Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 41 Sekutu


__ADS_3

Tianna cepat kembali setelah ia menemukan informasi yang bagus, seperti biasa Keenan berada di ruang bawah tanah dimana Alabama membuat penelitiannya.


"Aku mendapatkan dua nama" ujar Tianna.


"Siapa?"


"Guin dan Shishio, mereka adalah dua nama yang sangat terkenal di kalangan penyihir. Guin yang paling kau butuhkan untuk menyempurnakan ramuan mu sebab dia seperti ilmuan dokter di sana" jawab Tianna.


"Kerja bagus, sekarang cari informasi tentang kedua penyihir itu" perintah Keenan.


"Sudah ku lakukan, Guin tidak pernah pergi dari akademi kecuali untuk membeli bahan-bahan yang ia butuhkan untuk di labnya sedang Shishio memiliki sebuah rumah yang ia tinggali"


"Kau memang berguna seperti yang aku harapkan" ujar Keenan senang.


"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Tianna.


"Apa lagi? kita akan bertamu" jawab Keenan.


* * *


Berhari-hari Alisya mengurung diri di kamarnya, putus asa dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Seperti biasa Chad turun tangan untuk membuat Alisya mau makan lagi, dengan membawa makanan Alisya ia masuk ke kamarnya.


"Apa ini masih berhubungan dengan pacar mu itu?" tanya Chad.


"Dia... dia pergi Chad, entah kemana tapi tiba-tiba dia hilang" jawab Alisya.


"Apakah pertanyaan mu tentang vampire ada hubungannya dengan pacarmu?" tanya Chad lagi dengan penuh curiga.


"Itu.... yeah... aku menaruh curiga padanya dan hendak bertanya langsung tapi dia tiba-tiba hilang begitu saja" jawab Alisya yang tidak bisa menyembunyikan apa pun.


Chad semakin menemukan titik terang, ia berasumsi bahwa pacar Alisya adalah vampire. Mungkin dia manusia setengah vampire, dan Alisya tak sengaja melihat hal-hal aneh yang ada pada diri pacarnya. Mungkin pacar Alisya takut jika identitasnya ketahuan sehingga ia memutuskan untuk mengajak putus dan pergi jauh.


"Dengar, dia pasti punya alasan tersendiri melakukan hal ini. Tidak gunanya bersedih demi orang yang tidak peduli padamu, sebaiknya kau lupakan dia dan habiskan makanan mu" ujar Chad menasihati.


"Tidak Chad, aku merasa ada sesuatu yang salah. Aku sempat bertamu ke rumahnya dan semuanya normal tak ada yang salah, tapi... tiba-tiba ia dan keluarganya hilang begitu saja pasti ada sesuatu. Kata seseorang yang kenal keluarga dia mungkin dia terlilit hutang hingga harus melarikan diri, jika memang benar begitu aku ingin membantu mereka" ucap Alisya membantah.


"Apa yang kau inginkan?"


"Tolong temukan dia untuk ku, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Aku mohon... " pinta Alisya.


Sebenarnya Chad tidak ingin berurusan dengan vampire lain, tapi ia sudah janji akan menjaga Alisya. Lalu bagaimana cara dia menjaga Alisya sedang Alisya sendiri tidak bisa hidup damai.


"Baiklah... aku akan mencarinya"


"Sungguh? benarkah? terimakasih Chad... terimakasih" ujar Alisya senang.


"Sekarang habiskan makanan mu" ujar Chad seraya tersenyum.


Alisya mengangguk, ia memberikan alamat rumah Agler sebagai petunjuk namun Chad hanya mengantongi kertas itu. Ia tak punya waktu untuk mengurusi vampire lain, saat ini ia terlalu sibuk dengan urusan bisnisnya.


"Bagaimana?" tanya Joyi melihat Chad yang baru keluar.


"Seperti biasa, dia hanya bermasalah dengan pacarnya tapi sekarang dia sudah merasa baikan dan mau makan"


"Syukurlah kalau begitu, nenek sangat khawatir" ujar Joyi.


"Aku sudah terlambat ke kantor, aku pergi dulu nek" ujarnya sambil mencium kening Joyi.


"Hati-hati di jalan" ucap Joyi.


Sampai di kantor seperti biasa ia sibuk dengan semua berkas-berkas dan proyek barunya, yang tidak biasa hari itu Chad tidak tidur siang seperti biasa.


