
"Omong kosong! kau pikir aku akan percaya bualan mu itu?" sergah Jack.
"Aku tidak akan repot-repot membuatmu percaya karena aku tahu apa pun yang akan ku katakan semuanya tak dapat kau terima, seperti kata peramal itu cinta mu terlalu kuat hingga membutakan matamu" balas Joyi tenang.
Jack mengepalkan tangannya untuk menahan amarah, menatap Joyi seakan ia rubah yang licik.
"Tapi setidaknya kau harus menyadari hal ini, semua ramalan itu telah terbukti. Akibat dari kebutaan mu Anna yang sangat kalian cintai harus menanggung derita di muka bumi ini, tak cukup sampai di sana bahkan Ken tiada karena keegoisan mu dalam mencintai. Andai Jessa benar-benar mati maka Anna takkan pernah terlahir di dunia ini dan Ken juga tidak akan meregang nyawa"
"I-itu... " gumam Jack menyadari kesalahannya yang telah lalu.
"Jika kau masih mencintai Jessa maka sampai kapan pun hatimu hanya akan di lingkupi keserakahan akan dirinya, ingatlah bahwa Kyra juga hampir bunuh diri karena mu. Aku sudah bersumpah kepada orangtuamu untuk menjaga keturunan Hermes, karena itu jika perlu akan ku renggut semua cucumu asal mereka tetap bisa hidup" lanjutnya.
Kini Jack terdiam, tak mampu berkata-kata sebab Joyi memegang salah satu kelemahannya.
"Apa pun caranya akan ku lakukan demi keturunan Hermes, sekali pun harus membunuh mu atau Jessa sebelum salah satu cucumu menjadi tumbal" ucapnya sebelum mengakhiri pertemuan itu.
Sebuah alasan yang mungkin tidak masuk akal, tapi itulah kenyataannya. Berpuluh-puluh tahun ia mempercayai bahwa Jessa merupakan pembawa sial bagi keluarga Hermes, ini terbukti dari saat ia baru menyandang status nyonya Hermes saja tanpa pikir panjang di curinya batu keabadian yang membuat dua bangsa berperang setelah sekian lama hidup damai.
Akibat ulahnya terlahir anak yang tidak seharusnya ada, itulah mengapa takdir Anna bukan di dimensi manusia. Karena kecintaan Jack pada Anna sang putri dari istri tercinta Ken harus gugur di usia muda, trauma atas kehilangan Ken bagi Joyi terlalu membuatnya sakit.
Untuk itulah ia merubah taktiknya untuk menyelamatkan keturunan Hermes, ialah menjadi presdir Sanwa yang akan balas dendam.
Mengasuh Chad dan menanamkan benih kebencian terhadapnya agar hidup Chad aman, hanya dengan cara itu ia bisa menunaikan misinya sebab cinta hanya akan merenggut nyawa mereka satu persatu.
* * *
Telpon dari Ryu memaksa Violet harus segera pulang, yang sakit memang Hans tapi Ryu ikut lemas sehingga lebih butuh perhatian dari Kyra.
Kyra sendiri tidak keberatan sebab kini ia memiliki banyak pelayan yang siap melayaninya, diantarnya Violet sampai depan pintu di mana supir yang telah ia persiapkan untuk mengantar Violet pulang menunggu.
"Sampai jumpa lain waktu sayang.. " ujar Violet mengecup pipi putrinya itu.
"Sampai ketemu lagi nanti" balas Kyra.
Ia melambaikan tangannya, hingga mobil yang di tumpangi Violet lenyap dari pandangan.
"Nyonya, ada telpon dari tuan" ujar seorang pelayan menghampiri.
"Oh baiklah" jawabnya.
Ia segera masuk ke dalam, mengambil gagang telpon yang tergeletak di atas meja.
"Halo.. "
"Hai sayang.. apa kabarmu?"
"Baik, bagaimana keadaan mu di sana?"
"Sayangnya pekerjaan ku cukup merepotkan, aku benci mengatakannya tapi aku baru bisa pulang pekan nanti" jawab Hakan sambil menghela nafas.
"Kau pasti lelah"
"Begitulah, maafkan aku karena tidak bisa menepati janji"
"Tidak masalah"
"Apa ibumu datang menginap?"
"Ya, beberapa hari lalu dia menginap namun baru saja ia harus pulang karena di suruh ayah"
"Itu artinya kau sendirian" tukas Hakan.
