
Waktu selama tiga puluh menit terbuang begitu saja, tapi Alisya tetap berdiri di sana. Meski kakinya gemetar karena pegal ia hanya berjalan-jalan sedikit agar tidak sampai keram, rasanya memang bosan tapi dengan mengintip sesekali ke dalam kelas hatinya menjadi hangat kembali dan bersemangat untuk terus menunggu.
Ceklek
Pintu terbuka degan seorang dosen yang pertama kali keluar dari kelas, di ikuti oleh mahasiswa lainnya. Alisya berjinjit sedikit agar bisa melihat dengan jelas di tengah kerumunan yang membludak, mencari-cari seseorang yang sejak tadi sudah ia tunggu.
Ia tersenyum saat berhasil menemukan seorang pria yang berjalan tergesa-gesa di koridor.
"Agler!" panggilnya.
Agler menengok dan tersenyum melihat Alisya yang berlari menghampirinya.
"Hai" sapa Agler.
"Hai juga" balas Alisya.
Mereka berjalan beriringan dan Alisya pun memulai percakapan.
"Pemandangan di kota ini sangat berbeda, aku cukup kaget melihat orang-orang yang selalu ada di mana pun. Aku bertanya-tanya pada diriku apakah orang-orang ini tidak tidur? sebab meski sudah larut malam mereka masih saja berkeliaran"
"Hahaha aku pun sama kagetnya dengan mu, aku kagum pada pembangunan kota yang sangat pesat dengan gedung-gedung pencakar langitnya" ujar Agler.
"Apa kau tahu tempat-tempat yang menarik di sini?"
"Tidak banyak, aku masih baru dan sudah sibuk bekerja jadi tidak banyak yang aku tahu"
"Begitu ya, aku ingin berjalan-jalan tapi sayangnya aku tidak punya teman dan takut kesasar juga"
"Kau mau ku antar? aku bisa meminta ijin pada paman Giant untuk libur sehari"
"Kau mau mengantarku?" tanya Alisya senang.
"Tentu saja, besok setelah kelas ku selesai"
"Baik, aku akan menunggumu"
"Kalau begitu sampai jumpa besok" ujar Agler berpamitan.
"Um.... Agler!"
"Ya?"
"Kau mau kuantar? jika menggunakan mobil ku pasti akan cepat sampai" tawar Alisya.
"Apa aku tidak merepotkan mu?"
"Tentu saja tidak, ayo pergi!" ajak Alisya.
"Baiklah, terimakasih banyak" jawab Agler bersungguh-sungguh.
Dengan senang hati Alisya memimpin jalan menuju mobilnya yang terparkir di luar kampus, seorang supir telah siap sedari tadi untuk mengantarnya.
* * *
Dengan gusar Alisya terus mengais-ngais makanan di piringnya, Joyi masih di sana untuk menemaninya sarapan sebelum pergi ke kampus.
"Um... nenek"
"Ya sayang"
"Nanti... pulang dari kampus aku mau main dengan temanku, tidak jauh hanya sekitaran kampus saja. Um..... bolehkah aku pergi?" tanya Alisya harap-harap cemas.
"Tentu saja nak, kau pun punya kehidupan pribadi. Bersenang-senanglah dengan teman mu, jika kau mau pulang tinggal kau beritahu supir mu"
"Terimakasih" jawab Alisya senang.
Ia sudah tak sabar untuk pergi, setelah kelasnya usai segera ia pergi ke kelas Agler dan menunggu tepat di samping pintu. Beberapa kali ia menatap jam di tangan dan merapihkan pakaian, tak lupa ia juga berkaca hanya untuk memastikan riasannya sudah sempurna.
Ceklek
Alisya segera menyimpan kaca yang ia pegang saat dosen membuka pintu, anak-anak dari kelas itu menyusul kemudian.
"Agler!" panggilnya sambil berlari menghampiri.
"Kau tidak lupa janji mu kemarin kan?" tanya Alisya.
"Tentu saja, aku menemukan tempat yang menarik ayo kita pergi" ajak Agler.
