika terus begini aku bisa mati' batinnya sambil menahan rasa sakit di lengannya akibat luka cakaran.


Hans cepat mencari celah untuk kabur, menghadapi dua makhluk sekaligus yang berkekuatan hebat sangatlah tidak mungkin baginya untuk menang.


Srek Srek Srek Srek


Trang...


Ia berlari dengan cepat dan menyerang menggunakan pedangnya meskipun ia tahu makhluk itu dapat menangkisnya dengan cakar, yang terpenting adalah celah untuk melarikan diri.


'Yosh! aku berhasil!' batinnya saat berhasil kabur.


Hans kembali ke api unggunnya untuk mengambil tas, tapi saat ia hendak melangkah pergi makhluk ia sudah tepat berada di depannya. Hans berbalik dan mencoba mengambil jalan lain, tapi ia kembali di hadang.


Kini ia sadar bahwa dirinya telah di kepung, kawanan makhluk itu berjalan mendekatinya secara perlahan sampai wujud mereka dapat Hans lihat berkat cahaya dari api unggun.


Tak ada yang bisa Hans katakan ketika melihat tubuh manusia berotot dengan kulit hewan yang menutupi alat vital mereka, mata ungunya tetap bersinar dengan sepasang taring yang muncul dari mulut.


Hans telah berpikir ini adalah akhir dari hidupnya, namun ia tidak bisa menyerah begitu saja. Sebagai upaya terakhir ia membuat perisai yang melindungi tubuhnya, tapi tiba-tiba.


Jleb


Sebuah anak panah yang datang entah dari mana tiba-tiba menancap tepat di bawah kakinya, beberapa saat kemudian muncul seseorang dari langit yang kini berdiri tepat di hadapannya.


Hans tak dapat melihat wajahnya, tapi dari pakaiannya ia seperti seorang putri. Orang itu tak bicara apa pun, ia hanya menatap makhluk di hadapannya dan anehnya para makhluk itu tiba-tiba pergi meninggalkan mereka.


"Nah... anak muda, mengapa kau bisa ada di sini?" tanya putri itu sambil membalikkan badan.


Namun Hans tak bisa menjawab, ia terpesona pada kecantikan sang putri. Rambutnya terurai panjang dengan warna perak yang berkilau, kulitnya putih tapi dengan pipi yang merona, bentuk kupingnya cukup aneh karena lancip tapi justru membuatnya terlihat seperti bidadari. Di tangannya ada sebuah busur ia Hans terka anak panah tadi berasal darinya, dengan mata biru yang indah putri itu menatap Hans dan berkata.


"Siapa kau?."


* * *


Ima datang kembali ke rumah Colt setelah beberapa hari tak muncul, saat itu seperti biasa Colt berada di ruang baca dengan buku yang terbuka.


"Colt... " panggilnya.


"Ada apa?"


"Aku... ingin berterimakasih padamu dan paman Jhon yang telah menyelamatkan ayah ku, kami sudah pindah ke tempat yang lebih aman sesuai perintah paman Jhon"


"Itu bagus" jawab Colt acuh seperti biasa.


"Tempat tinggal ku yang sekarang agak lebih jauh, jadi aku tidak bisa datang lagi ke sini."


Colt berhenti membaca, kemudian dia bangkit dari tempat duduknya dan perlahan mendekati Ima dengan tatapan yang tajam. Hal itu membuat Ima sedikit gugup sehingga ia mundur beberapa langkah, tapi Colt semakin mendekat sampai Ima tak bisa mundur lagi sebab ada dinding.

__ADS_1


Bruk


Tiba-tiba Colt menempatkan tangannya tepat di samping Ima seolah menjaganya agar tidak kabur.


"Apa kau mau lari dari hutangmu? ingatlah kau masih punya banyak hutang kepadaku dan satu-satunya cara untuk melunasinya adalah dengan bekerja sebagai pelayan di sini" ujar Colt dingin.


Bukannya takut pada peringatan yang di berikan Colt tapi wajahnya yang cukup dekat membuat Ima hilang konsentrasi dan terpana begitu saja.


"Colt... aku mohon jangan tatap aku seperti itu, kau membuatku merasakan sensasi yang bergejolak" ujarnya.


Ucapan Ima mempengaruhi dirinya, tatapan Colt mulai meredup bahkan ia menjadi kikuk karena kini giliran Ima yang menatapnya sambil tersenyum.


* * *


Hans belum mengetahui namanya, ia juga belum memberitahu siapa dirinya dan keperluan yang membuatnya berada di sana. Putri itu terfokus pada luka di lengan Hans sehingga ia mengajaknya untuk pergi, mereka masuk ke dalam sebuah gua yang di setiap sudutnya terdapat lilin minyak sebagai penerangan.