"Tuan Chad, bagaimana jika kita makan di restoran favorit ku?" tawar manager San.


"Boleh juga, aku juga ingin menghirup udara luar" jawab Chad setuju.


Manager San membawanya ke tempat biasa dia makan siang, bagai sebuah takdir yang telah di tentukan mereka bertemu dengan Violet dan Kyra di sana.


Pandangan Violet segera tertuju pada Chad yang lebih muda dan terlihat lebih kaya, namun Kyra justru tersenyum kepada Manager San.


"Kalian datang ke sini lagi" ujar Manager San.


"Ya.. makanan di sini sangat enak sehingga kami ingin makan lagi di sini" jawab Violet.


Manager San memperkenalkan Violet dan Kyra kepada Chad, Violet begitu senang setelah di beritahu bahwa Chad adalah atasan Manager San. Ia bahkan berusaha mendekati Chad namun respon Chad begitu biasa, bahkan ia tak tertarik sama sekali pada Kyra meski pun ia cantik.


Namun segalanya berubah saat Violet memberitahu nama belakang mereka adalah Hermes, seketika Manager San berhenti mengajak Kyra ngobrol dan Chad mulai menunjukan ketertarikannya.


"Aku pikir Hans Hermes adalah anak tunggal" ujarnya.


"Dia memang anak tunggal, Hans adalah sepupu Kyra sebab ayahnya Ryu adalah adik dari Shigima Hermes" jawab Violet.


"Begitu rupanya, sayangnya waktu istirahat kami sudah habis padahal aku masih ingin mengobrol dengan kalian" ujar Chad.

__ADS_1


"Memang sangat di sayangkan, tapi kita bisa bertemu lain waktu"


"Benar, bagaimana jika kita bertemu nanti malam di Plax Resto? aku akan memesan tempat sekarang juga jika kalian bersedia"


"Tentu saja, jam delapan malam" jawab Violet tanpa berdiskusi dulu.


"Kalau begitu sampai ketemu nanti malam" ujar Chad berpamitan.


Violet terus tersenyum bahkan sempat melambaikan tangan saat Chad pergi meninggalkan restoran.


"Ibu, apa yang ibu lakukan?" tanya Kyra yang tidak senang.


"Menyelamatkan masa depan mu tentunya, kau lihat kan Chad itu lebih muda dan kaya dari San. Jika kau berhasil mendapatkannya maka kita bisa keluar dari kastil bobrok itu dan tinggal di istana yang sesungguhnya"


"Bagaimana ibu akan menjelaskan ini pada ayah?"


"Tidak ada yang perlu di jelaskan, ayah mu tidak perlu tahu tentang hal ini"


"Tapi ibu... "


"Blue.... berhenti berdebat dengan ibu" sergah Violet sebelum Kyra sempat bicara lagi.


* * *


Chad segera menghubungi Joyi dan memberitahu apa yang baru saja ia dapatkan, ia juga meminta Joyi untuk ikut hadir dalam acara makan malam itu. Tentu dengan senang hati Joyi akan ikut, ia sudah bersiap begitu Chad pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian.


Setelah ia siap malam itu mereka pun pergi, mereka datang lebih dulu sebagai tuan yang akan menerima tamu. Tak berapa lama Violet dan Kyra pun datang, mereka nampak cantik dan elegan dengan pakaian dan riasan yang mereka kenakan.


"Selamat nyonya Violet dan nona Kyra" sambut Joyi.


"Selamat malam, terimakasih telah mengundang kami" jawabnya.


"Perkenalkan nama ku Joyi, aku nenek Chad"


"Senang berkenalan dengan anda" ujar Violet menyambut tangan itu.


"Aku pikir akan lebih bagus jika mengajak nenek sebab rasanya agak canggung jika kita hanya bertiga, tidak masalah kan?" tanya Chad.


"Tentu saja tidak, lebih ramai lebih bagus" jawab Violet.


Joyi mempersilahkan mereka duduk dan memesan makanan, sambil menunggu makanan mereka di hidangkan Joyi menguasai obrolan dengan banyak bertanya dan Violet sebagai pihak penjawab. Sedang Chad dan Kyra hanya mendengarkan, pesanan mereka muncul beberapa saat kemudian.