__ADS_1
Dengan berjalan kaki mereka pergi, sambil menikmati pemandangan sekitar dan bercanda. Alisya nampak senang karena hal itu, ia tak bisa berhenti tersenyum dan tertawa sepanjang jalan hingga mereka sampai.
Itu merupakan dermaga, dimana para nelayan menyangkut hasil pancingannya untuk di jual ke pasar. Agler membawanya ke sisi lain dimana pemandangannya lebih indah dengan burung camar mengudara di atas permukaan laut.
"Ini benar-benar hebat, aku sungguh tidak menyangka bisa melihat laut seindah ini" ujar Alisya.
"Aku yakin pemandangan di bawah laut lebih indah dari ini" sahut Agler.
"Ya... " jawab Alisya setuju.
Angin menyapu lembut rambutnya, menerbangkan setiap helainya menutupi wajah. Ia mencoba menyibakkannya namun helaian rambut itu kembali menutup wajah dan matanya, Agler yang melihat hal itu segera mengambil helaian rambut Alisya.
Mata mereka beradu pandang sebab jari Agler ikut menyapu pipinya, ia tersenyum setelah berhasil menyingkirkan rambut itu. Membuat degup jantung Alisya berdetak cepat, ia membalas senyum itu meski telinganya terasa panas karena malu.
"Anginnya cukup kencang ya... " ujar Alisya memalingkan muka agar Agler tidak melihat wajahnya yang memerah.
"Kau benar, sebaiknya kita pergi ke tempat lain" ajak Agler.
Mereka memutuskan untuk makan di pinggir jalan, meski terkadang masih ada angin yang berhembus tapi tak sedingin saat di dermaga.
Perjalanan mereka selesai tepat saat senja tiba, mereka berpisah saat Alisya di jemput oleh supirnya. Salam perpisahan dan lambaian tangan menjadi penanda berakhirnya pertemuan mereka di hari itu, Alisya tersenyum senang karena ia bisa menghabiskan waktunya dengan Agler seperti yang ia inginkan.
Agler sendiri pulang dengan berjalan kaki sebab jarak dari dermaga ke rumahnya cukup dekat, meski sedikit memakan waktu hingga malam benar-benar tiba.
"Agler"
Uwa....
"Gu-guru Nick, sejak kapan kau ada di sana?" tanya Agler kaget sebab tiba-tiba Nick berdiri di sampingnya.
"Maaf saya telah membuatmu kaget, maaf juga karena saya datang terlambat. Ima menanyakan banyak hal saat saya hendak pergi dan untuk itu saya harus membuat alasan yang benar-benar meyakinkannya"
"Kan sudah ku bilang guru tidak perlu datang, aku hanya menanyakan beberapa hal saja mengenai penyihir itu"
"Tetap saja, sebelum saya melihat kau hati saya tidak akan pernah tenang"
"Yah mau bagaimana lagi, sekarang aku harus mencari alasan agar paman Giant mau menerima mu di rumah"
"Itu tidak perlu, beberapa mil dari sini ada bangunan tidak terpakai aku bisa tinggal di sana"
"Begitu rupanya, maaf telah menyusahkan" ujar Agler tak enak hati.
"A-apa? tapi itu cukup beresiko, bagaimana jika mereka tidak mau mendengarkan mu?" tanya Agler khawatir.
"Anda tidak perlu khawatir, aku bisa menangani ini" ujar Nick.
Sebagai mantan prajurit bukan hal susah baginya untuk bicara dengan penyihir, terlebih dulu ia juga pernah berhadapan langsung sehingga ia tahu cara bicara yang benar dengan mereka.
Nick pamit pergi setelah meyakinkan Agler bahwa dia akan baik-baik saja, seorang diri dia berjalan berkeliling kawasan itu hanya untuk bertemu dengan penyihir.
Awalnya hal itu tidak berjalan mulus, akhirnya Nick merubah rencana dengan menggunakan umpan. Ia menggaet seorang wanita muda untuk di ajak berjalan bersamanya, dengan sejumlah uang yang ia punya bukan hal sulit mencari mangsa.
Ia awalnya mengajak wanita itu berkeliling sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengajaknya ke tempat yang lebih sepi, di sanalah Nick membuat wanita itu tidur dan menyayat lehernya untuk menikmati cairan merah yang keluar darinya.