"Tidak apa, ada banyak pelayan di sini"
"Ah... andai aku bisa pulang lebih cepat, jika bosan pergilah jalan-jalan keluar. Aku tidak mau kau sampai stres berada di rumah terus"
"Tidak apa Hakan, kau terlalu mencemaskan ku" ujar Kyra yang lelah terus di khawatirkan.
"Mau bagaimana lagi? kita adalah pengantin baru tapi aku sudah meninggalkan mu begitu lama, baiklah akan ku usahakan pulang cepat"
"Ya.. " sahut Kyra bingung harus menjawab apa.
"Baiklah aku tutup dulu telponnya, sampai nanti"
"Dah... " sahut Kyra sebelum menutup telpon.
Menatap seisi rumah yang megah membuat Kyra memang merasa sedikit kesepian, meski banyak pelayan tapi tak ada teman mengobrol yang asik.
Ini memang yang ia inginkan tapi kesepian tidak termasuk di dalamnya, meski begitu ia tetap harus menerimanya.
* * *
Di kediaman Hermes sendiri semua orang menyambut kepulangan Hans yang benar-benar diijinkan pulang setelah seharian di rawat, meski dokter mengatakan tak ada yang bermasalah tetap saja Hans harus istirahat total.
Semua berjalan baik seperti yang di harapkan Jack, setelah pertemuannya dengan Joyi memang hatinya cukup terpengaruh. Mengingat akan kematian Ken dan kini kesehatan Hans yang terganggu, ia mulai merasa Jessa memang adalah kutukan bagi keluarganya.
Tapi begitu melihat Hans pulih sedikit demi sedikit pikiran itu lenyap begitu saja, keteguhan hatinya kembali menabuh cinta yang terjalin semakin kuat.
Hingga dalam waktu satu minggu kemudian saat Hans sudah mampu beraktivitas lagi ia benar-benar telah lupa akan pernyataan Joyi.
Sesuai dengan jadwal pertemuannya dengan Tianna ia nampak senang akan mengambil pil itu secara cuma-cuma, bahkan Jack sempat mengucapkan terimakasih kepada Tianna akan kebaikannya tanpa mengetahui pengorbanan Hans.
"Sepertinya kakek mu sedang bahagia" ujar Tianna kepada Hans.
__ADS_1
"Mungkin karena aku baru sembuh dari sakitku"
"Kau sakit? apa itu karena syok akibat hisapanku?" tanya Tianna.
"Entahlah, mungkin saja" jawab Hans tak mau ambil pusing.
"Mmm... rupanya kau cukup lemah, tak seperti Hermes lainnya" komentar Tianna seakan ia tahu setiap anggota keluarga Hermes.
"Bisakah kita lakukan dengan cepat? aku ingin segera berbaring di tempat tidur ku yang hangat" ujar Hans sedikit jengkel.
Tianna tersenyum nakal, merasa senang melihat ekspresi Hans yang tak nyaman itu. Ia pun merangkul bahu bidang itu dengan lembut, membuat sayatan tipis di bagian leher sebelum kemudian membenankan mulutnya.
Hans agak bergidik, setiap Tianna mulai menghisap darahnya akan terasa mengalir melawan arus. Itu sangat tidak mengenakan bahkan terkadang membuat kepalanya pening, yang bisa ia lakukan untuk menahan perasaan itu hanya memejamkan mata sambil mengepalkan tangan sekuat tenaga.
* * *
Drap Drap Drap Drap
Cinta itu tak ada untuk pria yang melingkarkan cincin di jari manisnya, begitu juga dengan kasih sayang meski ia telah mengambil sumpah untuk setia sampai mati.
Tapi perhatian yang di berikan pria itu telah meluluhkan hatinya, dan segala kemewahan dunia yang selama ini ia idamkan membuatnya memiliki rasa suka.
"Hakan... " panggilnya manja dengan tubuh yang segera merangkul.
Senyum Hakan mengembang lebar menerima sambutan yang romantis itu, di dekapnya Kyra selama beberapa menit untuk melepaskan kerinduannya.
"Aku pulang.. " ujarnya pelan.
"Mm, selamat datang" sahut Kyra.
Dengan satu tangan yang masih merangkul Kyra ia berjalan masuk ke dalam rumah, sambil membahas pekerjaannya yang merepotkan.