Putri itu mengambil air untuk membasuh luka di lengannya, lalu sebuah ramuan berwarna hijau yang ia tebak dari daun-daun yang di haluskan ia oleskan di luka itu. Ada sedikit rasa perih tapi Hans masih bisa menahannya, setelah itu barulah ia tutup dengan kain dan mengikatnya.


"Sebenarnya makhluk apa tadi?" tanya Hans.


"Vampire"


"Vampire? heh tidak mungkin" ujar Hans tak percaya.


"Kenapa tidak mungkin?" tanya putri itu.


"Karena vampire tidak berwujud seperti itu, mereka memang memiliki taring tapi wujudnya sama seperti manusia biasa. Yah satu-satunya kemiripan hanya keganasan mereka saja"


"Aku yakin yang kau maksud adalah vampire yang telah berevolusi"


"Apa maksud mu?" tanya Hans tak mengerti.


"Karena kau seorang penyihir maka akan ku jelaskan"


"Dari mana kau tahu bahwa aku penyihir?" tanya Hans kaget.


"Hanya seorang penyihir yang bisa membuat perisai" jawabnya.


"Bangsa vampire terdahulu membuat luka di tubuh korban dengan taringnya lalu menghisap darah mereka hingga habis, mereka punya kepercayaan dengan menghisap darah korban hingga habis maka mereka menjaga jiwa korbannya di alam suci. Hal ini ada karena setiap vampire yang menghisap darah seorang manusia maka semua sifat dan kebiasaan manusia itu akan beralih kepada vampire yang menghisapnya, kadang berbagai kenangan pun akan dapat vampire itu ingat dalam benaknya" jelasnya.


"Biar ku perjelas, misalkan aku seorang vampire dan ku hisap darah mu sampai habis maka semua kebiasaan mu tanpa ku sadari ku lakukan juga. Seperti kau suka makan mangga, meski aku tidak suka tapi karena telah menghisap darah mu aku pun juga menjadi suka makan mangga"


"Aku mengerti" ujar Hans.


"Dengan meminum darah manusia para vampire tak hanya berumur panjang, tapi mereka juga kuat. Namun dengan berbagai jiwa yang berada di tubuh mereka perlahan itu membuat mereka kehilangan jiwa mereka sendiri, kini mereka hanya memiliki sedikit pikiran untuk tetap melanjutkan tradisi itu sisanya hanya ada insting dan naluri. Itulah mengapa mereka berburu secara berkelompok, sedang vampire yang kau sebutkan tadi adalah jenis vampire yang telah berevolusi"


"Apa? itu artinya... yang barusan ku temui adalah leluhur vampire?"


"Ya, di sini mereka di panggil vampanences. Dahulu kala seorang vampanences muda yang belum banyak meminum darah manusia merasa takut sanggup menahan jiwa-jiwa yang tertinggal dalam tubuhnya, hingga ia memutuskan untuk mengambil darah manusia secukupnya. Rupanya hal itu membuat kecerdasan otaknya meningkat, dengan kecerdasan yang ia miliki beberapa generasi baru ia bujuk agar ikut dalam caranya berburu. Perlahan mereka pun meniru gaya manusia dari berbagai hal, hingga yang awalnya tinggal di gua mereka menjadi pindah ke kastil-kastil.


Tentu para pendahulu mereka murka karena dengan meniru manusia atau tidak menghisap darah manusia hingga habis mereka telah menentang adat suci yang sudah berlangsung selama ribuan tahu. Perdebatan sempat terjadi, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah menjadi dua kubu. Para pendahulu yaitu vampanences dan mereka yang berevolusi yaitu vampire, namun sejarah penyihir hanya tahu satu makhluk yaitu vampire yang di pimpin oleh sang pencetus revolusi"


"Lord.... vampire.... " ujar Hans melanjutkan.


"Aku tidak menyangka vampire memiliki sejarah seperti ini, pantas mereka memiliki kemiripan. Lalu... bagaimana caramu membuat kawanan Vampanences pergi tanpa bertarung?" tanyanya.


"Aku berkomunikasi dengan mereka lewat telepati"


"Apa? telepati? bagaimana bisa kau melakukannya?" tanya Hans bingung.


"Mudah saja, telepati adalah cara berkomunikasi lewat pikiran. Aku tidak hanya bisa melakukannya dengan kawanan vampanences saja, tapi juga dengan hewan dan berbagai makhluk lain di hutan ini karena aku.... adalah Elf, penjaga hutan" jelasnya.

__ADS_1


__ADS_2