Violet terlihat nampak menikmati acara makan malam itu begitu pun dengan Joyi, sedang Kyra sedikit pun tak merasa senang karena ia tahu ibunya sedang mencoba mendekati keluarga Chad demi kepentingan pribadi.


"Tentu, seharusnya aku yang berterimakasih karena kalian sudah mau memenuhi undangan cucuku" jawab Joyi.


Selesai acara itu mereka pun berpisah, namun Joyi tidak lupa untuk memberikan kartu namanya agar Violet bisa menghubunginya kapan pun ia mau.


"Bagaimana menurut nenek?" tanya Chad dalam perjalanan pulang.


"Violet hanya menantu di rumah itu, tapi ia memiliki putri yang cukup berpengaruh. Kita bisa manfaatkan mereka terlebih Violet mengincar kekayaan, dia mudah untuk di bujuk"


"Aku mengerti" jawab Chad.


Sesuai perkiraan Joyi tak butuh waktu lama hanya beberapa hari kemudian sejak makan malam itu Violet menghubunginya, ia mengajak Joyi untuk minum teh bersama.


Tentu Joyi menerima undangan itu, ia datang sesuai dengan janji.


"Jika aku boleh tahu berapa usia Kyra?" tanya Joyi.


"Dia enam belas tahun"


"Ah... sayang sekali, padahal aku sangat menyukainya" ujar Joyi sengaja memancing.


"Hahaha ya... dia masih belia, tapi hanya tinggal menunggu empat tahun saja maka genap usianya dua puluh tahun"


"Aku sudah melihat banyak gadis cantik, tapi tidak ada yang sebaik Kyra. Dia begitu lemah lembut dan juga sopan, dia sangat cocok mengenakan berbagai perhiasan."


Mendengar kata perhiasan mata Violet menjadi berbinar, ia merasa senang karena usahanya untuk mendekati keluarga itu telah berhasil.


"Apakah... Kyra memiliki kekasih?" tanya Joyi pelan.


"Tentu saja tidak! aku melarangnya untuk berpacaran dengan siapa pun dan dia mematuhinya" jawab Violet cepat.


"Kenapa kau melakukan itu?"


"I, itu... karena dia masih belia, gadis seumuran Kyra lebih baik belajar dengan tekun itu lebih bermanfaat"


"Kau benar, ah... anda adalah ibu yang sangat hebat"


"Anda terlalu memuji" ujar Violet tersipu.


Mereka melanjutkan obrolan seputar keluarga Hermes, informasi yang sulit di dapat. Dari Violet ia mendapat kabar bahwa Jessa kini sudah sehat bahkan hidup dengan normal lagi, tentu hal inilah berita yang paling besar.

__ADS_1


Setelah obrolan panjang itu Violet pulang dengan perasaan senang, namun Ryu menyambutnya dengan ekspresi yang tidak senang.


"Kau dari mana saja?" tanyanya.


"Aku hanya keluar untuk jalan-jalan" jawab Violet sambil masuk ke dalam rumah.


"Violet, aku dengar kemarin kau pergi keluar bersama Blue dengan pakaian bagus. Kemana kalian pergi?"


"Oh.. Ryu... apakah pergi berjalan-jalan adalah sebuah dosa? apakah seumur hidup kami harus tinggal di dalam sini?" tanya Violet kesal.


"Bukan itu maksudku, tapi kau tahu vampire berkeliaran dimana-mana. Aku hanya tidak ingin kalian terluka, itu saja!"


"Aku mengerti kekhawatiran mu, tapi kami juga butuh untuk menghirup udara luar. Berhentilah bertanya, aku lelah" ujar Violet ketus.


Satu hal yang ia sesalkan adalah pernikahannya dengan Ryu, sebagai artis teater ia pikir Ryu adalah pria kaya yang mampu merubah hidupnya. Ryu memang berasal dari keluarga kaya tapi dia tidak punya apa-apa, kecuali nama Hermes di belakang namanya.


Tapi kini semuanya bisa di ubah, ia memegang kartu nama Joyi. Kartu keberuntungan yang bisa merubah hidupnya dengan benar-benar bahagia, mereka baru bertemu tapi Joyi sudah tertarik pada Kyra dan itu merupakan sebuah keberuntungan.


* * *


"Apa langkah kita selanjutnya?" tanya Chad.