Ada banyak hal yang ingin Hakan bicarakan namun lelah perjalanan membuatnya mengantuk dan tidur begitu saja, Kyra hanya tersenyum melihat wajah lucu Hakan saat tertidur.
Menarik selimut hingga ke dagunya, ia biarkan Hakan beristirahat sementara ia sendiri melakukan pekerjaannya sebagai nyonya.
Tepat setelah Kyra selesai menyiapkan makan malam Hakan baru terbangun dari tidurnya, langkahnya masih sempoyongan saat berjalan memasuki ruang makan.
"Kau sudah bangun?" tanya Kyra.
"Maaf, aku tidur terlalu lama" ucapnya menyesal.
"Tidak apa, aku mengerti kau kelelahan" jawabnya.
Berjalan menghampiri Hakan dan menatapnya dengan senyum sampai Hakan benar-benar membuka mata dengan benar.
"Ayo makan! kau pasti sudah lapar" ajaknya.
Hakan mengangguk, mengikuti langkah Kyra menuju meja makan. Meski hanya berdua saja tapi makan malam di kediaman Berk terasa sempurna, seperti kebanyakan keluarga pada umumnya.
"Suatu saat aku akan membawamu ke sana, kau pasti menyukainya" ujar Hakan.
Kyra hanya mengangguk, ia tak begitu peduli pada hal semacam itu. Asal bisa hidup damai tanpa masalah itu sudah cukup baginya, apalagi sekarang ia hidup berkecukupan sehingga tak ada hal lain yang ia inginkan.
"Kyra... aku merindukan mu" ujar Hakan pelan.
Sorot matanya sarat akan kerinduan yang memang sesuai dengan ucapannya, perlahan kerinduan itu yang mengantarkan tangan Hakan untuk menggenggam Kyra.
Merangkulnya dengan penuh kasih dan mengecupnya dengan lembut, hingga kerinduan itu mencapai pada puncaknya dimana penyatuan di mulai sebagai pasangan yang sah.
Hakan merasa senang sebab akhirnya penantiannya akan hal itu telah terlaksana, meski siang tadi ia suah tidur tapi malam itu ia kembali nyenyak dalam pangkuan Kyra.
Namun saat pagi menjelang ia di bangunkan oleh rasa heran, terlalu pagi bagi Kyra untuk melakukan aktivitas tapi nyatanya ia sudah Menghilang dari atas ranjang.
"Kyra... " panggil Hakan sambil bangkit dari tempat tidur.
Dddrrrsssss...
Sayup suara air yang mengalir itu memberi tanda akan keberadaan istrinya, Hakan berjalan ke arah kamar mandi untuk menemuinya.
Hooooeeeekkkk...
"Kyra?" panggil Hakan heran sebab di lihatnya Kyra terus muntah-muntah.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Ah ya... " jawab Kyra akhirnya setelah perutnya baikkan.
Di bantu oleh Hakan ia berjalan keluar, nampak wajahnya pucat seperti mayat hidup.
"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Hakan lagi.
Setelah meminum segelas air Kyra mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban, namun tubuhnya yang lemah jelas mengatakan bahwa ia tidaklah dalam keadaan baik.
"Sebaiknya kita periksakan ke dokter saja, sepertinya kau sakit parah" usul Hakan.
"Tidak perlu, aku hanya masuk angin saja" sahut Kyra cepat.
Akan menjadi masalah besar jika Hakan membawanya ke dokter, tentu karena Kyra sadar bahwa ini adalah reaksi normal saat sedang hamil.
Sampai saat ini masih menyembunyikan tentang kehamilannya dan tidak tahu bagaimana cara menanganinya, yang jelas untuk saat ini Hakan belum boleh tahu masalah ini.
"Tidak Kyra, kau harus di periksa agar cepat sembuh" ujar Hakan bersikeras.
__ADS_1
"Aku hanya butuh istirahat saja, nanti siang juga pasti baikan"
"Jangan membantah ku terus, siapa tahu kau bukan sakit biasa tapi hamil" celetuk Hakan bergurau.
Degh
Mendengar kata yang selama ini adalah kondisi nyata membuat Kyra memberikan ekspresi tegang yang membuat Hakan heran, tapi sedetik kemudian kecurigaan pun timbul begitu saja.
"Kyra... apa kau hamil?" tanya Hakan tiba-tiba.
Ketakutan dalam hati Kyra membuatnya tak bisa menjawab, bibirnya bergetar saat lidahnya berusaha bergerak untuk berbohong.