Trang
Bruk
Benar apa yang telah Nick prediksi, baru saja ia mulai menghisap seorang gadis penyihir menyerangnya. Hanya dengan satu tangan Nick berhasil menangkis sekaligus mendorongnya hingga menabrak tembok.
"Benar-benar, aku tahu kalian ada dimana-mana tapi tidak akan keluar jika tidak di pancing. Hal ini membuatku berfikir sebenarnya siapa yang monster" ujar Nick.
"Sudah ku duga, kau bukan vampire biasa" sahut gadis penyihir itu.
"Siapa namamu?"
"Reah"
"Baiklah Reah, sebelumnya kau urus dulu wanita ini. Aku sudah menutup lukanya jadi tidak akan ada darah yang keluar, dia hanya tidur dan akan bangun tanpa ingat apa pun. Setelah kau menempatkan wanita ini dengan baik mari kita bicara" ujar Nick.
'Di-dia... seperti yang dikatakan Agler, apa yang harus aku lakukan? tapi.... nyawa wanita itu jauh lebih penting untuk saat ini' batin Reah bimbang.
"Baiklah, aku akan mengurus wanita itu" jawab Reah.
Ia segera memanggil rekan-rekannya, Hans dan beberapa penyihir datang untuk membantu. Saat mengetahui Nick dapat bicara dan berpakaian seperti manusia biasa segera ia teringat akan ucapan Shishio.
"Reah, ijinkan aku membawa vampire ini kepada guru Shishio. Beliau membutuhkan vampire seperti dia untuk penelitian" pinta Hans.
__ADS_1
"Baiklah, tapi aku akan ikut bersama mu" jawabnya.
Satu rekan Reah membawa wanita itu ke tempat yang aman, barulah setelah itu Reah mengajak Nick pergi ke suatu tempat. Itu merupakan kediaman Shishio, di sanalah mereka akan bicara.
Tok Tok Tok
Pintu di ketuk namun belum ada jawaban dari orang rumah, sebelumnya Hans sudah memberitahu ia akan datang bersama vampire untuk itulah ia meminta Shishio bersiap di rumahnya.
Tok Tok Tok
"Aku datang... " jawab Shishio dari dalam.
Ceklek
Pintu terbuka, nampak Shishio dengan rambut acak-acakan dan baju yang kusut menyambut mereka. Matanya segera tertuju pada Nick sebab meski tanpa kehadiran Hans atau pun Reah ia sudah bisa mengenali vampire dari aura dingin yang ia keluarkan.
"Maaf, tadi aku ketiduran. Silahkan masuk" ujar Shishio.
Mereka masuk ke dalam, dengan segelas kopi Shishio menjamu muridnya sedang Nick masuk ke ruangan lain untuk bicara empat mata dengannya.
"Apa kau atasan mereka?" tanya Nick.
"Bisa di bilang begitu, sebenarnya aku guru mereka dan meski begitu apa pun yang mereka lakukan aku ikut andil di dalamnya"
"Aku mengerti" jawab Nick.
"Kau mau ku suguhkan sesuatu? aku punya kelinci yang cukup gemuk" tawar Shishio.
"Hahaha ternyata kau orang yang cukup blak-blakan, tidak perlu aku sedang dalam kondisi tidak kelaparan" jawab Nick.
Mereka tertawa kecil mendengar gurauan itu, membuat Reah dan Hans penasaran hingga mencuri dengar di balik pintu.
"Langsung saja keintinya, kedatangan ku kemari adalah untuk meminta pembebasan satu wilayah"
"Bisa kau jelaskan lebih detail?"