"Gadis itu masih di bawah umur, tapi kita bisa mengikatnya dengan pertunangan"


"Maksud nenek, dia dan aku... "


"Ya.. kita bisa melakukannya dengan bantuan Violet" jawab Joyi.


Sebenarnya Chad kurang suka memakai cara itu, ia tidak ingin menyakiti hati gadis mana pun terlebih ada seorang gadis yang sudah mengisi hatinya lebih dulu.


Malam itu meski sudah larut Chad memutuskan pergi ke rumahnya, ternyata Ima ada di sana sedang tertidur lelap di atas ranjangnya. Ia tersenyum menatap wajah manis itu, wajah yang polos bak malaikat.


Perlahan ia membenarkan posisi tidur Ima lalu menarik selimut hingga sampai ke dagunya, tapi tiba-tiba Ima mengangkat tangannya. Merangkul Chad sampai ia ikut berbaring di sampingnya dan memeluknya, Chad tak bisa bergerak sebab tangan dan kaki Ima menindihnya.


Pada akhirnya ia ikut berbaring di sana, menatap wajah ia dengan dekat dan menikmati momen yang mungkin tidak akan terjadi lagi.


* * *


Shishio baru pulang dari Akademi, sepanjang minggu ini ia sangat sibuk akibat membludaknya jumlah vampire yang menyerang. Akibatnya mereka menjadi sering kerja lembur dan hal itu merusak kesehatannya, ia berjalan dengan lunglai tanpa adanya tenaga.


Meski begitu inderanya masih tajam untuk menangkap desiran angin yang berbeda dari biasanya, ia tetap berjalan dengan tenang namun dengan telinga yang lebih tajam untuk mendengarkan.


Trang.....


Saat ancaman datang dengan cepat Shishio melemparkan belati ke arah belakang, namun Keenan menangkisnya dengan mudah.


"Kau sangat gesit untuk ukuran penyihir biasa" ujar Keenan.


"Jangan merendahkan penyihir meski dia bukan Ksatria, semua penyihir di ajari untuk melindungi diri dan menyerang" jawab Shishio.


"Tentu saja, kedatangan ku kemari justru untuk memuji kehebatan mu itu. Kau sangat pintar hingga menjabat sebagai guru, kau juga seorang penyelidik yang handal"


"Rupanya aku cukup terkenal juga di kalangan vampire" tukas Shishio.


"Lalu apa yang kau inginkan dariku?" tanya Shishio.


"Kau... " jawab Keenan seraya tersenyum.


Trang....


Shishio memang tidak bisa dia anggap remeh, ia dapat mengetahui serangan yang di lancarkan Tianna dan berhasil menarik belati dengan cepat. Satu dorongan yang kuat memaksa Tianna mundur, Tianna berhasil mendarat dengan kedua kakinya setelah di paksa mundur dengan melompat.


"Cih, kau cukup merepotkan juga" guman Tianna.


Ia bergerak kembali secepat angin, namun Shishio berhasil menghalau semua serangan hanya dengan sebilah belati di tangan.


Untuk beberapa saat Keenan berdiri sebagai penonton, mengukur seberapa hebat kemampuan penyihir penyelidik itu. Ternyata dugaannya benar, dengan usianya kini bisa di pastikan Shishio sudah berpengalaman.


Trang... Trang... Trang...


Setiap serangan yang di lancarkan Tianna dengan mudah Shishio dapat menghindar, sampai di satu kesempatan Tianna melihat peluang. Ia menyerang dengan kukunya yang kuat dan tajam ke atas mengingat kepala Shishio, tapi setelah tangannya menebas udara dengan kakinya yang bebas ia menendang sekuat tenaga namun.


'Ke-kemana dia?' batin Tianna sebab Shishio tiba-tiba hilang.


Bruk


Ah...


Entah bagaimana caranya tiba-tiba Shishio berada di samping yang lain dan memukul punggungnya hingga jatuh ke tanah, Keenan yang melihat hal itu hanya tersenyum.


Sebelum Shishio berpindah tempat Keenan cepat bergerak menyerang, namun tentu saja Shishio lagi-lagi bisa menghindar dengan mudah. Tapi Keenan tiba-tiba menebarkan sebuah serbuk putih di sekitar Shishio, karena kaget ia menjadi tak waspada dan menghirup serbuk-serbuk itu.


Beberapa saat kemudian kepalanya mulai pusing, penglihatannya mulai kabur hingga sedetik kemudian ia tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2