"Aku baru menggaulimu semalam, tidak mungkin terjadi dengan cepat" ujar Hakan syarat akan tuduhan.
"Ma-mana mungkin, kau bergurau" sahut Kyra sebisa mungkin terlihat normal namun hal itu sia-sia.
"Jawab dengan jujur! ya atau tidak!" bentak Hakan.
Untuk pertama kalinya Kyra melihat raut wajah Hakan saat dalam marah, tapi dalam ekspresi itu terdapat juga sebuah kekecewaan yang membuat Kyra merasa bersalah.
"Hakan... " panggil Kyra lemah.
Mencoba meraih hati Hakan dengan kelembutan, tapi saat ini bara dalam hati Hakan tak mudah di padamkan.
"Ikut dengan ku" ujarnya dingin.
Dengan kasar ia menarik tangan Kyra hingga mengikuti langkahnya keluar dari kamar.
"Hakan kita mau kemana?" tanya Kyra sambil mencoba mengikuti langkah Hakan yang cepat.
Tapi tak ada jawaban, Hakan terus memaksa Kyra mengikutinya hingga masuk ke dalam mobil. Masih tanpa kata Hakan memacu mobilnya dengan cepat, melintasi jalan rata dengan wajah serius.
"Hakan bicara padaku, kau akan membawaku ke mana?" tanya Kyra lagi dengan was-was sebab mobil mereka melaju dengan cepat.
"Rumah sakit, aku akan memastikannya" jawab Hakan akhirnya.
Kyra terpaku menatap sisi lain dari diri Hakan yang baru ia temui, ternyata di balik kebaikan dan keramahannya ada sosok pria yang menakutkan saat sedang marah.
Dalam kondisi ketakutan akhirnya membuat Kyra menyerah, ia sudah tak sanggup lagi pada tekanan itu.
"Maafkan aku!" teriaknya.
"Aku mohon menepilah, akan aku katakan yang sebenarnya" ujarnya yang sudah tak bisa menahan tangisan.
Ciiiiiiiittt...
Ban mobil itu berdecit saat bergesekan dengan aspal tatkala Hakan mengerem mobilnya secara mendadak, ada sedikit guncangan setelah mobil benar-benar berhenti di pinggir jalan.
"Katakan" ujarnya.
"Hakan... aku... minta maaf" ucap Kyra mencoba menenangkan diri.
"Katakan yang sejujurnya" ulang Hakan.
"I-itu... sejujurnya... aku sudah mengandung sebelum menikah dengan mu" akui Kyra akhirnya.
Tentu pernyataan yang mengejutkan itu membuat Hakan membeku, matanya melotot tak percaya pada Kyra.
"Maaf karena telah menyembunyikan hal ini dari mu... aku sungguh menyesalinya... " sambung Kyra sambil menggenggam tangan Hakan, berharap masih ada kesempatan baginya.
Butuh beberapa detik bagi Hakan untuk mengembalikan kesadarannya, ia juga butuh waktu beberapa saat untuk mencerna kenyataan itu sebelum kemudian amarah kembali menguasai dirinya.
Tanpa kata ia kembali tancap gas, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Ha-hakan... kita mau kemana?" tanya Kyar kembali ketakutan.
"Aku akan memulangkan mu pada orangtua mu" jawabnya.
"Apa?" tanya Kyra.
Ia tak menduga Hakan akan melakukan hal sekejam itu padanya, tentu saja ia tak bisa menerimanya. Ia tidak mau jika harus kembali ke rumah dimana masalah tak pernah habis, dengan susah payah ia mencoba membebaskan diri dan kini harus kembali dengan penuh kehinaan.
"Tidak! aku tidak mau... aku mohon Hakan jangan bawa aku ke sana" pintanya.
Tapi Hakan tak mau mendengarnya.
"Hakan! jangan lakukan ini padaku" ujar Kyra lagi kini sambil mengelus-elus lengan Hakan.
Tapi masih saja Hakan tak mau peduli.
"Hakan!" teriak Kyra sambil memegang setir.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Hakan sebab hampir ia kehilangan kendali.
"Aku tidak mau kembali ke rumah itu, aku tidak mau pergi!"
"Kyra hentikan!"
"Kembali... kembali.. "
"Kyra!"
Cciiiiiittttttt.....
__ADS_1
Tiiiiiit Tiiiiiiitt Tiiiiiiitt
BRAK.