"Murid ku beberapa waktu terlibat perseteruan dengan kaummu, ia hanya minum sedikit darah untuk menghilangkan dahaganya tapi kaum mu bertindak seolah kami monster yang harus di basmi"
"Aku mengerti, sebelumnya aku minta maaf mewakili mereka. Semenjak perang itu usai kami bertemu beberapa vampire ganas, tidak ada cara lain kecuali membasmi mereka. Di jaman ini bahkan kami hampir tidak menemukan vampire seperti mu, itulah mengapa penerus ku bersikap demikian"
"Yah... memang aku juga tidak bisa menyalahkan seratus persen, tapi mau bagaimana pun masih ada beberapa vampire yang berburu tanpa menyakiti. Muridku dan aku adalah salah satunya, aku hanya minta biarkan kami hidup tenang dengan cara kami sebab kami juga tidak menimbulkan masalah"
"Aku mengerti, aku akan memberikan lencana untuk kalian. Jika suatu hari nanti kalian bertemu dengan penyihir maka perlihatkan lencana itu maka kalian bebas berburu, tapi sebelum itu aku ingin kau menjawab semua pertanyaan ku"
"Tidak masalah, katakan apa yang ingin kau ketahui"
"Apa kau tahu penyebab vampire yang berubah menjadi ganas?"
"Jujur aku tidak tahu, kami para vampire jika sudah tidak bertuan maka akan hidup demi diri sendiri. Kami tidak akan perduli pada apa yang terjadi dengan vampire lain atau bahkan kerajaan"
"Begitu ya, menurut mu sendiri apa yang menyebabkan mereka berubah?"
"Jika di tanya seperti itu aku juga tidak tahu, tapi sebagai vampire saat aku benar-benar kehausan terkadang otak ku akan kalah dengan insting. Demi memuaskan dahaga apa saja bisa aku lakukan asalkan berhasil meminum darah, perlu kau ketahui rasa dahaga bagi vampire itu sangat menyiksa"
"Jadi penyebab utamanya adalah dahaga begitu?" tanya Shishio memperjelas.
"Setelah perang usai beberapa vampire ikut perdamaian mengikuti tuan Reinner meski beberapa juga ada yang membangkang, tapi setelah tuan Reinner meninggal semua vampire kehilangan tuan dan hidup berkelana. Bagi para vampire yang sudah biasa hidup dengan tuannya tentu sulit mencari makan sendiri, mungkin beberapa diantara mereka menjalani hidup seperti leluhur"
"Seperti apa itu?" tanya Shishio tambah penasaran.
"Ini hanya dongeng tapi banyak di percaya, dahulu sekali jaman saat Lord vampire masih memerintah para vampire memangsa manusia secara bebas. Di katakan mereka adalah vampire primitif dengan taring dan mata keunguan, kulit mereka berkilau dan pucat seperti rembulan. Mereka akan menghisap darah manusia sampai habis karena di percaya dengan melakukan hal itu ruh manusia akan terperangkap dalam jiwa vampire, itu merupakan bentuk penghormatan bagi vampire kepada manusia sebagai mangsanya"
"Seperti manusia yang menyembelih hewan demi kebutuhan nutrisinya, lalu memakannya sampai habis sebagai bentuk syukur" ujar Shishio menyederhanakan penjelasan Nick.
"Kira-kira seperti itu"
"Baiklah aku mengerti" jawab Shishio.
Ia segera mengeluarkan lencana yang sudah di janjikan, dengan menyerahkan lencana tersebut maka perjanjian mereka telah resmi.
"Aku senang bertemu denganmu, nama ku Shishio. Aku harap kedepannya kau masih mau berhubungan baik dengan ku, kita bicara lagi sambil menikmati sup kelelawar"
"Kau suka sup itu? astaga sudah lama sekali aku tidak makan sup kelelawar" tanya Nick kaget.
"Bukan aku yang suka tapi kau, akan ku buatkan jika kau mau berkunjung lagi"
"Tentu saja, dengan senang hati aku akan mampir lagi. Oh ya, namaku Nick senang bisa berkenalan dengan anda" jawab Nick menyalami tangan Shishio dengan gembira.
__ADS_1
Setelah kepulangan Nick ia segera memberitahukan kepada semua Ksatria agar jangan menganggu vampire yang membawa lencana, dalam surat perjanjian yang di tulis setelah perang para vampire yang hidup dalam damai berada di bawah lindungan kaum penyihir. Untuk itulah tugas ksatria adalah menjaga mereka dan memastikan mereka hidup damai tanpa saling mengganggu.